Mine

Mine
We Are Brothers



Dhuakk


"Berani sekali kau meminta resign setelah menghilang begitu lama!! Kau meremehkan organisasi ini atau apa!?"


Brak


Dion hanya diam menahan perih pada pipi kirinya yang baru saja di pukul oleh Ketua organisasi yang menaunginya beberapa tahun belakang.


"Kau sudah tau jawabannya, Dion. Sekali bergabung, kau tidak akan bisa keluar dari organisasi ini, atau kau harus membayarnya dengan nyawamu."


Benar, Dion tentu tidak melupakan peraturan dasar itu. Sebuah kesepakatan yang menyesatkan. Namun karena keadaan yang mendesak Dion pada waktu itu, dia tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui peraturan tersebut.


"Bagaimana dengan ganti rugi berupa uang? Apa kau tetap tidak akan menerimanya?" Dion mengusap sudut bibirnya yang sedikit terasa asin.


"Hah! Memangnya kau punya uang?! Jangan bermimpi untuk keluar dari organisasi ini kalau kau tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga sebagai ganti nyawamu!"


Tuan Albert, pria itu merupakan ketua di organisasi yang Dion ikuti. Di atas Tuan Albert masih ada lagi para petinggi sekaligus orang-orang yang menyediakan dana untuk jalannya organisasi ini. Dion dengar orang-orang kaya suka membangun organisasi ilegal semacam ini semata-mata untuk mencari 'kesenangan' atau menggali informasi-informasi rahasia melalui jalur belakang.


Maka tak heran organisasi ini sangat melarang anggota keluar dari sini jika bukan karena sakit parah sampai cacat total atau bahkan meninggal dunia. Sebab mereka takut segala informasi mengenai organisasi akan disebarkan ke orang lain, yang tentunya akan berdampak buruk pada organisasi itu.


"Kau tau bagaimana aku, apa kau masih meragukan kesetiaanku? Bahkan jika itu mengharuskanku merobek mulut ini, aku bersumpah untuk tidak memberitahukan pada siapapun soal organisasi ini."


Namun Dion tak akan menyerah, dia sudah bertekad akan keluar secepatnya. Apapun konsekuensinya, Dion bersedia menanggung semua itu.


Tuan Albert mengusap-usap dagunya seraya berpikir. Negosiasi dengan Dion selalu berakhir alot dan lama, Tuan Albert harus memikirkan keputusannya secara matang-matang.


"Aku akan berikan uang ganti ruginya, berapa yang kalian mau silahkan sebutkan saja." Untungnya Dion masih mempunyai sisa uang dalam tabungannya, tetapi kalau masih kurang, terpaksa Dion akan mencari pinjaman dulu.


"Ini bukan sesuatu yang bisa keputuskan begitu saja. Aku butuh waktu untuk membicarakan soal pengunduran dirimu ini dengan para petinggi. Jika mereka memberikan opsi padamu, aku harap kau bisa menentukan mana yang terbaik untuk dirimu sendiri."


...🐈‍⬛...


...🐈‍⬛...


"Hah...ini lebih rumit dari yang kubayangin." Dion menyandarkan tubuh lelahnya pada kursi pengemudi.


Negosiasinya dengan Tuan Albert belum membuahkan hasil yang memuaskan, Dion harus bersabar menunggu keputusan dari para eksekutif organisasi.


Dhuk dhuk


Tiba-tiba kaca mobilnya di ketuk oleh seseorang. Dion nyaris memaki si pengusik itu, tapi dia urungkan begitu melihat Samuel berdiri di sisi mobilnya.


"Buka kuncinya! Biarin aku masuk!" seru Samuel, dengan suaranya yang kencang. Bahkan Dion yang ada di dalam mobil bisa mendengarnya.


'Dia pasti udah dengar soal pengunduran diriku.'


Pada akhirnya Dion membuka kunci pintu mobilnya dan membiarkan Samuel masuk ke dalam.


Mereka bahkan sudah bersumpah terus mengabdikan diri untuk organisasi, tapi sekarang Dion tiba-tiba berubah pikiran.


"Kenapa?! Kalau nyawamu sedang di ancam seseorang, kau bisa beritahu kami! Jadi kami bisa melindungimu dan memberi pelajaran pada orang itu!" Samuel sama sekali tidak rela di tinggal Dion pergi.


Mereka sudah bekerja sama sejak remaja, hubungan mereka sudah seperti adik kakak dan saudara kandung. Bagi Samuel, Dion adalah satu-satunya orang yang bisa dia anggap sebagai keluarga.


Dion tahu ini akan menyakiti Samuel. Tapi dia tidak bisa terus bergabung di organisasi karena itu bisa membahayakan banyak orang. Apa lagi identitas dirinya masih menjadi rahasia besar.


"Sorry, tapi ada hal penting yang nggak bisa aku kasih tau siapapun. Karena sekarang ada seseorang yang harus aku lindungi, jadi aku harus mengundurkan diri dari organisasi ini.." Hanya sebatas ini yang bisa Dion beritahu Samuel.


"Jadi kau benar-benar akan meninggalkanku? Meninggalkan para pengikutimu yang udah setia sampai mati?" Nada bicara Samuel terdengar bergetar.


Dion merasa bersalah sekali telah mengecewakan sahabat baiknya itu, namun prioritasnya sekarang hanyalah keselamatan Serena dan Caesar.


"Kau tau 'kan, kalau organisasi kita itu memiliki hubungan istimewa dengan komplotan mafia dari Brazil? Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya, sebelum aku terlibat semakin dalam dengan mereka, aku ingin mengundurkan diri lebih awal," terang Dion kemudian.


"Jika Ketua mengakui kemampuanku, bukan hal mustahil dia akan merekomendasikanku untuk dipindahkan ke tim yang lebih tinggi. Aku nggak mungkin menerima itu, jadi ini adalah jalan keluar yang bisa kuambil," imbuhnya, berharap Samuel mau mengerti situasi yang dia hadapi.


Di satu sisi, Samuel juga sudah memprediksikan peluang besar itu sejak lama. Kemampuannya dan Dion sudah sangat berkembang pesat daripada awal bergabungnya mereka dalam organisasi. Wajar bila suatu saat nanti mereka berdua akan menerima kenaikan pangkat lalu dipindahkan ke tim yang lebih unggul lagi. Sejalan dengan kenaikan pangkat itu pula, misi-misi yang akan mereka terima juga jauh lebih sulit dan berbahaya.


"Tapi gimana caramu keluar dari organisasi ini? Bukannya kita nggak diperbolehkan keluar? Atau nyawa kita sebagai gantinya. Apa kamu mau mati di tangan mereka?!" Ekspresi Samuel tampak sangat khawatir.


Jelas saja, Samuel tidak ingin kehilangan saudara laki-lakinya. Jika Dion benar-benar menghilang dari dunia ini, maka Samuel akan menyusul sahabatnya juga. Hidup ini akan terasa hampa dan membosankan tanpa adanya Dion.


"Aku nggak akan kalah dari mereka."


Dion mengerti kekhawatiran Samuel, tapi sekarang orang yang paling Dion takuti sudah berubah.


"Kalau baku hantam memang diperlukan, aku nggak akan menahan diri juga. Aku harus keluar dari organisasi ini secara resmi, daripada memilih mengulur-ulur waktu sebelum pergi," Dion cukup percaya diri dengan kemampuan bertarungnya.


Apa lagi Caesar juga memberikan pelatihan menembak dan beberapa jenis bela diri, yang bisa Dion gunakan untuk melindungi dirinya dari berbagai serangan.


"Meskipun kita berpisah, kau tetaplah saudaraku. Aku nggak mungkin melupakanmu, kecuali sesuatu menimpa ingatanku. Kau bisa menghubungi nomor lamaku kapanpun dan di manapun. Aku nggak akan meninggalkanmu," Dion tersenyum menyakinkan Samuel.


Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin Samuel ajukan, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.


"Kau tau 'kan aku nggak akan mengkhianatimu?" Samuel tiba-tiba berkata seperti itu.


Dion sedikit tertegun, kemudian menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Kalau kita bukan partner kerja lagi, aku nggak akan mengkhianatimu. Aku percaya padamu, hanya padamu. Jadi bila suatu saat nanti terjadi sesuatu kepadaku atau mereka ingin menggunakanku untuk memancingmu, jangan turuti perkataan mereka dan lakukan apa yang hatimu katakan...."


"Karena tujuan hidupku hanyalah untuk melindungimu, saudaraku. Aku harap kau akan selalu bahagia di mana pun kau berada."