Mine

Mine
Semua Bagaikan Mimpi Indah



'Rasanya masih kayak mimpi..'


Serena memandangi wajah damai Julian yang masih tertidur lelap di sisinya.


'Padahal kemarin aku bertengkar hebat sama Jasmine, tapi endingnya, Mama dan Papa jadi minta maaf langsung ke aku...apa memang mereka mau berubah ya?'


Kejadian kemarin masih terasa seperti mimpi bagi Serena.


'Kalau memang yang kemarin cuma sekedar mimpi, aku pengen mengulanginya lagi dan lagi,' Serena membatin pilu.


"Lagi mikirin apa? Dahimu sampai mengerut gitu," Suara serak Julian tiba-tiba terdengar.


Serena baru sadar kalau Julian sudah bangun dari tidur lelapnya. "Pagi~ Aku cuma lagi mikirin kejadian kemarin. Rasanya masih kayak mimpi aja."


Serena menyambut pagi Julian dengan senyuman manis. Keduanya saling mendekatkan hidung satu sama lain lalu menggesekkannya pelan.


Serena selalu geli ketika Julian melakukan ini kepadanya, namun tak dipungkiri bahwa paginya menjadi lebih indah dan bersemangat berkat Julian.


"Aku jadi malas beranjak dari kasur~" Suhu yang agak dingin membuat Serena enggan turun dari atas ranjang.


Lagipula Julian mengambil libur dua hari untuk beristirahat, jadi Serena ingin menghabiskan waktu istirahat mereka bersama di dalam kamar saja.


Julian pun juga demikian. Setelah sibuk mengurusi persiapan pesta dan menyelesaikan pekerjaan kantor serta tugas kuliah, kini waktunya untuk beristirahat dan melepas penat. Cuddling bersama Serena tampaknya akan menjadi kegiatan Julian selama beristirahat dua hari ini.


"Dingin...kita di kamar aja ya?" Julian memeluk tubuh Serena di bawah selimut tebal yang menghangatkan tubuh mereka.


Serena tertawa gemas, lalu memeluk balik Julian tak kalah eratnya. Keduanya tampak seperti sepasang kucing yang sedang bergulung menghangatkan tubuh satu sama lain.


Tok tok tok


"Serena~ Julian~! Kalau kalian udah bangun, yuk, segera turun ke bawah! Waktunya sarapan nih!"


Sebelum ketenangan mereka diusik oleh suara kencang Elliot dari balik pintu kamar yang tertutup.


Padahal Julian sudah berencana menyuruh pelayan untuk membawakan sarapannya dan Serena langsung ke kamar, tapi Elliot malah meneriaki mereka untuk segera turun ke bawah dan makan bersama.


Ingin rasanya Julian memaki kakaknya itu.


"Aku nggak mau ke mana-mana.." Ekspresi Julian jadi menekuk gara-gara gangguan Elliot.


"Mau makan di kamar aja? Tapi kayaknya papa sama kak Elliot pengen makan sama kita.." Serena sih tak masalah, mau makan di mana juga dia ikut saja. Tapi sepertinya Tuan Joseph serta Elliot ingin makan bersama-sama di meja makan.


Julian menghela nafas panjang, lalu melepaskan pelukannya dari Serena. Mau tak mau, mereka harus segera turun agar tidak membuat orang-orang kelamaan menunggu.


"Kita cuci muka sama gosok gigi dulu kalau gitu, ayo bangun. Kasihan nanti Papa sama kak Elliot kelaparan nungguin kita," Setelah bangkit terlebih dulu, Julian mengulurkan tangannya hendak membantu Serena bangkit dari posisi rebahan yang nyaman.


"Gendong~" Serena dan mode manjanya. Gadis itu tak malu merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan Julian untuk mengangkat tubuh kurusnya.


Julian menggeleng singkat sambil tersenyum tipis. Serena yang manja begini benar-benar menggemaskan dan membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.


"Manja bener. Pacarnya siapa sih ini~?" Julian mengecupi seluruh permukaan wajah Serena yang polos tanpa makeup maupun beroleskan skin care.


Keduanya tertawa riang, dengan Serena yang memeluk pundak lebar sang kekasih sebagai tempat pegangannya. Kemesraan kedua sejoli itu menjadi pemandangan manis yang menggemaskan di mata para pekerja yang ada di dalam mansion Collin. Mereka tak menyangka bila si bungsu yang terkenal dingin dan cukup keras itu bisa menjadi selembut ini dengan seorang gadis.


Kehadiran Serena benar-benar membawa angin sejuk bagi kediaman Collin. Berkat nona muda Reinhart itu pula, hubungan antara Tuan Joseph, Elliot serta Julian jadi membaik dan kembali seperti sedia kala.


Semua bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran Serena di tengah-tengah keluarga Collin. Maka dari itu, tak heran mengapa semua pekerja di sana memperlakukan Serena dengan sangat baik, layaknya seorang puteri kandung di keluarga itu.


...🐺...


...🐺...


"Jadi, kapan kalian mulai liburannya?" Tuan Joseph membuka topik obrolan pagi seusai menyantap sarapan bersama.


"Liburan ya...rasanya udah lama banget aku nggak liburan lama.." Elliot hanya bisa tersenyum kecut, menyadari bila waktu yang dia miliki sangatlah terbatas.


Ini merupakan pemandangan baru bagi Serena. Duduk bersama sambil mengobrol ringan terlepas dari urusan pekerjaan, dengan piyama yang masih melekat di tubuh.


Bahkan sepertinya bukan cuma Serena saja yang terheran-heran, tetapi juga para pelayan yang melihat penampilan dari ketiga majikan mereka pagi ini.


Seumur-umur mereka bekerja di kediaman Collin, tak pernah sekali pun melihat Tuan Joseph beserta kedua puteranya masih mengenakan piyama tidur sembari sarapan. Biasanya ketiga orang itu sudah rapi dan stylish bahkan di pagi hari sekalipun.


Well...sedikit bersantai di waktu istirahat tak ada salahnya juga 'kan? Serena justru senang dengan perubahan baru yang terjadi di dalam rumah Collin.


Serena senang melihat Tuan Joseph dan Elliot lebih santai dan bahagia dari waktu pertama mereka berjumpa. Kedua orang itu juga tampak lebih menikmati hidup mereka saat ini, tentu Serena menyukai suasana tentram dan damai ini.


Berbeda dengan di masa lalu Serena sewaktu masih tinggal di kediaman Reinhart, yang ada hanya suasana sunyi dan mencekam hingga rasanya menelan makanan pun sulit.


"Supnya enak ya? Kayaknya kamu suka itu," Punggung tangan Julian mengusap lembut pipi Serena yang sedikit menggembung ketika gadis itu sedang makan.


Hidangan penutup telah disajikan, jadi Serena akan mengisi ruang kosong di perutnya dengan makanan penutup yang tampak menggiurkan di atas meja.


Serena cuma mengangguk mengiyakan pertanyaan Julian, sedangkan mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.


Tanpa sadar Serena menjadi pusat perhatian semua yang ada di sana. Pipi Serena akan menjadi tembam ketika gadis itu makan, dan itu sangat lucu untuk di lihat.


"Imut banget~ Pantas Julian nggak mau makan kalau nggak sama kamu," Elliot sampai menopang kedua tangannya demi memperhatikan Serena yang asyik makan.


"Apaan sih? Jangan godain Serena, nanti dia tersedak!" Julian menegur kakaknya, alih-alih menutupi rasa malunya.


Serena tersenyum meledek ke arah kekasihnya. Bando yang bertengger di atas kepalanya membuat penampilan Serena terlihat manis meski hanya terbalut gaun tidur yang panjang.


"Kalian mau liburan ke mana? Nanti biar Papa atur akomodasinya buat kalian," Tuan Joseph ikut buka suara juga.


Kalau demi Serena, beliau tak akan ragu-ragu merogoh kantong dalam untuk segala keperluan anak gadisnya.


"Masih bingung. Aku sih udah usulin ke Indonesia aja, sekalian cari tempat yang hangat biar Serena nggak kedinginan, tapi Serena sendiri masih bingung," jawab Julian.


Memang betul. Julian sudah mengusulkan Indonesia sebagai destinasi liburan akhir tahun ini, tapi Serena masih dilema.


"Indonesia nggak buruk juga. Biasanya ada pesta kembang api buat menyambut tahun baru di sana. Tempatnya juga bagus, cocok lah untuk liburan," timpal Elliot.


Serena jadi berpikir keras lagi. Tadinya Serena ingin pergi ke Jepang atau Korea, tapi dia dengar di sana juga sedang musim dingin, tapi mungkin tidak sedingin di negara mereka ini. Duh, Serena baru tahu kalau memilih tempat wisata itu ternyata gampang-gampang susah.


Tiba-tiba terbesit obrolan lamanya dengan Helena ketika membicarakan tempat-tempat indah dan bersejarah yang ingin mereka kunjungi suatu saat nanti.


"Oh! Gimana kalau ke Roma? A-apa boleh? Aku pengen lihat bangunan-bangunan peninggalan zaman dulu yang keren-keren itu!" Serena suka membaca mitologi Romawi dan Yunani, yang menurutnya sangat keren.


Tuan Joseph tertawa melihat antusiasme Serena. "Hahaha! Tentu aja boleh! Kamu bebas mau pergi ke mana aja. Jangan khawatirin soal uang, kamu cukup bersenang-senang saja di sana."


Bola mata Serena berkristal haru. Dengan begitu mudahnya Tuan Joseph mengiyakan permintaannya, padahal biaya yang dibutuhkan pasti tidaklah sedikit.


Julian mengusap-usap punggung Serena dengan lembut. "Aku nggak tau kalau kamu suka baca-baca mitologi gitu. Tapi menurutku seru juga, aku juga pengen lihat tempat-tempat bersejarah gitu."


Dan bagusnya lagi, Julian juga menyukai pilihan Serena. Jadi sudah ditentukan secara pasti tujuan liburan mereka tahun ini.


Roma.


"Oke, Papa akan atur semuanya. Kalian tinggal menyiapkan koper dan bawa yang seperlunya aja, sisanya bisa beli di sana dari pada bawa berat-berat."


Serena mengangguk mengerti. Liburan ke luar negeri, Serena harus mengurus paspornya terlebih dulu.


Rasanya seperti mimpi saja, padahal dulu impiannya itu hanya sekedar angan-angan semata. Tapi Julian dan keluarga lelaki itu sanggup merealisasikan keinginan terpendamnya. Serena jadi ingin menangis haru atas kebaikan hati Julian dan semuanya.


"Makasi banyak....aku janji akan menikmati liburan ini dengan sepenuh hati!" Dari pada menangis, Serena memilih tersenyum lebar untuk menunjukkan seberapa besar hatinya merasa bersyukur dan bahagia.