
"Huwekk!" Julian merasa dunianya berputar-putar sekarang.
Padahal traumanya sudah cukup lama tak pernah kambuh lagi, tapi gara-gara Jasmine, Julian harus merasakan kesakitan yang menyiksa seperti ini lagi.
"Hhaa...Jasmine sialan!" Julian tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki Jasmine. Perutnya masih sedikit mual tapi untungnya Julian tidak sampai muntah sungguhan di sana.
"Julian? Kau ada di sini?! Julian!" Itu suara Leonard.
Julian yang masih lemas, terduduk di atas closet yang telah dia tutup untuk mengumpulkan energinya terlebih dulu. Kedua tangannya terangkat, mengusap keringat yang mengalir membasahi wajah serta lehernya menggunakan tisu yang ada di dekatnya.
Julian tak habis pikir dengan aksi nekat Jasmine tadi. 'Benar-benar udah gila rupanya!' Julian belum puas memaki Jasmine dalam hati.
"Bro? Kamu di dalam?" Di luar bilik, Leonard masih menunggu dengan perasaan cemas. Tadi dia melihat Julian berlari cepat menuju ke arah sini, karena curiga Leonard segera menyusul sahabatnya.
Tapi begitu masuk ke dalam toilet, Leonard tidak melihat batang hidung Julian, entah anak itu masuk ke dalam bilik atau mungkin turun ke lantai bawah sebab di dekat toilet ada tangga yang menghubungkan satu lantai ke lantai lainnya.
"Aku di sini..." Suara lemas seseorang menyahuti panggilan Leo.
Leonard bergerak mendekati satu-satunya pintu bilik yang masih tertutup rapat. Tak salah lagi, itu suara Julian. Tapi kenapa kedengarannya sangat lemas?
"Oi, kau gapapa?! Perutmu sakit?!" Leonard tidak bisa tidak mencemaskan kondisi Julian, dia takut kalau Julian mendadak sakit atau sesuatu terjadi pada lelaki itu.
"Julian, kasih tau aku. Kamu oke 'kan?!" Nada bicara Leonard terdengar begitu khawatir, Julian merasa bersalah sekali sudah membuat sahabatnya cemas.
"Ya...ya, i'm okay. Sorry, buat kamu khawatir.." Julian tak ingin membuat Leonard semakin panik. Bisa-bisa anak itu mengabari Serena detik ini juga, malah ruyam nanti masalahnya.
Tetapi bukan Leonard namanya kalau dia percaya begitu saja pada omongan Julian. Apalagi suara Julian terdengar serak dan sedikit lemas, firasat Leonard mengatakan telah terjadi sesuatu pada sang sahabat.
"Julian, aku serius. Jangan sembunyiin sesuatu dariku, atau aku kabarin Serena sekarang juga!?" Ancaman telak yang tak berani Julian acuhkan.
BRAK
Pintu bilik tiba-tiba terbuka lebar dengan keras akibat tindakan barbar Julian yang terduduk di atas closet dengan ekspresi pucat bercampur kesal.
"Jangan! Oke, oke! Aku bakal cerita! Tapi jangan kasih tau Serena dulu!" Julian terlihat begitu frustasi mencegah Leonard.
Leonard mengamati penampilan sahabatnya secara teliti, barangkali ada sesuatu yang ditutupi Julian, Leonard bisa menebaknya dengan cepat.
Benar saja, muka Julian terlihat pucat, ekspresinya juga kelihatan lesu dan murung. Sudah Leonard duga, pasti telah terjadi sesuatu pada Julian.
"Siapa? Siapa orang yang berani mengganggumu, hah?! Sini sebutkan namanya! Biar aku beri dia pelajaran!!" Detik itu juga Leonard meledak, lantaran dia tahu benar apa yang telah terjadi pada sang sahabat tanpa sepengetahuan dirinya.
Leonard merasa gagal melindungi Julian. Padahal Serena sudah menitipkan Julian kepadanya, tapi justru dirinya tidak becus menjalankan tugasnya dengan baik.
Lalu bagaimana nanti Leonard menjelaskan situasi ini kepada Serena?
Julian awalnya ragu hendak memberitahu Leonard, tapi dia tahu hal ini tidak seharusnya ditutup-tutupi dari Leonard maupun Serena. Julian hanya tidak ingin Serena terluka lalu bertengkar hebat dengan Jasmine.
Tapi apa boleh buat...
Jasmine duluan yang menyerang Julian, jadi kalau nanti Jasmine berlagak playing victim dan berusaha menjatuhkan nama baik Julian, Leonard bisa membantu sahabatnya sebagai saksi.
Walau itu berarti, dunia akan tahu soal trauma yang Julian derita selama ini. Namun bagi Julian, hal itu bukan masalah besar, asalkan Serena mempercayai dirinya dan tidak berpikir negatif terhadapnya, Julian tak masalah berterus terang di hadapan banyak orang. Toh tubuhnya masih bereaksi yang serupa terhadap perempuan lain selain Serena, ini bisa dijadikan bukti bila memang dibutuhkan.
Yah..ini adalah langkah akhir yang bisa Julian ambil apa bila masalah ciuman itu nantinya akan dibesar-besarkan oleh Jasmine.
Padahal Julian ingin bersantai dan merilekskan pikirannya selagi tidak ada Serena di sisinya, tapi Jasmine justru mengusik ketenangannya dan bahkan melakukan pelecehan kepadanya.
Julian merasa bersalah sekali kepada Serena. Mungkin ini terdengar egois dan buruk, tapi kalau boleh jujur, Julian tidak ingin Serena mengetahui soal ciuman paksa Jasmine. Julian tak ingin menghancurkan kebahagiaan Serena dan menorehkan luka baru dalam hati kekasihnya.
Sialan!
Julian mengacak rambutnya frustasi, pikirannya buntu, tak tahu harus membalas perbuatan Jasmine dengan apa dan bagaimana. Bila dirinya menggunakan kekerasan, yang ada keluarga Reinhart akan melayangkan gugatan kepadanya, atau buruknya lagi memutuskan semua akses dengan keluarga tersebut.
Ini jelas situasi yang tak menguntungkan, Julian tak ingin mempertaruhkan hubungannya dengan Serena gara-gara ulah Jasmine.
Julian yang termenung sambil sesekali meremas rambutnya sendiri jelas mengkhawatirkan bagi Leonard. Sepertinya Julian belum mau mengatakan yang sebenarnya terjadi, Leonard tak bisa mendesaknya kalau begitu.
Kalau masih kelihatan buruk, Leonard akan memaksa Julian pergi ke rumah sakit.
Lalu Julian menggeleng pelan, "Nggak..cuma sedikit pusing aja. Sorry, aku membuatmu khawatir sampai lari ke sini.." sesalnya, kemudian menundukan kepala.
Leonard menepuk-nepuk pundak Julian pelan. Dia sama sekali tak merasa direpotkan, justru Leonard tak akan bisa berkonsentrasi sebelum memastikan kondisi Julian baik-baik saja. Bila sudah tahu begini, kepanikannya sedikit berkurang.
"Jadi? Belum mau kasih tau siapa orangnya?" Rasa penasaran masih bersemayam di hati Leonard. Dia harus tahu siapa gerangan yang berani membuat sahabatnya kacau begini.
Julian menghembuskan nafas panjang dan berat, mungkin dia bisa meminta bantuan Leonard setelah ini. "Jasmine...Dia tiba-tiba menciumku dengan kasar. Aku bahkan mendorongnya karena refleks. Aku gatau dia baik-baik aja atau terluka.." Jangan salah paham dulu, Julian hanya takut kalau sesuatu melukai Jasmine tanpa dia ketahui lalu semua itu bisa dijadikan senjata oleh si perempuan licik tersebut untuk membalasnya.
Jasmine bisa saja melakukan berbagai cara licik untuk 'mengikat' seseorang dalam genggaman tangannya. Julian harus extra hati-hati terhadap gadis itu.
"Mau kucek dulu? Barang kali ada cctv di tempat itu. Kita bisa amankan lebih dulu," Leonard dan akal cerdiknya.
Tanpa pikir dua kali, Julian mengangguk mengiyakan. Leonard bergegas melesat secepat kilat setelah diberitahui lokasi tempat Julian ngobrol bersama Jasmine beberapa saat yang lalu.
Sambil menunggu Leonard kembali, Julian memilih mengistirahatkan fisik dan mentalnya lebih dulu. Beruntung toilet kampusnya bersih dan wangi, jadi Julian tak terlalu jijik menghabiskan waktu lama-lama di tempat minimalis tersebut.
...🦋...
...🦋...
"Dari mana aja? Bahkan sampai kelas selesai pun kamu nggak masuk sama sekali." Sarah mengintrogasi Jasmine yang baru menunjukkan batang hidungnya setelah melewatkan kelas siang mereka.
Jasmine tak membuka mulut, dia hanya mendudukkan bokongnya di kursi yang masih kosong dengan ekspresi datar yang jatuhnya terlihat muram.
Sarah, Evelyn dan Taylor saling melirik heran. Mereka merasa Jasmine tak seperti biasanya, gadis itu cenderung diam dan melamun, tak memperdulikan banyaknya orang yang berada di sekitar mereka.
"Ada apa? Kamu bisa cerita ke kita," Evelyn yang duduk di sebelah kanan Jasmine mengelus pundak temannya guna memberi semangat.
Jasmine menghela nafas panjang, "Nggak. Aku cuma lagi badmood aja," Seulas senyum Jasmine berikan untuk teman-temannya yang tampak khawatir. "Aku lagi nggak pengen bicara banyak, maaf ya kalau aku nggak ngerespon obrolan kalian kayak biasanya," imbuhnya kemudian.
Sarah dan yang lainnya mencoba memahami kondisi Jasmine. Mungkin Jasmine sedang mengalami hari yang buruk, itu wajar sih, namanya juga manusia. Tak selamanya hidup ini terasa indah dan menyenangkan walau banyak uang.
Sarah menepuk puncak kepala Jasmine, "Kalau ada masalah, kamu bisa cerita ke kita. Jangan di pendam sendiri. Itu bakal menyiksa batinmu nanti, oke?" Layaknya seorang kakak, Sarah memberikan perhatian yang paling Jasmine butuhkan saat ini.
Tanpa bicara Jasmine menarik pinggang Sarah yang sedang berdiri di dekatnya. Menyandarkan kepalanya pada perut rata temannya yang terbalut setelan kemeja dan celana kain yang lembut.
"Aku capek banget...rasanya pengen nenggelamin diri ke rawa-rawa aja.." Jasmine bergumam pelan, namun masih dapat di dengar teman-temannya.
Ingatan buruk ketika sang ibu menampar pipinya dengan cukup keras kembali membayangi pikiran Jasmine. Bahkan sampai sekarang pun, Jasmine masih dapat merasakan perihnya tamparan yang mendarat tepat di pipi kirinya.
Jasmine ingat jelas bagaimana dia menangis tanpa isakan akibat dilanda syok. Itu adalah kali pertamanya sang ibu menampar dirinya dengan cukup keras, alasannya tak lain karena dirinya tidak meminta maaf setelah menabrak seorang wanita yang baru Jasmine ketahui adalah ibunya Jevano.
Nyonya Esther mengomeli dan memarahi Jasmine habis-habisan. Tak puas sampai di situ, Nyonya Esther bahkan tak segan melayangkan tamparan sebagai bentuk hukuman darinya atas sikap Jasmine yang dinilai tak beretika.
Jasmine yang belum pernah menerima hukuman separah itu jelas bersedih dan kecewa. Ibunya yang biasa memuji dan menegurnya dengan lembut mendadak jadi kasar dan penuh emosi kepada dirinya, perubahan yang benar-benar membuat Jasmine syok.
"Aku boleh menginap di rumahmu nggak?" Jasmine menarik tangan Sarah, mencoba merayu temannya agar diperbolehkan menginap untuk sehari.
Jasmine tak ingin melihat ibunya dulu sampai sakit hatinya memudar. "Please? Aku bener-bener nggak pengen pulang ke rumah dulu...rumahku berasa kayak neraka sekarang," mohonnya dengan muka melas.
Sarah yang merasa iba jadi tak enak menolak permintaan Jasmine. "Tapi minta izinlah dulu ke Mamamu. Aku nggak mau kalau sampai Nyonya Esther memarahiku juga ya!"
Jasmine tersenyum samar lalu mengangguk mengiyakan perintah Sarah. Itu mudah, Jasmine bisa mengakali ibunya dengan alasan mengerjakan tugas kuliah bersama.
Lagipula di rumah juga Jasmine sendirian, tak ada yang bisa dia ajak curhat atau main bersama setelah Serena pergi. Hmph, jujur, dalam lubuk hatinya terdalam, Jasmine sedikit merindukan kembarannya. Mau seberapa tak sukanya Jasmine kepada Serena, yang namanya saudara kandung tetap membutuhkan satu sama lain.
Tapi makin ke sini Serena semakin mengecewakan dirinya. Kembarannya itu justru berani mengiyakan ajakan Jevano pergi liburan ke luar negeri bertiga bersama ibu Jevano. Jasmine sangat kecewa, rasanya seperti kedua orang itu berselingkuh di depan matanya secara terang-terangan.
Sekarang Jasmine sedikit lega setelah berhasil melampiaskan emosinya pada Julian. Kalau Serena berani mengambil kekasihnya, mengapa dirinya takut untuk mendekati Julian?
Jadi selama Serena absen, Jasmine telah merencanakan banyak hal untuk Julian. Biar setelah ini, bukan hanya dirinya saja yang merasa dikhianati, Serena pun harus ikut merasakan kekecewaannya juga!
Ya, akan Jasmine tunjukkan siapa dia yang sesungguhnya, supaya tak ada satupun orang yang memandangnya sebelah mata lagi.