Mine

Mine
Chapter 26



Entah kenapa Ainsley merasa kesal pada pramugari itu. Ia merasa pramugari itu tidak menganggap keberadaannya sama sekali. Dasar tidak sopan. Memangnya perempuan ini tidak malu apa menggoda suami orang dengan terang-terangan di depan istrinya.


Austin sebenarnya ingin membalas perkataan pramugari itu, namun Ainsley yang lebih dulu bicara.


"Hei , siapa namamu? aku lihat kau tidak cocok bekerja sebagai pramugari. Kau lebih cocok menjadi wanita penghibur di sebuah club malam!" tukas Ainsley dengan wajah merendahkan. Ia sudah kesal dan sekarang malah di buat makin kesal oleh perempuan yang berstatus pramugari itu.


Austin memilih diam. Ia tampaknya menikmati tontonan didepannya itu.


Pramugari itu ternganga seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Ainsley. Ia ingin membalas perempuan sialan yang menghinanya itu namun tidak bisa. Perempuan itu sedang bersama dengan lelaki yang di godanya tadi. Dan lelaki itu tampak seperti orang penting. Sekali lihat, pramugari itu bisa menyimpulkan kalau pria tampan itu adalah sosok lelaki yang berkuasa. Ia cukup takut untuk mencari gara-gara dengan mereka. Lebih baik biarkan saja.


Austin tertawa kecil. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Ainsley. Tidak peduli gadis itu melotot padanya.


"Maaf, aku tidak akan pernah bosan dengan istriku." ucap Austin lalu mengecup pipi Ainsley.


Ainsley sendiri masih terlalu kesal pada pramugari itu hingga tak menolak perlakuan Austin.


Pramugari itu cukup kaget dengan ucapan pria itu. Ternyata ia tadi sedang menggoda suami orang. Ia kemudian memaksakan seulas senyum lalu berbalik meninggalkan mereka.


"Lepaskan tanganmu dari pinggangku!" sembur Ainsley galak.


Austin tertawa.


"Baiklah-baiklah. Apa kau cemburu pada pramugari tadi?" goda lelaki itu.


Ainsley tertawa keras. Cemburu? Percaya diri sekali bos besar ini.


"Cemburu? Kau tidak lihat aku sedang kesal karena dibawa paksa olehmu ke negara yang tidak kukenal ini hah?" tukas Ainsley. Tangannya tak tinggal diam mencubit perut Austin berulang kali. Ia sudah tak berselera makan lagi karena pria itu.


                                  ***


Satu jam kemudian pesawat mendarat. Austin menuntun Ainsley turun. Meski masih enggan, Ainsley mengulurkan tangannya membiarkan Austin menuntunnya.


Di luar pesawat sudah ada mobil yang terparkir. Austin dan Ainsley langsung masuk ke mobil itu. Ainsley masih tidak bicara sama sekali. Sepanjang perjalanan suasana dalam mobil itu sangat hening.


Tidak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti. Ainsley keluar dari mobil dan ternganga melihat rumah mewah di depannya.


"Rumahmu?" tanya Ainsley. Austin memang sangat kaya, tapi ia tidak terpikir kalau pria itu juga punya rumah di Hawaii.


"Iya." jawab Austin. Ia mendahului Ainsley masuk ke dalam rumah.


Ainsley tak berhenti mengamati rumah Austin. Berbeda dengan rumah pria itu di Jakarta. Rumah ini lebih mewah. Dan ada banyak pembantunya. Dari pintu masuk saja sudah ada dua orang pembantu yang menyapanya. Di gerbang depan tadi terdapat dua satpam yang berjaga dan di dapur sepertinya ada empat. Belum lagi tadi Ainsley melihat ada tukang kebun yang bersih-bersih. Sesaat ia berpikir, beruntung juga dia menjadi istri seorang Austin yang kaya raya dan berkuasa.


Bagaimana ceritanya papanya bisa saling kenal dengan kakek Austin bahkan sampai menjodohkan mereka.


Ainsley lalu tersadar dari lamunannya. Kenapa ia malah jadi menempatkan diri menjadi seorang istri yang sangat beruntung? Bukankah dia menikah karena terpaksa? Gadis itu menggeleng-geleng, tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri.


Gadis itu memilih berjalan berkeliling. Ruang keluarga tempat mereka berada mempunyai dinding kaca yang sangat besar. Ruangan itu langsung menghadap ke laut.


Ainsley mendekat. Ternyata ada pintu kaca di situ. Gadis itu langsung membukanya.


"Wahhh..," seru Ainsley begitu semilir angin laut menerpa wajahnya lembut. Sudah lama sekali ia tidak ke pantai. Ia melangkah ke beranda.


Ainsley menoleh dan mendapati Austin sedang berdiri di belakangnya.


"Tentu saja. Ini pertama kalinya aku ke Hawaii." ucap Ainsley sambil tersenyum kecil.


"Seingatku tadi kau terus-terusan memaksaku pulang." goda Austin.


Wajah Ainsley merona. Memang benar. Tapi kalau begini ceritanya, ia mau juga berlama-lama di sini.


"Kau bisa memilih tempat yang dekat-dekat kalau mau liburan, kenapa harus pergi sampai sejauh ini?" tanya Ainsley mengalihkan topik pembicaraan.


"Karena aku menginginkannya. Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan istriku yang sangat cantik ini." ucap Austin. Ainsley memilih diam. Takutnya kalau ia banyak bertanya, ia tahu Austin akan terus menggodanya. Pasti itu.


"Ngomong-ngomong, aku tidur di mana?" tanya Ainsley.


"Di atas," jawab Austin.


Ainsley langsung menuju kamar yang terletak di lantai atas. Di atas hanya ada satu kamar tidur.


Seperti ruang keluarga dibawah, kamar itu juga langsung menghadap ke laut. Pemandangan dari balkon kamar lebih spektakuler daripada yang di bawah tadi.


Ainsley merebahkan diri ke kasur. Ia sangat senang dengan kamar yang akan ia tempati nanti malam. Kamar itu bernuansa putih, khas rumah-rumah pantai. Interiornya kasual, jauh lebih ramah ketimbang interior rumah Austin di Jakarta.


"Sepertinya kau sangat menyukai kamar ini." celetuk Austin.


Ainsley langsung duduk dan menatap Austin,


"Kau tidur di mana? Jangan bilang kau mau tidur di kamar ini juga."


Austin berjalan mendekati Ainsley, lalu duduk di samping gadis itu sambil menatapnya.


"Tidak ada salahnya. Kita suami istri. Lagi pula semenjak kau jadi istriku kita berdua selalu tidur di kamar yang sama." ucap Austin santai.


Ainsley terdiam. Benar juga sih.


"Kalau begitu kau tetap tidur di sofa." sela Ainsley cepat.


"Tidak, hari ini aku mau tidur sambil memelukmu." Ainsley terbelalak. Mulutnya ternganga.


"Tidak!"


"Kau tidak bisa menolak Ain, aku sudah memutuskan."


"Tapi," balas Ainsley sambil menggigit bibirnya.


"Aku tidak akan menyentuhmu lebih jauh. Aku sudah janji kan?"


Ainsley tidak bilang apa-apa lagi. Astaga. Austin akan tidur seranjang dengannya lagi? Tidak mungkin. Ainsley menjerit dalam hati.