Mine

Mine
Rencana Pernikahan



Serena memegangi dahinya, memikirkan kata pernikahan terucap dari mulut Julian.


"Kamu gila?! Kita belum bisa nikah sekarang, Julian! Masih ada banyak hal yang harus diurus!"


Serena tak ingin hari pernikahan yang seharusnya bahagia justru diselimuti dengan banyak masalah dan perasaan tertekan. Masih ada beberapa urusan yang harus Serena selesaikan. Termasuk di antaranya, identitasnya yang baru.


Serena tidak tahu, apakah dirinya masih layak memakai nama Reinhart di belakang namanya setelah sang ayah mengusirnya dengan begitu kejam.


Serena sudah bertekad akan memulai kehidupan barunya, termasuk mengganti nama panjangnya dengan yang baru.


"Kenapa? Selagi kamu bersedia menikah denganku, nggak ada masalah 'kan? Untuk wali penggantimu, kita bisa minta tolong keluarga Alfrod. Aku yakin banget mereka nggak bakal menolak permintaanmu yang satu ini," jelas Julian.


Serena sendiri mengetahui hal itu. Tapi rasanya seperti masih ada benang yang mengikat dirinya dengan kedua orang tua kandungnya, sehingga dalam lubuk hati Serena, dia tidak bisa menyerahkan posisi penting itu dengan orang lain.


Julian mengerti sekali Serena masih dilema perihal keluarganya. Gadis itu telah melalui masa-masa tersulitnya dan nyaris dikeluarkan dari daftar keluarga Reinhart. Tapi itu tidak menjadi masalah lagi sekarang, sebab Julian tahu bahwa Tuan Philip dan Nyonya Esther sudah bertobat dan merenungkan semua kesalahan mereka.


Kali ini benar-benar merenungkan semua dosa dan kesalahan yang mereka perbuat pada Serena. Sejak kabar tentang kaburnya Serena diketahui oleh Tuan Philip dan Nyonya Esther, suami istri itu tak berhenti mendoakan keselamatan Serena di mana pun gadis itu berada.


Nyonya Esther lebih banyak menangis dan tak jarang pula meracau memanggil nama Serena seraya memeluk baju-baju lama Serena yang masih tersimpan di kamar gadis itu.


Informasi ini Julian dapatkan secara rutin dari pelayan serta koki di kediaman Reinhart yang sebelumnya berpihak membela Serena.


Julian sengaja memantau kedua orang itu supaya bisa menjaga mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan. Khususnya Nyonya Esther yang kesehatan mentalnya sedikit terguncang setelah mengetahui bahwa putri sulungnya menghilang.


"Serena, kamu boleh percaya atau enggak sama ucapanku ini, tapi aku sama sekali nggak mengarang bebas ya," ujar Julian tiba-tiba. "Kalau kamu mau orang tuamu datang dan menyaksikan secara langsung upacara pernikahan kita kelak, nggak ada masalah sama sekali kok. Orang tuamu sedang merenungkan kesalahan mereka, mereka udah janji ke aku, kalau mereka nggak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk terakhir kalinya. Mereka bener-bener menyesal udah nyia-nyiain anak sebaik kamu, Seren..." Julian menatap Serena secara lekat.


Seolah-olah Julian berusaha menyakinkan Serena atas perubahan yang terjadi pada Tuan Philip dan Nyonya Esther.


Serena sendiri tak tahu harus merespon bagaimana. Terlalu dalam rasa sakit dan kecewa yang dia terima dari keluarganya, sampai Serena tak bisa lagi mengharapkan apa-apa dari kedua orang tua itu.


Serena hanya tertawa remeh, "Mungkin, bisa jadi itu cuma pencitraan mereka aja karena perbuatan mereka udah ketahuan. Coba kalau mereka nggak mengetahui kepergianku, aku yakin banget mereka nggak bakal berakting sampai sejauh itu."


Serena menolak percaya. Julian telah memprediksi respon yang akan Serena berikan, dan ini terbukti.


"Iya, aku juga awalnya sulit percaya. Tapi setelah menerima informasi secara rutin dari orang-orang rumahmu, aku sedikit berharap mereka bener-bener tulus kali ini."


Amat sulit dipercaya. Toh Serena sudah tak ingin lagi mengetahui apa saja yang terjadi dalam keluarga itu.


"Yah...bagus kalau mereka mau bertobat. Aku cuma pengen mereka menyadari apa yang salah dan yang benar dilakukan sebagai orang tua. Aku nggak menuntut apa-apa dari mereka, aku udah melepaskan semua afeksiku buat keluarga itu sejak mereka mengusirku," ungkap Serena kemudian.


Lalu Serena kembali melanjutkan curhatnya, "Sekarang, aku ingin menjadi diriku sendiri, Serena. Tanpa embel-embel Reinhart di belakangku. Aku udah bertekad buat melepas nama itu suatu hari nanti."


Yang mana pilihan Serena ini tak begitu mengejutkan untuk Julian.


"Kamu serius mau melepas nama Reinhart gitu aja? Maksudku, kamu bisa dapat lebih banyak keuntungan menggunakan nama itu. Kenapa nggak mau manfaatin aja?"


Serena menggeleng pelan, "Justru aku jadi merasa kayak penjahat. Dan asal kamu tau, setiap aku melamar pekerjaan, HRD selalu ragu buat menerimaku setelah melihat nama itu. Ujung-ujungnya mereka selalu menolak lamaranku dengan berbagai alasan yang nggak masuk akal. Itu bakal jadi hambatan buatku," terangnya panjang lebar.


Oohh, jadi karena itu, dulu di awal Serena datang kepadanya mencari lowongan paruh waktu, gadis itu tidak menyebutkan nama lengkapnya secara rinci. Julian baru menyadari itu.


"Hm...aku jadi ikut bingung juga. Apapun pilihanmu, aku ikut aja. Asalkan kita tetep nikah di waktu yang udah ditentukan. Cuma tanggalnya aja yang belum dipastikan karena aku mau diskusiin dulu sama kamu," Julian tak ingin ambil pusing lagi. Yang penting tujuannya harus terpenuhi.


"Gapapa, masih tersisa cukup banyak waktu buat nentuin pilihan. Mau kamu datang kepadaku dengan memakai nama yang baru, juga nggak masalah. Yang kunikahi 'kan kamu, bukan keluargamu atau orang lain. Yang kumau cuma 'Serena'. Tapi kalau kamu ingin orang tuamu yang menjadi saksi juga fine-fine aja, kita bisa atur sebaik mungkin dan diskusiin hal ini sama mereka," Julian menyerahkan keputusan itu pada Serena sepenuhnya.


Menikah ya..


Serena tak pernah menyangka kepulangannya akan disambut dengan rencana pernikahan, bukan pertunangan lagi.


"Tapi sebelum itu...izinin aku pulang ke rusunku untuk terakhir kalinya, Julian.." pinta Serena, yang direspon dengan ekspresi dingin dan tak suka dari Julian.


"Itu..selama aku tinggal di sana, ada seseorang yang bantuin aku. A-aku juga dibantu cari kerja sama dia. Nggak enak kalau aku pergi tanpa pamitan ke dia...sekali ini aja. Aku janji aku akan pulang begitu urusanku selesai!" Serena mencoba merayu Julian untuk mengizinkannya pulang sekedar berpamitan pada Dion.


Serena sudah terlanjur menyukai pekerjaan paruh waktunya di TK. Sayangnya, jarak antara TK dengan rumah Julian cukup jauh. Serena jadi bingung apakah terus lanjut bekerja di sana atau memilih undur diri.


Di lain sisi, Julian tak mungkin membiarkan Serena menemui Dion. Tidak di saat lelaki itu masih berada dalam pengawasan anak buahnya. Begitu juga kondisi Dion yang jauh dari kata baik, Julian takut Serena mengetahui perbuatannya di belakang.


Namun bila dirinya melarang Serena, gadis itu bisa berbalik mencurigainya. Posisi Julian sedikit terpojokkan saat ini.


"Nggak bisa lewat telpon aja? Kondisimu juga belum sepenuhnya membaik. Aku khawatir sama kamu, takut kamu mengingat kenangan buruk yang kamu alami di sekitar sana."


Julian mengacu pada insiden tabrakan yang nyaris merenggut nyawanya, serta gangguan dari preman-preman jahat waktu itu. Mana mungkin Serena melupakan peristiwa tak mengenakan itu.


"Uhm...ta-tapi, rasanya kurang etis kalau cuma melalui telpon..." Serena jadi bimbang mau kembali ke rusunnya atau tidak.


Di sisi lain, ketakutan serta trauma itu masih membekas dalam di ingatan Serena.


Julian mendesah panjang, lalu mengusap-usap lembut punggung kekasihnya. "Jangan takut. Aku akan menemani kamu. Tapi kalau kamu nggak bisa ketemu sama orang itu, kita pulang secepatnya, oke? Aku yakin sekali, preman-preman itu memiliki rencana jahat padamu, takutnya ada yang mengawasi pergerakanmu dan menunggu saat yang tepat buat menyerangmu lagi. Jadi jangan sampai lengah," pesannya pada Serena.


Mendengar itu, Serena makin takut menginjakkan kaki ke rusunnya lagi. Benar juga, bisa jadi para preman itu bermaksud menangkapnya untuk memancing Dion keluar. Lalu setelah menerima kabar bahwa mereka telah gagal, bisa saja rekan-rekan para preman itu akan berusaha menangkapnya lagi.


"Ka-kalau gitu, aku coba hubungi Dion aja deh. Nggak mau ke sana,...takut!" Serena mendekatkan dirinya pada Julian.


Tingkah Serena tak ubahnya seperti seekor anak kucing yang sedang mencari perlindungan, lucu sekali. Julian yang gemas, tak kuasa menahan diri memeluk tubuh Serena secara erat.


"Kamu akan selalu aman bersamaku. Nggak akan ada yang berani menyentuhmu lagi, kalau ada, mereka akan kehilangan nyawa mereka detik itu juga. Aku janji," ucap Julian yang menumpukan dagunya di atas puncak kepala Serena.


Perkataan Julian terdengar menyeramkan, namun anehnya, Serena jadi merasa tenang dan aman.


Serena tak ragu mengeratkan pelukannya pada pinggang sang kekasih. Menghirup aroma khas tubuh Julian yang sudah lama dirindukannya.


"Kamu mau 'kan, nikah sama aku?" Setelah melewati beberapa tahapan, Julian baru menanyakan itu pada Serena.


Jari Serena menyubit pelan pinggang Julian. "Kenapa baru nanyain itu sekarang?! Tadi aja kamu udah nentuin sendiri kapn kita menikah!" protesnya, sambil berpura-pura ngambek.


Julian terkekeh pelan, "Ya habisnya aku udah nggak sabar. Takut kamu kabur lagi dari genggamanku. Tapi aku nggak bohong soal perkiraan waktu kita menikah, kalau bisa akhir tahun ini, karena hanya di bulan itu jadwalku nggak terlalu padat," jelasnya.


Kalau di akhir tahun, berarti waktu musim dingin. Mereka tidak bisa menggunakan tema outdoor karena cuaca yang sangat dingin. Sedikit disayangkan sih, tapi itu bukan masalah besar buat Serena.


Serena memandangi wajah Julian secara lekat.


Memandangi calon pengantin pria yang sangat tampan.


Julian sedikit tersipu ditatap lekat oleh kedua mata bulat Serena. "Kenapa? Apa wajahku kurang tampan buat pengantin prianya?" guraunya pada Serena.


Serena menggeleng cepat lalu menempelkan wajahnya ke dada Julian. Mendengar detak jantung Julian yang berpacu cepat ketika sedang bersamanya.


"Terlalu tampan malah, sampai aku nggak percaya kalau calon suamiku bisa setampan ini~ Rasanya kayak mimpi.." ucap Serena dengan nada dibuat semanis mungkin.


"Baguslah, kalau gitu nggak bakal ada cowo yang bisa nandingin aku buat jadi suamimu." Julian jadi bangga dengan paras menawan yang dia miliki.


Serena tersenyum manis, sangat bersyukur dapat dipertemukan kembali dengan kekasih sekaligus penolong hidupnya. Rasanya seperti menikah sekarang pun tak jadi masalah bagi Serena. Tapi kalau dia mengatakan itu secara terus terang, Serena tak bisa membayangkan seberapa besar keributan yang akan Julian buat nantinya.


Biarkan saja semuanya mengalir seiring waktu berjalan. Serena akan menikmati waktu berharganya sebagai sepasang kekasih sebelum status mereka berubah.


Sebelum itu, Serena harus menemui Helena dan keluarga Alfrod. Jaga-jaga bila kedua orang tuanya tak bersedia menjadi pendamping dalam pernikahannya kelak.


Sebab hanya keluarga Alfrod-lah satu-satunya keluarga yang Serena punya saat ini.