Mine

Mine
Chapter 80



Paha Ainsley terbuka, siap menerima apapun yang akan dilakukan suaminya selanjutnya. Austin menurunkan celana dal*m Ainsley dan membukanya. Lalu dengan penuh gairah, tanpa peringatan apapun, karena Austin tahu Ainsley sudah sangat siap untuknya, pria itu menyatukan tubuhnya ke dalam kelembutan yang panas dan basah milik sang istri, yang sudah siap untuk menerimanya.


Kaki Ainsley langsung melingkar di pinggang Austin. Kemudian, ketika gerakan Austin makin cepat dan bergairah, dia berdiri dan menumpukan tangannya di tepi meja dapur, membuat Ainsley terbaring di sana penuh gairah, menerima hujaman-hujaman Austin jauh di dalam tubuhnya yang menimbulkan gelenyar panas tak tertahankan.


Austin lalu mengangkat kaki Ainsley yang semula melingkari pinggangnya dan mengangkatnya ke pundaknya. Posisi itu membuatnya semakin mudah bergerak, menemukan titik-titik kenikmatan Ainsley yang ada jauh di dalam kelembutan kewanitaannya, dan membawa Ainsley langsung ke puncaknya.


"Kau sangat nikmat sayang..." Austin berucap di antara nafasnya yang memburu,


"Apakah aku juga nikmat untukmu? tanyanya lagi ingin mendengar jawaban Ainsley. Gadis itu mencoba menjawab, tetapi sensasi itu sungguh menguasai tubuhnya, membuatnya semakin tersengal dan larut dalam kenikmatannya.


"Jawab aku Ainsley..." Austin tak mau menyerah.


Ainsley mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Austin yang membungkuk di dekatnya,


"Ya... kau... sangat....ahh.." suaranya tertelan oleh napas memburu dan erangan tertahan karena dorongan Austin yang sangat bergairah, susah payah dia mencoba berkata,


"Kau.... sangat nikmat..."


Austin tersenyum puas. Ia menatap Ainsley dengan rasa memiliki yang dalam, gerakannya menjadi semakin cepat, semakin bergairah, semakin tak tertahankan.


"Aku...akan... membuatmu bahagia.. aku...berjanji..." pria itu berbisik parau, membimbing Ainsley ke dalam pusaran gairah. Sehingga dia mencapai puncaknya dengan begitu cepat. Ainsley mencengkeram Austin dalam puncak kenikmatannya, dan merasakan lelaki itu mengalami pelepasan bersamanya, di dalamnya. Erangan kuat dari suara keduanya terdengar di seluruh ruangan itu.


                                     ***


"Tadi itu sungguh luar biasa." Austin tersenyum sambil menyuapkan suapan terakhir makan siangnya ke mulutnya. Mereka akhirnya makan siang menjelang sore, karena Austin memutuskan mereka harus melanjutkan beberapa lagi sesi bercinta di dapur sebelum makan. Lelaki itu sungguh memiliki fantasi yang gila dalam bercinta.


Pipi Ainsley memerah mendengar godaan suaminya. Lelaki itu sudah berhasil mengubahnya dari perempuan pemalu yang tidak tahu apa-apa, menjadi perempuan sensual yang selalu merespon setiap rangsangan yang diberikan Austin dengan luar biasa. Tetapi Ainsley menikmatinya. Dia sangat beruntung.


"Benar." Ainsley akhirnya mengakuinya kepada Austin, membuat pria itu tersenyum bahagia. Selesai makan, Austin mengajak Ainsley berjalan-jalan ke pasar malam. Bosan juga kalau mereka hanya di rumah terus. Setidaknya mereka harus menikmati jalan-jalan berdua diluar rumah sesekali


Dengan senang hati Ainsley menerimanya. Dia sangat menyukai pasar malam. Bukan karena ramai, tapi karena ada banyak pedagang yang menjual berbagai jenis cemilan yang dia sukai, lampu warna-warni yang menghiasi seluruh penjuru pasar malam, yang begitu indah dalam pandangannya, dan juga banyak permainan yang bisa dia nikmati.


Pasangan suami istri itu berkeliling pasar malam dengan bergandengan tangan. Austin ingat dia hanya datang sekali di tempat ini ketika dirinya masih kecil. Waktu itu ayahnya masih hidup dan orangtuanya belum berpisah. Setelah itu, ia tidak pernah datang lagi. Karena tidak ada juga seseorang yang bisa dia ajak bersama. Tapi sekarang sudah ada Ainsley. Ia sudah memiliki seorang istri yang begitu cantik dan amat dia cintai. Kalau Ainsley mau, mereka bisa ke tempat seperti ini kapanpun yang dia inginkan. Pokoknya dirinya akan selalu melakukan yang terbaik untuk membahagiakan istrinya.


"Uwaaa rame..." gumam Ainsley melihat sangat banyak orang-orang yang datang memadati pasar ini. Austin tersenyum lebar. Ia makin mempererat genggamannya, takut Ainsley akan tersenggol orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu. Berbeda dengan Ainsley yang fokus melihat-lihat wahana dan semua yang bagus dalam pandangannya, Austin lebih fokus memperhatikan sang istri. Takut gadis itu menghilang dari sampingnya karena keadaan yang terlalu ramai. Lalu pria itu mendengar Ainsley mengajaknya naik sebuah wahana bersama.


Kira-kira sekitar satu jam lebih mereka berkeliling pasar malam, sambil menaiki wahana yang ada di sana. Biasanya Austin akan cepat merasa kelelahan dan bosan menghabiskan waktunya dengan kegiatan seperti ini, tapi malam ini ia tidak merasa lelah sama sekali. Dirinya malah senang bisa menghabiskan waktu dengan istrinya. Memanjakan wanita itu.


"Sayang,"


"Hm?" Ainsley menoleh kesamping.


"Ayo foto bareng. Aku ingin menyimpan banyak kenangan kita berdua di semua tempat yang kita datangi." Austin lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan meminta tolong pada seseorang didekat situ untuk mengabadikan kebersamaan mereka hari ini.


Austin dan Ainsley berdiri berdampingan dengan posisi tangan Austin melingkari pinggang istrinya. Mereka berdua tersenyum amat bahagia dalam foto tersebut. Sungguh, Austin ingin terus seperti ini. Ia berharap Ainsley adalah perempuan satu-satunya dalam hidupnya. Juga dirinya adalah pria satu-satunya dalam hati gadis itu.


Austin sibuk melihat hasil fotonya dengan Ainsley sementara sang istri yang berdiri disebelahnya itu sibuk memakan gulali yang dibelinya. Sudah begitu banyak jenis makanan yang masuk dalam perutnya. Austin sendiri hanya menerima suapan sesekali dari Ainsley. Mulai dari roti bakar, sosis, donat, dan masih banyak lagi. Semua makanan yang dibeli Ainsley dari uangnya tetap akan masuk ke dalam mulutnya.


Tak terasa sudah hampir jam sepuluh malam. Ainsley sudah puas dengan semua yang dia lakukan hari ini. Mulai dari makan, naik wahana, menonton pertunjukan, semuanya sudah dia lakukan. Kakinya tidak sanggup lagi. Ia sudah terlalu kelelahan dan sekarang merindukan kamar.


"Mau pulang sekarang?" tanya Austin mengikuti Ainsley yang memilih duduk di pinggir jalan. Gadis itu mengangguk lemah sambil memijit betisnya. Austin yang melihat istrinya kelelahan, tidak berpikir apa-apa lagi. Ia langsung menggendong Ainsley dan berjalan ke parkiran mobil. Ainsley sendiri tidak menolak. Ia malah tersenyum senang diperlakukan seperti seorang putri. Apalagi ketika melihat wajah iri berat dari para wanita yang mereka lewati. Ia akui, Austin sangat tampan dan berkarisma. Pastinya laki-laki itu akan selalu menjadi perhatian banyak orang. Apalagi kaum hawa. Tapi Ainsleylah perempuan yang beruntung mendapatkan cinta dari pria itu. Sungguh, Ainsley tidak tahu lagi bagaimana harus mengekspresikan kebahagiaan yang dia rasakan.