
"Mama..."
Nyonya Beatrice melirik si sulung yang duduk di sisi kiri ranjang rumah sakit yang beliau tempati.
Meski belum sanggup merespon dengan baik, Nyonya Beatrice bisa menggerakkan jemari tangannya menyentuh tangan sang putera yang terkulai di pinggir ranjang.
"Mama mau apa? Jevano ambilkan sekarang."
Jevano selalu memaksakan senyum meski hatinya pedih melihat sang ibu tergolek lemah. Padahal biasanya, sosok itu yang selalu menyapa paginya dengan energik dan antusias.
Tak ada satu orangpun di dunia ini yang menginginkan suatu penyakit, apalagi bila penyakit itu menyerang orang-orang yang sangat kita sayangi. Jevano tak menyangka bila ibunya dapat tetap terkena penyakit meski beliau sudah berusaha hidup sehat dan menjadi vegetarian sejak beberapa tahun belakang.
Tapi demi sang ibu, Jevano tetap akan mengusahakan yang terbaik. Termasuk mencarikan obat dan rumah sakit yang paling bagus untuk perawatan ibunya.
"Mama harus makan banyak ya? Biar cepat sembuh dan pergi bersamaku. Masih banyak hal yang harus kita lakukan bersama. Aku janji aku akan lebih memperhatikan dan membagi waktuku untuk kita, maka dari itu, ayo semangat! Mama pasti bisa melewati semua ini dengan kuat!"
Dukungan emosional merupakan dukungan yang paling utama dibutuhkan pada waktu seperti ini. Jevano tak ingin membuat sang ibu merasakan kesepian lantaran tak dijenguk sama sekali oleh pria yang masih berstatus sebagai suami beliau.
Jevano tahu ibunya hanya berpura-pura ceria dan tegar sejak dia kecil dulu, tapi sekarang Jevano ingin ibunya melepas semua kepahitan yang hanya akan menjadi akar penyakit dalam diri beliau.
"Ma...kita bisa bahagia hanya berdua saja. Jevano sudah bisa mencari uang sendiri dan membahagiakan Mama dengan caraku sendiri. Karena itu, Mama nggak boleh patah semangat ya? Mama harus berpikiran positif terus agar tubuhnya kembali sehat. Lalu setelah itu, kita akan pergi ke suatu tempat yang tenang dan damai. Jevano janji."
Walau mulut tak sanggup menyahuti Jevano, namun telinga Nyonya Beatrice masih berfungsi dengan baik. Wanita itu mendengar semua perkataan Jevano yang menginginkan hidup bahagia hanya berdua dengannya. Sungguh, Nyonya Beatrice merasa beruntung sekali dianugerahi malaikat seperti puteranya yang satu itu.
Meski hatinya terluka oleh karena suami yang membawa putera bungsunya, namun sakit hati itu perlahan terobati berkat curahan perhatian dan kasih sayang yang Jevano berikan. Walau Jevano tak menunjukkan afeksinya secara terbuka, namun Nyonya Beatrice masih bisa melihat dan merasakan cinta tulus Jevano kepadanya.
"Te..rima...ka...sih.."
Tangan yang sedikit pucat dan terasa dingin itu menggenggam tangan Jevano sekuat yang beliau bisa. Hanya Jevanolah harapan satu-satunya yang Nyonya Beatrice miliki.
Tanpa Jevano, mungkin hidupnya tak akan tertolong lagi.
Demi Jevano dan masa depan yang berbunga, Nyonya Beatrice akan berjuang keras melawan penyakitnya agar bisa merealisasikan semua yang Jevano inginkan.
"To...long....du..kung...Ma-mma..."
Jevano mengangguk pelan disertai senyum tipis yang tampan.
"Ya...selalu...aku akan selalu mendukung Mama...I love you, Ma.."
...🐺...
...🐺...
"Mommy~~"
Julio memeluk perut ibunya yang tengah berbincang dengan seorang pria asing yang tak dia kenal.
Mata bulatnya yang mirip sang ibu memandang sengit dan penuh curiga sosok asing yang tampak akrab dengan ibu cantiknya.
Merasa diperhatikan secara intens, pria asing itu menengok dan balik memandangi Julio yang bergelayut manja pada Serena.
"Hahaha! Lihat, bahkan si kecil ini juga memandangiku dengan tatapan galaknya! Benar-benar duplikat ayahnya sekali ya!" Pria dengan tawa kencang itu tergelak menyadari tatapan mata Julio yang begitu tajam seolah-olah mewaspadainya.
Serena tersenyum kecil. Makin lama Julio makin mirip ayahnya, tak cuma dalam segi wajah tetapi sampai ke sifatnya juga.
Andai Julian diperkecil kembali badannya, mungkin mereka berdua bisa disangka kembar.
"Hah~ Tapi itu juga kadang menyulitkanku. Dia protektif sekali, mirip Daddy-nya." Di satu sisi kewaspadaan itu bisa membuat orang-orang berpikir bila anak dan suaminya adalah orang-orang yang overprotektif terhadap dirinya.
Yah...meski itu memang fakta yang amat benar.
"Hahahaha! Tak apa! Itu bagus! Artinya kau begitu dicintai oleh banyak orang, Nyonya Serena!"
Pria itu bernama Albert, salah satu pedagang kain yang bekerja sama dengan Serena.
Sebab belakangan ini Serena tertarik pada dunia fashion, jadi Julian buatkan saja sebuah butik pakaian khusus untuk istri tercintanya itu.
Kini status Serena tiba-tiba bertambah menjadi seorang Boss di toko dan brand ciptaannya sendiri.
"Sebentar ya, baby. Mommy sedang ada kepentingan dengan Tuan Albert. Julio bisa menunggu Mommy sebentar 'kan?" Tangan Serena mengusak rambut lebat berwarna silver milik sang putera.
Ahh, rambut Julio juga sama seperti ayahnya. Ciri khas dari keluarga Collin yang sangat dominan.
"Eum! Aku mau menunggu Mommy di sini!" Dasarnya Julio anak yang cukup keras kepala, jadi balita itu menunggui sang ibu tanpa merengek atau protes sedikitpun.
Terkadang Serena khawatir dengan sifat Julio yang dinilai terlalu dewasa untuk anak seusianya, tapi kata dokter yang telah menangani anggota keluarga Collin sejak Elliot lahir mengatakan bahwa sifat Julio merupakan turunan dari gen ayahnya.
Pada akhirnya Serena tak terlalu ambil pusing dengan kepribadian sang putera yang merupakan keajaiban baginya. Serena tak melalui kesulitan yang berarti berkat kecerdasan serta sifat tenang sang putera. Julio juga sangat pengertian dan penurut, jadi tak susah untuk menasehati anak tampan itu.
"Kalau begitu, saya akan segera mengirimkan kain-kainnya secepat mungkin. Senang bekerja sama dengan anda, Nyonya Serena!" Tuan Albert sangat senang memiliki konsumen seperti Serena yang tak banyak protes, tawar menawar apalagi basa-basi.
"Iya, senang bekerja sama dengan anda juga, Tuan Albert."
...🌱...
...🌱...
"Hei, Julian kecil. Kamu nggak mau minta adik baru ke Daddy dan Mommy-mu?"
Telunjuk Leonard menusuk sebelah pipi Julio yang sedikit menggembung ketika balita itu sedang mengunyah makanan.
"Adwik?"
Leonard tersenyum lebar seraya menganggukkan kepala. Bukankah ini seru mengerjai Julian yang mencueki kedatangannya?
"Iya! Punya adik itu seru lho! Menyenangkan! Nanti Julio punya teman yang bisa diajak main di rumah. Kalau Daddy sama Mommy-mu pada sibuk semua, Julio bisa bermain sama adik!"
Julio tahu apa itu adik. Adik itu seseorang yang lebih muda darinya dan yang akan menemaninya ke mana-mana.
"Ulio mau adik!" Julio mengangkat kedua tangannya ke atas, dia jadi bersemangat gara-gara hasutan setan dari Leonard.
Di satu sisi, Leonard menahan tawa puasnya. Pasti Julian akan panik begitu mendengar permintaan anaknya sendiri.
Plak
"Hayo! Apalagi kali ini?! Kamu mau meracuni otak Julio lagi 'kan!?" Helena tiba-tiba muncul dari belakang lalu memukul kepala suaminya dengan majalah pemberian Serena.
"ADUH! SAKIT, SAYANG! Tega bener kamu sama suami sendiri!!" Leonard mengelusi puncak kepalanya yang sakit gegara ulah istrinya.
Istri?
Yup, keduanya telah resmi menikah setahun yang lalu. Dan kini, Helena sedang mengandung 5 bulan.
Setelah melalui jalan berliku, pada akhirnya cinta mereka berlabuh di pernikahan. Helena menerima lamaran Leonard dengan cara yang sedikit unik.
"Jangan marah-marah terus dong, sayang. Kasihan baby di dalam perutmu. Kamu harus tenang ya?"
Leonard berdiri lalu memijat pelan kedua pundak istrinya.
"Bayi...." Julio memandang perut Helena yang mulai kelihatan membuncit.
"Nanti adiknya tumbuh di perut Mommy-mu, sama kayak aunty Helena sekarang ini. Tinggal menunggu bayinya keluar, terus adik Julio lahir deh!" Leonard memberi penjelasan seraya mengusap-usap perut buncit istrinya.
"Wahh~ Ulio mauu adikkk!!!"
Helena mendengus panjang. Sepertinya Serena harus menghadapi rengekan baru dari kedua bayi kesayangannya itu, yakni Julian dan Julio.
"Aku harap Serena nggak marah besar sama kamu gara-gara ini! Kamu ini sukanya bikin anak orang meminta yang aneh-aneh!"