
"Huhuhuhu, aku nggak nyangka, kamu bakal nikah secepet ini!"
Helena menangis sesenggukan ketika mendatangi Serena di ruang tunggu mempelai wanita.
Hendery yang datang bersama sang adik berulang kali menegur Helena supaya tidak membuat kekacauan di sana, meski dia sendiri juga sama kacaunya dalam hati.
Serena yang sudah cantik dengan gaun pernikahannya yang elegan dan mewah serta dihiasi sebuah mahkota tiara yang indah di atas kepala jadi tak bisa menahan perasaan haru yang sedari tadi dia rasakan.
Hari ini adalah hari pernikahan yang paling dia tunggu-tunggu, setelah melalui banyak cobaan dan rintangan akhirnya dia bisa membawa hubungannya dengan Julian ke jenjang yang lebih serius lagi.
Semua masih bagaikan mimpi bagi Serena. Bisa berada di tahap ini merupakan salah satu pencapaian terbesar Serena seumur hidup.
"Ka-kamu jangan lupain aku ya, walaupun kita nggak bisa ketemu sebanyak dulu..." Helena berusaha menghentikan tangisannya yang semakin tak terkendali.
Ini seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi semua orang, namun Helena justru merasa sedih dan tidak rela. Sahabat yang selalu menemaninya, baik susah maupun senang, kini akan menjadi istri dari seseorang dan mengikuti ke mana pun suaminya pergi.
Serena tersenyum maklum, dia juga merasa aneh dengan perubahan status lajangnya setelah ini. Namun ini juga merupakan proses pendewasaan yang harus dia lalui untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih matang lagi.
"Ini bukan akhir dari segalanya, aku baru aja memulai lembaran baruku sebagai seorang istri. Meski statusku udah berubah, aku tetap sahabatmu yang tersayang. Begitu juga sebaliknya. Jadi, jangan berpikir kalau setelah menikah aku bakal melupakanmu dan lainnya. Eggak, aku bakal tetap mengunjungimu sewaktu-waktu, karena kalian itu adalah tempatku melepas penat dan moodboosterku."
Ucapan Serena tak ayal membuat tangisan Helena dan Hendery makin deras.
Kedua kakak beradik itu tak kuasa menahan perasaan rindu mereka dengan memeluk sang mempelai wanita dengan heboh.
Julian bahkan dapat mendengar suara histeris dari depan ruangan Serena.
"Nak Julian.."
Seorang pria dengan tuxedo putih datang menghampiri Julian.
Itu Tuan Philip. Beliau memang sudah di minta untuk menjadi wali Serena berjalan menuju altar. Julian tahu pria itu benar-benar mengharapkan undangan dari Serena meski pada akhirnya beliau mendapatkannya dari Julian.
"Aku serahkan puteriku padamu. Aku percaya kamu bisa membahagiakan dia, hanya kamu." Tuan Philip tersenyum tulus pada Julian.
Julian membalas permintaan Tuan Philip dengan anggukan mantap. "Itu sudah menjadi kewajiban saya. Terima kasih, sudah bersedia hadir dan menjadi wali Serena," ujarnya, disertai senyum lebar yang tampan.
Sejenak kekhawatiran yang menyelimuti hati Tuan Philip terangkat secara perlahan. Julian adalah pilihan yang tepat, meski usianya terbilang masih muda untuk menikah, namun Julian kelihatan dewasa dan serius.
"Karena itu kau, hatiku bisa bernafas lega karena aku yakin puteriku berada di sisi orang yang tepat. Aku sudah gagal menjadi seorang ayah untuk Serena, aku harap kau bisa mengambil nilai positif dari semua hal buruk yang pernah terjadi di antara aku dan Serena, dan yang terlebih penting agar kau menjadi sosok pria yang lebih baik dari aku..." Kedua mata Tuan Philip mulai terasa panas.
Air mata hendak jatuh kapan saja jika Tuan Philip tidak menahannya mati-matian. "Sungguh-terima kasih banyak. Berkat kau, puteriku dapat menemukan kebahagiaannya dan mengisi kekosongan yang kami berikan padanya. Aku akan selalu mendukungmu. Kau adalah satu-satunya menantu kebangganku," ujar Tuan Philip, dengan air mata mulai berderai tanpa bisa di cegah lagi.
Bohong bila Julian tidak tersentuh atas ucapan serta doa yang diberikan Tuan Philip untuknya. Tanpa banyak kata, Julian memeluk tubuh pria dewasa yang tengah gemetar menahan tangis sambil tertawa bahagia.
"Terima kasih telah mempercayakan Serena padaku. Aku yakin, suatu saat nanti pintu hati Serena akan terketuk dan terbuka kembali untuk anda dan Nyonya Esther. Dia selalu menyayangi kalian apapun kondisinya, hanya keadaan serta trauma yang dia alami waktu itu masih membelenggu hatinya. Aku harap kalian bisa bersabar dan tidak menyerah mendekatkan diri dengan Serena."
...🎊...
...🎊...
Serena berdiri berhadapan dengan sang ayah yang baru saja membuka pintu ruang tunggunya seorang diri.
Sejenak Serena terpaku menatap wajah sang ayah yang masih terlihat tampan meski di usianya yang tak lagi muda. Tuxedo putih yang senada dengan gaun mewahnya semakin menambah kesan elegan dan tampan di wajah sang ayah.
"Cantik sekali..."
Tuan Philip tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat betapa sempurnanya sang puteri dalam balutan gaun ala princess yang begitu cocok di tubuh ramping Serena.
"Puteriku sangat cantik hari ini. Papa benar-benar terpukau melihatmu.."
Hati Serena berdenyut sesak mendengar pujian yang dilontarkan ayahnya untuk pertama kali sejak dia kecil.
"Papa, aku-"
"Sebelum kita keluar, bolehkah Papa meminta satu hal untuk hari ini?" Tuan Philip memotong perkataan Serena terlebih dulu. Beliau takut, takut Serena akan membahas sesuatu yang ada kaitannya dengan hubungan buruk mereka atau hal jelek-jelek lainnya.
"Apa itu?"
"Untuk hari iniii, saja. Papa ingin menjadi orang teregois untuk puteri papa.."
'Teregois? Maksudnya apa?' Serena agak tidak mengerti maksud dari perkataan sang ayah.
Tuan Philip tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan kanannya hendak menyentuh pipi Serena yang sudah berpoleskan makeup.
"Bolehkah papa menjadi pria teregois yang ingin menuntun langkah puteri sulung papa sampai ke depan altar? Izinkan pria tidak tau diri ini merasakan tugas terakhir sebagai orang tua untuk melepas puteri cantik papa ini menjadi istri dari orang lain. Papa tau, kamu terpaksa mengundang papa karena tuntutan keadaan dan lainnya, tapi papa sangat berterima kasih dan mengharapkan hal ini. Hanya ini keinginan papa untuk terakhir kalinya.."
Serena sudah berjanji untuk tidak menangis dan mengacaukan makeupnya yang telah tertata sempurna. Namun apa daya, ucapan serta ekspresi yang ditunjukkan ayahnya benar-benar meruntuhkan ketegaran hati Serena.
"Papa...papa adalah orang tua sekaligus ayah yang aku hormati. Aku sangat berterima kasih karena papa bersedia datang dan menemaniku berjalan sampai ke altar, itu adalah impianku sejak kecil. Kalau papa nggak hadir di sini, pernikahanku nggak akan sempurna..hiks....aku sayang papa, mama dan Jasmine, selalu.."
Momen haru itu diakhiri dengan pelukan erat yang tak akan Serena lupakan seumur hidup. Akhirnya, setelah sekian lama impiannya terkabulkan juga.
Yakni menerima pelukan hangat serta kasih sayang yang tulus dari orang tuanya.
"Kita pergi sekarang. Semua sudah menunggu kedatanganmu di sana." Tuan Philip mengulurkan tangan untuk dirangkul oleh Serena.
Keduanya lantas berjalan beriringan menuju ke tempat acara di mulai.
Di balik pintu gereja yang tinggi dan besar, Serena akan berjumpa dengan calon suaminya.
"Semoga kalian berbahagia selalu. Doaku selalu menyertai kalian, anak-anakku."