
Dion berusaha mencerna potongan demi potongan informasi yang baru dia dapatkan dari Caesar dan orang yang menculiknya. Dion baru tahu siapa laki-laki gila yang berani menangkap lalu menyekapnya di ruangan kotor dan remang ini.
Julian Collin.
Dion jelas mengetahui nama itu. Siapa orang di kota ini yang tidak mengenal sosok tampan dan kaya raya itu? Tak cuma itu, kepopuleran keluarga Collin tak hanya berlaku di dunia normal, tetapi juga di dunia 'bawah'.
Para pelakon bisnis dari berbagai kalangan sering memperdebatkan kehebatan keluarga Collin. Orang bilang keluarga Collin merupakan satu-satunya keluarga pebisnis yang lebih memilih bermain 'bersih' dan semaksimal mungkin menghindari konflik atau singgungan dengan orang-orang yang berurusan dengan mafia dan sejenisnya. Semua pencapaian yang di raih oleh Collin.Inc murni atas hasil usaha mereka sendiri, tanpa adanya campur tangan dari orang-orang licik yang suka menghalalkan segala cara untuk menjadi sukses.
Tak heran mengapa sampai detik ini, Collin Inc. Tetap berdiri tegak dan kuat meski pesaing-pesaingnya banyak yang mengalami masalah.
"Jadi...kau, kekasihnya Sel-Serena?" Pertanyaan itu Dion ajukan pada lelaki bersurai silver yang tengah berbincang dengan Caesar.
Kedua lelaki tinggi di sana serempak menengok ke arah Dion.
"Ya. Apa ada masalah?" Jawaban Julian sama sekali tidak terdengar ramah. Lihat saja kedua alisnya yang menekuk tajam, serta tatapan matanya yang waspada.
Sekilas, Dion pikir Julian itu saudara Caesar karena perangai mereka mirip. Nyatanya Julian bukan saudara Caesar, bahkan lelaki itu merupakan kekasih dari gadis yang beberapa waktu terakhir dia perhatikan.
Dan fakta bahwa Serena menyamarkan identitas aslinya membuat Dion semakin yakin kalau masih ada hal lain yang belum bisa Serena katakan secara terus terang kepadanya. Well, Dion sendiri juga seperti itu. Jadi dia tidak berhak marah ataupun memaksa Serena untuk angkat bicara.
"Hei, Serena itu sepupuku. Yang artinya, dia juga sepupumu. Julian udah ceritain awal mula pertemuan kalian, aku harap kau nggak menaruh perasaan kepada Serena," Caesar menegur Dion terlebih dahulu.
Kenyataan pahit yang harus Dion terima dan telan mentah-mentah. Mereka mempunyai hubungan darah yang tidak bisa diputuskan secara sepihak.
Di lain sisi, Julian sedikit puas melihag reaksi terkejut yang Dion tunjukkan walau tak secara terang-terangan. Lelaki itu kini terdiam layaknya orang syok seakan masih tak mempercayai fakta yang ada.
"Tuan Julian," Gerald menghampiri Julian dengan sedikit tergesa, kemudian membisikkan sesuatu pada si Boss muda.
Seketika ekspresi Julian berubah panik. "Bentar, bentar. Urusanku di sini udah selesai. Jangan biarin dia pergi sendiri!"
Caesar yang peka lantas menahan Julian yang tiba-tiba hendak pergi. "Mau ke mana kau? Kita apakan anak ini dulu," Jari telunjuknya mengarah kepada Dion yang duduk memperhatikan mereka.
"Serena mau pergi ke kantor nyariin aku. Aku pamitnya cuma pergi sebentar sih tadi. Dia pengen makan malam di luar hari ini," terang Julian, yang membuat iri dengki Caesar semakin melonjak naik.
"Aku ikut! Enak aja kalian pergi berdua aja sedangkan aku dibiarkan seorang diri! Apa kau nggak kasih tau dia kalau aku ada di sini?!" Caesar kembali ke settingan awal. Setiap kali menyangkut Serena, maka dia tidak akan duduk diam.
Julian menggaruk pelan pipi kanannya, dia benar-benar lupa memberitahu Serena kalau Caesar ada di sini bersama dengannya. "Sorry, aku bener-bener lupa," akunya dengan senyum tipis menahan takut.
Mau bagaimanapun juga, Caesar ini saudara yang dekat dengan Serena. Bisa gawat kalau dia tidak mendapat restu dari Caesar.
Caesar menghela nafas panjang, sudah menduga akan seperti ini jadinya. Yah, dia sendiri juga sebenarnya tak berniat memberitahu Serena, tapi takutnya Serena malah marah dan merajuk kalau tidak diberitahu apa-apa.
Apa lagi, Serena baru saja melalui banyak peristiwa yang buruk tak lama ini. Selagi masih ada di kota yang sama, Caesar ingin menghibur Serena.
"Ada hal penting yang mau aku omongin ke Serena. Bawa aku ikut bersama kalian," kata Caesar pada Julian.
"Tolong bantu Serena, kak," Untuk pertama kalinya, Julian memohon bantuan dan kerja sama Caesar. Semua ini demi Serena.
Caesar dapat melihat kesungguhan dalam sorot mata Julian. 'Bagus, dia bener-bener sayang dan peduli sama Serena. Aku harap dia akan selamanya seperti ini.' Sebagai saudara, Caesar berharap agar Julian tetap akan seperti ini pada Serena dan memperlakukan sepupunya itu dengan sebaik mungkin.
Tapi soal janji yang dia miliki dengan Serena, Caesar harus membahas lagi dengan yang bersangkutan.
"Ayo, kita pergi sekarang. Jangan biarin Serena menunggu lama," Caesar jalan lebih dulu meninggalkan ruangan kumuh itu.
"Tu-tunggu!!" Dion berseru keras, mencoba menahan langkah Julian dan Caesar yang hendak pergi.
Kedua lelaki itu menoleh, menatap Dion yang berusaha bangkit berdiri.
"Sampai kapan kalian akan mengurungku di sini? Aku nggak akan kabur ke mana-mana, tapi tolong, biarin aku keluar dari tempat ini. Di sini aku kesulitan bernafas." Dion memohon untuk di keluarkan atau setidaknya dipindahkan ke tempat lain yang lebih 'layak'.
Julian melirik Caesar yang juga menatap ke arahnya. Sekarang mereka tahu kalau Dion juga anggota keluarga Reinhart, Caesar sedikit kepikiran membiarkan saudaranya itu menetap di tempat yang kotor dan menjijikkan begini.
"Tolong beri dia tempat yang bersih. Aku masih ada urusan nanti dengannya," Karena Julian yang membawa Dion, maka urusan tempat akan Caesar serahkan pada lelaki itu.
Julian mengangguk singkat, lalu memberi kode pada Gerald untuk melaksanakan perintah sesuai ucapan Caesar.
Tanpa banyak bicara, Gerald di bantu seorang bodyguard membantu Dion berdiri tanpa melepaskan borgol di kedua tangan Dion.
"Lepaskan borgolnya di tempat yang baru. Pastikan dia tidak pergi ke mana-mana sampai kami datang lagi," titah Julian pada Gerald dan bodyguard yang berjaga.
Dion hanya bisa memperhatikan punggung Julian dan Caesar yang menghilang di balik pintu.
'Mereka mau menemui Serena ya? Aku juga pengen ketemu sama Serena..tapi apa dia bakal memandangku rendah setelah tau kalau aku ternyata sepupunya juga?' Dion jadi takut Serena menentang eksistensinya juga, sama seperti 'ayah' biologisnya.
Tak masalah bila orang lain menentang dirinya sebagai anggota keluarga Reinhart atau bahkan membenci dan mencaci maki dirinya, asalkan Serena tidak seperti itu juga. Dion akan sangat terluka jika Serena juga ikut menolak dirinya, apalagi sampai menganggapnya sampah lantaran statusnya sebagai anak haram.
'Serena...nama yang bagus juga. Ternyata takdir itu lucu ya..' Dion tak bisa menahan senyumnya setelah mengetahui bahwa dia dan Serena aslinya bersaudara.
Mempunyai saudara seperti Serena bukan hal yang buruk. Serena tampak begitu perhatian dan sangat baik. Dion berharap Serena tetap akan menjadi sosok gadis yang sama seperti sebelumnya.
Tapi apakah Dion masih memiliki muka untuk bertemu dengan gadis itu? Ada ketakutan dalam lubuk hati terdalam Dion, tapi di satu sisi dia ingin menjadi dekat dengan Serena.
'Aku akan coba memohon pada Julian supaya dibolehin ketemu sama Serena..' Satu-satunya orang yang bisa dia harapkan adalah Julian. Mungkin lelaki itu menaruh kecurigaan terhadapnya, jadi Dion ingin meluruskan semuanya nanti.
Toh sedari awal dirinya dan Serena hanya sebatas saling kenal dan saling bantu. Percikan cinta yang sempat Dion rasakan perlahan berubah menjadi rasa peduli terhadap saudara. Dion tidak pernah bertemu dengan sanak saudaranya yang lain, selama ini dia hanya hidup seorang diri tanpa ada keluarga yang menemani. Jadi bolehkah Dion mengharapkan hal baik dari Serena?
Kalau pun Serena membutuhkan bantuannya, Dion akan membantunya dengan senang hati. Apapun yang gadis itu inginkan, Dion akan berusaha untuk mewujudkannya. Ya, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk Serena. Asalkan Serena tidak melupakannya, Dion sudah senang.