Mine

Mine
Hukuman Ringan



"Jadi, siapa yang lebih dulu memulai perkelahian ini?"


Serena dan Jasmine saling membuang muka secara serempak, kedua gadis itu enggan membuka suara terkait perkelahian yang terjadi di antara keduanya beberapa saat lalu.


Sekarang situasi sudah terkendali, meski rasa kesal masih membekas dalam hati Serena maupun Jasmine.


Nyonya Esther mendesah lelah, sepertinya akan memakan waktu agak lama untuk merayu si kembar yang masih dalam mode merajuk.


Waktu yang terbuang semakin banyak, Nyonya Esther akan menyuruh si pemilik acara untuk turun ke ballroom terlebih dahulu, sementara urusan kedua gadis itu akan ditanganinya sendiri.


"Tuan Joseph, anda bisa turun ke bawah lebih dulu untuk menuntun sisa acara. Saya yang akan menemani kedua anak ini di sini," ujar Nyonya Esther, dengan wajah yang tampak serius.


Sejujurnya, Tuan Joseph khawatir meninggalkan Serena sendiri bersama dengan orang tua gadis itu, apalagi hubungan mereka sekeluarga tidaklah bagus.


Tapi apa yang dikatakan Nyonya Reinhart ada benarnya juga. Selaku pemilik dan penyelenggara acara, kehadiran Tuan Joseph amatlah dibutuhkan. Beliau tak bisa berlama-lama meninggalkan acara yang masih berlangsung.


"Papa bisa turun duluan, biar aku yang menunggu di sini," Julian buka suara, dia tak akan meninggalkan Serena sendirian bersama orang tua serta adik kembar gadis itu.


Apalagi ada Jevano yang terus memandangi Serena meski lelaki itu berada di pihak Jasmine. Tingkah Jevano sungguh membuat mata Julian pedih.


Elliot yang peka, membantu Julian untuk membawa ayah mereka turun sesegera mungkin. Elliot yakin bila adiknya sanggup menangani masalah ini dengan kepala dingin.


"Kita harus turun sekarang juga, pa. Kita harus mengakhiri pestanya lebih awal, bukankah lebih cepat lebih baik?"


Tuan Joseph mendengus berat, hatinya tak rela berjauhan dari Serena.


Serena dapat melihat gurat kekecewaan tercetak jelas di wajah Tuan Joseph. Serena merasa bersalah sekali sudah merusak pesta meriah yang harusnya dinikmati dengan sukacita.


Berbeda dengan Serena yang tertunduk lesu, Jasmine justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi, dia menolak disalahkan atas perkelahian yang terjadi dan berniat melimpahkan semua kesalahan ini pada Serena seorang.


Sepeninggalan Tuan Joseph serta Elliot, hening seketika menyelimuti ruangan yang di penuhi dengan bucket-bucket bunga yang cantik itu.


Ini sebenarnya ruangan khusus untuk Serena, tapi gara-gara ruangan lain sudah di tempati anggota keluarga Collin lainnya, alhasil mereka terpaksa memakai ruangan Serena untuk sementara waktu.


"Kita langsung aja ke intinya. Siapa yang lebih dulu memulai keributan tadi?" Suara Jevano memecah kesunyian yang mencekam.


Julian diam karena dia sedang menahan emosi yang sedari tadi bergemuruh. Jasmine sama sekali tidak merasa bersalah telah membuat kekasihnya yang cantik jadi dipenuhi luka bekas cakaran.


"Serena duluan yang menyerangku! Kalau kalian nggak percaya, silahkan cek rekaman CCTV-nya aja!" sahut Jasmine dengan nadanya yang ketus.


Serena tidak menyangkal karena dia sadar dirinya lah yang menampar Jasmine terlebih dahulu.


"Mulutmu itu harus belajar sopan santun, supaya nggak menyulut emosi orang aja bisanya," sarkas Serena, dengan nada setenang mungkin.


Tuan Philip dan Nyonya Esther tertegun mendengar nada bicara Serena yang kelewat dingin dan acuh.


"Kau masuk ke dalam ruanganku tanpa seizin dariku, sambil marah-marah lalu mengata-ngataiku. Apa itu pantas dilakukan oleh seorang calon pe-ne-rus?" Sudut bibir Serena membentuk seringaian meledek.


Mendengar ejekan Serena, Julian nyaris tertawa di tempat. Benar, sikap seperti itu lebih cocok ditujukan untuk seorang preman pasar.


Wajah Jasmine memerah menahan malu. Julian tampak membuang muka sambil menahan tawa gara-gara ucapan Serena, dan itu jelas melukai harga diri Jasmine.


"Benar, apa yang dikatakan Serena?" Nyonya Esther menatap tak percaya mendengar tingkah laku si bungsu.


Jasmine tergagap, bingung hendak menjawab apa. "Itu-a-aku.."


"Jasmine sedikit mabuk. Mungkin dia salah mengira ruangan itu adalah toilet karena dia berpamitan pergi mencari toilet tadi," Jevano menyela jawaban Jasmine lebih dulu.


Serena melirik sengit Jevano yang tiba-tiba angkat bicara padahal ini bukan urusan lelaki itu.


"Jasmine memang suka emosional saat sedang mabuk. Aku harap kalian dapat memaklumi ketidakdewasaan yang Jasmine tunjukkan tadi." Jevano lelah, dia hanya ingin masalah ini cepat beres dan dia bisa kembali pulang.


"Semestinya aku menemani Jasmine tadi, tapi aku malah membiarkan dia berkeliaran sendiri. Maafkan kami berdua," Tiba-tiba Jevano membungkukkan badan sebagai bentuk permohonan maaf yang dalam pada Serena dan Julian.


Tindakan Jevano sama sekali tak terduga. Tak cuma Jasmine saja yang terkejut, tetapi semua orang yang ada dalam ruangan tersebut juga sama terkejutnya.


"Tetap saja, ada tulisan yang berisi larangan serta simbol larangan yang cukup besar yang menempel di pintu. Sedikit mustahil bagi seorang yang jeli seperti nona Jasmine untuk mengabaikan larangan tersebut. Ini sudah termasuk melanggar privasi seseorang. Belum lagi kata-kata kasar yang nona Jasmine lontarkan pada kekasih saya, mau dalam kondisi apapun, itu sama sekali tak termaafkan. Jika kalian ingin masalah ini beres, saya harap kalian membayar kompensasi serta memberikan surat permintaan maaf secara resmi, terkhususnya pada Serena yang terluka atas ucapan nona Jasmine." Ini adalah keputusan akhir Julian.


Tetap saja keluarganya serta Serena-lah yang dirugikan dalam kasus ini.


Tubuh Jasmine gemetar menahan emosi, dia tidak terima disalahkan sepenuhnya atas insiden kali ini. "KALAU SERENA NGGAK NYERANG DULUAN, KERIBUTAN INI NGGAK AKAN TERJADI, TAU!?" protesnya dengan keras.


Serena menggeram rendah, "Lalu maksudmu, kau menyuruhku diam dan menerima begitu saja perkataan burukmu itu padaku?! Kau pikir kau siapa? Kau bukan orang yang pantas kuhormati sampai aku rela menerima makian dan hinaan yang kau berikan padaku!" Serena nyaris kehilangan kendali, andai Julian tidak sigap menahan tubuhnya yang hendak bergerak maju.


"Berapa lama aku harus diam menerima makian dan cemoohan dari mulut busukmu itu? Kau menginginkanku musnah dari dunia ini, benar begitu? Kalau itu maumu, aku akan melakukannya sekarang juga tapi aku akan membawamu ikut denganku!" Serena tersenyum di ambang putus asanya.


Julian tahu ada yang tidak beres dengan mental Serena. Dengan sigap Julian memeluk erat Serena dan berusaha menenangka kekasihnya yang hilang kendali diri.


Sikap dan ekspresi Serena benar-benar mengejutkan Tuan Philip dan Nyonya Esther. Mereka tidak tahu kalau Serena memendam keputusasaan yang sebesar itu, dan diperparah lagi oleh perkataan kasar yang dilontarkan oleh Jasmine.


"Serena...sayang...jangan bilang begitu...nggak ada yang menginginkanmu musnah dari dunia ini. Aku membutuhkanmu, aku menginginkanmu di sini, bersama denganku. Jadi buang jauh-jauh pikiran negatif itu ya.." Julian mendekap erat Serena dalam pelukannya.


Tangis Serena pecah detik itu juga. Hatinya lelah dan marah.


Nyonya Esther ikut bersedih mendengar tangisan Serena yang memilukan. Sebagai ibu, Nyonya Esther harus memutuskan sesuatu untuk mengakhiri derita sang puteri sulung.


"Jasmine, kamu harus melakukan apa yang Tuan Julian minta padamu," ujar Nyonya Esther pada Jasmine.


Jasmine menatap sengit ibunya. "Nggak! Ini bukan salahku sepenuhnya! Kenapa Mama cuma menghukumku?!"


"Lakukan apa yang Tuan Julian minta, atau mama akan cabut semua fasilitas dan uang saku untuk setahun ke depan?" Nyonya Esther balik menatap garang Jasmine yang hendak menentang perintahnya.


Tuan Philip tak berkomentar banyak, sebab beliau setuju dengan hukuman yang istrinya berikan untuk mendisiplinkan Jasmine yang sudah kelewatan batas.


"Lakukan. Kita masih beruntung keluarga Collin tidak menuntut lebih dari sekedar surat permintaan maaf. Kau harus belajar etika dan pendisiplinan lebih ketat lagi setelah dari sini," tegur Tuan Philip pada Jasmine.


"ARRGHH! KALIAN SEMUA SAMA MENYEBALKANNYA DENGAN CEWE GILA ITU!!"


Jasmine yang tak tahan disalahkan terus sontak bangkit berdiri lalu pergi dengan menghentakkan kakinya.


Layaknya seorang bocah yang melakukan tantrum, Jasmine pergi dengan tingkah kekanak-kanakan yang sungguh memalukan di mata Tuan Philip dan Nyonya Esther.


"Maafkan Jasmine, Rena...Mama tidak tau dia bisa bersikap seburuk ini...Mama...Mama benar-benar nggak nyangka..." Nyonya Esther berusaha mendekati Serena, wanita paruh baya itu juga ingin menenangkan Serena yang masih menangis sesenggukan.


Namun Serena justru mencengkram ujung tuxedo Julian agar kekasihnya tidak pergi meninggalkannya.


Padahal Julian ingin memberikan waktu sendiri untuk Serena dan kedua orang tua kekasihnya. Tapi Serena menolak di tinggal, jadi apa boleh buat.


"Aku mau sendiri..." Serena bergumam pelan. Isakannya sudah berhenti, dan kini menyisakan rasa letih serta mood yang buruk.


"Maaf, sepertinya Serena tidak mau saya tinggalkan. Bisakah anda berdua meninggalkan kami untuk sementara waktu? Jika nanti kondisi Serena lebih baikan, saya akan langsung memberitahu anda."


Tuan Philip mengusap pelan pundak istrinya. Itu adalah bentuk pengusiran secara halus, jadi mau tidak mau mereka berdua harus mengalah.


"Kami mengerti. Tolong kabari kami kalau kondisi Serena sudah lebih stabil ya," pinta Nyonya Esther dengan tulus.


Julian hanya bisa mengangguki dengan senyuman tipis.


Meski tidak rela dan khawatir, Tuan Philip dan Nyonya Esther akhirnya ke luar dari ruangan tersebut, untuk memberikan ruang dan waktu tenang bagi Serena.