
"Wow....perutmu...makin besar aja setiap kali kita bertemu.."
Helena memandang takjub perut Serena yang sudah semakin kelihatan besar. Maklum, kandungan Serena sudah menginjak 7 bulan, sudah mulai kelihatan buncitnya ketimbang usia 5 bulan lalu.
Berhubung Helena mendapatkan libur sehari tiap minggunya, jadi kesempatan itu dia gunakan untuk mengunjungi bumil cantik yang harus bedrest di rumah.
"Makasi banyak udah sering mampir ke sini, padahal kamu bisa gunain hari liburmu buat istirahat di rumah," ucap Serena.
Yang kemudian di balas dengan gelengan kepala kuat oleh Helena, "Kalau gitu aku bakal rebahan seharian tanpa makan dan keluar kamar, daripada gitu mending aku ke sini tengokin bumil cantikku ini~"
Helena suka sekali melihat perkembangan dari kandungan Serena. Awalnya Helena tidak yakin apakah bisa menjadi seorang bibi yang baik untuk si jabang bayi Serena, tetapi setelah melihat dan menyentuh perut besar sahabatnya, Helena rela melakukan apa saja demi calon bayi yang manis itu.
Perasaan ingin melindungi sesuatu yang tak berdaya membuat insting keibuan Helena bangkit tanpa sepengetahuan dirinya.
"Jangan disentuh terus. Jorok!" Tangan usil Helena ditarik lembut oleh Leonard yang sedari tadi dudul tenang menjadi penonton setia.
Oh, Helena sampai melupakan eksistensi lelaki itu.
"Keren ya, Leo! Perut manusia bisa melar kayak gini pas lagi mengandung! Tuhan itu memang hebat, bisa ciptain sesuatu yang unik kayak gini!"
Walaupun bukan dirinya yang mengandung, Helena begitu takjub dan ikut berbahagia memperhatikan bagaimana perkembangan seorang wanita yang sedang berbadan dua.
Helena yang sedang antusias dan energik begini yang membuat Leonard tersenyum tipis.
"Ya, suatu saat nanti kau juga bakal mengalami hal yang sama. Kau bisa belajar dari Serena sedari dini," celetuk Leonard kemudian.
Namun respon Helena tak sesuai prediksi Leonard. Senyum di wajah gadis itu perlahan memudar, tergantikan oleh ekspresi masam yang terlihat ragu.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Sebagai sahabat yang peka, Serena tahu ada yang Helena sembunyikan darinya.
Helena memang belum bercerita pada Serena perihal patah hati yang dia alami karena kakak tingkat mereka semasa kuliah.
"Kak Marcus...dia milih cewe lain..mau seberapa banyak usahaku, rupanya itu sama sekali nggak berguna di depan kak Marcus. Aku sedih banget..tapi sekarang aku udah bisa move on secara perlahan."
Pengakuan Helena bagaikan petir di siang bolong yang membuat syok Serena.
Kedua mata wanita itu sampai membelalak lebar saking tak percayanya dia dengan apa yang Helena katakan barusan.
"A-APA?! GIMANA BISA?! KENAPA KAMU NGGAK CERITA LEBIH AWAL KE AKU!?" Serena merasa tidak berguna sekali sampai tidak bisa membaca suasana hati Helena yang sedang sedih.
"UWAAA!!!! MAAFIN AKU, HELENA! AKU BENER-BENER NGGAK TAU KALAU KAMU BARU AJA MELALUI HAL YANG BERAT!!!"
Entah karena hormon kehamilannya yang membuat emosi Serena tidak stabil dan moody, hal sekecil apapun sanggup membuat Serena sensitif dan gampang menangis.
Julian yang hari ini pulang lebih cepat sampai tercengang mendapati istri cantiknya tengah menangis kencang sambil memeluk Helena yang dilanda kepanikan.
"Ada apa ini? Kenapa Serena sampai nangis kayak gitu?" Julian berdiri di depan tv layar lebar, dengan jas yang masih bertengger manis di tangan kirinya.
Leonard menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. "Mungkin dia sedih begitu karena baru tau kalau Helena dan kak Marcus udah berakhir." Dia mengambil kesimpulan sendiri.
Berakhir yang di maksud di sini artinya sudah tidak dekat lagi. Penyebabnya hanya ada dua kemungkinan; Helena sudah tidak menyukai Marcus atau Marcus memilih perempuan lain sehingga memaksa Helena mundur dari perjuangannya.
Dua opsi itu yang paling mungkin terjadi. Soalnya Helena tidak mungkin mundur begitu saja bila tidak ada alasan yang kuat.
"Be-berakhir apanya, hei!? Aku dan dia bahkan belum memulai apa-apa!!!" sungut Helena kemudian.
Namun Leonard tak ingin ambil pusing. Intinya 'kan mereka sudah selesai, dan Helena kalah dalam pertandingan ini.
'Pantas aja...waktu itu Helena justru mengajak Leo, bukan kak Marcus yang notabenenya crush Helena sejak awal kuliah dulu..' Kalau begini kasusnya, wajar sih sampai membuat Serena menangis hebat.
Waktu itu Serena disibukkan dengan persiapan pernikahan dan ***** bengeknya, jadi kesempatan Helena untuk bercerita mungkin belum ada. Baru sekarang saja gadis itu bisa menceritakan yang sebenarnya terjadi selama Serena absen.
"Awalnya memang sulit, dan aku nggak tau apakah aku bisa ngelupain orang itu. Tapi aku akan berusaha, seenggaknya aku punya pekerjaan yang bisa mengalihkan pikiranku dari dia.."
Senyum pahit terukur di wajah Helena, bukan maksudnya membuat suasana happy berubah menjadi suram begini, tapi Helena tidak ingin menutupinya dari Serena.
"Jangan khawatir! Helena 'kan cantik dan manis! Aku yakin ada banyak cowo di luar sana yang udah mengantri mau mendekatimu! Helena harus tetap percaya diri!" Serena berusaha menghibur Helena semampu yang dia bisa.
Dan ini bukan sekedar bualan semata, sebenarnya cukup banyak laki-laki yang tertarik pada Helena, tapi gara-gara fokus Helena hanya tertuju pada Marcus sampai membuat para lelaki itu mundur bahkan sebelum mulai berperang.
Cupu memang, tapi siapa yang tidak minder bila dibandingkan dengan Marcus yang didapuk sebagai Presiden kampus yang sangat populer itu?
"Hiks...memang mungkin nasibku kurang mujur aja waktu itu. Udah saatnya aku membuka mata dan melihat realita walau itu menyakitkan.." Sedikit berlebihan tapi memang itu yang sedang Helena lakukan untuk saat ini, "Lebih baik aku fokus pada pekerjaanku dulu daripada mikirin masalah cinta. Kalau ada yang suka sama aku, mending langsung kuajak nikah aja deh," guraunya kemudian.
Bukannya pasrah sih, hanya saja Helena sudah lelah duluan bila harus kembali mencari pasangan dengan usaha sendiri. Kalau kata orang, jodoh di tangan Tuhan, jadi Helena akan menyerahkan urusan jodoh kepada Tuhan daripada dia menghadapi kegagalan seperti sebelumnya.
"Pasrah banget kayaknya. Meskipun yang nembak kamu itu pria tua berbadan buncit, juga bakal kamu ajak nikah?" Leonard yang mulut savagenya yang telah kembali.
"H3ll, no! Ya lihat sikon dulu dong! Masa cewe secantik aku segitu nggak lakunya di kalangan muda-mudi sampai harus nerima tawaran nikah dari bapak-bapak tua!" sembur Helena dengan berapi-api. Kadang memang otak Leonard minta ditimpuk sesuatu biar bisa mikir secara rasional.
Leonard mendengus sinis, "Ya 'kan perumpamaan aja.." cibirnya pelan.
Julian yang ikut bergabung dengan mereka, diam-diam memperhatikan ekspresi dari sahabatnya.
'Kenapa nggak jujur aja sih? Daripada menyesal di kemudian hari.'