
"What-ja-jadi Leonard nyatain cinta ke kamu?!" Nyonya Bianca nyaris tersedak teh hangat yang sedang beliau nikmati setelah mendengarkan curhatan sang putri.
Sebenarnya Helena terlalu malu untuk bercerita, tapi hatinya jadi resah memikirkan hal ini seorang diri. Helena juga tak mau mengganggu Serena yang sekarang sedang dalam masa bedrest dan tidak boleh memikirkan hal berat. Jadi satu-satunya orang yang bisa dia mintai saran hanyalah sang ibu.
"I-iya...aku kaget banget, Ma. Aku pikir Leonard baru aja salah makan atau lagi ngeprank aku, tapi dia bener-bener serius, tau! Aku sampai kehilangan kata-kata buat balas ucapannya!" Helena mengusap wajahnya frustasi.
Semakin diingat, semakin berdebar hatinya. Helena tak sanggup memikirkan jawaban yang sedang dinantikan oleh Leonard.
Ini terlalu cepat dan tiba-tiba, Helena tak tahu harus bagaimana dan menjawab apa meski hatinya sering dibuat menggila gara-gara Leonard.
"Lah kamu sendiri gimana? Kalau kamu ada rasa, ya nggak ada salahnya mencoba. Lagian Leo anak yang baik dan apa adanya. Dia juga perhatian sama kamu. Cocok aja sih buat dijadikan mantu Mama di masa depan," gurau Nyonya Bianca, dengan maksud menghibur hati Helena yang sedang gundah.
Masalahnya bukan hanya soal jawaban. Tetapi Helena harus memikirkan kembali persahabatan mereka yang bisa terkena dampaknya apabila suatu saat nanti sesuatu berjalan tak sesuai harapan.
Leonard adalah sahabat yang berharga selain Serena dan Julian. Tentu Helena tak mau kehilangan sosok sebaik Leonard meski lelaki itu masih memiliki banyak kekurangan. Well, tak ada yang sempurna di dunia ini, baik Helena dan Leonard pun sama-sama tahu kekurangan masing-masing.
Helena sangat menjaga baik persahabatannya dengan Leonard. Selama ini dia sering mendapati Leonard dekat dengan beberapa perempuan tapi tak pernah lebih dari sekedar 'teman' kalau menurut kata orang yang bersangkutan.
Sebagai perempuan dewasa, Helena tahu hubungan apa yang dijalin Leonard dengan perempuan-perempuan itu. Kalau dulu Helena tak pernah ambil pusing karena itu bukan urusannya, sekarang situasinya berbeda. Helena jadi memikirkan banyak hal termasuk kebiasaan Leonard yang satu itu.
'Apa setelah kami resmi pacaran, dia akan menghentikan hobinya itu?' Helena tak suka berbagi kekasih, jadi dia harus memikirkan hal ini secara matang.
Jika Leonard tak bersedia menghentikan kebiasaan buruknya di luar sana, maka Helena tak punya pilihan lain selain menolak ajakan kencan Leonard. Meski berat, sebab benih cinta mulai tumbuh dalam hatinya, Helena tak mau merasakan sakit di kemudian hari.
"Pelan-pelan aja memikirkan jawabannya. Ini keputusan besar buat kamu, apalagi orang bilang pacar pertama itu akan memberikan kesan yang paling besar dalam seumur hidup kita, kalau kamu masih ragu dan takut, lebih baik beri dia pengertian." Nyonya Bianca tak akan memaksa Helena mengiyakan ajakan kencan Leonard, meski tahu keuntungan yang bisa beliau dapatkan jika putrinya berhubungan dengan calon penerus dari keluarga Martin itu.
Kebahagiaan Helena adalah prioritas di atas segala hal duniawi yang bisa Nyonya Bianca dapatkan. Sekalipun banyak orang yang menawarkan hadiah atau iming-iming yang menggiurkan dengan syarat menyerahkan putrinya yang berharga, Nyonya Bianca tak akan ragu menolak semua itu.
"Turuti aja kata hatimu. Kalau kamu belum bisa mempercayai dia, kamu harus memberi dia penegasan lalu mengungkapkan keraguan yang bersarang dalam hatimu..."
"...sebab dasar dari sebuah hubungan adalah kepercayaan, lalu disusul dengan kesetiaan. Kejujuran memang penting tapi kalau nggak setia, orang juga nggak akan bisa berkata jujur.." Nyonya Bianca memberikan saran ini menurut pengalaman pribadinya semasa muda dulu.
Semua masukkan yang diberikan oleh sang ibu didengar dan diingat dengan baik oleh Helena. Ini bisa menjadi pegangannya di masa mendatang, khususnya dalam hal asmara. Helena tak menyangka, akan tiba waktunya membicarakan hal berbau asmara seperti ini dengan ibunya.
'Aku harus bicara empat mata sama Leo. Kalau Leo keberatan, aku harus segera menolaknya dengan cepat...buat apa punya pacar yang masih suka jajan di luar sana? Huh! Fakta kalau dia itu cowo populer aja udah bikin aku kesal!'
'....aku kesal karena dia selalu dikelilingi cewe yang lebih cantik dariku...terus kenapa dia justru tertarik sama aku?...apa dia hanya penasaran, ingin mencoba pacaran dengan orang nggak berpengalaman kayak aku?'
'...aku nggak bisa berhenti memikirkan hal ini. Leo terlalu sulit ditebak, aku nggak bisa membaca isi hatinya secara terbuka...'
'Kalau kami berpacaran? Akan jadi apa ya nantinya? Apa aku bisa sebahagia Serena? Bahkan cinta pertamaku tampak sangat senang bisa berkencan dengan seseorang yang dia sukai...apa kami juga bisa kayak mereka?'
Helena tak bisa menghentikan perasaan insecure yang menyelimuti hatinya. Dia harus segera membicarakan ini dengan Leonard sebelum memutuskan pilihan yang tepat.
...🐺...
...🐺...
Julian memanggil Leonard yang baru datang berkunjung ke ruang kerjanya.
"Ada apa menyuruhku datang ke mari? Tumben-tumbenan? Biasanya nggak mau aku datangi karena takut mengganggu waktumu dengan Serena," ledek Leonard yang menohok hati Julian.
Julian memang sering melarang Leonard berkunjung ke rumahnya karena takut mengganggu waktu berharganya dengan Serena dan calon buah hatinya yang masih dalam kandungan sang istri.
Bukan tanpa alasan tentunya, Julian tidak memiliki banyak waktu luang akibat pekerjaannya yang cukup padat, alhasil di setiap ada kesempatan libur akan Julian gunakan sebaik mungkin untuk melayani sang istri tercinta.
"Kau bakal tau kalau udah menikah nanti. Omong-omong, aku dengar kamu udah nyatain cinta ke Helena ya, benar??"
Ternyata kabar itu menyebar dengan cepat. Pasti Julian tahu dari Serena, yah..sudah Leonard tebak sih.
Karena obrolan mereka akan memakan waktu agak lama, jadi Leonard menempati sofa yang berseberangan dengan Julian.
"Yah...itu benar. Terus, pasti Helena curhat sama Serena ya?"
Tak bisa dibilang curhat sih, lebih tepatnya, Helena sedang frustasi jadi gadis itu meluapkan kekhawatirannya dengan cara yang heboh. Tetapi Julian tak akan memberitahu Leonard tentang hal itu.
"Kayaknya dia kaget banget. Yah, kalau aku jadi dia aku juga bakal kaget sih..." Julian menyesap teh hangatnya secara perlahan.
"Tapi apa kamu bener-bener serius sama dia?"
Pertanyaan itu akhirnya dilontarkan pada Leonard. Sebagai seorang sahabat, Julian tahu sekali sepak terjang lelaki itu, terutama dalam hal percintaan.
Leonard bukan tipe laki-laki yang mau diikat dalam sebuah hubungan serius, sama seperti dirinya terdahulu. Julian khawatir, prinsip buruk itu akan tetap terbawa dalam hubungan Leo dengan Helena.
"Leo, kau tau 'kan, Helena itu-"
Sebelum Julian menyelesaikan ucapannya, Leonard buru-buru menyela. Dia tahu kok kekhawatiran apa yang sedang mengganggu pikiran sahabatnya.
"Jangan khawatir. Kali ini aku bener-bener serius kok," ujarnya tiba-tiba. "Aku serius mau ikat Helena dalam hubungan resmi. Bagiku, nggak ada cewe yang bisa membuatku nyaman selain dia. Sama halnya kayak yang kau rasakan bersama Serena."
Sorot mata Leonard menatap lurus dan memancarkan kepercayadirian yang besar. Pada titik ini, Julian bisa menilai seberapa serius sahabatnya ingin menjadikan Helena kekasih hatinya.
Akan tetapi Julian ingin mempercayai Leonard. Leonard tak pernah kelihatan seserius ini sebelumnya. Julian ingin Leonard menemukan cahaya hidupnya yang baru, yang bisa menuntunnya ke jalan yang benar.
Maka dari itu, Julian akan mendukung Leonard sepenuhnya. Memberikan saran dan kritikan tentang apa yang baiknya dilakukan dan tidak untuk menghormati sisi Helena.
"Semoga apa yang menjadi harapan terbesarmu akan segera terwujudkan. Aku selalu ada di sini mendukungmu..sahabatku."