Mine

Mine
Side Couple : Maju Atau Mundur?



"Hei..sorry, apa kamu nunggu lama?"


Helena datang masih dengan setelan kantor melekat di tubuh langsingnya. Rupanya gadis itu baru pulang kerja, jadi dia sedikit terlambat datang ke tempat pertemuannya dengan Leonard.


Berbeda dengan Helena yang tampak rapi meski rambutnya sedikit berantakan gara-gara diterpa angin ketika berlari, Leonard justru berpenampilan kasual hanya dengan mengenai setelan hoodie serta celana jogger hitam kesukaannya.


Dalam hati Helena berdecih iri. Leonard bisa pulang tepat waktu atau sesuka yang dia mau karena jabatannya sebagai CEO di perusahaan sendiri. Berbeda dengan karyawan biasa seperti Helena begini, dia terpaksa berlari-larian demi mengejar waktu yang sudah sangat mepet, ditambah lagi dirinya masih menggunakan kereta bawah tanah sebagai alat transportasi ke mana-mana.


Di usia dewasa sekarang, Helena malu terus di antar jemput oleh orang rumahnya meskipun menggunakan jasa supir pribadi. Helena sungkan pada rekan-rekan kerjanya jika mereka mendapati dirinya pulang-pergi menggunakan mobil pribadi yang tergolong mewah.


Dalam arti singkat, saat ini Helena belajar hidup menjadi orang biasa demi bisa berbaur dengan orang-orang di lingkungan kerjanya. Menggunakan pakaian bermerk kenamaan saja Helena sungkan, apalagi kalau menggunakan mobil keluarganya yang kelihatan mahal dan mewah itu, bisa jadi bahan bicaraan orang-orang nantinya.


"Nggak kok, aku aja yang datangnya terlalu cepat. Duduk dulu, mau aku pesanin minuman?" Seperti biasa, Leonard akan melayani Helena lebih dulu layaknya seorang gentlemen.


Helena mengangguk mengiyakan, sembari membereskan barang-barangnya yang tadi terguncang di dalam tas.


"Lho, Leonard!?"


Sampai seseorang memanggil nama Leonard dengan cukup keras, dan mengambil alih atensi Helena secara spontan.


Seorang perempuan berambut pirang sedikit curly berjalan menghampiri Leonard, dan dengan tak tahu malunya perempuan itu merangkul pundak Leonard yang masih dalam posisi duduk.


Layaknya teman dekat nan akrab, perempuan itu mengajak bicara Leonard tanpa mempedulikan Helena yang jelas-jelas duduk di hadapan Leonard.


"Sorry, aku nggak ingat namamu, dan tolong, jaga jarakmu dariku." Leonard berusaha mengusir perempuan asing itu secara halus.


Bulu kuduknya jadi meremang ketika menyadari ada aura negatif dari arah depannya.


Akan tetapi, perempuan itu tak kunjung menyadari adanya ancaman bahaya di dekatnya. Dia justru mencubit sebelah pipi Leonard karena gemas.


"Aww~ Jangan malu-malu gitu dong! Kita 'kan udah pernah tidur bersama, jadi santai aja satu sama lain!"


Kretek


Suara apa itu barusan?


Ah, benar.


Suara retakan hati Helena di dalam sana. Sekejap Helena lupa kalau lelaki di depannya itu seorang 'playboy' yang suka melakukan ONS dengan perempuan manapun.


Mood Helena seketika memburuk. Tanpa banyak kata, Helena bangkit dari duduknya. Nyaris membanting powerbank yang hendak dia pakai untuk mengisi daya ponselnya yang hampir habis.


Jantung Leonard berdebar diselimut ketakutan. Oh tidak! Dia sudah mengacaukan suasana di antara mereka. Padahal Leonard sudah menanti-nantikan pertemuan mereka ini selama dua minggu lamanya.


Padahal kali ini kemungkinan besar dirinya akan menerima jawaban atas pernyataan cintanya dari Helena!


"Aku bilang, menyingkir dariku!!" Leonard yang emosi menyentak tangan perempuan asing itu dengan cukup keras.


Keributan yang terjadi jelas menyedot perhatian para pengunjung cafe di sekitar mereka. Helena yang tak ingin semakin dipermalukan buru-buru keluar tanpa berpamitan pada Leonard.


Hatinya terasa seperti teriris-iris pisau tak kasat mata. Sesak dan perih. Padahal Helena sudah berusaha memaafkan dan menerima Leonard apa adanya, namun ketika salah seorang dari masa lalu Leonard muncul, bayangan-bayangan dalam pikirannya membuat hatinya menolak dan terluka.


Helena memang tak berhak menilai buruk baiknya kelakuan Leonard di masa lalu, tapi di masa sekarang--apalagi lelaki itu sudah menyatakan cinta padanya, mau tak mau Helena jadi memikirkan kembali risiko serta konsekuensi yang akan dihadapinya di masa mendatang.


"Len, Helena! Tunggu, kita bicara sebentar! Jangan pergi lebih dulu sebelum aku menjelaskannya padamu!"


Pers3tan dengan air mata yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk mata, Helena terus berjalan tanpa menghiraukan Leonard yang memohon kepadanya.


Grep


"Helena, tolong dengerin aku, sekali aja!" Akhirnya Leonard berhasil meraih pergelangan tangan Helena.


Namun apa yang didapati Leonard justru membuat lelaki itu syok.


Helena menangis!


Dan itu karena dia!


Kepanikan seketika menyerang Leonard. Dia menarik Helena ke tempat yang lebih sepi dan aman untuk berbicara empat mata. Dia harus meluruskan sesuatu supaya Helena tidak salah paham dulu kepadanya.


"Lepasin! Aku mau pulang aja! Aku capek!"


Helena tidak berbohong, dia memang lelah, baik fisik maupun mentalnya. Apalagi setelah melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana intimnya interaksi Leo dengan perempuan lain.


Helena tak sanggup bila harus melihat hal yang sama di masa depan.


Memikirkan itu, air mata Helena mengalir semakin deras meski tanpa isakan.


Mengapa perasaan cintanya harus kembali tersakiti bahkan sebelum dia memulai semuanya?


Rasanya Helena tak ingin lagi mempercayai apa itu cinta dan sejenisnya.


"Helen...maaf, maaf kalau kamu terpaksa melihat hal yang nggak mengenakan kayak tadi. Aku nggak akan membohongimu tentang masa laluku, dan kamu sendiri juga udah tau kayak apa aku sebelum ini. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui, aku udah nggak pernah lagi ngelakuin ONS dengan siapapun sejak aku menyadari perasaanku ke kamu...." Leonard mengakui kebejatannya tanpa perlu menutupinya.


"...aku tau kamu kecewa sama aku dan berpikir ulang kali buat nerima aku. Tapi aku tulus mencintaimu, aku nggak pernah secinta ini sama cewe lain. Mungkin aku membuatmu jijik dan takut, aku bisa menerima itu, karena memang begitulah aku...."


"..aku nggak akan memaksamu buat menerimaku. Tapi aku ingin kamu tau, kalau aku benar-benar cinta dan sayang sama kamu. Kamu gadis yang paling berharga di hidupku. Meski kita bukan sepasang kekasih, tapi aku ingin persahabatan kita tetap sama kayak dulu...jangan menjadikan pernyataan cintaku sebagai beban di hidupmu, karena aku nggak pantas nerima itu.."


Helena tak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir. Ekspresi Leonard tampak bercampur aduk, antara sedih, kecewa, pasrah dan takut. Baru kali ini Helena melihat ekspresi berbeda dari Leonard yang biasanya selalu memasang wajah datar seolah hidup segan mati tak mau.


Helena tahu alasan di balik kenakalan Leonard selama ini, karena lelaki itu kesepian dan tak memiliki tempat untuk mencurahkan perasaannya selain Julian. Leonard sama seperti Julian di masa lalu yang tak mempercayai perempuan manapun.


Helena tahu, tapi rasanya menyakitkan untuk hatinya.


"Aku..."


Helena jadi bertanya-tanya, apabila dirinya melepaskan Leonard, apa yang akan lelaki itu perbuat di luar sana?


Apakah Leo akan mencari wanita lain demi melampiaskan hasrat serta emosinya?


Apa akan ada sesosok perempuan lain yang akan mengisi hari-hari Leonard di masa mendatang yang tak Helena ketahui?


Dan, apakah hatinya siap melihat Leonard dekat dengan perempuan lain?


Mulut Helena jadi tertutup rapat. Dia tak bisa berpikir jernih.


"Mungkin kita tunda dulu pertemuan kita kali ini...aku akan tetap menantikan jawabanmu dengan sabar. Apapun itu, aku akan berusaha menerimanya dengan lapang dada. Jangan terlalu di ambil pusing, aku nggak mau menyusahkanmu."


Usakan lembut pada puncak kepala serta senyuman getir yang terukir di bibir Leonard, semua itu menyesakkan hati Helena.