
Ainsley merasa seluruh tubuhnya lelah. Ia sibuk seharian ini karena kegiatan kampus. Gadis itu bahkan sampai lupa ia sudah menjanjikan sesuatu yang besar pada Austin. Yap! Memberikan dirinya sepenuhnya pada lelaki itu. Karena terlalu lelah, ia langsung masuk begitu saja ke dalam kamar dan membanting dirinya ke kasur. Ia ingin istirahat sebentar sebelum mandi. Kakinya sudah pegal-pegal.
"Kenapa malam sekali?" suara itu membuat mata Ainsley membuka lebar. Ia melotot ketika melihat Austin yang berdiri didepannya hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Perut rata yang terpahat menjadi kotak-kotak enam bagian itu membuat Ainsley menelan ludah. Bagian itu sungguh membuat wajah Ainsley memerah. Ia akhirnya teringat janjinya tadi siang. Astaga, kenapa dia lupa? Tahu-tahu begitu dia tidak usah pulang saja dan memikirkan alasan. Tapi karena ia sudah berada di rumah besar ini, di kamar sih pemilik rumah yang adalah suaminya sendiri itu, Ainsley tahu yang sudah tidak bisa kabur lagi. Mendadak semua rasa lelahnya hilang, ditutupi dengan wajah gugup. Apalagi melihat Austin kini naik ke atas tempat tidur tanpa mengalihkan tatapan darinya sedikitpun.
"Kau masih ingat perkataanmu tadi siang bukan?" gumam Austin pelan lalu menangkup dagu Ainsley, memaksa gadis itu menatapnya. Ainsley menelan salivanya.
"Y..yang mana?" gadis itu pura-pura lupa. Austin tertawa pelan.
"Perlu aku jelaskan dengan tindakan?" balas lelaki itu menatap keseluruhan penampilan Ainsley. Pakaian gadis itu masih sama dengan tadi siang.
"A..aku belum mandi!" seru Ainsley cepat. Ia menahan tangan Austin yang siap membuka kaos yang dia pakai tapi Austin tidak terbantahkan. Pria itu tetap melanjutkan tindakannya dan akhirnya kaos Ainsley terbuka, menyisakan bra hitam yang menutupi ***********.
"Tidak usah mandi, kau masih wangi. Aku juga sudah tidak tahan untuk menyentuhmu. " ucap Austin melanjutkan membuka pakaian Ainsley yang lain. Gadis itu akhirnya pasrah. Membiarkan Austin melakukan apa yang pria itu mau. Baiklah, mereka kan suami istri. Dia juga tidak memungkiri kalau beberapa hari terakhir ini ia juga merindukan sentuhan Austin pada dirinya.
Kini Austin dan Ainsley sudah sama-sama tak mengenakan pakaian apapun. Ainsley menutup matanya ketika Austin melepaskan handuk putih uang melilit dipinggang laki-laki itu. Ia malu melihat benda itu. Jelas sekali tadi ia lihat benda itu sudah berdiri.
Ainsley lalu merasa bibir Austin sudah menempel dibibirnya. Di mulai dari ciuman ringan dan makin lama semakin panas. Austin mulai mengabsen semua yang ada didalam rongga mulutnya membuat Ainsley merasa sesak napas. Namun ia menikmatinya.
Saat Ainsley melingkarkan tangannya pada leher Austin, Austin sendiri tak tinggal diam. Tangannya mulai beraksi dengan menggoda Ainsley di berbagai titik sensitif gadis itu. Titik yang membuat Ainsley tidak tahan adalah dibagian intim dibawahnya. Ia menggelinjang hebat ketika Austin bermain dibagian itu dengan jarinya. Ini kedua kalinya laki-laki itu menyentuhnya dibagian terintimnya, dan entah kenapa rasanya makin nikmat. Austin sangat puas melihat Ainsley yang terus melihatnya dengan mata sayu, tanda gadis itu menikmati permainannya.
"Ugh..." erang Ainsley tertahan ketika Austin tiba-tiba mengubah posisinya. Wajahnya kini berada tepat dihadapan area intimnya. Nafas Austin yang panas kini membelai **** ***** Ainsley yang mencapai titik yang paling sensitif.
Austin menahan kedua paha Ainsley hingga tetap terpentang lebar. Ia tersenyum tipis ketika melihat Ainsley yang terlihat gelisah dan berusaha untuk menutupi dirinya sendiri yang memang tengah berada dalam kondisi yang sangat terbuka dihadapannya. Namun, sebelum Ainsley berhasil menutupinya rapat-rapat, Austin sudah lebih dulu meniup bagian intim Ainsley yang sensitif. Membuat Ainsley seketika bereaksi, bergetar hebat, dan Austin takjub dengan reaksi tersebut.
Austin kembali memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Ainsley benar-benar kehilangan akal sehatnya.
"Ahh.. Austin pleasee tunggu dulu." Ainsley mencoba menghentikan Austin untuk melakukan apa yang sedang lelaki itu saat ini. Tapi Austin tidak mau mendengarkan. Sebab beberapa saat kemudian ia kembali memberikan sentuhan yang makin berani pada istrinya. Membuat Ainsley makin menggelinjang hebat lebih dari sebelumnya. Lalu Ainsley tersentak kaget ketika dirinya merasakan sesuatu memasuki intinya. Lidah Austin terus mencecap dibagian terdalam hingga akhirnya Ainsley berubah kaku ketika dirinya mendapatkan pelepasan yang begitu luar biasanya. Ini jauh lebih dari hebat rasanya dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu ketika Austin memberikan sentuhan pertama kali padanya. Ia merasa Austin makin lihai, padahal tubuh keduanya belum menyatu.
Merasa Ainsley sudah siap untuk melanjutkan kegiatan tersebut, Austin pun bersiap untuk melakukan penyatuan dengan istrinya.
"Kau siap?"
Ainsley menelan ludah ketika mendengar pertanyaan itu. Terlebih ketika dia merasakan bukti gairah Austin yang sudah bersiap untuk melakukan penyatuan. Bukti gairah itu sudah menempel pada bagian inti Ainsley yang memang sudah basah. Itu terasa panas bagi Ainsley dan membawa sensasi menyenangkan yang membuat Ainsley bergetar lebih dari sebelumnya. Namun ia juga merasa gugup dan takut. Karena ini adalah pertama kali baginya untuk menerima benda besar itu memasuki intinya. Dan ketakutan Ainsley itu terlihat jelas dipandangan Austin.
"Aku janji akan pelan-pelan." guman pria itu mengecup dahi Ainsley, berusaha memberinya kenyamanan.