
"Saya tidak menyangka kalau kekasih anda adalah seorang perempuan yang sangat cantik seperti ini. Pantas saja anda jarang memperlihatkannya di depan publik!"
"Benar! Kecantikan nona Serena tidak kalah dari saudari perempuannya itu. Saya sungguh kaget ketika tahu bahwa nona Serena juga puteri dari Tuan Philip!"
Serena hanya menanggapi dengan senyuman tipis ketika orang-orang mulai mengerumuninya lalu membahas soal keluarganya di depan umum. Mungkin ini memang yang terbaik, pengaruh dari nama Reinhart bisa Serena manfaatkan sebaik mungkin.
"Terima kasih atas sanjungannya. Orang tua saya pasti bangga mendengar pujian yang anda berikan pada saya." Sebuah jawaban yang bijak dan tidak menunjukkan keserakahan serta pertentangan terhadap orang tua.
Meski hati masih sedikit dongkol, Serena tetap harus bersikap profesional, terlebih pesta ini adalah pesta penting yang sangat dinanti-nantikan oleh Tuan Joseph. Banyak keuntungan yang dapat di ambil jika kita pintar-pintar membaurkan diri dengan orang-orang berkedudukan tinggi yang turut hadir dalam pesta malam ini.
"Tapi saya heran, kenapa hanya satu puteri saja yang selalu diperkenalkan ke publik? Padahal kedua puterinya cantik semua, saya tidak mengerti dengan jalan pikiran Tuan Philip."
"Benar. Ketika saya tanya, beliau juga menjawab hanya mempunyai seorang puteri saja. Apa itu tidak aneh?"
Hm...Serena jadi mendapatkan informasi baru yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Orang-orang di sini kebanyakan paruh baya dan sudah menikah serta punya anak yang telah beranjak remaja dan dewasa, sepantaran lah dengan ayah Serena, tapi mereka hobi bergosip juga rupanya.
Akan tetapi, hal ini justru menyenangkan bagi Serena. "Mungkin ayah hanya malu memperkenalkan saya yang masih banyak kurangnya ini. Apalagi saya tidak pantas menjadi penerus selanjutnya. Maka dari itu, ayah hanya berkesempatan memperkenalkan Jasmine di depan publik." Ditambahi sedikit bumbu drama, mungkin akan semakin seru.
Anggap saja Serena ingin melampiaskan kekecewaannya terdahulu.
Dan respon orang-orang itu sesuai dengan prediksi Serena.
"Tetap saja tidak bisa begitu!! Sebagai anak pertama seharusnya anda yang berhak menduduki kursi penerus selanjutnya, nona!"
"Benar. Meskipun Tuan Philip sering membawa Jasmine ikut serta dalam meeting, tapi anak itu lebih fokus pada hal lain, bukan pada presentasi yang sedang di jelaskan. Saya jadi mengkhawatirkan kesejahteraan perusahaan Reinhart ke depannya nanti."
"Ya. Saya juga bertanya-tanya, mengapa Tuan Philip bersikeras mencalonkan Jasmine sebagai penerusnya ketimbang anda yang kelihatan jauh lebih bijak dan kompeten daripada anak itu."
"Hei, persaingan antar saudara itu sudah lumrah terjadi. Tapi andai benar, Jasmine masih belum dewasa sepenuhnya untuk mengemban tugas dan pekerjaan seberat seorang direktur utama."
'Hoooh...ternyata banyak yang meragukan kemampuan Jasmine juga. Aku nggak percaya mereka ngomongin Jasmine secara blak-blakan di depanku,' Serena bingung harus merasa senang, tersinggung atau lega karena bukan hanya dirinya seorang yang menilai kemampuan serta jiwa kepemimpinan Jasmine belum berkembang pesat seperti yang diharapkan.
'Kalau Jasmine sampai mendengar omongan bapak-bapak ini bisa gawat jadinya. Anak itu 'kan harga dirinya setinggi langit,' Serena merasa topik tentang Jasmine harus segera disudahi, sebelum orangnya dengar.
"Serena!"
Suara familiar menyerukan nama Serena. Serena jelas tahu siapa pemilik suara lantang barusan.
"Jevano.." Tapi kurang etis kalau Jevano menyerukan nama Serena secara sembarangan, di hadapan banyak pasang mata yang memperhatikan setiap gerak gerik mereka pula.
Elliot yang sedang menemani Julian berbincang dengan beberapa rekan bisnis penting, sontak melirik ke arah sang adik yang diam membeku.
"Serena, bisa aku minta waktumu sebentar?" Jevano berjalan cepat menuju ke tempat Serena berada.
Matanya sakit melihat banyaknya pria paruh baya yang mengelilingi Serena. Mereka semua tampak begitu akrab untuk ukuran orang yang baru saling mengenal. Jevano hanya tidak ingin Serena digoda oleh pria-pria mencurigakan itu.
"Oh, Tuan muda Nollan? Senang bertemu dengan anda di sini! Di mana Nyonya Beatrice? Apa kalian tidak datang bersama?"
Serena menghela nafas dalam hati, sambil menegak minumannya. 'Aku gatau apa yang ada di pikiran Jevano, tapi mengajakku pergi berdua aja jelas bakal menimbulkan tanda tanya besar. Apa lagi Jasmine lihatin aku kayak siap nerkam gitu. Dasar, memang cowo nggak peka banget dia itu.' Kepala Serena jadi sedikit pening hanya karena memikirkan Jevano dan juga adiknya.
'Kalau kalian bertengkar nggak usah seret aku juga dong,' Serena membatin kesal.
"Serena~"
Ada lagi orang yang memanggil namanya, tapi bedanya kali ini justru membuat hati Serena lega seketika.
Tanpa menoleh pun Serena tahu itu suara Elliot. "Kak Elliot~" Serena membalas sapaan Elliot dengan senyum yang sangat cerah.
Senyuman maut itu sampai membuat para kaum adam di dekat Serena terpesona dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Elliot datang sambil merentangkan kedua tangannya, seakan-akan meminta pelukan dari si calon adik ipar.
Tanpa ragu Serena ikut merentangkan kedua tangannya dan menyambut pelukan Elliot dengan hangat.
"Oh my~ Kak Elliot ganteng banget malam ini!! Kalau Julian jadi pangeran berkuda putih, vibe kakak kayak pangeran dari sisi gelap! Keren banget!!" Serena memuji Elliot sesuai dengan apa yang hatinya katakan.
Bukannya marah atau pun tersinggung, Elliot jadi semakin senang mendapatkan pujian dari kesayangannya itu.
"Makasi~ Serena juga cantik banget. Sesaat tadi, aku pikir kamu adalah malaikat yang turun dari Surga. Udah kakak bilang 'kan, kalau kamu itu yang paling bersinar malam ini?"
Mungkin pujian dan ekspektasi Elliot terlalu tinggi dan berlebihan, namun anehnya, Serena justru bahagia menerima pujian-pujian yang tulus dari anggota keluarga Collin.
Serena merasa dihargai, eksistensinya terlihat oleh banyak orang dan turut dilibatkan dalam banyaknya acara. Serena tak lagi hidup dalam kurungan yang hampa dan monoton.
Serena bebas mengekspresikan dirinya sesuai yang dia inginkan, asalkan tidak mencemari martabat keluarga Collin.
"Boleh nanti kakak berdansa denganmu? Udah lama kakak nggak dansa sama seseorang," Elliot menawarkan diri terlebih dahulu.
Ada sesi dansa di tengah-tengah acara nanti, mirip adegan dalam komik-komik historical yang Serena sukai. Tentu Serena menantikan sesi dansa bersama pasangan.
"Boleh! Tapi setelah aku berdansa sama Julian ya, kak?" Mana mungkin Serena melewatkan sesi yang paling dia tunggu-tunggu itu.
Sekejap Serena melupakan kehadiran Jevano. Padahal Jevano sudah repot-repot datang menghampiri Serena, eh malah dibawa kabur oleh Elliot entah ke mana.
Alhasil, Jevano hanya bisa menelan kekecewaan lantaran kesempatan emasnya sudah terambil begitu saja. S*ialnya lagi, Jevano terjebak dalam obrolan bapak-bapak yang menahannya di sana sebagai ganti Serena.
Di belakang, Jasmine mencengkram kuat gelas kaca yang berisikan wine berkualitas tinggi dalam genggamannya. Dia menjadi berang melihat Jevano fokus pada Serena dan bahkan nekat menghampiri kembarannya meski pada akhirnya diacuhkan layaknya seekor anak anjing yang siap di buang.
'Serena! Cewe itu berlagak jadi nyonya rumah di pesta ini. Awas aja! Kalau nanti perusahaan kami mengadakan pesta akhir tahun juga, bakal nggak kalah meriahnya dari pesta kekanak-kanakan ini! Lihat aja, Serena. Aku bakal halangi langkahmu buat gantiin posisi penerus di keluarga kita!'
Jasmine berbalik arah hendak menuju ke tempat orang tuanya berada. Toh nanti waktu sesi dansa di mulai, Jevano pasti akan mencarinya karena mereka harus berdansa bersama. Itu merupakan salah satu aturan dalam pesta ini.
'Hmph! Di kira cuma mereka aja yang bisa mengadakan acara kayak gini? Aku juga bisa! Dan aku bakal buat acara yang lebih meriah dan mewah daripada ini! '