
Ainsley menjerit dalam hati. Ini benar-benar memalukan. Austin mendapatinya menonton pasangan yang tengah bercumbu dengan panasnya dalam video itu. Namun, jika dipikir-pikir lagi sebenarnya ia tidak perlu merasa seperti orang bersalah. Karena laptop itu milik Austin, tentu saja video itu adalah miliknya juga. Ainsley hanya tidak sengaja mengklik tombol keyboard hingga laptop itu menyala dan menampilkan adegan tidak pantas itu. Austin itu lelaki mesum, tentu saja ia tidak heran kalau ada banyak video-video seperti itu dalam laptopnya. Namun tetap saja Ainsley merasa sangat malu.
Sungguh ini adalah hal yang sangat memalukan. Ainsley bahkan tidak sanggup menatap balik Austin yang menatapnya dengan begitu lekat.
Belum juga sadar dari rasa malunya, ia mendengar Austin berbisik di telinganya dengan suara yang meresahkan.
"Kau malu?"
Ainsley tidak menjawab, sudah jelas dia malu sekali. Apa masih perlu ditanya. Gadis itu merasa geli karena Austin mulut Austin menyentuh daun telinganya namun tidak dapat bergerak, mendorong lelaki itu menjauh. Sungguh ia merasa seperti orang bodoh yang hanya bisa membuat lawannya menang.
"Tidak perlu malu Ainsley, kau sudah mencapai umur bisa melihat adegan seperti itu. Kau juga sudah menikah, anggap saja kau sedang mempelajari bagaimana nanti berhubungan denganku lewat video itu. Atau, aku bisa mengajarimu secara langsung." gumam Austin penuh sensual. Ainsley menelan saliva ketika jemari lelaki itu mulai menyentuh wajahnya.
"A..apa yang kau l..lakukan? J..jangan macam-macam,"
Austin sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Ainsley untuk menolaknya lagi. Setidaknya malam ini ia ingin membuat gadis itu merasakan bagaimana rasanya sentuhan-sentuhan sensual yang ia berikan nanti. Ini langkah awal untuk membuat Ainsley tahu kalau dirinya bisa memberi kebahagiaan yang belum dirasakan gadis itu sebelumnya. Austin memang belum pernah menyentuh wanita manapun, tapi ia punya pengalaman. Dia tahu titik-titik kelemahan wanita yang bisa membuat mereka menjerit nikmat.
Tanpa menunggu lama lagi, Austin dengan leluasa memberikan sentuhan pada bagian intim Ainsley. Ia mengecup leher Ainsley yang terlihat mulus. Tentu saja itu membuat Ainsley mendapat serangan perasaan terkejut yang membuatnya pening setengah mati. Ia tidak mampu melawan, dan tidak bisa menutupi kenyataan bahwa ia penasaran dengan rasanya di sentuh pada titik-titik sensitifnya. Tidak apa-apakan penasaran? lagipula Austin adalah suaminya sendiri. Walau hatinya berkata belum siap memberi dirinya pada lelaki itu, namun tubuhnya menjerit ingin di sentuh terus saat Austin memberikan foreplay padanya. Ah, dia tidak lagi sebenarnya apa maunya.
Sentuhan yang diberikan oleh Austin padanya terasa sangat luar biasa. Bahkan membuat tubuhnya mau tidak mau bergetar hebat dan mulai terasa begitu panas. Austin yang menyadari itu pun merasa puas dengan hal tersebut.
Austin pun menyeringai dan berkata,
"Aku akan memberimu pengalaman yang luar biasa yang belum pernah kau rasakan sebelumnya."
Austin kembali bermain di tubuh Ainsley lagi namun Ainsley yang kembali mendapat kesadarannya segera menahan wajah dan tangan Austin yang masih berusaha untuk menggodanya. Tentu saja Austin berhenti sejenak dan menatap Ainsley sembari menunggu apa yang akan di katakan oleh gadis itu padanya.
"Austin.., a..aku rasa ini tidak benar. Sebaiknya kita berhenti di sini,"
"Apanya yang tidak benar, kita berdua sudah menikah. Cepat atau lambat kita akan melakukan sesuatu yang intim seperti ini. Juga, milikmu benar-benar sudah basah. Kau yakin ingin berhenti, di saat aku bahkan belum memulainya?"
Ainsley menggigit bibirnya lirih. Ia sebenarnya ingin menjawab pertanyaan Austin saat itu juga. Karena otaknya memang tidak menginginkan hal ini berlanjut. Namun di sisi lain tubuhnya tidak mau menuruti otaknya. Ainsley sendiri bisa merasakan bahwa tubuhnya bereaksi pada sentuhan yang diberikan oleh Austin. Bahkan, Ainsley mengharapkan Austin memberikan sentuhan yang lebih menyenangkan bagi dirinya.
Austin sendiri menyadari hal tersebut. Sebab jemarinya yang masih bersentuhan dengan area ****** ***** Ainsley bisa merasakan jika bagian itu lama kelamaan semakin basah. Selain itu, puncak payudara Ainsley dari balik kaos tipisnya juga terlihat semakin menegang. Menantang untuk mendapatkan sentuhan lebih dari sebelumnya. Saat melakukan foreplay tadi, tangan Austin sengaja menyusup masuk ke dalam kaos yang dipakai Ainsley dan membuka pengait bra gadis itu untuk mempermudah dirinya menyentuh kedua bukit kembar milik istrinya itu.
"Kurasa aku tidak bisa menghentikannya sayang, aku harus menyelesaikan apa yang sudah ku mulai." ucap Austin lalu tanpa permisi ia membuka kaos yang di pakai Ainsley dan langsung mengulum salah satu puncak payudara gadis itu.
Selain itu, Austin juga memberikan sentuhan pada bagian intim Ainsley yang masih terbungkus dengan pakaian dalamnya di bawah sana. Tentu saja apa yang dilakukan Austin itu benar-benar membuat Ainsley merasa frustasi karena semua sensasi yang ia rasakan. Ainsley mulai merengek dan menggeliat karena merasakan semua sensasi yang menjalari tubuhnya.
"Ti, tidak, Austin, aah..." erang Ainsley tapi tubuhnya sama sekali tidak bisa menolak semua sentuhan tersebut.
Lalu beberapa saat kemudian, Austin mengarahkan wajahnya ke area inti Ainsley dan meniupnya, membuat Ainsley menggelinjang dengan hebatnya. Sebelum Ainsley melakukan apapun, Austin sudah lebih dulu mengecup bagian itu dan memberikan sentuhan lain yang sukses membuat Ainsley kaget dan melentingkan punggungnya. Bibirnya terbuka dan berteriak pelan. Pada akhirnya ia mendapatkan pelepasan pertama kali dalam hidupnya.
Namun Austin tidak berhenti di sana. Ia terus melanjutkan apa yang tengah ia lakukan saat ini. Hingga membuat pinggang Ainsley tersentak-sentak karena sensasi luar biasa yang ia dapatkan saat dirinya mendapatkan pelepasan yang belum selesai tersebut. Austin terus menerus melakukan kegiatannya tanpa ampun. Pada akhirnya tubuh Ainsley melemah dan tanpa daya tersandar di meja.
Merasa Ainsley yang mulai kecapean, Austin menghentikan apa yang dia lakukan dan balik menatap Ainsley yang menatap dirinya dengan sayu. Austin menyeringai tipis.
"Bagaimana, enak? Ini belum apa-apa. Masih pemanasan saja. Kau akan merasakan kenikmatan yang sesungguhnya saat milikku berada di dalam sini," gumam pria itu kembali membelai bagian sensitif Ainsley dibawah sana.
Kali ini Ainsley menahan tangan Austin, berharap lelaki itu tidak melanjutkan lagi. Ia sudah sangat malu. Ini pertama kali orang lain melihat dirinya yang seperti ini. Tentu saja dia malu. Apalagi dia merasa tidak adil karena hanya dia yang telanjang, sementara Austin sendiri masih berpakaian lengkap. Tapi ia sadar, kalau pria itu mulai membuka pakaiannya, mungkin dirinya sudah tidak perawan lagi sekarang.
Tidak, Ainsley masih takut. Kata teman-temannya itu akan sakit jika dilakukan pertama kali. Sebaiknya ia melarikan diri dulu. Lalu tanpa ijin, ia cepat-cepat mengambil pakaiannya yang sudah berserakan di lantai dan berlari masuk ke kamar mandi. Austin tertawa kecil.
"Kau tenang saja, aku tidak akan memaksamu malam ini!" serunya kemudian. Ia tahu Ainsley bisa mendengarnya dari dalam sana.