Mine

Mine
Keributan Di Tengah Acara



"Pikirin lagi deh! Kalau kamu beneran nikah sama Julian, apa nggak malu-maluin keluarganya Julian?!"


Serena menatap tajam Jasmine yang tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam ruang peristirahatannya tanpa izin. Lalu tanpa menunggu persetujuan dari Serena, Jasmine mulai melontarkan kata-kata kasar yang tidak Serena harapkan.


Padahal ini adalah ruangan khusus yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, hanya diperbolehkan untuk anggota keluarga Collin dan Serena saja. Namun Jasmine tak mengindahkan tanda larangan yang sudah terpampang jelas pada daun pintu.


"Mana etikamu dalam bertamu? Apa Mama mengajarimu datang berkunjung tanpa memberi salam tapi malah memaki tuan rumah?"


Serena sudah lelah, baik secara fisik maupun mental akibat insiden kecil yang dialaminya gara-gara Sarah dan dua perempuan asing beberapa saat yang lalu.


Lalu sekarang Serena kembali menghadapi 'rival' terberatnya, ya, siapa lagi kalau bukan Jasmine.


"Keluar, atau aku panggilkan security sekarang juga?" Serena mendesah panjang, ingin segera meluruskan kedua kakinya sejenak di atas sofa sambil menyandarkan punggungnya, tetapi harus menunggu Jasmine keluar terlebih dahulu.


Pengusiran yang di terima Jasmine membuat emosi perempuan muda itu semakin meradang. Bila dilihat semakin dekat, wajah Serena makin terlihat cantik dan mungil layaknya sebuah boneka. Fakta itu semakin menampar Jasmine, seolah mengolok-olok dirinya yang kini merasa jauh di bawah Serena.


Bukan tanpa sebab mengapa Jasmine sangat marah terhadap kembarannya saat ini. Ini karena Jasmine sadar, dukungan yang di terima Serena tidaklah main-main, hanya dengan menyandang status sebagai calon menantu dari keluarga Collin saja sudah bisa menaikkan status Serena di perusahaan ayah mereka.


Tentu hal ini bisa berimbas pada goyahnya minat para pendukung Jasmine yang selama ini selalu setia pada gadis itu. Bila para pendukung Jasmine melihat keuntungan yang lebih besar dan menjanjikan ada pada Serena, bukan tak mungkin mereka akan berpindah haluan dan memilih memihak pada Serena.


Andaikata Jasmine sampai kehilangan supporternya yang setia, maka tamat sudah cita-cita gadis itu. Jasmine tak akan bisa naik menduduki posisi CEO dan hanya akan diberikan jabatan kecil yang tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan posisi seorang CEO.


Lantas pikiran negatif yang telah menguasai akal sehat Jasmine membuat gadis itu sulit mengendalikan diri. Jasmine memang ingin Serena pergi dari kehidupannya, tapi kalau itu justru membuat dunianya jungkir balik, maka Jasmine tak akan membiarkan Serena pergi sedari awal. Jasmine bisa mengontrol Serena bagaikan boneka pupet yang tak memiliki nyawa dan semangat hidup jika kakak kembarnya itu tetap berada dalam jangkauan tangannya. Namun bodohnya, Jasmine justru membiarkan Serena pergi dan melepaskan tali kekang yang dia ikat pada Serena hingga membuatnya kesulitan mengontrol gadis itu lagi.


Kalau sudah begini jadinya, keuntungan sama sekali tak berpihak pada Jasmine. Bahkan orang tuanya kini lebih banyak memperhatikan dan mencari tahu semua kabar terkait dengan Serena ketimbang memperhatikan dirinya. Jasmine merasa orang-orangnya di sekitarnya semakin menjauhkan diri darinya.


Jasmine tak suka dijauhi orang-orang terdekatnya. Jasmine tak suka bila dia kehilangan semua perhatian serta kasih sayang yang orang-orang berikan padanya sedari kecil.


Dan itu semua terjadi gara-gara Serena!! Serena ingin menghancurkan istana yang sudah Jasmine bangun dengan susah payah!


"KENAPA KAU NGGAK HILANG SELAMA-LAMANYA AJA SIH?! KENAPA KAU HARUS KEMBALI?! GARA-GARA KAU, SEMUA IMPIANKU BISA HANCUR BERANTAKAN!! KENAPA KAU SUKA MEMAINKAN KESABARANKU?!" Jasmine menyentak penuh emosi.


"CUKUP!!" Serena tidak tahan lagi mendengar ocehan Jasmine.


"TUTUP MULUTMU YANG BUSUK ITU! BERAPA KALI KAU MENYALAHKAN AKU UNTUK SEGALA HAL YANG BAHKAN BUKAN KESALAHANKU?!" Mata Serena melotot marah menatap Jasmine. Dia bangkit dari duduknya, berjalan dengan langkah tergesa menghampiri Jasmine.


Kini saudari kembar itu berdiri saling berhadapan dengan sorot mata penuh dendam seakan ingin membunuh satu sama lain.


"Kalau kau masih berniat melanjutkan omong kosongmu ini, aku pastikan impianmu hancur detik ini juga! Kau tau kalau aku mendapat dukungan penuh dari kak Caesar dan keluarga 'kan? Bukan hal yang mustahil jika aku ingin merebut posisimu saat ini dan maju menjadi penerus perusahaan papa. Selama ini aku selalu mengalah untukmu, semua perhatian dan kasih sayang papa dan mama...semua aku relakan demi dirimu!! APA MATAMU NGGAK BISA MELIHAT ITU SEMUA, HUH?!" Serena balik berteriak di depan muka Jasmine.


"SALAHKAH AKU JIKA AKU MENGINGINKAN KAU MUSNAH DARI KEHIDUPAN INI UNTUK SELAMA-LAMANYA DAN MEREBUT SEMUA PERHATIAN DAN KASIH SAYANG ORANG TUA KITA?! APA KAU PERNAH MENDERITA KARENA KESEPIAN DAN SAKIT HATI?! KAU ITU EGOIS DAN SERAKAH! APA AKU PERLU MENDIDIKKMU DENGAN KEDUA TANGANKU SENDIRI AGAR OTAKMU YANG DANGKAL ITU BISA BERPIKIR DENGAN BENAR?!"


Jasmine tersentak mendengar teriakan keras dan penuh emosi yang dilontarkan oleh Serena. Tampak jelas dalam sorot mata Serena, api amarah yang membumbung tinggi dan siap meledak lagi.


"KAU YANG HARUSNYA MUSNAH! BUKAN AKU! KAU ITU SAMA SEKALI NGGAK DIINGINKAN DI KELUARGA KITA! KENAPA KAU MASIH MENYANGKAL PENOLAKAN ORANG TUA KITA PADAHAL KAU BISA MELIHATNYA DENGAN JELAS?!"


Plak


Kesabaran Serena sudah habis tak bersisa. Air mata mengalir tanpa isakan serta hatinya begitu nyeri dan sesak.


Jasmine yang tak terima, balik menampar pipi Serena tak kalah kerasnya. Bunyi tamparan yang kencang berhasil menyentakkan rasionalitas Serena.


Keributan pun tak terhindari, penjaga yang baru datang setelah memenuhi panggilan Julian bergegas masuk guna memeriksa ke dalam ruangan tempat Serena beristirahat. Dan yang didapati oleh penjaga itu tentu bukan sesuatu yang pantas untuk di lihat.


Kedua gadis saling menjambak, menampar, dan mencakar satu sama lain layaknya dua kucing betina yang saling berkelahi memperebutkan wilayah.


Dandanan Serena yang tadinya glamour dan elegan seketika menjadi super berantakan dan dihiasi oleh bekas cakaran yang memerah di beberapa titik.


Sontak saja penjaga itu menghubungi kawan-kawannya yang lain untuk segera datang membantunya memisahkan kedua gadis tersebut.


Perkelahian Serena dengan Jasmine pun sampai juga ke telinga Julian serta Tuan Joseph yang masih berada di ballroom bercengkrama dengan tamu-tamu lainnya.


Julian, Elliot, Tuan Joseph dan tak ketinggalan pula Tuan Philip, Nyonya Esther serta Jevano bergegas naik ke lantai dua menuju tempat kejadian perkara.


Mereka melihat sendiri bagaimana ganasnya Serena dan Jasmine saling memukul satu sama lain. Meski tenaga mereka tak cukup kuat, tapi tetap saja akan meninggalkan luka atau sedikit lebam di tubuh masing-masing.


Jevano serta Julian langsung lari mendatangi kekasih masing-masing dan berusaha melerai mereka sekuat tenaga.


"Sayang, sayang! Udah ya? Berhenti berkelahinya, lihat, badanmu jadi luka semua ini!" Julian panik, namun tetap berusaha tenang agar situasi terkendali.


Elliot juga membantu Julian menarik Serena dari Jasmine. Begitu pula Jevano yang dibantu oleh Tuan Philip melerai Jasmine yang masih belum puas melukai kakaknya sendiri.


Kedua gadis itu saling berpandangan sengit seolah-olah tak ingin meloloskan target mereka.


Julian memeluk Serena dari belakang, mulutnya tak berhenti menenangkan Serena yang masih diselimuti kabut gelap.


Ini kali pertamanya semua orang di sana melihat Serena marah besar seperti sekarang.


"Serena...udah ya? Tenangin dulu emosimu. Kita bicarakan baik-baik bersama Jasmine. Jangan main baku hantam gini, nanti kamu sakit semua badannya," Elliot mengelus puncak kepala Serena yang nafasnya masih memburu akibat emosi yang menyelimuti hati.


"BIAR! BIAR AKU BERI DIA PELAJARAN! MULUTNYA ITU MINTA DIROBEK!" seru Jasmine menggebu-gebu.


Nyonya Esther memegangi kepalanya yang mendadak pening.


"Berhenti! Berhenti sekarang juga! Jangan membuat keributan di hari yang bahagia ini!!" Wanita itu berteriak menengahi kedua puterinya.


Mendengar teriakan putus asa ibunya, sedikit menyadarkan akal sehat Serena. Gadis itu berusaha menenangkan hatinya yang meradang, dan berniat menyudahi perkelahian mereka sekarang juga.


"Jasmine, kamu juga. Berhenti. Kamu akan membuat malu kita semua," Jevano berbisik memperingati. Bila tidak begitu, Jasmine pasti tak mau berhenti detik ini juga.


Suara rendah Jevano seketika membekukan tubuh Jasmine.


"Berhenti, atau kita putus detik ini juga? Mau sampai mana kau mempermalukanku dan keluargamu?"


Jasmine gemetar menahan takut. Ancaman Jevano berhasil mengembalikan kesadaran Jasmine dalam sekejap. Meski kekesalan Jasmine tak hilang begitu mudah, gadis itu berupaya menahan diri untuk tidak memulai keributan lagi.


Setelah di rasa tenang, barulah Tuan Joseph mulai angkat suara. "Kita bicarakan ini di ruangan lain. Semuanya harus dibereskan sekarang juga, agar hal-hal seperti ini tak terjadi lagi ke depannya nanti."


Aura dingin dan mengintimidasi yang dipancarkan Tuan Joseph berhasil membungkam mulut semua orang yang ada di sana. Tak ada pilihan lain selain mengikuti ke mana Tuan Joseph pergi membawa mereka, khususnya Serena dan Jasmine yang menjadi penyebab dari keributan malam ini.


"Aku nggak akan kalah darimu, camkan itu," bisik Serena ketika jalan di sebelah Jasmine.