Mine

Mine
Teman Senasib



"Ini lokasinya...wow...aku nggak nyangka bakal sejelek ini tempatnya.." Dion memandang jijik bangunan bertingkat dua yang ada di depan kedua matanya dan Serena.


Tak berbeda jauh dengan reaksi Dion, Serena jadi ikut ragu-ragu, apakah akan mengambil bangunan rusuh itu sebagai tempat tinggalnya sementara atau memilih tempat lainnya.


Lalu Dion menengok cepat ke arah Serena yang berdiri di sampingnya. "Jangan yang ini deh! Terlalu kotor dan jelek! Sebentar, aku carikan tempat lainnya!"


Entah mengapa Dion menentang duluan daripada Serena.


Kalau hanya jelek di luar sih tidak terlalu masalah, tapi yang Serena pikirkan adalah air serta kekokohan bangunan tersebut. Serena tak yakin, rusun kumal itu masih mempunyai toilet yang layak pakai.


Tiba-tiba Dion menarik tangan Serena untuk menjauh. "Kita pergi aja. Jangan ambil tempat yang terlalu jelek kayak gini," katanya, sambil mengingat-ingat kawasan baru yang akan mereka datangi.


Kalau tinggal di pemukiman yang rusuh begitu, pasti kedatangan Serena akan menimbulkan kecurigaan bagi orang-orang sekitar. Apalagi Serena sangat cantik dan kelihatan seperti anak orang mampu, takutnya nanti Serena menjadi target incaran orang-orang jahat di sekitar sana. Mau seirit apa Serena, keselamatan juga harus diutamakan.


Dion tak tega membiarkan gadis terawat seperti Serena hidup dalam kubangan lumpur yang menjijikkan.


.


.


Alhasil seharian ini Serena dan Dion habiskan dengan mengelilingi beberapa kawasan di kota demi menemukan hunian yang cocok dengan kriteria yang Serena inginkan.


Mereka sudah melihat setidaknya 4 lokasi bangunan yang berbeda, bahkan Dion sudah mulai berkeringat karena matahari cukup terik hari ini. Mungkin ini waktunya mereka berhenti sejenak dan beristirahat.


Lagipula sudah ada satu bangunan yang cukup menarik minat Serena.


"Dion.." Serena menarik ujung kaos Dion yang duduk agak berjauhan darinya.


Dion kepanasan, jaketnya dia lepas dan hanya menyisakan kaos hitam tipis yang membalut tubuh bagian atasnya. Begitu saja keringat masih menetes deras dari puncak kepala Dion.


"Apa?"


Berbanding terbalik dengan ekspresi sangar serta jawaban singkat yang dilontarkan Dion, Serena dapat merasakan keperdulian serta kesabaran dalam nada bicara lelaki itu.


Dion sudah kelihatan lelah, Serena tak ingin menyusahkan lelaki itu lebih dari ini. "Aku ambil lokasi yang ketiga tadi aja deh. Kayaknya nggak ada lagi bangunan yang sesuai kriteriaku lagi di tempat lain," putus Serena pada akhirnya.


Dion mengerutkan dahi. Dia ingat bagaimana bentuk serta kondisi setiap bangunan yang telah mereka lihat sebelumnya, tapi bangunan yang Serena bicarakan juga masih terlalu buruk untuk gadis itu.


Dion agak kurang setuju, ekspresinya menunjukkan pertentangan secara jelas walau mulutnya tak mengeluarkan komentar.


Serena menghela nafas, dia sendiri sudah mulai lelah. Hebat sekali dia belum pingsan karena sedari tadi belum sempat mengisi perutnya dengan nasi, hanya makanan ringan yang di beli di minimarket saja bersama Dion.


"Aku udah capek, rasanya mau pingsan aja. Lagian aku bisa pindah kapanpun aku mau. Kalau nggak nyaman di tempat itu, aku akan cari tempat yang lain," Serena menyuarakan keputusannya.


Ya, tidak salah sih. Serena masih bisa pindah tempat sewaktu-waktu. Toh Serena akan menyewa mingguan, bukan bulanan.


"Kita cek lebih detail dulu. Kalau nggak cocok, aku yang nanti nentuin di mana kamu tinggal," Dion bangkit dari duduknya. Lalu menyampirkan jaket hitamnya di pundak sebelah kanan.


Tanpa sadar mata Serena memperhatikan pergerakan Dion yang entah mengapa terlihat menarik di matanya.


Semakin lama menghabiskan waktunya bersama Dion, semakin banyak kemiripan yang Serena temukan dalam diri Dion dengan sepupu galaknya, Caesar.


Tapi mungkin ini hanya perasaan Serena saja, mungkin dia terlalu merindukan Caesar sampai membayangkan sosok sang sepupu dalam diri Dion.


Lagipula kalau dipikir-pikir lagi, ayah Caesar tidak mungkin memiliki anak di luar pernikahan, sebab beliau sangat mencintai istrinya, begitu juga sebaliknya. Serena juga tidak pernah mendengar gossip atau rumor miring di lingkungan keluarga besarnya, kalaupun memang ada yang memiliki anak di luar pernikahan resmi, pasti akan ramai diperbincangkan satu keluarga.


Hm, mungkin Serena terlalu banyak membaca novel dan menonton drama sampai memikirkan skenario buruk seperti itu. Eh, tapi bisa saja terjadi sih. Serena akan menanyakan asal usul Dion suatu hari nanti, untuk saat ini mereka tidak memiliki niatan untuk menggali identitas asli satu sama lain. Dion seolah menutupi informasi pribadinya dari Serena, maka dari itu Serena akan menghargai privasi Dion.


Padahal Serena tidak ingin melibatkan siapapun dalam pelariannya kali ini, tapi pada akhirnya, dia tetap membutuhkan bantuan orang lain walau mereka tidak saling kenal.


Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Serena sungguh merasa bersalah kepada Julian. Dia tidak berniat kabur lalu menerima bantuan dari orang asing, terutama dari lawan jenisnya. Situasi ini terasa seperti dirinya sedang kabur bersama selingkuhan saja, Serena harus memohon maaf sebesar-besarnya begitu dia kembali nanti.


Tapi untuk sementara waktu ini, Serena ingin menata hidup serta kekuatan dirinya lebih baik lagi.


Setelah berhasil menemukan hunian sementaranya, Serena sudah bertekad akan mencari pekerjaan paruh waktu di sekitar tempatnya tinggal nanti. Kerja apapun tak menjadi masalah asalkan masih halal dan aman.


Sebelum ayahnya benar-benar menghapus namanya dari kartu keluarga, Serena harus siap menanggung beban hidupnya sendiri, khususnya dari segi financial.


"Hei, setelah ini apa rencanamu selanjutnya?" Dion memecah keheningan di antara mereka.


Sambil menunggu bus datang, Dion ingin mengulik sedikit tentang rencana Serena setelah menemukan tempat tinggal.


"Cari kerja, aku nggak mungkin keliaran tanpa bawa uang," Serena menjawab dengan tegas.


"Kerja? Pekerjaan apa yang kamu cari?"


Serena menggidikan bahunya tak tahu, "Belum tau juga. Mungkin aku akan cari lowongan di sekitar tempat tinggalku nantinya. Doakan aja semoga aku mendapat kesempatan untuk bekerja," jawabnya kemudian.


Dion diam, berpikir sejenak. Dia mempunya koneksi dengan jangkauan yang cukup luas dan dari berbagai kalangan ada. Tak akan sulit menemukan satu lowongan untuk gadis secantik Serena.


"Mau aku bantu carikan?" Dion menawarkan bantuan lagi dan dia sama sekali tak keberatan.


Serena menatap Dion kaget. "Nggak usah, nggak usah. Kamu udah banyak membantuku, aku nggak mau nyusahin orang terus!" sahutnya cepat.


Penolakan yang sudah Dion prediksi. "Gapapa. Lagian aku lagi nyantai, nggak ada salahnya bantuin orang. Jadi, sebutin aja jenis pekerjaan yang pengen kamu coba," suruhnya kemudian.


Serena pusing sendiri menanggapi Dion. Dion bersikap seperti ini bukan hal besar bagi lelaki itu. Sebenarnya siapa Dion ini? Apa jangan-jangan Dion anak orang berkuasa sehingga memiliki power dan koneksi yang luas?


Jika memang iya, Serena tidak boleh berhubungan terlalu dekat dengan Dion. Bisa gawat kalau background keluarganya terbongkar terlalu cepat.


"I-itu...aku bakal berusaha semampuku apapun jenis pekerjaannya kok, jadi aku nggak akan menolak lowongan yang tersedia," jawab Serena yakin.


Sayangnya Dion tidak puas dengan jawaban Serena. "Yang paling kamu inginkan itu pekerjaan apa? Barangkali aku tau lowongan sesuai yang kamu mau, jadi aku bisa langsung kasih ke kamu."


Yang paling dia inginkan? Serena belum pernah memikirkan hal itu dengan serius.


Serena berusaha mengingat kembali cita-citanya semasa kecil.


"Itu..a-aku pengen jadi guru TK..." cicit Serena kemudian.


Serena ingat, impian semasa kecilnya dulu adalah mengajari banyak hal pada anak-anak yang lebih muda darinya. Serena tidak punya teman dekat bahkan semenjak dirinya duduk di bangku taman kanak-kanak dulu. Serena ingin semua anak kecil di muka bumi ini dapat merasakan kebahagiaan sama rata, memperoleh teman dan membangun kepercayaan diri sedari dini, Serena ingin membantu banyak anak agar bisa berkembang menjadi lebih baik karena dia belajar dari pengalaman masa kecilnya sendiri.


Dion dapat merasakan tatapan hangat melalui sorot mata Serena. Rupanya keinginan gadis itu tidak muluk-muluk. Awalnya Dion pikir Serena ingin menjadi model atau selebgram seperti kebanyakan gadis pada umumnya, dengan tujuan menjadi terkenal melalui jalur cepat.


'Guru TK...sama sekali nggak terduga..' Dion jadi kagum pada Serena.


"Oke, udah aku ingat. Kamu tinggal tunggu kabar dariku. Aku pasti carikan pekerjaan sesuai yang kamu mau," ujar Dion, diselingi dengan senyum tipis yang mematikan.


Wow, wajah Dion terlihat berkali lipat lebih tampan ketika tertawa. Serena menghela nafas pelan seraya tersenyum kecil, "Makasi banyak kalau gitu. Padahal aku nggak mau ngerepotin orang lain, tapi kayaknya kamu pengen banget bantuin aku, jadi aku terima deh ketulusan hatimu," ucapnya pada Dion.


Senyum di wajah Dion sekejap sirna tergantikan oleh raut muka syok yang kentara. "Tulus? Siapa? Aku?" Dia menunjuk pada dirinya sendiri.


Serena mengangguk pelan, "Kalau kamu nggak tulus, kamu nggak bakal ngulurin tangan buat bantuin aku, apalagi kita nggak saling kenal. Kamu bahkan repot-repot nemenin aku keliling cari tempat tinggal yang cocok. Kalau kamu nggak tulus, udah dari awal kamu ninggalin aku begitu urusan kita selesai. Benar, nggak?"


Dion justru tidak pernah kepikiran sampai sejauh itu. Dari banyaknya orang yang Dion kenal, hanya Serenalah satu-satunya orang yang menyebut dirinya ini tulus dan baik.


"Jangan mudah percaya sama orang," Dion memperingati Serena. "Mungkin kelihatan baik di luar, tapi siapa tau aku punya motif tersembunyi buat deketin kamu, kamu nggak curiga sama sekali padaku?"


Serena tersenyum dingin menanggapi ucapan Dion, "Nah, aku udah sering menghadapi orang kayak gitu. Bagiku bukan masalah besar, toh aku ini siapa? Aku bukan orang kaya dan bahkan nggak punya banyak uang. Aku nggak akan bermanfaat buat siapa-siapa," Serena menertawakan dirinya sendiri dalam hati.


Sekarang tinggal menunggu penghapusan namanya dari daftar keluarga Reinhart sebelum Serena menjabat sebagai gelandangan secara resmi.


Dari nada bicara Serena, Dion yakin gadis itu telah melalui banyak hal yang menyakitkan. Senyuman yang ditunjukkan Serena menggambarkan luka yang tersimpan dalam hati.


Entah mengapa Dion merasa simpati kepada Serena. Apa mungkin karena mereka mengalami hal serupa?


Dion merasa seperti menemukan teman senasib dengan dirinya. Jika memang Serena sama seperti dia, Dion tak akan pikir dua kali untuk menolong gadis itu. Dion tak akan membiarkan seseorang yang mengalami hal buruk dalam hidupnya berjuang melewati keputusasaan mereka seorang diri.


Di saat seperti inilah, Dion baru menyadari betapa bergunanya akses serta koneksi kuat yang telah dia genggam erat-erat dalam telapak tangannya.


Dengan ini Dion dapat menolong Serena lebih banyak lagi. Hm, mungkin mengawasi Serena lebih lama lagi tak terlalu buruk. Dion ingin lihat sejauh mana perkembangan Serena dari hari ke hari.


Serena telah berhasil menarik perhatiannya, maka Dion tak akan melepaskan gadis itu untuk sementara waktu. Kalaupun nanti ada orang yang mencari keberadaan Serena, Dion bisa menangani orang-orang itu secara pribadi. Keselamatan dan keamanan Serena adalah prioritasnya sekarang, Dion tak boleh lalai melepaskan pengawasannya dari Serena.