
"Jadi dia sudah siap? Kalian akan melakukannya malam ini?" Narrel menatap Austin. Ia tahu benar, kebanyakan perempuan yang kalau sudah di sentuh dibagian-bagian sensitif oleh laki-laki pasti mendapatkan rangsangan dan akan penasaran untuk mencoba melakukan yang lebih dari itu. Ia sudah berpengalaman. Apalagi kalau laki-lakinya tampan seperti Austin ini. Dalam hal ini, Ainsley pasti tidak bisa menolaknya. Biar bagaimanapun Austin punya semacam pesona yang sulit untuk ditolak.
"Kau pernah berpengalaman dengan gadis perawan sebelumnya?" tanya Austin. Dia sendiri masih perjaka, pengalamannya hanya sebatas menonton film. Karena itu ia ingin tahu bagaimana memperlakukan seorang perawan. Nonton film saja tidak cukup, butuh bertanya pada yang sudah ahli. Narrel terkekeh.
"Lakukan pelan-pelan di awal, rangsang dia, setelah dia bisa mengikuti permainanmu, kau bisa melakukan lebih. Sedikit kasar juga tidak apa-apa. Tapi lebih baik kau bertanya dulu padanya karena setiap wanita berbeda-beda." kata Narrel setengah tertawa remeh. Ia masih tidak percaya pria dewasa seperti Austin akan belajar bagaimana berhubungan *** padanya.
Austin tampak serius berpikir. Ia tidak sabar menunggu sampai malam nanti. Ia tidak sabar melihat ekspresi erotis Ainsley ketika berada dibawahnya.
"Bagaimana kerja sama kita dengan kampus istriku? tanya Austin mengalihkan pembicaraan. Tadi selesai talkshow, pihak kampus menawarkan kerjasama dengan perusahaan mereka. Mereka juga memohon untuk menerima beberapa mahasiswa untuk magang di kantor itu. Mengenai hal itu Austin setuju-setuju saja selagi tak merugikan dirinya.
"Semuanya berjalan dengan baik. Tiga orang anak magang mereka akan bekerja di sini mulai minggu depan." jawab Narrel. Austin mengangguk.
***
Setelah melakukan permainan yang cukup panas dengan suaminya, Ainsley kembali ke aula. Hari makin sore. Hampir gelap malah. Dan kegiatan talkshow di hari ini sudah selesai. Semua panitia yang terlibat kini sedang bersih-bersih. Yang lainnya mengatur bahan dan semua yang dibutuhkan untuk kegiatan bazar dan pensi besok. Benar, kampus mereka masih ada satu event lagi besok hari.
"Hei, kau darimana saja? Aku mencarimu daritadi." Alfa berdiri di sebelahnya. Memungut sampah-sampah yang tersisa di lantai.
Ainsley tersenyum tipis.
"Aku tadi bertemu seseorang." jawabnya tidak langsung bilang kalau dirinya bertemu suaminya. Tidak penting juga.
"Siapa?" Alfa menatap Ainsley lekat. Sebenarnya ia sempat melihat Ainsley yang bersembunyi dibalik tempat sampah di taman kampus, dan Austin yang berdiri didepan gadis itu. Tidak jelas mereka berdua sedang apa, tapi yang jelas Alfa melihat keduanya ngobrol. Alfa jadi penasaran apa mereka memang saling kenal, atau hanya kebetulan berpapasan.
Ainsley berpikir sebentar. Kenapa ia merasa Alfa sedang menginterogasinya? Dia harus jawab apa coba. Gadis itu terus memutar otaknya mencari alasan.
"Mm, kerabat. Iya, tadi aku bertemu dengan kerabatku." sahutnya. Tidak salah juga kan kalau ia mengatakan Austin adalah kerabatnya.
"Oh," Alfa mengangguk-angguk mengerti. Ia sadar ia tidak punya hak untuk bertanya lebih jauh. Bisa-bisa nanti Ainsley merasa ilfeel padanya lagi. Ia tidak mau itu terjadi.
"Ping, kamu hebat loh! Gimana caranya coba seorang Austin Hugo langsung setuju jadi pembicara di acara talkshow kita." seru Nadine dengan antusias. Beberapa gadis cepat-cepat mengelilingi Pingkan, ingin dengar ceritanya. Pingkan sendiri merasa bangga. Jelas sekali ia senang. Alfa dan Ainsley sampai-sampai melirik ke mereka saking hebohnya suara mereka.
"Bagaimana denganmu? Mungkin saja kau dekat dengannya juga tapi pura-pura tidak kenal." kata Bila. Pingkan hanya tersenyum mengusap tengkuknya, tidak menjawab apa-apa. Seolah mengatakan ia memang punya suatu hubungan dengan Austin.
Mira dan dan Dara yang berdiri tak jauh dari situ menertawai Pingkan. Bikin malu saja. Padahal Austin mau datang karena ada Ainsley. Mereka yakin seratus persen. Kan Ainsley itu istrinya. Ingin sekali Dara berteriak didepan mereka semua kalau Austin itu sudah punya istri, dan itu Ainsley. Sayangnya, entah kenapa Ainsley tidak mau mereka tahu dia dan Austin suami istri. Akhirnya, liat kan sekarang. Malah perempuan yang bahkan mungkin tidak pernah bicara sama Austin itu yang bikin diri seolah mereka dekat.
Sementara Ainsley, ia memang tidak begitu mempermasalahkan. Tapi dalam hatinya ia merasa cukup terganggu. Ia bingung kenapa.
"Ainsley!" pandangan Nadine dan yang lain berpindah ke Ainsley. Gadis itu ikut bingung.
"Ternyata kau juga salah satu penggemarnya Austin? Kita-kita pikir kau menyukai Alfa. Tidak di sangka-sangka suka sama Austin juga." lanjut Nadine. Itu karena ia ingat perkataan Ainsley di aula tadi. Dapat kesempatan bagus bisa terpilih di tanya sama Austin langsung, eh jawabannya begitu. Ditanya apa, jawabnya apa. Mereka terlihat menertawai Ainsley. Memang Pingkan dan Nadine termasuk dalam kumpulan cewek yang suka iri sama Ainsley. Jadi begitu ada kesempatan, mereka pasti dengan cepat akan mempermalukan Ainsley.
Ainsley jadi merasa tidak enak pada Alfa. Kenapa juga mereka membawa-bawa nama Alfa. Gadis itu berusaha memaksakan seulas senyum. Ia ingin segera pergi dari sini sekarang juga.
"Heh! Kalian tuh bisanya ledekin doang. Jaga tuh mulut. Lagian siapa yang bilang Ainsley suka sama Alfa? Orang dia sudah.."
"MIRA!" Ainsley menatap Mira. Eskpresi wajahnya penuh peringatan.
"Dia sudah apa?" tantang Nadine.
"Sudah punya orang lain yang dia suka." balas Mira langsung. Alfa yang mendengar itu tiba-tiba merasakan pedih dihatinya. Ainsley sudah melupakannya? Jelas-jelas dulu dia...
"Siapa?" tanya Nadine lagi.
"Huh! Kalian tidak perlu tahu. Yang pasti kalian tidak pernah menyangka."
"Sudah, sudah! Ayo beres-beres lagi. Sudah makin malam!" tegur Alfa tegas. Semua langsung bubar dan melakukan pekerjaan masing-masing. Ainsley menggabungkan diri dengan Dara dan Mira.
Ia tidak sadar Alfa sering mencuri-curi pandang padanya sejak tadi. Alfa masih penasaran apakah Ainsley sungguh mencintai pria lain selain dirinya? Jadi benar kata-kata temannya kalau dia sudah menikah? Tapi Alfa masih tidak mau percaya. Ia harus lihat dengan mata kepala sendiri siapa suami Ainsley. Gadis itu menikah karena cinta atau tidak. Alfa mengusap wajahnya kasar. Gara-gara perkataan Dara tadi dia jadi tidak bisa fokus. Sial.