
"Udah beres 'kan semuanya?" Jevano baru berpindah tempat setelah Zac berpamitan pulang.
Serena mengangguk pelan mengiyakan. Hanya tinggal mereka berdua di sana, Serena sedikit gugup duduk berhadap-hadapan dengan Jevano setelah sekian lama.
Suasana tenang begini, duduk berseberangan sambil bercerita banyak hal, Serena kembali teringat pada masa-masa kebersamaan mereka jauh sebelum mereka mempunyai kekasih.
"Jevi.." Serena memanggil Jevano dengan panggilan khususnya. Jevi, ya itu adalah nickname yang Serena buat untuk Jevano.
Namun panggilan itu sudah kehilangan keistimewaannya lagi setelah Jasmine ikut menggunakan panggilan tersebut.
Tetapi tidak bagi Jevano yang tetap menganggap nickname itu sangat istimewa dan berarti sekali. Sebab itu adalah nickname pertama yang dia dapatkan dari Serena saat mereka masih duduk di bangku SMA.
"Ya?" Jevano menopang dagunya sambil memandangi wajah Serena secara lekat. Fokusnya hanya tertuju pada Serena seorang, seakan dunianya hanya berpusat pada gadis di depannya.
"Apa yang mau kamu omongin? Katanya kamu punya sesuatu yang mau kamu tunjukin ke aku?"
Serena ingin mengakhiri pertemuan mereka secepat mungkin, untuk menghindari munculnya gossip-gossip menyimpang tentang dirinya dan kekasih dari kembarannya sendiri.
"Ulang tahunmu tinggal 5 hari lagi 'kan?" Jevano bertanya langsung ke inti.
Berkat Jevano, Serena jadi teringat pada tanggal ulang tahunnya yang sudah semakin dekat. Dia bahkan hampir melupakan hari ulang tahunnya sendiri.
"I-iya ya? Nggak kerasa udah mau ulang tahun aja. Rasanya kayak baru kemarin kita ngerayain ulang tahunku di restoran Italia waktu itu," Serena menggaruk pelan sebelah pipinya. Dia jadi teringat hari ulang tahunnya yang dirayakan berdua dengan Jevano di sebuah restoran Italia yang mewah.
Senyuman lebar terbit di wajah Jevano, dia sangat senang, ternyata Serena tidak melupakan kenangan indah ketika bersama dirinya meskipun gadis itu telah memiliki kekasih.
"Karena ulang tahunmu udah deket, aku pengen ngasih hadiah lebih awal buat kamu." Jemari Jevano bergerak cepat di atas layar ponselnya, hendak menunjukkan hadiah yang ingin dia berikan pada Serena.
"Nah, ini dia. Aku udah nyari-nyari informasi tentang tempat ini, dan aku yakin banget kamu bakalan suka tempatnya!" Begitu sudah ketemu, Jevano segera menyodorkan ponselnya ke Serena supaya gadis itu bisa melihatnya sendiri.
Serena mengambil ponsel milik Jevano dan melihat apa yang mau ditunjukkan sahabatnya, namun alangkah terkejutnya Serena begitu dia melihat tiket pesawat tujuan Bangkok terpampang jelas di layar tersebut.
Spontan Serena membulatkan matanya tak percaya, "I-ini apa? Ka-kamu beli tiket pesawat?!" Serena nyaris memekik kencang saking kagetnya dia.
Dengan polosnya Jevano menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. "Iya. Itu hadiah buat kamu tahun ini! Aku udah ngerencanain ini sejak setahun yang lalu, gimana? Kamu suka??" Jevano justru terkesan antusias ketimbang Serena.
Serena yang masih bingung dan kaget jadi tak bisa berpikir benar, "Bentar-I-ini buat aku? Ki-Kita bakal pergi ke Thailand?!"
Jevano mengangguk sekali lagi, senyumnya yang ceria seolah menunjukkan betapa antusiasnya dia hendak pergi berlibur bersama Serena.
Serena memegangi sisi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. "Ka-kamu gila?! Kita nggak mungkin pergi liburan berdua aja!" Tentu Serena akan menolak hadiah ini secara tegas.
Mereka sudah bukan sepasang jomblo yang bisa pergi travelling berdua ke mana-mana, ada hati yang harus mereka jaga dan hargai, jadi mana mungkin Serena menerima hadiah Jevano begitu saja tanpa memikirkan atau mendiskusikan hal ini dulu bersama kekasihnya.
Jevano sudah menduga Serena akan menolak hadiahnya secara mentah-mentah hanya karena terbebani oleh perasaan Julian dan Jasmine.
"Ya, kita bakal kasih tau mereka secara baik-baik. Bagaimanapun juga, jauh sebelum kita punya pacar, kita adalah sepasang sahabat yang sering jalan dan pergi berdua ke mana-mana. Jujur aja, hadiah ini bukan cuma dari aku pribadi, tapi juga Mama. Mama pengen kasih kamu sesuatu, karena aku pernah cerita mau ngajak kamu pergi ke luar kota, jadi Mama yang ngusulin lokasi ini sebagai hadiah buatmu," Jevano mengungkapkan fakta di balik hadiah spektakuler ini.
Mama Jevano...
Serena tentu mengenal siapa sosok ibu dari sahabatnya itu, siapa lagi jika bukan Nyonya Beatrice. Wanita cantik yang selalu menyambutnya dengan hangat ketika berkunjung ke kediaman Nollan dulu.
"Ta-tapi ini sedikit berlebihan, Jevi...a-aku nggak enak menerima hadiah semewah ini!" Serena tidak terbiasa menerima suatu pemberian yang semewah dan seheboh ini. Jadi Serena sedikit terbebani karena tak tahu harus membalas bagaimana.
Serena senang sih, tapi dia benar-benar tidak bisa menerima hadiah Jevano kali ini.
Jevano menghela nafas panjang, dia kecewa, tentu saja. Susah payah dia mempersiapkan hadiah spesial ini khusus untuk Serena tapi Serena tetap saja menolak pemberiannya.
Namun Jevano tidak hilang akal, bagaimanapun caranya, dia harus berhasil membawa Serena pergi dengannya!
"Mama bilang dia bakal menunggu kita di sana. Kalau Mama tau kamu menolak hadiahnya, aku nggak bisa bayangin seberapa besar kecewanya Mama.." Dengan raut muka dibuat semelas mungkin, Jevano tak pantang menyerah merayu Serena supaya mau pergi.
Benar saja, kalau sudah menyangkut orang tua, Serena mana bisa menolak. Hatinya dilema, bingung harus menjawab apa. Di satu sisi Serena tak ingin membuat Nyonya Beatrice kecewa dan marah atas penolakannya.
"Be-beri aku waktu ya? Aku harus minta izin dulu ke orang-orang," Tak ada jalan lain, Serena harus meminta izin dulu kepada Julian dan yang lainnya supaya mereka tidak marah.
Sedikit tidak suka sih, tapi demi liburan bersama Serena, Jevano akan menahan diri untuk tidak mengeluarkan protes.
"Iya. Kalau bisa, besok ya jawabannya. Soalnya Mama udah nggak sabar pengen ketemu sama kamu juga," Jevano sedikit menyesal telah mengakali Serena, tapi apa daya, hanya ini jalan satu-satunya supaya Serena mau pergi bersamanya.
Kesempatan sekali dalam setahun, Jevano harus berhasil membawa Serena liburan dengannya, meski terpaksa mengajak ibunya juga agar Serena tidak curiga.
Toh Jevano yakin sekali ibunya pasti bersedia membantu dirinya, sebab ibunya tahu lebih dulu bagaimana perasaan Jevano terhadap Serena walau Jevano sendiri belum sanggup mengutarakan perasaannya.
...🐶...
...🐶...
"Ha? Liburan sama Jevano? Berdua?!"
"Son of a- Ggrrr! Berani bener dia ngajak pacar orang liburan berdua!" Julian menahan diri untuk tidak mengumpat kasar di depan Serena walau emosi sudah mencapai ubun-ubun dan ingin meledak detik ini juga.
Serena mati kutu, takut Julian semakin marah bila dirinya menceritakan masa lalunya bersama Jevano secara keseluruhan. Serena harus menghargai Julian, dan bila Julian mengatakan tidak, maka Serena tak punya pilihan lain selain menolak hadiah Jevano serta Nyonya Beatrice secara baik-baik.
Julian menyugar rambutnya ke belakang, berupaya menjaga emosinya agar tetap stabil dan tidak meledak di depan Serena.
"Cuma berdua aja?" Julian tak yakin Jevano berani mengajak kekasih orang pergi hanya berdua saja.
Serena menjawab dengan gelengan kepala kecil, "Dia bilang Mamanya bakal ikut juga. Kebetulan aku kenal sama Mamanya, dan beliau juga yang bayarin setengah dari liburan nanti. Karena itu...aku sedikit bingung gimana mau menolaknya.."
Jadi itu alasan utamanya mengapa Serena kelihatan begitu kepikiran soal hadiah dari Jevano. Kalau ibunda dari Jevano berarti tak lain dan tak bukan pasti Nyonya Beatrice Nollan, Julian beberapa kali melihat wanita itu di acara-acara yang pernah dia hadiri bersama ayahnya.
"Hm...coba tanyain aja ke orangnya langsung, kalau memang beliau yang mengajak, dan ikut pergi ke sana juga, yah gapapa kamu berangkat. Tapi kalau cuma berdua aja sama Jevano, tentu aku melarangmu," kata Julian, yang mencoba bijak menyikapi situasi.
Serena sih masih menyimpan nomor telpon pribadi Nyonya Beatrice, tapi dia sungkan mau menanyakan langsung soal hadiah itu, takut Nyonya Beatrice menganggapnya gadis kepedean jika ternyata hadiah itu hanya akal-akalan Jevano.
"A-aku bakal tanyain itu kalau ada Jevano aja ya? Biar aku tau apa hadiah itu memang bener sesuai omongan Jevano atau cuma kebohongan yang dibuat Jevano aja," usul Serena.
Julian termenung sejenak seraya berpikir. Iya juga sih, kalau Jevano berbohong akan langsung ketahuan 'kan. Apa dia ikut juga ya? Tapi Julian tidak mau dianggap sebagai kekasih posesif yang harus tahu tentang semua urusan pasangannya. Itu hanya akan membuat citranya buruk bukan hanya di mata Serena tetapi juga Jevano.
"Huh...nggak ada jalan lain,ya udah. Kamu tanyain langsung pas ada Jevano juga," Dengan berat hati Julian menyetujui ide Serena.
Serena menghela nafas lega dalam hati. Julian berusaha keras menghargai keputusannya, Serena sangat berterima kasih atas pengertian Julian kepadanya.
Meski tak dipungkiri, Serena agak mencemaskan soal hadiah itu. Pasalnya hari ulang tahunnya 'kan bertepatan dengan ulang tahun kembarannya juga, Jasmine. Semestinya Jevano merayakan hari lahir Jasmine juga, bukan cuma dirinya saja. Kalau Jasmine sampai mengetahui soal ini, Serena tak bisa membayangkan betapa murka dan kecewanya sang kembaran.
"Hah~ Kepalaku jadi pusing mikirin soal ini!" Serena menjatuhkan tubuh lunglainya ke atas sofa panjang yang ada di dalam kamar Julian.
Energi Serena serasa seperti dikuras habis sampai membuatnya lemas. Padahal hadiah yang hendak Jevano berikan itu termasuk hadiah mewah yang menggiurkan, tetapi kenyataannya justru membuat Serena terbebani dan banyak pikiran.
Julian yang duduk di pinggir ranjang langsung bangkit berdiri hendak menghampiri Serena yang tidur tengkurap memenuhi sofanya.
Tangan besar Julian mengusap poni sang kekasih secara lembut, "Capek banget kayaknya...Kalau kamu merasa terbebani, ada baiknya kamu menolak dan jelasin alasan yang sejujurnya di depan Jevano dan mamanya," sarannya, berniat meringankan beban pikiran Serena walau hanya sedikit.
Serena sudah memikirkan itu sebelumnya. Tapi kembali lagi, Serena yang segan terhadap Nyonya Beatrice jadi tak berani menolak pemberian dari si Nyonya Besar Nollan yang pernah membantunya dulu.
"Kalau aku menolak, dikiranya aku gadis nggak tau diri karena dulu pernah dibantu. Aku jadi dilemma mikirin itu.." aku Serena.
Julian tidak tahu cerita lengkap mengenai kedekatan Serena dengan orang tua Jevano di masa lalu, tapi sepertinya Serena cukup akrab dengan keluarga Nollan.
"Yah..kamu 'kan sahabatnya Jevano, sama kayak aku yang juga sungkan sama orang tuanya Leonard. Kalau orang tua Leo minta bantuan sama aku, aku juga bakal berusaha membantu mereka sebisaku. Itu wajar sih, karena kita kenal dekat," Julian sedikit memahami perasaan kalut Serena sebab dirinya pun juga akan melakukan hal yang sama untuk orang yang dia kenal baik.
Serena bergumam lirih, "Gitu ya..jadi ini bukan karena aku terlalu lebay menanggapi sesuatu, iya sih aku cukup akrab dulu sama Mamanya Jevano, waktu beliau masih sering nyempatin diri pulang ke kediaman Nollan buat nemenin Jevano.."
Kondisi keluarga Nollan sendiri tak begitu baik dulu, mungkin sekarang sudah lebih stabil tapi bukan berarti semuanya sudah membaik seperti yang terlihat di luar.
Serena jadi teringat kembali masa-masa kelamnya bersama Jevano sewaktu SMA, bagaimana mereka berjuang bersama menjalani kehidupan yang abu-abu dan tak terarah, di mana mereka hanya bisa mengandalkan satu sama lain sebagai kekuatan untuk tetap bertahan hidup dan tidak menyerah pada keadaan.
Serena jadi melankolis setiap kali mengenang masa-masa terburuknya pada saat itu. Tanpa sasar matanya mulai berkaca-kaca, walau mulutnya tak mengatakan sepatah katapun, Julian dapat melihat betapa beratnya kehidupan Serena di masa lalu.
Kenyataan bahwa Jevanolah orang yang selalu menemani dan berada di sisi Serena di masa lalu membuat emosi Julian meluap, tetapi dia tidak punya hak untuk marah dan melayangkan protes. Keadaanlah yang membuat Serena dekat dengan Jevano dan tanpa sadar sedikit mengandalkan lelaki itu, Julian tak bisa marah dan menyangkal kebaikan Jevano pada Serena.
"Kalau gitu kamu nggak usah bingung, kamu terima aja hadiah itu," Anggap saja ini sebagai balas budi atas kebaikan Jevano dan Nyonya Beatrice.
Serena mendongak, mencoba melihat ekspresi yang kekasihnya tunjukkan. Apakah Julian terpaksa menahan amarahnya atau benar-benar tulus mengizinkannya pergi bersama Jevano dan Nyonya Beatrice.
Namun yang Serena lihat adalah senyuman lembut Julian, "Yah, anggap aja kamu membalas kebaikan mereka dengan menerima hadiah itu. Lagipula itu bukan hadiah kecil yang bisa kamu tolak tanpa mikirin kerugian yang mereka terima. Gapapa, aku mengizinkanmu pergi, tapi aku tetep bakal mengawasi kamu dari kejauhan. Itu oke 'kan?"
Serena tak menyangka Julian akan mengizinkannya dengan mudah. Entah mengapa beban dalam hati Serena sedikit berkurang. Gadis itu langsung mendudukkan diri lalu menarik lengan Julian dengan kuat.
Julian yang tidak siap langsung oleng dan nyaris menindihi tubuh Serena di atas sofa, beruntung kedua tangan Julian bergerak lebih cepat menopang tubuhnya upaya tidak jatuh menimpa Serena.
"Makasi! Makasi banyak udah mau mengerti dan menghargai hubunganku dengan Jevano!" Serena menghadiahi kekasihnya dengan pelukan erat.
Serena tahu Julian cemburu kepada Jevano dan menahan diri agar tidak menunjukkan ketidaksetujuannya secara terang-terangan, namun justru Julian membuktikan bahwa dirinya mampu menghargai apapun pilihan yang akan Serena ambil.
"Makasi...aku janji aku bakal jaga diri dan jaga batasan kami sebagai sahabat, aku nggak mau buat kamu semakin khawatir saat aku tinggal.." ucap Serena, lalu menempelkan keningnya di depan d*ada Julian yang terbungkus baju kasual berwarna hitam.
Julian tersenyum tipis, lalu membalas pelukan Serena. "Iya, aku percaya sama kamu. Aku cuma khawatir takut terjadi sesuatu di saat kita berjauhan dan aku nggak bisa menolongmu langsung. Jaga diri baik-baik ya dan pulang dengan selamat. Aku akan menunggumu di rumah," ucapnya, seraya mengelusi rambut panjang Serena yang terurai.
Serena mengangguk penuh, berjanji akan pulang kembali ke pelukan Julian dengan hati yang lebih plong setelah memenuhi misinya. Ya, Serena menganggap liburan nanti merupakan misi khusus yang diberikan oleh Jevano dan Nyonya Beatrice, walau dalam konteks liburan santai tapi Serena tak boleh lengah dan harus menjaga batasan selalu.
Dan sekarang, tinggal satu hal yang mengganjal di hati Serena,
Apa Jasmine sudah mengetahui soal liburannya dengan Jevano?
Sebelum Jasmine memergoki mereka lalu berpikiran negatif sendiri, akan lebih baik kalau Jevano memberitahukan Jasmine terlebih dahulu, karena Serena tahu benar betapa sensitifnya sang kembaran bila menyangkut soal hari-hari penting seperti ulang tahun misalnya.