Mine

Mine
Jangan Ke mana-mana



"Makan yang banyak, kamu kelihatan kurus banget, aku nggak tega lihatnya." Hendery terus mengisi piring Serena dengan berbagai menu makanan yang tersedia.


Tuan Felix sengaja memesan berbagai macam jenis makanan untuk menyambut kunjungan Serena setelah sekian lama. Keluarga Alford benar-benar berniat memanjakan perut Serena hari ini, tak ketinggalan pula Julian.


Helena juga memaksa Julian untuk ikut makan bersama keluarganya, alih-alih menemani Serena yang nafsu makannya belum seperti sedia kala.


Dasarnya porsi makan Julian tidak sebanyak orang pada umumnya, lelaki itu berhenti makan setelah piring ke dua hasil paksaan Helena. Meski begitu, Julian senang melihat Serena makan lebih banyak dari pada sebelumnya. Ekspresi kekasihnya juga lebih kelihatan berwarna dan cerah, perkembangan yang cukup pesat dari yang Julian perhitungkan.


"Btw, rambut blondemu itu cocok juga. Kamu makin kelihatan cantik, tau! Aku sampai kaget tadi, kukira Julian berani bawa cewe lain di belakangmu!" ungkap Hendery menggebu-gebu.


Saat Hendery baru menginjakkan kaki di rumah dan melihat kedatangan Julian, Hendery pikir Serena datang berkunjung bersama lelaki itu. Namun alangkah terkejutnya Hendery ketika melihat sesosok gadis berambut blonde yang tengah membelakangi dirinya berada dalam rangkulan tangan Julian.


Hendery nyaris memukul Julian karena berpikir bahwa lelaki itu berani membawa seorang selingkuhan di depan matanya langsung, eh tidak tahunya gadis asing itu nyatanya adalah Serena.


Sebuah plot twist yang nyaris merebut akal sehat Hendery.


Sebenarnya ini bukan kali pertama Serena menerima pujian setelah mengecat rambut panjangnya. Sudah ada beberapa orang yang memuji kecantikan Serena yang dinilai makin bersinar dengan rambut pirang berkilaunya yang indah.


Tapi tetap saja, pujian-pujian itu tidak terlalu menyenangkan bagi Serena, sebab alasan mengapa Serena nekat mengubah warna rambutnya karena tak ingin mengingat wajah Jasmine yang terpantul pada dirinya dengan rambut coklat alaminya.


Serena benar-benar ingin memutuskan hubungannya dengan Jasmine yang telah menorehkan luka yang dalam pada hatinya, serta merendahkannya terus menerus.


Julian dapat menangkap gurat kepedihan dalam ekspresi Serena meski gadis itu berusaha menyembunyikannya.


"Makasi, aku nggak nyangka kalau warna ini lumayan cocok sama aku. Awalnya aku pengen motong rambutku juga, tapi hatiku belum rela jadi aku membiarkannya tetap panjang," ungkap Serena, yang belum diketahui oleh Julian pula.


Julian nyaris tersedak mendengar pengakuan Serena tentang rambut panjangnya yang indah. "Kamu mau potong rambutmu?!" Tercetak jelas di wajah Julian bila lelaki itu sama sekali tidak menyetujui rencana gila Serena.


Bagaimana tidak, rambut panjang Serena adalah satu di antara favorite Julian. Mana mungkin Julian merelakan rambut panjang nan halus kesukaannya itu dipotong oleh si empunya dengan tanpa perasaan.


Serena tahu kok. Dia tahu sekali kalau Julian begitu menyukai rambut panjangnya, maka dari itu Serena mengurungkan niatan untuk memotong pendek rambutnya. Setiap kali Serena menyentuh rambutnya sendiri, dia selalu teringat pada Julian yang selalu menyempatkan diri untuk menyisiri rambutnya dengan begitu hati-hati.


Serena terkekeh renyah. Lihat betapa paniknya Julian mendengar pengakuannya. Andai Julian mengetahuinya lebih awal, Serena yakin kekasihnya itu pasti akan merengek dan tak berhenti mengomelinya.


Nyatanya bukan cuma Julian saja yang tak setuju, Nyonya Bianca serta Hendery juga tak kalah menentang rencana itu dengan keras. Mereka berdua menyukai sosok Serena dengan rambutnya yang terurai panjang. Salah satu ciri khas yang Serena miliki.


"Oke, oke. Aku janji nggak akan memotong rambutku tanpa seizin kalian!" Serena mengangkat kedua tangannya ke udara.


Semua orang yang berkumpul di meja makan lantas tertawa gemas pada Serena yang begitu pasrah dan menurut pada mereka.


"Aku bercanda, kamu bebas mau ngapain aja, asalkan itu buat kamu nyaman dan senang," ujar Julian, diakhiri dengan senyum lembut yang menenangkan.


"Ngomong-ngomong, apa kamu serius nggak mau berdamai sama orang tuamu?" Tuan Felix kembali ke topik utama mereka.


Suasana yang ceria sekejap berubah suram ketika membahas soal orang tua Serena lagi.


Mengingat perlakuan orang tuanya, Serena tak menampik kalau dirinya masih menyimpan ketakutan besar terhadap mereka. Serena tidak mau terluka lagi, bahkan pipinya masih bisa merasakan perihnya tamparan yang diberikan mereka kepadanya.


Luka yang masih membekas di sudut bibirnya tak akan pernah Serena lupakan seumur hidup.


"Meskipun nggak ada kata damai di antara kami, tetep aja sulit buatku ketemu sama orang-orang itu lagi. Aku nggak mau berharap lagi sama mereka," cicit Serena dengan suara lirih.


Semua yang ada di sana saling berpandangan. Mereka tak menyangka trauma yang Serena dapatkan ternyata begitu membekas dalam diri gadis itu. Julian merasa sedih, dia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyembuhkan trauma Serena kepada orang tua gadis itu.


"Kami mengerti," Nyonya Bianca mengusap punggung Serena dengan lembut. "Nggak usah paksain dirimu. Sekarang, kamu hanyalah Serena. Seorang gadis manis dan baik hati yang sedang mencari jati diri. Gapapa, kamu bisa bangkit. Kami mendukung apapun pilihanmu. Asalkan kamu aman dan sehat, kami akan selalu mendukung dan mengawasimu," ujar beliau, dengan senyuman hangat yang meneduhkan hati Serena.


Selama ini Serena selalu bertanya-tanya, mengapa dirinya tak bisa mempunyai sosok ibu seperti tante Bianca ya? Tak perlu sama sepenuhnya, hanya sebagian kecil dari sikap hangat dan penyayang wanita itu saja yang Serena harapkan ada dalam kepribadian ibu kandungnya.


Naas, takdir berkata lain. Itu hanya sekedar angan-angan dalam benak Serena.


Hidup ini sungguh lucu. Bahkan sampai detik inipun, Serena merasa dirinya seolah tak menapak di atas tanah. Jiwanya masih dipenuhi kekosongan dan kabut gelap yang menyesatkan. Rasanya seperti tak ada jalan keluar, tapi Serena masih terus berusaha menggapai tempat yang bercahaya untuk mengembalikan semua kebahagiaannya yang tercerai-berai.


Dan Serena akan memulainya dari Julian, lalu keluarga Alfrod. Merekalah sumber kebahagiaan dan cahaya utama dalam hidup Serena.


"Jangan terlalu dipikir lagi, oke? Semua orang pasti pernah berbuat salah, dan bahkan nggak sedikit dari mereka yang nggak menyadari kesalahan masing-masing. Mengharapkan kata maaf dari orang kayak gitu, nggak beda jauh kayak kita nyari jarum di atas tumpukan jerami. Sulit banget, dan memakan hati sendiri. Memaafkan mereka lebih baik buat hati dan ketenangan jiwa kita," Tiba-tiba Hendery mengatakan hal yang bijaksana dan sukses mencengangkan semua yang ada di sana.


Menghiraukan tatapan syok banyak orang, Hendery menopang dagunya di atas meja sambil tersenyum tampan kepada Serena yang duduk di samping kirinya, "Kalau urusan orang tuamu, aku nggak berani ikut campur dan ambil tindakan. Tapi lain ceritanya kalau itu menyangkut Jasmine atau bahkan Jevano, kalau mereka kembali membuat masalah sama kamu, mereka bakal berhadapan sama aku. Kali ini aku nggak bakal tinggal diam karena aku udah muak sama dua drama queen itu."


Hendery mengatakan itu dengan senyuman lebar yang manis. Kontras sekali dengan penuturannya yang tak berbeda jauh dari sebuah pesan ancaman yang mematikan.


Julian yang sedari tadi memperhatikan sikap Hendery hanya bisa menghela nafas panjang, berusaha sesabar mungkin karena niat Hendery itu baik dan peduli pada Serena.


Andai Hendery bukan kakak dari Helena atau sosok kakak bagi Serena, sudah Julian lempar garpu itu kepala Hendery supaya tidak macam-macam pada kekasihnya.


Di sisi lain, Serena justru menikmati usapan tangan Hendery pada puncak kepalanya. Serasa Hendery ini benar-benar kakak kandungnya, Serena jadi senang sekali.


"Btw, terus apa yang mau kamu lakuin buat balas dendam ke Jasmine?" Helena bertanya dari seberang meja.


Soal Jasmine, Serena belum memikirkan rencana selanjutnya, apakah dirinya hendak membalas dendam atau memaafkan kesalahan Jasmine untuk kesekian kalinya. Berhubung kali ini sumber persoalan juga disebabkan oleh dirinya, Serena tak bisa menyalahkan Jasmine sepenuhnya.


"Kita lihat dulu. Sulit buatku maafin mereka dalam waktu cepat, tapi aku akan coba semampuku," putus Serena pada akhirnya.


Asalkan hati Serena lega, tak akan ada yang memprotes keputusan Serena.


Yah, sekali-kali membalas tak ada salahnya bukan?


Apa bila Jasmine tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berdamai dan saling memaafkan, maka Serena tak akan mengalah juga. Biar saja mereka menjadi rival abadi, Serena sudah lelah meladeni sikap kekanak-kanakan Jasmine terus.


"Kalau permusuhan yang Jasmine mau, nggak masalah. Aku akan meladeninya, karena aku udah capek memasang topeng lemah terus di depannya," ujar Serena, diiringi seringaian tipis yang terpatri di bibir.


"Lagian selama aku masih hidup, Jasmine nggak bakal tenang hatinya. Ingat, posisi penerus utama di keluargaku belum ditentukan secara sah, jadi posisi Jasmine masih goyah dan terpojokkan. Aku bisa aja ngalahin anak itu dalam sekali serang, tapi bakal nggak seru. Jasmine butuh diberi pelajaran yang lebih berat," imbuh Serena, yang sama sekali tak terprediksi oleh semua orang yang ada di sana, khususnya Julian.


Bagaikan anak singa yang siap menunjukkan taringnya kapan saja, Julian dapat melihat kepercayadirian Serena perlahan mulai bangkit dan lebih berani.


Ini bagus, Julian lebih suka melihat Serena maju dengan semua kekuatan yang gadis itu miliki daripada memandangi tubuh lemah dan lesu Serena yang tak berdaya, seolah sedang menanti kapan ajalnya tiba.


Sepertinya yang mendapatkan trauma tak hanya Serena saja sekarang.


'Hm...asalkan Serena senang, aku pasti bisa menahan rasa cemas dan takutku ini.'


Julian takut Serena menghilang dari pandangannya lagi. Sedetik ini Serena masih menatapnya dengan senyuman lebar yang manis, namun detik berikutnya Julian takut figure Serena perlahan hilang seperti waktu itu.


Julian berjanji akan memberikan segalanya untuk Serena, agar Serena tidak pergi ke mana pun lagi tanpa sepengetahuan dirinya. Asalkan Serena ada di sisinya, hati Julian baru bisa bernafas lega.