Mine

Mine
Side Couple : Resmi



"Kalau aku nerima kamu...apa kamu mau berjanji untuk berhenti melakukan kebiasaan burukmu itu?"


Helena tak akan pernah mendapatkan jawaban atas kegundahan hatinya apabila dirinya tidak mencoba bertanya.


Leonard yang sudah bertekad, langsung menjawab dengan anggukan tegas yang pasti. "Iya. Aku berjanji dan bersumpah. Nggak akan ada lagi wanita di sisiku selain kamu. Jejak merah di masa laluku memang nggak bisa kuhapus, tapi di masa sekarang dan mendatang, aku hanya akan mencintaimu, Helena."


Leonard menggenggam kedua tangan Helena dengan erat, seolah menunjukkan seberapa kuatnya perasaan yang dia miliki untuk gadis itu.


Cuma Helena seorang yang bersinar di mata Leonard, jadi dia bersumpah atas hidupnya akan terus mencintai Helena dan tak akan sekalipun berpaling hati pada perempuan lain.


"Aku memang bukan orang yang suka berkomitmen, tapi kalau kamu masih belum percaya, kamu bisa mengikatku langsung menjadi tunanganmu atau bahkan suamimu. Aku serius ingin menjalin hubungan denganmu, Helena. Sekalipun itu mengarah ke jenjang pernikahan, aku akan melakukannya dengan senang hati."


Senyuman tipis terukir di bibir lelaki itu Leonard yang sekarang, tampak seperti sedang melamar dirinya. Debaran jantung Helena makin tak terkendali dan membuat kedua pipinya merona merah.


"Ih, apaan sih!? Kok jadi bahas soal pernikahan!? Memang kamu pikir, pernikahan itu buat main-main aja, apa!?" protes Helena kemudian.


Helena tak memahami jalan pikiran Leonard. Lelaki itu mengajaknya menikah seolah-olah sedang mengajaknya bermain rumah-rumahan saja. Terdengar enteng dan tanpa beban.


"Yah...kalau sama cewe lain sih, aku akan menganggap pernikahan itu sekedar 'permainan' yang akan berakhir cepat begitu kedua belah pihak sama-sama merasa bosan. Tapi kalau sama kamu, aku yakin kehidupan rumah tangga yang nggak pernah aku rasakan bakal terasa lebih berwarna dan hidup..."


"...tanpa sadar aku jadi memikirkan banyak hal bersamamu. Ini juga pertama kalinya dalam hidupku, rasanya mendebarkan juga ya!" Leonard tertawa ceria.


Membuat Helena terpesona bukan main ketika melihat paras tampan Leonard yang terlihat makin bersinar dengan senyuman lebarnya yang tulus.


Baru kali ini..selama mereka bersahabat, baru kali ini Helena melihat senyuman lebar Leonard yang menawan. Ekspresi dingin yang biasanya Leonard tunjukkan, hilang entah ke mana, tergantikan oleh ekspresi ceria yang hangat.


'Dia...ternyata masih tau caranya tersenyum lebar. Lucu banget...mirip anak kecil..' Inilah yang Helena rasakan ketika melihat perubahan ekspresi Leonard yang langka.


"Aku akan memberimu waktu buat mengambil keputusan. Aku akan menjadi anak baik dan menunggumu dengan sabar. Jadi jangan terlalu terbebani ya?" Tangan besar Leonard mengusap lembut puncak kepala Helena.


Sentuhan kecil yang berdampak cukup besar bagi kedua belah pihak. Selama ini 'kan mereka melakukan skinship hanya sebatas teman, tanpa embel-embel perasaan suka. Jadi wajar bila sekarang, sentuhan sekecil apapun dapat membuat jantung keduanya berdebar bukan main.


"Aku....aku..."


Lidah Helena mendadak keluh untuk berbicara. Perasaan hangat dan menggelitik di perut membuat tubuhnya kaku bukan main.


"Apa sih yang kamu sukai dari aku?" Helena ingin tahu lebih dulu, seperti apa dia di mata Leonard.


"Dibandingkan Serena, aku lebih jelek dan juga tomboy. Aku juga suka bicara blak-blakan dan bersikap semaunya sendiri. Aku yang kayak gitu, kenapa bisa membuatmu suka?"


Pertanyaan yang tak terduga. Leonard terdiam seraya berpikir. Dia juga bingung kapan tepatnya dia mulai menyukai Helena, kalau bukan masalah Marcus kapan hari, mungkin Leonard akan terus menyangkal perasaan yang mulai tumbuh dalam hatinya itu.


"Hm...kamu memang tomboy dan semaunya sendiri, kadang juga kasar untuk ukuran cewe. Tapi terlepas dari itu, menurutku itu adalah kharisma yang kamu punya. Itu yang membuatmu berbeda di mataku. Aku juga nggak pernah bosan meski hanya berdua denganmu."


Leonard khawatir bila jawaban yang dia berikan tak sesuai ekspektasi Helena, tapi dia hanya mengatakan sesuai isi hatinya.


"Gitu ya..." Walau agak sedikit mengesalkan, tapi Helena tidak terlalu kecewa. Itu artinya, Leonard melihat dia apa adanya bukan? Meskipun Leonard sudah melihat sisi buruk dirinya, tapi lelaki itu tetap menyukainya.


Bagaimana Helena tidak merasa senang akan hal ini?!


Rasanya Helena ingin berteriak sekencang-kencang gara-gara meleyot mendengar pengakuan jujur Leonard. Kapan lagi dia dipuji oleh seorang lelaki tampan yang sering dikelilingi perempuan-perempuan cantik namun tetap memilih dirinya yang tak lebih dari sebuah kentang?


"Ekhem! Ya-ya udah, mau gimana lagi? Kayaknya kamu udah cinta mati sama aku. Aku bakal merasa bersalah seumur hidup kalau nyia-nyiain ketulusanmu itu!" Pada akhirnya Helena menyerah atas kegulatan batinnya.


"Kamu....mau menerimaku? Kamu mau jadi pacarku?"


Leonard terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya nyaris berhenti berdetak akibat terlalu terkejut mendengar jawaban dari Helena.


Helena membuang muka ke lain arah, berusaha menyembunyikan semburat kemerahan yang menghiasi kedua pipi bulatnya. Dengan malu-malu kucing, kepalanya mengangguk lucu mengiyakan pertanyaan Leonard.


Rasanya seperti ada kembang api meletup-letup dalam hatinya, Leonard nyaris berguling-guling di atas tanah sambil menahan jeritan kegirangannya.


"SERIUS?! Kamu nggak bohong 'kan?! Kamu nggak boleh tarik kembali jawabanmu ya!" Layaknya seorang bocah yang bahagia sehabis menerima hadiah, begitu pula Leonard yang kegirangan hanya karena pernyataan cintanya diterima oleh sang pujaan hati.


Helena mengangguk untuk kedua kalinya, namun kali ini disertai senyuman lebar yang amat manis.


Leonard yang kegirangan sampai mengangkat tubuh Helena ke udara. Menggoyang-goyangkan tubuh yang lebih mungil sebagai bentuk rasa terima kasihnya.


"Makasi!!! Aku bener-bener nggak nyangka kamu bakal nerima aku! Aku pikir aku bakal tetap menjadi sahabatmu selamanya...makasi banyak udah nerima aku, Helen...."


Leonard menurunkan tubuh Helena tanpa melepaskan pelukannya pada sang pujaan hati. Dari jarak yang amat tipis, keduanya dapat mendengar dengan jelas detak jantung satu sama lain. Seberapa cepat jantung itu memompa hanya karena perasaan bahagia yang bernamakan cinta.


Sebuah perasaan asing dan polos layaknya orang yang baru mengenal cinta.


"I love you...akhirnya, aku bisa mengutarakan perasaanku secara jelas ke kamu.." Senyum tak sedikitpun luntur dari wajah rupawan Leonard.


Tampak jelas bahwa lelaki itu sedang bahagia dan dimabuk asmara. Bagi Leo, Helena adalah cinta sejati sekaligus kekasih pertamanya yang dia sayangi setulus hati.


Untuk menunjukkan kesungguhan hatinya, Leonard akan melakukan apa saja demi Helena.


"Ayo, kita pergi sekarang!!"


Tiba-tiba Leonard menarik tangan Helena untuk ikut berlari bersamanya.


Helena yang bingung hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Leonard.


"Memangnya kita mau ke mana??" Helena semakin bingung ketika ternyata mereka buru-buru pergi menuju tempat di mana Leonard memarkirkan mobil mewahnya.


"Ke rumah Julian!! Aku harus kasih dia secepatnya!" sahut Leonard, dengan cengiran lebar di wajah tampannya.