Mine

Mine
Chapter 38



Austin menuju dapur karena mendengar suara-suara ribut seperti ada yang memasak. Pelayan rumahnya biasanya datang jam tujuh untuk menyiapkan sarapan.


Sekarang belum jam tujuh. Austin yakin sekali itu pasti Ainsley. Apa yang di lakukan gadis itu?


"Kau bisa masak?"


suara Austin yang berat membuat Ainsley hampir melompat. Ia kaget bukan main. Gadis itu menatap Austin yang tengah berdiri di ambang pintu masuk dapur dengan kesal. Ingin sekali ia melempar sendok sop di tangannya ke arah Austin yang sekarang malah menertawainya. Menyebalkan sekali.


"Kau membuatku kaget, tuan Austin." ucapnya ketus dengan kesal.


Austin tertawa. Ia melanjutkan langkahnya ke dekat Ainsley berada.


"Aku tidak tahu kalau kau bisa masak," ucap pria itu. Matanya melirik ke panci kaldu di atas kompor.


Sepertinya istrinya itu memasak sop. Sebuah senyuman tipis terpampang di wajah Austin. Apa Ainsley memasak untuknya? Kan dia semalam mabuk berat.


Dulu sebelum menikah dengan Ainsley, ketika ia mabuk berat Narrel akan membawakannya sop ayam atau  jus buah dan makanan sehat lainnya di pagi hari.


"Aku bukan tuan putri dari keluarga kaya yang tidak pernah menyentuh dapur," kata Ainsley ketus. Masih ada sisa-sisa rasa jengkelnya pada pria itu karena mengagetkannya tadi.


Austin terkekeh. Ia suka karena Ainsley menunjukkan sifatnya yang sebenarnya dan tidak di buat-buat seperti kebanyakan wanita lainnya.


"Apa yang kau masak?" tanya Austin lagi.


"Kau duduk saja dengan tenang di meja makan. Sop ayamnya sudah masak, aku akan menyiapkan untuk kau makan." perintah Ainsley. Ia tidak bisa fokus kalau Austin mengganggunya terus.


Sementara Austin langsung menuruti perintah Ainsley ketika mendengarnya mengatakan kalimat yang enak di dengar di telinga pria itu. Benar dugaannya. Pagi ini Ainsley sengaja membuatkannya SOP ayam untuk meredakan sakit kepalanya.


Lelaki itu berjalan ke meja makan dengan semangat. Ia terus mengamati Ainsley yang sibuk menyiapkan makanan untuknya. Cantik. Istrinya cantik sekali walau tak pakai make up.


"Makanlah," ucap Ainsley menyodorkan semangkok SOP di hadapan Austin.


Austin mengambil sendok yang di sodorkan Ainsley dan mulai mengisi sop ke dalam mulutnya. Rasanya enak. Apakah karena di buat oleh perempuan yang dia cintai? Lelaki itu senyum-senyum sendiri.


"Kau masih mabuk?" tanya Ainsley menatap Austin lurus. Sepertinya pria itu memang masih mabuk, karena dari tadi ia sering melihat Austin senyum-senyum sendiri. Lihat sekarang, pria itu tertawa lagi. Padahal kemarin sikapnya sangat dingin.


"Kau tidur di mana semalam?" tanya Austin setelah menghabiskan semua SOP di mangkoknya. Ia baru ingat sejak tadi dirinya mencari Ainsley karena ingin menanyakan hal itu.


"Sofa," jawab Ainsley.


"Kenapa tidak tidur di ranjang saja?


Ainsley tidak menjawab, hanya diam. Sudah lewat juga. Ia rasa hal itu tidak perlu di bahas lagi.


"Apakah semalam aku melakukan kesalahan?" Austin memutuskan mengganti pertanyaan seakan tahu pertanyaan pertamanya tidak akan di jawab oleh Ainsley.


Pria itu tidak ingat sama sekali apa yang terjadi semalam.


"Setelah pulang dengan keadaanmu, kau langsung tidur tak sadarkan diri. Itu saja," sahut Ainsley.


Sebenarnya Austin memang melakukan kesalahan karena semalam gadis itu hampir terjatuh akibat pria itu mendorongnya.


Tapi menurut Ainsley tidak terlalu penting untuk cerita. Bisa-bisa ia tidak pergi-pergi ke kampus lagi.


Austin sendiri menggaruk-garuk kepalanya mencoba memikirkan apa yang sudah terlewat semalam, tapi tidak ia temukan juga.


"Bi Ratih," panggil Austin melihat ke bi Ratih yang sedang meletakkan berbagai jenis sayur dan buah-buahan dalam kulkas.


"Iya tuan?" bi Ratih menoleh.


"Kerja kan yang lain saja dulu. Sarapannya sudah di buat oleh istriku." kata Austin. Bi Ratih menatap kedua majikannya itu kemudian mengangguk dan membuka sebuah lemari besar dekat itu, mengambil vacum cleaner dan beberapa alat bersih-bersih lainnya, kemudian pergi ke ruang paling depan.


Austin menatap Ainsley lagi dan berbicara.


"Sebentar lagi. Kau sendiri, jam berapa ke kampus?" ucap lelaki itu kemudian balik bertanya.


"Aku ada kelas jam sepuluh." jawab Ainsley.  Austin mengangguk-angguk. Kalau saja rapat kemarin tidak ia tunda, hari ini dia pasti bisa istirahat sepenuhnya di rumah. Beberapa menit kemudian pasangan suami istri itu kembali ke kamar untuk bersiap-siap.


                                  ***


Ainsley dan Dara sedang berjalan di halaman kampus sambil membicarakan perjalanan Ainsley liburan di hawaii. Ainsley sudah menjelaskan pada Dara tadi kenapa lima hari yang lalu ia tiba-tiba menghilang dan tidak bisa di hubungi.


Di tengah perbincangan mereka, seseorang memanggil nama Ainsley.


Mereka berdua menoleh ke belakang dan melihat laki-laki tinggi besar sedang berlari-lari kecil menghampiri mereka.


Dara menyikut lengan Ainsley dan berbisik,


"Beberapa hari ini Alfa terus mencarimu." katanya.


Ainsley mengerutkan kening dan memikirkan kenapa Alfa mencarinya. Ia juga ingat ketika memeriksa ponselnya kemarin, panggilan Alfa paling banyak.


Laki-laki itu berhenti di depan mereka berdua namun matanya fokus ke Ainsley. Ia tampak senang melihat gadis itu.


"Kau ada waktu? Aku ingin bicara berdua." ucap Alfa kemudian melirik Dara di sebelah Ainsley, seolah memberi isyarat pada gadis itu untuk tidak mengganggu mereka.


"Tunanganmu mana? Jangan sampai dia melihat kalian berdua dan melabrak Ainsley, padahal bukan Ainsley yang mau mendekatimu." sindir Dara. Ia ingat bagaimana Rumi mendatangi mereka dan mengucapkan perkataan yang cukup menghina Ainsley.


Alis Alfa terangkat,


"Rumi menemui kalian?" tanyanya.


"Bukan aku, tapi Ainsley. Kebetulan ada aku di situ." balas Dara lumayan ketus. Ainsley cepat-cepat menegur sahabatnya itu dengan cara matanya.


Alfa jadi merasa serba salah. Sepertinya ia harus memberi peringatan lagi pada Rumi. Tapi hari ini ia memang ada keperluan lain untuk di bicarakan dengan Ainsley.


"Aku minta maaf atas nama Rumi." ucap Alfa pada Ainsley. Gadis itu menggeleng. Lagipula ia tidak terlalu memikirkan perkataan kasar dari tunangan Alfa itu. Tidak penting.


"Kau masih mau bicara denganku kan? Aku sebenarnya ingin menawarkan pekerjaan,"


Pekerjaan? Ainsley mendongak menatap Alfa. Ia memang sedang membutuhkan pekerjaan.


"Pekerjaan apa?" tanyanya.


"Bagaimana kalau kita mengobrol sambil makan siang? " tawar Alfa. Ini memang sudah jam makan siang.


Ainsley melirik pria itu ragu. Tapi ia juga ingin mendengar tawaran pekerjaan apa yang di katakan Alfa. Setelah menimbang-nimbang gadis itu akhirnya mengangguk. Dara tentu saja tidak ikut. Tidak ada alasan baginya untuk ikut.