Mine

Mine
Peringatan Keras



"Kau!"


Merasa terpanggil, Dion menengok ke arah seorang lelaki yang berdiri di seberang stand makanan yang dia datangi.


Satu alis Dion sedikit terangkat ke atas, menunjukkan ketidaktahuannya terhadap sosok asing yang tampak terkejut melihat kehadirannya di pesta itu.


"Sorry? Kau manggil aku?" Dion bertanya pada lelaki yang mengenakan tuxedo warna full hitam dari atas sampai bawah.


Dion mencoba mengingat kembali siapa gerangan lelaki asing itu, sayangnya Dion belum bisa mengingat dengan jelas gara-gara terlalu fokus pada Serena yang masih berdiri di atas panggung.


Ekspresi Jevano terlihat mengeras. Sudah moodnya buruk, sekarang makin memburuk setelah menemukan 'Dion' yang turut hadir dalam pesta keluarga Collin.


"Katakan padaku, sebenarnya kau ini siapa!? Apa benar, kau ini anak buah Caesar yang diutus datang ke mari untuk mengawasi Serena?!"


Dion heran, bisa-bisanya lelaki asing itu mengintrogasinya di tengah-tengah acara penting seperti sekarang. Mana banyak tamu yang memperhatikan dan mendengar obrolan mereka lagi. Dion semakin yakin, bila lelaki bersurai kecoklatan itu sudah hilang akal.


"Bukan urusanmu. Lebih sedikit yang kau tau, lebih baik." Dion memilih acuh, lalu hendak pergi menyingkir sejauh mungkin dari orang aneh itu.


Tanpa berbasa basi panjang lebar, Dion berjalan menjauhi Jevano yang datang secara tiba-tiba bak angin put*ing beliung yang siap memporak-porandakan semua yang dilewatinya.


Dion tak ingin hari bahagianya ini terganggu oleh orang-orang aneh dan mencurigakan seperti laki-laki asing tadi.


Tapi..bagaimana bisa orang itu menyebut nama Caesar dengan begitu akrab?


'Apa dia dekat dengan Serena ya? Hm..apa dia ini sahabat cowo yang dimaksud sama Serena sebelumnya?' Dion jadi sedikit kepikiran dengan sosok asing tadi.


Grep


Tiba-tiba seseorang mencengkram pundak kanan Dion dengan cukup kencang, "Oi, kau pikir kau mau ke mana, ha?! Kau belum menjawab pertanyaanku tadi!"


Rupanya orang tadi belum juga menyerah menanyainya!


Dengan sigap Dion menarik tangan Jevano yang bertengger di pundaknya, lalu balik mencengkram pergelangan tangan laki-laki itu dengan kuat.


"Kau pikir kau siapa berani memerintahku? Singkirkan tanganmu dari pundakku. Kalau kau mencari keributan, lebih baik kita keluar sekarang juga," Dion menggeram menahan amarah. Tatapannya menyorot nanar Jevano yang mulai mencari masalah dengannya.


"Apa ada ini?" Hingga seorang datang hendak melerai kedua belah pihak yang nyaris baku hantam di tengah-tengah acara yang masih berlangsung.


"Tuan Leonard," sapa Dion pada Leonard yang datang dengan membawa segelas wine di tangan kanan.


Jevano menggeram rendah. Padahal tinggal sedikit lagi dia bisa mendapatkan jawaban atas rasa penasaran yang selama ini menghantui pikirannya.


Kini pandangan Leonard tertuju pada Jevano yang membuang muka.


Menghela nafas panjang, Leonard tahu Jevano pasti sedang merencanakan sesuatu pada Dion. "Aku cari kamu ke mana-mana. Julian mengajakmu duduk bersama di depan. Ayo, kita pergi ke sana." Dan membawa Dion menjauh dari Jevano adalah pilihan yang baik.


"Oh, baiklah. Terima kasih sudah memberitahuku," Dion bergegas pergi bersama Leonard, yang mana dia kenal sebagai sahabat dekat Julian.


Untung ada Leonard, kalau Leo tidak datang tepat waktu, mungkin akan terjadi baku hantam sungguhan tadi.


Dion menghembuskan nafas lelah, baru juga dirinya ingin bersenang-senang, ada saja orang yang ingin merusak mood baiknya dengan sesuatu yang bodoh.


...🦋...


...🦋...


"Huh! Sepertinya kau kelihatan sangat bangga bisa berdiri di atas panggung bersama dengan Tuan Joseph dan Julian."


Baru juga ingin bersantai sejenak, ada saja serangga yang mencoba mengganggu kedamaiannya.


Serena melirik dingin Sarah yang berdiri di pojok stand makanan, sambil menutupi mulutnya menggunakan kipas yang cantik. Sayang sekali, kipas secantik itu digunakan untuk menutupi mulut busuk Sarah yang berbisa.


"Siapa yang nggak bangga bisa berdiri sejajar dengan orang-orang yang aku sayangi?" Senyum kemenangan tercetak di bibir Serena.


Sarah mengencangkan pegangannya pada kipas tak berdosa ditangannya. 'Dasar cewe belagu! Gara-gara kau!! Semua impianku hancur berantakan!!! Berani banget dia nunjukkin diri di depan rekan dan relasi Tuan Joseph!!! Apa dia nggak malu sama dirinya sendiri?!'


"Kau! Seharusnya nggak usah dilahirkan di muka bumi ini!" desis Sarah penuh dengan dendam.


Serena tersenyum sinis, "Katakan itu pada ibuku, nona Hudgens. Beliau yang sudah melahirkanku ke dunia ini. Hanya karena semua nggak berjalan sesuai keinginanmu, kau menyalahkan orang lain dan mencemoohnya secara kasar. Apa itu yang diajarkan oleh orang tuamu?" Serena tak akan tinggal diam setelah menerima penghinaan secara terang-terangan.


Sarah tersentak. Serena balik memandanginya dengan sengit dan bahkan membalas perkataannya tak kalah pedas.


"Hanya karena kau merasa orang-orang itu berada di pihakmu untuk saat ini, kau jadi besar kepala. Kau harus ingat dirimu yang dulu, kuper dan culun!"


Saling melontarkan perkataan pedas dengan volume suara yang kecil memang bukan perkara yang mudah. Serena tak ingin merusak suasana pesta yang hangat dan meriah, cuma gara-gara mulut seorang perempuan yang dibalut oleh kecemburuan.


Serena mendesah panjang, berhadapan dengan Sarah tak akan berakhir baik. Lebih baik dirinya pergi lalu menarik Julian untuk menemaninya ke mana-mana karena Serena tak ingin diganggu lagi oleh siapapun.


Namun belum ada dua langkah menjauh, sesuatu menginjak ekor gaunnya dari belakang hingga membuat keseimbangan Serena jatuh.


Bruk


"Ups! Maafkan saya, nona Serena! Sepertinya saya tidak melihat gaun anda yang panjang ini!"


Dua gadis yang berdiri di belakang Serena tiba-tiba meminta maaf, namun ekspresi yang mereka tunjukkan berbanding terbalik dengan ucapan penyesalan yang mereka lontarkan.


"Bagaimana ini? Kita sudah membuat 'ratu' pesta malam ini jatuh secara tidak elite. Bukankah ini memalukan anda, nona?"


'Dusta....kalian pasti sengaja menjatuhkanku!' Serena menangkap senyum licik di sudut bibir kedua gadis itu.


Orang-orang mulai berkerumun menyaksikan Serena yang terduduk menyedihkan di atas lantai.


Sulit bagi Serena bangkit dengan tenaganya sendiri di saat dirinya masih mengenakan gaun yang lumayan berat di tubuhnya.


"Sayang? Kenapa kamu duduk di lantai? Apa kamu habis jatuh?!" Beruntung Julian datang setelah diberitahu oleh salah seorang pelayan yang melihat keributan di stand makanan.


Elliot juga ikut menyusul Julian untuk menengok keadaan calon adik iparnya.


Sarah mundur secara perlahan, supaya tidak dicurigai sebagai salah satu oknum yang telah membuat malu Serena.


Dengan gentle Julian membantu Serena berdiri secara hati-hati, pun begitu pula dengan Elliot yang membantu mengangkat ekor gaun Serena yang menjuntai.


Namun ternyata, insiden kecil itu justru memanjakan mata para ibu-ibu serta kaum hawa yang melihat adegan romantis tersebut seperti di drama-drama romansa kerajaan yang sangat mendebarkan hati.


Mereka mengagumi betapa gentle-nya Elliot dan Julian memperlakukan Serena layaknya seorang puteri sungguhan.


"Sepertinya kedua nona ini tidak sengaja menginjak ujung gaunku. Jadi, bolehkah aku berkenalan dengan anda berdua, untuk meminta maaf atas insiden kecil barusan?" Serena berdiri menghadap kedua perempuan asing yang kini mati kutu di hadapan Elliot dan Julian.


"A-a...itu....itu...saya..." Keringat dingin mulai membanjiri tubuh kedua perempuan muda itu. Tatapan Elliot dan Julian terasa intense dan mematikan, sampai membuat bulu kuduk mereka meremang.


"I-ini adalah kesalahan kami yang tidak melihat jalan, nona Serena! A-anda tidak perlu meminta maaf pada kami!! Sungguh!!" tolak kedua perempuan itu secara serempak.


Serena hanya berniat menggertak mereka saja, lalu matanya melirik ke arah Sarah yang ingin menjauh dari tempat kejadian secara diam-diam.


"Dan nona Hudgens, apa masih ada lagi yang ingin anda sampaikan pada anak seperti 'saya'?!" Pertanyaan tegas itu dilayangkan pada Sarah yang kini menjadi sorotan banyak orang.


'Apa ini? Aku merasa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Apa Sarah mengatakan sesuatu yang buruk pada Serena?' Julian harus menelik lebih dalam persoalan ini.


"Nona Hudgens, segala bentuk perkataan kasar yang tidak mengenakan hati akan saya masukkan sebagai bahan perhitungan atas kerja sama antar perusahaan kita. Seperti yang anda ketahui, nona Serena akan menjadi bagian dari keluarga kami juga, jadi bila anda menentang keputusan itu, maka anda harus berhadapan dulu dengan kami sekeluarga," Elliot maju membela Serena.


Rupanya banyak orang yang kebanyakan bergender wanita menentang Serena sebagai calon istri Julian. Yah, Elliot sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, mengingat banyaknya wanita yang jatuh hati kepada sang adik ataupun dirinya. Tapi mereka berani menunjukkan ketidaksukaan serta penentangan mereka secara terbuka, jelas itu tidak bisa dibiarkan.


"Kami yang akan melindungi Serena dari segala perkataan buruk serta tindakan yang tidak mengenakan apapun bentuknya. Bila ada yang menentang atau tidak menyetujui keputusan yang kami ambil, silahkan datang dan berbicara empat mata dengan kami semua," Elliot dengan lantang mendeklarasikan itu di hadapan ratusan tamu yang hadir.


Sedikit memalukan sih, tapi Serena jadi lumayan lega. Serena harap orang-orang tak akan mengganggunya lagi hanya karena rasa cemburu akibat tak berhasil mendapatkan hati si bungsu Collin.


Julian tahu Serena akan menghadapi waktu-waktu sulit karena dirinya, hal seperti ini mungkin bisa saja terjadi lagi di masa mendatang.


"Kami akan menuntut secara hukum pada siapapun orang atau pihak yang berbuat jahat pada kekasihku, apapun itu."