Mine

Mine
END : Kita Adalah Keluarga



"Dadddyyy~~~!!!"


Julio berlari ke pelukan sang ayah yang baru turun dari mobil, setelah menjemput Serena di butik.


Julian berjongkok untuk menyambut tubuh bayi mungilnya yang kini mulai beranjak besar.


Hup


"Ketangkap! Anak Daddy nggak nakal 'kan di rumah tadi??"


Julian mengecupi seluruh permukaan wajah sang putera sampai membuat si kecil tertawa kegelian.


Serena yang baru turun dari mobil tersenyum lebar menyaksikan pemandangan hangat di depan mata.


Hubungan ayah dan anak antara Julian dan Julio memang tergolong dekat meski intensitas mereka bermain bersama tidaklah banyak.


Julio tampak sangat bahagia ketika Julian memeluk lalu menggendong tubuh mungilnya. Rambutnya yang tebal digesekkan pada sisi kepala ayahnya, layaknya seekor anak kucing yang sedang bermanja-manja.


Serena tak akan membatasi segala sikap dan tingkah laku Julio di hadapan ayahnya, karena Serena berpikir bahwa Julio perlu merasakan secara langsung kasih sayang orang tuanya baik melalui lisan maupun kontak fisik.


"Julio sudah makan belum? Mommy bawakan cake kesukaan Julio. Julio mau nggak?"


Selagi Serena sanggup membelikan sesuatu untuk anaknya dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, Serena tak pernah hitung-hitungan ataupun berpikir dua kali untuk memberikan segalanya untuk sang putera tercinta.


Apa yang dulu Serena alami di keluarganya dapat dia jadikan sebagai pelajaran untuk lebih membuka mata serta hati, kemudian menyayangi dan memberikan seluruh perhatiannya pada buah hatinya.


Serena tak akan membiarkan anak-anaknya merasakan hal yang sama dengannya. Baik Serena maupun Julian sama-sama berjuang dan berupaya menjadi sosok orang tua yang baik dan dapat menjadi panutan bagi anak-anak mereka kelak.


Anak-anak?


Ya, Serena tak akan membatasi berapa jumlah anak yang akan diberikan oleh Tuhan padanya dan Julian di masa depan. Berapapun yang Tuhan kasih, Serena dan Julian akan menerimanya dengan sukacita dan mempersiapkan segala kebutuhan buah cinta mereka sebaik mungkin.


Julian sendiri juga tak pernah memaksa Serena untuk mempunyai keturunannya hanya karena 'tuntutan' semata. Misalkan Serena belum siap menjadi orang tua dengan banyak anak, maka Julian akan menghormati keputusan Serena.


Mereka menikah adalah tentang memberi, bukan memaksa atau hanya karena keegoisan masing-masing yang ingin dicintai dan diperhatikan lebih dari segalanya. Julian akan memberikan seluruh kasih sayang serta fokusnya pada keluarga kecilnya, pun begitu juga dengan Serena.


Semua adalah untuk keluarga.


Untuk anak-anak mereka di masa mendatang, Serena dan Julian ingin memberikan yang terbaik bagi keluarga mereka yang masih bertumbuh. Perjuangan mereka berdua baru di mulai sejak kelahiran Julio ke dunia. Bahkan sampai detik ini pun, di usia Julio yang sudah beranjak 3 tahun, Serena dan Julian masih terus mempelajari serta memahami banyak hal tentang putera mereka secara mandiri.


Sebisa mungkin orang tua muda itu tidak ingin mengandalkan campur tangan orang luar terlalu banyak dalam merawat dan membesarkan Julio. Sebab bonding antara orang tua dan anak itu amat sangat penting demi menciptakan sebuah keluarga yang harmonis dan damai.


Jujur, menjadi seorang ayah sama sekali tak pernah terbesit dalam benak Julian sebelumnya. Boro-boro punya anak, Julian bahkan sama sekali tak pernah punya keinginan untuk menikah dengan seseorang hanya demi meneruskan keturunannya.


Dunianya masih abu-abu dan gelap sebelum bertemu dengan Serena. Kehadiran Serena bagaikan cahaya hangat yang sanggup mewarnai kehidupan Julian yang suram serta memberikan gairah hidup yang baru bagi pria itu.


Kini mereka telah hidup bahagia bersama bahkan telah dikaruniai seorang anak yang tampan dan cerdas. Serena dan Julio, kedua orang itu merupakan anugerah yang Tuhan berikan pada Julian. Bahkan sekalipun Julian menukarkan seluruh koleksi mobil mewahnya, tak akan ada yang bisa menggantikan sosok Serena dan Julio yang amat berharga di hati Julian.


Kedua orang yang tulus mencintai dirinya apa adanya, mau susah ataupun senang. Julian benar-benar tak menyangka kalau dirinya masih diberikan kesempatan untuk kembali mengecap manisnya romansa cinta bersama Serena.


"Thankyou so much, my little captain," ucap Julian pada Julio yang berada dalam gendongan tangannya.


Kedua mata bulat nan lebar berwarna kelabu itu menatap Julian dengan kerlipan tak mengerti.


Sebuah kecupan dalam yang menghangatkan hati siapapun yang mendengar. Tak terkecuali Serena yang kini menahan genangan air mata yang siap tumpah kapan saja gara-gara ucapan random Julian.


'Terima kasih, Tuhan...telah mempertemukanku dengan laki-laki setulus dan sebaik Julian. Jodoh yang begitu istimewa, yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya...'


Mengingat masa lalu yang suram, seolah tak ada harapan akan kebahagiaan memang membuat frustasi. Namun siapa sangka, uluran tangan seseorang dapat menariknya keluar dari lubang kegelapan itu dan bahkan memberikan seluruh kebahagiaan yang tak pernah Serena bayangkan sebelumnya.


Julian adalah harta Serena yang berharga, dan kini berkat pria itu hartanya kembali bertambah seiring bertumbuhnya keluarga kecil mereka.


Ada banyak hal yang bisa Serena nantikan sejak lahirnya si kecil Julio. Menyaksikan dan turun tangan langsung dalam tumbuh kembang anak tampannya yang istimewa.


Serena berharap keluarganya selalu dalam perlindungan Tuhan dan terhindarkan dari musibah. Sebab Serena ingin menikmati hidup yang panjang bersama anak serta suaminya sampai mereka tua nanti.


"Serena? Kok bengong di situ? Ayo, masuk. Julio udah nggak sabar mau makan cake yang kamu belikan."


Senyuman manis yang diberikan Julian dan Julio membuat hati Serena serasa seperti tergelitik. Kebahagiaannya, cahayanya, dunianya. Mereka adalah orang-orang yang amat Serena sayangi dan cintai.


Langkah Serena bergerak ringan menghampiri suami serta buah hatinya yang berdiri dengan sabar menunggu kedatangannya.


Hanya di pelukan mereka, Serena benar-benar menemukan tempat peristirahatannya yang nyaman.


Grep


"Aku sayang kalian~!"


Serena memeluk Julian serta Julio yang berada dalam gendongan ayahnya. Meski tangan mungil Serena tak dapat menjangkau tubuh keduanya secara penuh, namun cukup untuk merangkul dan berbagi pelukan hangatnya dengan orang-orang terkasihnya itu.


Cup


"Kami juga sayang dan cinta sama Mommy Serena!" Baik Julian maupun Julio serempak mengutarakan perasaan sayang mereka pada satu-satunya wanita hebat dalam keluarga mereka.


Bagi Julio, Serena bukan hanya seorang ibu yang merawatnya tapi juga seperti superhero yang selalu ada untuknya, merawat serta membantunya mempelajari banyak hal baru yang belum dia mengerti.


"Ulio sayang Mommyy~ Mommy adalah ibuuu yang sangattt hebatt buat Ulio!!"


Serena berharap waktu tidak berjalan terlalu cepat supaya dia bisa menikmati masa-masa bahagia ini lebih lama. Bila Julio sudah beranjak dewasa nanti, mungkin anaknya itu akan malu mengecup dan memeluk orang tuanya secara terang-terangan seperti ini.


Itulah mengapa momen kebersamaan dengan Julio saat masih kecil begini harus dinikmati dengan sepenuh hati, agar kelak tidak timbul suatu penyesalan besar karena kurangnya bonding antara orang tua dan anak di antara mereka.


"I love you, my beloved wife...Terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan menjadi bagian dari keluargaku. Tanpa kamu, aku nggak mungkin bisa merasakan kebahagiaan yang penuh seperti ini!"


Mulut yang tidak pernah bosan mengungkapkan perasaan cinta yang selalu baru setiap hari.


Tangan yang selalu merengkuh dirinya dan buah hati mereka seakan menyalurkan perlindungan dan rasa aman yang pasti.


Julian Edward Collin..


Kau selamanya akan menjadi milikku..


Dan aku, Serena Calista Reinhart, juga akan menyerahkan diriku sepenuhnya menjadi milikmu seorang.


...♡END♡...