
"Akhirnya kau muncul juga, ponakanku yang paling kuandalkan!"
Caesar nyaris menyemburkan kopi dalam mulutnya ke muka sang paman yang tiba-tiba masuk ke ruangan kerjanya tanpa seizin darinya.
Oliver yang berdiri di ambang pintu tampak bingung mengatasi James yang menyelonong masuk seenak hatinya sendiri. Padahal sudah di larang, tapi James tidak mengindahkan larangan tersebut.
"Apa yang paman lakukan di sini?" Alis Caesar menekuk sempurna. Paginya hancur gara-gara kehadiran tamu tak di undang itu.
Layaknya di rumah sendiri, James mendudukkan bokongnya pada sofa empuk yang tersedia di depan meja kerja Caesar. Mengedarkan matanya meneliti seisi ruangan kerja sang ponakan dengan seringaian yang mencurigakan.
'Gimana rasanya menempati kursi tinggi itu ya?' Pandangan James tertuju pada kursi yang diduduki Caesar saat ini.
Bahkan di usia yang masih masih terbilang muda, Caesar telah menduduki posisi tertinggi dalam perusahaan itu. Tentu hal ini membuat hati James iri bukan main.
"Kau ke mana saja? Aku dengar kau baru saja mengunjungi keluarga Philip di sana. Kenapa tidak mengajak-ajak?"
Basa basi yang memuakkan. Caesar ingin sekali menendang bokong pamannya dengan keras supaya cepat ke luar dari ruangan kerjanya yang nyaman.
"Berhenti, dan katakan saja apa maumu datang ke mari." Tapi Caesar tak akan mudah teralihkan oleh hal kecil seperti itu.
Senyum perlahan sirna dari wajah tampan James. Meski Caesar malas mengakuinya, tak dipungkiri bahwa pria berambut coklat gelap itu sangat tampan dengan tinggi yang proporsional.
Namun sayang, keb3j@tan pria itulah yang menodai kesempurnaannya sendiri. James tak ubahnya seorang playboy kelas kakap yang dengan mudahnya bergonta ganti pasangan meski intensitasnya tidak separah dulu sebelum menikah. Menikah tidak menjadi halangan atau alasan bagi seorang makhluk rendahan seperti James.
Ya, begitulah pandangan James selama ini di mata Caesar.
"Kau tau maksud kedatanganku ke mari untuk apa. Jadi, apa kau menerima tawaran dariku?"
Yang dimaksud oleh James adalah kerja sama rahasia di antara pria itu dan Caesar, ini semua dilakukan katanya untuk mendukung Caesar sebagai kandidat terkuat, namun sebagai gantinya Caesar harus bersedia menerima kedua anak James menjadi kaki tangannya.
Melihat senyum percaya diri James, Caesar tidak bisa menahan rasa gelinya. 'Dia bener-bener bodoh. Dia pikir dia bisa mencengkramku dengan alasan itu. Hahaha!' Caesar hanya bisa tertawa dalam hati.
"Aku penasaran, tahun ini sepertinya kau rutin mengunjungi Philip. Apa kau ingin mendapat dukungan darinya juga?" James berusaha menggali informasi dari Caesar.
Tak ayal pertanyaan yang diajukan James membuat Caesar tertawa lepas.
"BWAHAHAHAHA! Jadi paman berpikir aku pergi ke sana untuk urusan bisnis? Hm..tidak sepenuhnya salah tapi itu tidak ada kaitannya dengan masa pemilihanku. Aku ke sana murni karena ingin mengunjungi Serena."
'Jadi karena Serena? Gadis itu memang sangat dekat dengan Caesar sejak mereka kecil..' batin James.
"Kalau paman boleh tau, apa ada masalah dengannya? Kau tidak pernah sesering ini pergi ke luar negeri sampai rela mengambil cuti panjang hanya demi gadis itu," James akhirnya bertanya.
Caesar sama sekali tak menyukai kedua anak James dari pernikahannya yang sekarang. Selain karena mereka tidak mirip James, juga karena mereka bodoh.
"Paman tau aku benci orang-orang malas yang tidak kompeten. Bukankah paman yang paling tau hal itu?" Caesar menatap tajam James yang terhenyak mendengar perkataan sarkas dari mulutnya.
"Hah! Jangan memandang sebelah mata sebelum kau meninjau lebih teliti cara kerja mereka, Caesar! Kau ini masih saja memandang rendah orang yang kau anggap di bawahmu!" James berdecak kesal. Ponakannya yang kaku dan berhati dingin tak juga berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, justru semakin parah saja.
"Aku memberikanmu penawaran eksklusif ini, yang tidak sembarangan orang bisa mendapatkannya. Pikirkan lagi, kau bisa gunakan anak-anakku sebagai minionmu untuk berbagai urusan. Aku yakin kau tidak akan menyesal sudah memilih mereka," ujar James, sambil menyombongkan kedua putera kebanggannya.
Caesar kembali berdecak dalam hati. 'Dibandingkan kedua bocah ingusan itu, Dion jauh melebihi hebat dari mereka. Pria b0d0h ini sudah menyia-nyiakan senjata mematikan seperti Dion.' Caesar tersenyum remeh.
'Kalau memang paman James nggak mau mengambil Dion, dengan senang hati aku mau menampungnya. Toh skill Dion juga sangat berguna di lapangan. Nggak masalah kalau mereka berdua nggak dipertemukan, akan lebih baik kalau Dion bekerja menjadi 'bayangan'ku aja.' Caesar sedang memikirkan posisi yang tepat untuk Dion.
Kemampuan bertarung dan memberantas masalah yang dimiliki Dion hampir setara dengan intel rahasia yang bekerja untuk Caesar. Caesar menyebut orang-orang itu sebagai 'bayangan', yang mengabdikan hidup mereka pada Caesar seorang. Hidup dan mati.
"no, thanks. Aku sudah menemukan orang yang cocok untuk menempati posisi yang masih kosong. Maafkan aku, paman. Sekalipun kita adalah keluarga, tetap aku akan mengutamakan kemakmuran perusahaanku agar tidak terjadi hal buruk ke depan nanti. Aku butuh orang-orang hebat yang terlepas dari ambisi untuk terjun ke dunia politik sepertimu," Caesar dan mulutnya yang pedas.
'Kh! Br3engs3k! Kenapa sulit sekali mengambil hati anak ini?! Apa aku harus melakukan cara yang lebih ekstrim?' James tidak mungkin lagi datang menemui Caesar sekali dalam sehari, sebab sanak saudaranya yang lain mulai mencurigai gerak geriknya.
"Aku rasa jawabanku sudah jelas. Paman bisa pergi dari sini karena aku akan mengadakan meeting setelah ini." Caesar mengusir James secara halus.
Bila pamannya itu tidak beranjak menggunakan kedua kakinya sendiri, maka security akan membantunya dengan senang hati.
'Ck! Dia berniat mengusirku begitu saja! Anak sombong ini!!' James melirik dua security berbadan besar yang berdiri di depan pintu.
Daripada dirinya diseret paksa, mau tak mau James harus segera pergi.
"Pikirkan tawaranku baik-baik, masih tersisa sedikit waktu untuk mengubah keputusanmu. Kau harus tau bahwa aku tidak akan pernah mengkhianatimu, Caesar," ujar James, untuk terakhir kalinya.
"Ya, ya. Kau selalu mengatakan itu setiap kita bertemu, paman. Aku selalu mengingatnya." Satu tangan Caesar dikibaskan ke udara, sedangkan fokusnya tertuju pada berkas yang akan dia bahas dalam meeting tahunan nanti.
Pekerjaannya jauh lebih penting ketimbang mengurusi pamannya yang licik dan serakah itu.
Di lain sisi, James ke luar dengan menahan emosi dan rasa gelisah yang besar. Melihat reaksi Caesar yang tenang-tenang saja, feeling James mengatakan bahwa ponakannya itu sudah memiliki kandidat yang akan menjadi kaki tangannya.
"S!al!! Kalau bukan Caesar, aku harus mencari mangsa lain! Jika tidak begini, bisa-bisa keluargaku akan mengalami krisis!" James mengacak rambutnya frustasi.
'Tapi siapa orang yang bisa kudekati? Philip? Samantha? Tidak, wanita itu selalu menentangku, dia tidak mungkin bisa kujadikan sekutu. Apa aku coba mendekati Philip? Biar bagaimanapun, aku masih membutuhkan bantuan dari dalam agar posisiku tidak tergeser jauh.'