
"Apa...kak Caesar mau memberitahu Serena soal identitas Dion yang sebenernya?" Julian memberanikan diri bertanya. Rasa penasaran menguasai hatinya, jadi dia mencoba menanyakannya secara langsung pada Caesar.
Bila tak ada aral merintang, Caesar menjadi pemimpin baru dalam keluarga Reinhart kelak. Jadi semua keputusan akan dipegang sepenuhnya oleh Caesar. Tetapi untuk memasukkan atau setidaknya memperkenalkan Dion secara resmi di hadapan keluarga besar Reinhart, hal itu sedikit sulit dan rumit dilakukan.
Caesar tahu benar bagaimana watak sanak saudaranya yang lain, dan bukan hal yang bagus bila dirinya gegabah dalam bertindak serta mengambil keputusan. Sebelum Caesar resmi menjabat sebagai pemimpin Reinhart, tidak banyak hal yang bisa dia lakukan tanpa mendapat persetujuan dari banyak pihak terlebih dahulu.
"Ini beresiko cukup tinggi. Saudara-saudaraku pasti nggak akan menyambut kemunculan Dion dengan perasaan senang. Mereka bisa menyingkirkan Dion dengan mudah karena dianggap aib dan mengotori reputasi Reinhart yang tengah naik daun. Bagiku sih bukan masalah besar karena mau gimanapun, Dion nggak bersalah. Dia lahir dari sepasang laki-laki dan wanita yang sudah dewasa, semestinya orang itu bertanggung jawab atas Dion, dan menebus semua kesalahannya. Tapi apa yang orang itu lakukan? Dia datang dan justru membuat hidup Dion dan ibunya hancur berantakan. Aku nggak bisa bayangin semenderita apa kehidupan Dion dan ibunya di masa lalu.." Caesar mengepalkan tangannya erat. Hal yang membuatnya lemah adalah keluarga.
Tapi bagi Dion, keluarga bukanlah sesuatu yang dapat dirasakan kehangatan serta kenyamanannya sedari kecil dan itu semua karena perbuatan keji James Reinhart, selaku ayah biologis Dion.
"Andai aku mengetahui keberadaan Dion lebih cepat, aku-" Caesar menggigit bibir bawahnya kuat. Padahal bukan dirinya yang melakukan, tapi Caesar tetap merasa berdosa dan bersalah pada Dion.
Sebagai anggota keluarga Reinhart, Caesar sangat malu dan menentang keras sikap pecundang yang dimiliki oleh pamannya.
Lari dari tanggung jawab bahkan melakukan hal buruk lainnya. Ini bisa Caesar jadikan senjata untuk menyerang pamannya bila dia mau, tapi sebelum itu, Caesar harus mengumpulkan bukti yang lebih konkret agar bisa dipercaya.
"Dion...orang itu..." Julian bergumam lirih, "Mungkin sedari awal, dia membantu Serena atas dasar kasihan dan simpati. Mereka udah melalui masa-masa buruk yang disebabkan oleh keluarga masing-masing. Mungkin Dion merasakan kesamaan nasib dengan Serena, jadi dia memperhatikan Serena dengan baik," Ini asumsi Julian setelah melihat kembali bagaimana perilaku Dion terhadap Serena.
Caesar menyandarkan punggungnya yang lelah. Semua ini menambah beban pikirannya. Terlebih lagi, kasus ini turut melibatkan pamannya yang terkenal pembangkang dan keras kepala.
"Pamanku...dia pasti nggak akan biarin Dion menginjakkan kaki masuk ke dalam keluarga kami. Itu udah pasti. Karena kalau Dion muncul, maka posisi anaknya akan tergoyahkan."
Mengingat aturan ketat yang berlaku di keluarga Reinhart, status Dion sebagai anak sulung sangat berpengaruh dan memegang posisi lebih kuat dibanding anak-anak James lainnya yang lebih muda.
Caesar tak bisa menahan hasrat untuk mengadukan temuannya ini pada pamannya dan melihat bagaimana reaksi pria itu nantinya. Caesar memiliki dendam tersendiri pada James dan kedua anak pria itu. Maka dari itu, Caesar berharap banyak hal seru yang akan terjadi ke depannya nanti.
"Ini bakalan seru. Aku akan bawa Serena dan Dion bersamaku, menghadap ke keluarga besar kami dan menguak eksistensi Dion di hadapan orang-orang itu. Aku nggak sabar lihat muka bodoh mereka, pasti kocak banget," Caesar tertawa setan membayangkan kegemparan yang akan terjadi kelak.
Julian menggelengkan kepalanya pelan. Caesar tampaknya sangat senang membuat kejutan, Julian harap Serena tidak ikut terseret ke dalam rencana laki-laki itu.
"Terus gimana cara kita ngasih tau Serena soal Dion?" Ini yang sedikit membuat Julian kepikiran.
Caesar mengeluarkan cerutu mahalnya dari dalam kotak yang di simpan di balik jas mewahnya. "Ya gampang aja. Langsung kasih tau semuanya, Serena itu nggak suka basa basi. Jujur lebih baik. Lagipula aku juga nggak jago ngomong berbelit-belit," katanya dengan begitu santai.
Julian tahu Caesar akan mengatakan ini, jadi dia tidak heran lagi.
"Tapi kita akan mempertemukan mereka setelah Dion berbenah diri dulu. Aku nggak mau Serena marah begitu mengetahui perbuatanku pada Dion," usul Julian kemudian.
Caesar hanya mengangguk saja mengiyakan.
Mobil yang membawa kedua lelaki itu melesat di atas rata-rata menuju ke tempat di mana Serena berada sekarang. Julian sudah gelisah lantaran Serena hendak pergi ke suatu tempat secara diam-diam. Untung saja ada yang memergoki gadis itu, kalau tidak, Julian akan kesulitan membuntuti gadisnya lagi.
.
.
Brak
"Bikin kaget aja. Buru-buru banget sih anak itu," Caesar mengusap dadanya gara-gara terkejut mendengar bunyi pintu yang ditutup keras.
Sementara si pelaku barbar tadi buru-buru masuk ke dalam restoran mewah bintang lima yang dijadikan tempat pertemuan mereka berdua dengan Serena.
Caesar berjalan tenang menyusul Julian yang sudah masuk lebih dulu. Sudah ada dua bodyguard keluarga Collin berjaga di depan pintu masuk, itu menandakan betapa ketatnya pengawasan dan penjagaan Julian pada Serena.
Di dalam restoran, Serena tak berhenti mengerucutkan bibirnya lantaran kesal karena rencana perginya gagal total setelah kepergok salah satu bodyguard yang berjaga di sekitar mansion Collin.
Julian berjalan cepat menuju meja di mana sang kekasih berada, "Sayang, maaf buat kamu nunggu lama," Tak lupa mengucapkan kata maaf karena sudah membuat Serena menunggu cukup lama.
Ini dikarenakan jarak antara gedung tempat Dion dikurung dengan restoran ini lumayan jauh, alhasil memakan waktu yang sedikit lama untuk sampai ke mari.
Seperti perkiraan Julian, Serena merajuk dan kesal gara-gara rencananya tidak berjalan sesuai yang diinginkan gadis itu.
Tak lama kemudian, Caesar tiba juga di meja tempat Serena berada. Kedatangan sang sepupu yang tak terduga sukses membulatkan mata Serena yang tak mempercayai apa yang dia lihat saat ini.
"Ka-kak Caesar?!" Serena nyaris berteriak kencang karena terlalu kaget.
Caesar mengulurkan tangan kanannya lalu meraih tangan Serena yang terkulai di atas meja makan.
Cup
"Akhirnya kita berjumpa lagi, sayangku. Gimana kabarmu di sini? Semua udah berjalan baik 'kan?"
Serangan yang tiba-tiba. Serena yang tak biasa diperlakukan bak seorang Tuan Putri sontak merona merah sampai ke telinga gara-gara kecupan tangan dari Caesar.
"A-aku baik, kak!!! Kakak sendiri gimana?! Ayo, duduk, duduk! Kakak harus ceritain semuanya ke aku!!" Serena mempersilahkan Caesar menempati kursi kosong di hadapannya. Sebenarnya itu kursi untuk Julian, tapi biarkan saja, salah sendiri Julian suka sekali menyimpan rahasia darinya.
Serena benar-benar mengacuhkan Julian yang terus memandangi gadis itu dalam diam. Julian menghela nafas pasrah, sepertinya Serena sangat kesal terhadapnya. Daripada hanya menjadi obat nyamuk di sana, Julian berencana pulang lebih dulu.
"Kalau gitu aku titip Serena dulu ya, kak Caesar. Sepertinya aku nggak disambut baik di sini," Julian tersenyum pahit menutupi kekecewaan hatinya.
Padahal dalam bayangannya tadi, Julian ingin mengadakan makan malam romantis berdua dengan sang kekasih. Apa mau dikata, kehadirannya jadi tak berguna bila ada Caesar di tengah-tengah dirinya dan Serena.
Melihat muka melas Julian hati Serena jadi tak tega. Dia tak benar-benar marah kok pada Julian, hanya merajuk sesaat saja. Mungkin dirinya sedikit keterlaluan.
Serena segera menarik ujung pakaian Julian untuk menahan kekasihnya pergi. "Di- di sini aja..." ujarnya, dengan suara lirih. "Jangan pergi...kamu kan masih berutang cerita sama aku."
Sikap malu-malu kucing Serena benar-benar membuat kedua lelaki di sana berdecak gemas. Khususnya buat Julian, dia sedikit merasa aneh dengan mood Serena yang cepat sekali berubah-ubah.
"Tapi kamu janji nggak marah dulu ya sampai ceritaku selesai?" pinta Julian sebelum Serena berubah jadi galak lagi.
Serena menganggukkan kepalanya penuh. Senyum langsung terbit di wajah Julian, seorang pelayan menarikkan kursi kosong baru agar Julian bisa duduk bersama Serena dan Caesar.
"Nah, sambil menunggu pesanan datang. Lebih baik kita bicarakan sekarang aja," usul Caesar, yang membuka topik obrolan mereka.
Serena melirik ke arah Julian. Dia menunggu lelaki itu angkat bicara lebih dulu.
"Aku sengaja membawa Dion ke suatu tempat karena ingin menginterogasinya," aku Julian, yang membuat Serena terkejut sampai kedua matanya membulat lucu.
"Apa-" Caesar segera menahan Serena yang hendak melayangkan protes. Alhasil, Serena mengunci mulutnya kembali dan mendengarkan pengakuan Julian lebih detail.
"Setelah aku selidiki, ternyata aku justru menemukan informasi penting lain yang ada sangkut pautnya dengan kalian. Apa kamu mau mendengarnya?"
Kini fokus Caesar dan Julian tertuju pada Serena sepenuhnya. Mereka ingin melihat bagaimana reaksi Serena setelah mengetahui fakta yang ada.
Entah mengapa, kedua lelaki itu membuat jantung Serena berdebar tegang.
"So-soal apa?"
Julian melirik Caesar sekilas untuk meminta izin. Caesar yang mengerti kode Julian lantas mengangguk tanpa suara.
"Dion...dan kamu, kemungkinan besar adalah sepupu. Kami masih belum memastikan lagi ke rumah sakit, tapi kak Caesar yakin sekali kalau Dion anak dari salah satu keluarga Reinhart," terang Julian, yang lagi-lagi mengejutkan Serena.
Serena menengok dengan cepat ke arah Caesar yang diam dengan muka seriusnya.
"Siapa?" Jantung Serena berdebar tak karuan, takut bila nama yang terucap dari mulut Caesar sama seperti yang ada dalam benaknya sekarang.
Caesar mendengus kesal, "Paman James. Aku yakin seribu persen kalau dia adalah ayah biologis dari Dion."
"Pa-paman James?"