Mine

Mine
The Meaning Of Love



“Jadi, Papa mengajak Tuan Philip untuk datang ke rumah kita? Kapan?” Julian bertanya setelah Joseph selesai bercerita.


Untuk tanggalnya, Tuan Joseph sendiri belum tahu sebab Philip belum memberikan jawaban pasti kapan waktu yang tepat untuk mereka bersua lagi. Padahal Joseph sudah antusias, pria itu sudah tak sabar mendengarkan banyak cerita lain tentang Serena yang belum dia ketahui.


Berbeda dengan ayahnya yang tampak bersemangat, Julian justru merasa sebaliknya. Pemuda itu merasa tak yakin bila ayah serta ibu Serena bersedia menyempatkan waktu mereka yang berharga hanya untuk membahas soal Serena, puteri yang sudah mereka sia-siakan selama bertahun-tahun lamanya dan yang selama ini mereka anggap tidak penting.


Kalaupun mereka menyanggupi permintaan ayahnya, jelas Julian menaruh curiga terhadap kedua orang itu. Mereka selama ini tak pernah berusaha menjangkau Serena, tapi tiba-tiba tergerak hatinya untuk berbagi cerita tentang Serena kepada orang lain. Jelas ini menimbulkan tanda tanya besar.


Lagipula, berdasarkan cerita dari Serena, Tuan Philip dan Nyonya Esther tak pernah memperhatikan tumbuh kembang Serena sedari kecil, jadi kedua orang itu tak benar-benar mengenal puteri mereka sendiri.


Perasaan Julian jadi memburuk setiap kali membayangkan masa lalu Serena. Pasti kekasihnya kesepian dan tersiksa secara batin.


“Nggak perlu membahas soal Serena di depan mereka, Pa,” ujar Julian tiba-tiba. “Mereka nggak tau apa-apa tentang Serena jadi buat apa bertanya sama mereka? Papa dengar sendiri 'kan? Serena lebih sering menghabiskan waktunya bersama para pelayan di rumah, jadi orang-orang itu lah yang Papa cari,” imbuhnya, dengan ekspresi wajah tampak serius.


Julian jadi kepikiran soal kekasihnya.


"Takutnya nanti Serena jadi makin kecewa setelah tau kalau orang tuanya cuma mengarang cerita tentang dia. Yah, kalau Papa memang ingin tau, gapapa sih lanjutin aja. Tapi nanti jangan kasih tau Serena," usul Julian.


Joseph sepertinya harus memikirkan ulang rencananya ini. Perkataannya Julian ada benarnya juga, Serena hanya akan semakin terluka kalau tahu orang tuanya sama sekali tak mengenal dirinya luar dalam.


"Yah...itu bisa disingkirkan sih dari topik obrolan nanti. Yang terpenting itu, kita membahas soal rencana pertunanganmu dulu, pihak keluarga sana harus merestui hubungan kalian kalau mau semuanya berjalan lancar," saran Joseph pada putera bungsunya.


Julian juga tahu akan hal itu. Restu orang tua adalah segalanya agar semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Momen itu juga pasti sangat berarti bagi Serena, sebab setelah Serena resmi menjadi tunangan dan calon istri Julian, secara otomatis Serena akan menjadi bagian dari keluarga Collin dan bukan keluarga Reinhart lagi. Momen-momen penting yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik mungkin antara orang tua dan anak sebelum berpisah, nyatanya tak akan Serena rasakan.


Bahkan mungkin Nyonya Esther bersorak gembira lantaran Serena sudah menjadi tanggung jawab orang lain, bukan keluarga Reinhart lagi. Andaikata itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata, baik Julian maupun Serena sudah tak heran lagi.


"Anyway-pokoknya jangan terlalu menggali informasi mengenai Serena melalui kedua orang tua itu. Itu percuma, Papa nggak akan dapat sesuatu yang menyenangkan nanti. Bahas soal lamaranku aja di depan mereka, kita lihat gimana reaksi kedua orang itu, khususnya Nyonya Esther," Julian memberitahu ayahnya.


Seringaian tipis yang terukir di bibir Julian menyiratkan sebuah isyarat yang tak dimengerti Tuan Joseph.


"Papa harus mengawasi Nyonya Esther, aku nggak tau rencana apa yang sedang disusun wanita itu. Untuk jaga-jaga, Papa harus memancing Nyonya Esther terlebih dulu. Firasatku bilang, wanita itu nggak akan merestui hubunganku dan Serena dengan mudah. Dia punya ketertarikan sendiri terhadapku, bukannya Jevano. Entah kenapa, aku selalu merasa kalau wanita itu berusaha menjodohkanku dengan Jasmine, dan akan melakukan sesuatu supaya aku nggak jadi memilih Serena. Papa tau sendiri 'kan kalau intuisiku terkadang sangat kuat?"


Joseph tak menyangkal perkataan Julian. Benar, intuisi Julian cukup kuat dan sering terjadi sesuai prediksi anaknya, jadi Joseph tak akan meragukan intuisi Julian yang bekerja di saat penting seperti ini.


Apalagi ini menyangkut Serena, gadis yang Julian cintai sepenuh hati. Maka tak heran bila segala yang berhubungan dengan Serena dapat menghidupkan seluruh sistem dalam diri Julian.


...🍃...


...🍃...


"Sayang, aku pulang~"


Serena berjalan cepat menghampiri Julian yang sedang duduk menghadap layar komputer yang letaknya ada di dekat balkon kamar. Memeluk leher kekasihnya dari belakang, dan tak lupa membubuhkan sebuah kecupan pada salah satu pipi Julian.


"Hei..kenapa pulang sendiri? Aku 'kan bisa jemput kamu kalau kamu telpon aku," Julian membalas kecupan tepat di pipi sebelah kanan Serena yang dapat dia jangkau.


Serena terkikik geli. Padahal dirinya pergi tidak lama, tapi anehnya Serena sangat merindukan Julian. Serena bahkan menolak di antar pulang ke apartementnya sendiri dan memilih pulang ke kediaman Collin karena Julian ada di sini.


Serena tak langsung menjawab, dia memeluk Julian lebih erat seraya menggesekkan wajahnya di perpotongan leher kekasihnya yang jenjang.


Aroma mint menguar dari rambut lurus Julian yang masih setengah kering. Serena suka menghirup aroma wangi yang berasal dari tubuh kekasihnya, harumnya terasa alami dan segar. Ini bagaikan candu bagi Serena.


Serena tersenyum puas sambil menganggukan kepala kencang. Kelihatan sekali gadis itu senang dan penuh energik sepulangnya dari kediaman Alfrod. Baguslah, Julian merasa keputusannya mengirimkan Serena ke rumah Helena untuk bermain merupakan pilihan yang tepat ketimbang membiarkan Serena terus menerus murung.


Julian meraih tangan kiri Serena lalu mengecup lembut punggung tangan gadisnya yang mulus.


Cupp


"Syukurlah kalau kamu senang, aku juga ikut senang lihat kamu udah ceria lagi. Kukira kamu bakal balik ke apartmu sendiri, tapi ternyata kamu pulang ke rumah ini. Makasi, sayang," Julian tersenyum lebar menatap Serena.


Perlahan demi perlahan, Serena membiasakan diri beradaptasi di kediaman Collin, dan gadis itu sama sekali tak pernah mengeluh ataupun melayangkan protes sejauh ini. Itu saja Julian sudah sangat bersyukur dan sedikit tenang. Julian sempat khawatir barangkali Serena tidak nyaman di lingkungan baru ini dan memohon padanya untuk di antarkan pulang. Ternyata Serena mampu menyesuaikan diri dengan cepat dan bahkan berhasil mengambil hati si Tuan rumah beserta para penghuninya dengan begitu mudah.


"Kenapa?" Suara lembut Serena memecahkan lamunan Julian.


Julian bahkan tak berkedip saat memandangi wajah Serena yang polos tanpa makeup.


Benar-benar cantik..


Di bawah pantulan rembulan begini, kecantikan Serena semakin bertambah ribuan kali lipat. Serena bagaikan Dewi Bulan yang sanggup menerangi kehidupannya yang gelap dan monoton, Julian merasa sudah menjadi laki-laki paling beruntung di muka bumi ini.


Tanpa sepatah kata lagi Julian memeluk pinggang Serena lalu menenggelamkan wajahnya tepat di depan perut rata Serena.


"I love you...i really do..." Julian tiba-tiba menyatakan perasaannya.


Seumur hidupnya, Serena tidak pernah menerima ungkapan cinta yang begitu tulus dari seorang laki-laki, sekalipun ayah kandungnya sendiri.


Bahkan Jevano saja tak pernah mengatakan cinta kepada Serena, paling hanya ungkapan sayang sebagai seorang sahabat semata. Bisa dibilang, Julian adalah segalanya yang pertama bagi Serena.


Semburat kemerahan menghiasi tulang pipi Serena, wajahnya perlahan memanas lantaran diselimuti perasaan terharu sekaligus senang.


"Ya...aku juga...aku juga mencintaimu...sangat mencintaimu!" Serena membawa Julian ke dalam dekapannya.


Keduanya berpelukan erat seolah tak akan bertemu lagi esok hari.


Walaupun keduanya jarang sekali mengumbar kata cinta satu sama lain, bukan berarti ikatan di antara Julian dan Serena tidak berarti apa-apa, justru semakin bertambahnya waktu, perasaan mereka semakin bertambah kuat dan besar.


Julian saja heran terhadap dirinya sendiri. Tak menyangka bila dirinya mampu mencintai seseorang sebegini serius dan besarnya. Tanpa Serena, mungkin Julian tetap akan berputar di tempat yang sama dan tidak pernah merasakan arti sesungguhnya dari kata 'cinta'.


Cinta tak hanya soal hasrat dan gairah, tetapi juga tekad serta komitmen untuk selalu setia dan menghargai pasangan masing-masing. Setidaknya itulah arti kata cinta yang sesungguhnya bagi Julian setelah dirinya bertemu dengan Serena.


"Hehe...sedikit cheesy sih tapi aku suka. Hatiku jadi hangat setiap kali kamu bilang cinta ke aku.."


Serena tertawa kegelian ketika Julian mengusapkan wajahnya di depan perutnya. Rambut silver Julian terasa begitu lembut dan menggelikan.


Interaksi mereka tidak pernah melebihi batasan wajar, paling mentok hanya tidur seranjang berdua dan sedikit demi sedikit mulai menunjukkan kepercayaan diri di depan satu sama lain dalam konteks yang masih 'aman'.


Ketulusan Julian kepada Serena sanggup menahan hasrat terpendam dalam diri Julian untuk tetap menjaga kesucian sang kekasih sampai mereka resmi menjadi sepasang suami istri kelak.


Julian tak ingin menempatkan Serena pada posisi sulit bila terjadi 'kecelakaan' di tengah-tengah proses pendewasaan mereka.


Lagipula Julian sudah cukup puas dengan situasi yang ada serta mulusnya hubungan antara dirinya dan Serena. Asalkan tak muncul 'hama-hama' pengganggu yang menempeli pujaan hatinya, Julian bisa menikmati kencannya dengan hati tenang.