
"Apa katamu? Anak itu kabur lagi dari pekerjaannya?!"
"I-iya, Tuan James. Tuan muda Caesar sedang tidak ada di tempat, menurut sekertarisnya, beliau sedang pergi mengunjungi nona Serena dan belum dipastikan tanggal kepulangannya."
James berdecak marah. Pria itu sudah menyempatkan waktu berharganya untuk mengunjungi kantor Caesar, tapi yang bersangkutan lagi-lagi tidak ada di tempat.
"Bukankah ini mencurigakan? Anak itu sering sekali mengunjungi Serena dan Philip dari pada tahun-tahun sebelumnya. Apa terjadi sesuatu di sana?" James mulai curiga. Caesar selalu menyibukkan diri mengurusi pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya, tapi beberapa bulan terakhir anak itu rajin mengunjungi Serena alih-alih melepas rindu dengan sang sepupu.
'S!alan! Padahal hari pemilihan semakin dekat. Aku harus bisa membujuk Caesar bagaimanapun caranya!' Kedatangan James bukan tanpa maksud. Sebagai seorang paman, dia ingin Caesar menempatkan puteranya di salah satu perusahaan milik pemuda itu.
Caesar berpotensi besar diangkat menjadi Direktur utama perusahaan Reinhart yang baru, bila James menjadikan anaknya di bawah naungan Caesar, bukan tidak mungkin anaknya kelak bisa menggantikan Caesar di masa depan.
Supaya Caesar tidak mencurigai siasatnya, James berupaya mendekati Caesar agar anak itu mau menerima dirinya dan kedua puteranya. Menjalin kerja sama yang kuat dengan Caesar merupakan keuntungan yang besar bagi siapa saja, termasuk James. Jadi, James harus berhasil menembus kepercayaan Caesar bagaimana pun caranya.
"Iya, ini sedikit mencurigakan, Tuan besar. Sampai saat ini saya belum menerima kabar apapun dari informan kita di perusahaan Tuan Philip. Paling hanya ada masalah internal keluarga beliau saja, khususnya antara nona Serena dengan nona Jasmine," kata Andrian, asisten James.
Memiliki dua orang anak yang sama-sama perempuan memang cukup merugikan Philip, pasalnya sebagai seorang penerus, posisi anak perempuan sangatlah lemah, hampir tidak berguna. Lain cerita bila ada anak laki-laki yang memiliki derajat lebih unggul dan kuat.
Maka tak heran mengapa kedua puteri Philip sulit masuk ke dalam daftar kandidat Direktur Utama perusahaan induk Reinhart, mau seberapa kerasnya Philip berusaha melibatkan salah satu puterinya.
"Tidak ada untungnya buat kita mengikutcampuri urusan internal mereka. Biarkan saja, Philip pasti bisa mengatasinya sendiri." James tak ambil pusing dengan masalah keluarga adiknya, yang terpenting baginya adalah kesuksesan rencana yang telah dia susun sedari lama.
Mau siapapun calon terkuat yang akan di pilih, James akan mendekati orang itu dan melancarkan aksinya.
"Lalu bagaimana, Tuan? Sepertinya Tuan muda Caesar tak akan pulang dalam waktu dekat."
Kalau sudah begini, James terpaksa harus mundur sementara waktu sambil menunggu kepulangan Caesar.
"Kita pergi ke kantor ayah. Aku harus melihat kondisinya hari ini," putus James kemudian.
Kondisi Kepala Keluarga Reinhart memang sedang menurun akhir-akhir ini, jadi banyak dari sanak saudara James datang mengunjungi Tuan besar Ethan yang terbaring lemah di kediaman utama hampir tiap harinya.
Tapi kedatangan orang-orang itu, jelas menyimpan maksud terselubung.
"Ternyata banyak orang bermuka dua yang berniat mengambil hati si tua bangka itu," James menyeringai setan.
"Kupikir hanya aku saja, ternyata hampir semua juga melakukan hal yang sama denganku. Hanya Jared dan Philip saja yang sangat jarang menengok ayah," gumam James, sambil menatap datar ke luar kaca jendela mobil.
Jared, adalah adik James sekaligus kakak Philip. Si Tuan Besar Ethan William Reinhart memiliki 7 orang anak, yang terdiri dari 4 laki-laki dan 3 perempuan. James sendiri merupakan anak ke-2, Jared anak ke-6 dan Philip anak terakhir. Putera sulung Tuan Ethan bernama Raphael, yang mana wataknya sebelas dua belas dengan Caesar. Pria itu sudah menduduki posisi Direktur utama perusahaan induk hampir 20 tahun lamanya dan kini sudah saatnya undur diri.
Sayangnya Raphael tidak memiliki anak sulung berjenis laki-laki, jadi puteri sulungnya tidak bisa naik mencalonkan diri sebagai penerusnya di masa ini. Hanya Jared yang dikaruniai seorang putera sulung sebagai cucu laki-laki pertama di keluarga besar Reinhart, alhasil Caesar sudah digadang-gadang akan menjadi pengganti Raphael bila sudah beranjak dewasa.
Gara-gara ini pula, James sangat menyesali kebodohannya di masa lalu, yang cenderung menghabiskan waktunya hanya untuk bermain dengan wanita tanpa memikirkan masa depannya kelak.
Belum lagi pernikahan James juga terhitung terlambat sekali, sehingga waktu kehamilan anak pertamanya berbarengan dengan istri Philip, yaitu Esther.
"Anyway, cari tahu apa kepentingan Caesar mengunjungi Serena. Jangan sampai Serena diberikan posisi khusus oleh Caesar mendahului puteraku. Karena aku mengincar posisi wakil direktur, aku atau anak-anakku harus bisa mendapatkan jabatan itu," titah James pada sang asisten, yang akan melakukan semua perintahnya tanpa terkecuali.
"Baik, Tuan. Akan saya kirimkan mata-mata untuk mencari tahu."
'Mungkin Philip tidak terlalu serakah untuk mengincar jabatan penting di perusahaan saudaranya yang lain, tapi berbeda dengan Esther yang sedari awal selalu mendorong Jasmine untuk menjadi kandidat meski tau akan mustahil untuk menang,' James berpikir keras. Dia tidak akan mengalah pada siapapun, termasuk pada adik iparnya sendiri.
'Sebelum keberadaan 'anak itu' terendus orang lain, aku harus cepat-cepat mengamankan posisiku dan anak-anakku sebelum dikenai hukuman. Ayah mungkin masih mengasihaniku, tetapi tidak dengan sanak saudara lainnya. Mereka pasti akan mencari celah untuk menjatuhkanku sekeras mungkin. Kenapa tidak sedari awal aku 'musnahkan' anak itu ya? Aku bodoh sekali,' James berdecak kesal.
...✨...
...✨...
"Hm....ternyata orang itu pantang menyerah juga ya.." Caesar mengusap dagunya seraya berpikir.
"Saya yakin, beliau datang untuk merayu anda lagi, tuan muda. Apakah anda berniat memberikan posisi penting itu kepada tuan muda Jeremy?" Oliver akhirnya bertanya, sebab dia tidak bisa menebak jalan pikiran atasan ajaibnya yang satu ini.
Jeremy, anak pertama James dengan istrinya yang sekarang, dan tak lain dan tak bukan merupakan adik tiri Dion.
Caesar menyeringai sinis, "Si tua tak tau malu itu benar-benar gigih ingin merebut jabatan wakil direktur demi anak-anaknya. Lucu sekali, padahal tak ada satu pun di antara kedua anaknya yang kompeten menjadi wakil direktur. Bahkan jabatan setara manajer pun tak cocok dengan mereka. Kenapa orang itu tidak mengirimkan Jeremy menjadi pemain bola profesional saja sih?"
Caesar mendengus lelah. Memang yang dikatakannya barusan merupakan sebuah fakta. Kedua anak James tak ada yang kompeten dalam bekerja di dunia bisnis, kedua-duanya hanya mengandalkan kekuatan otot ketimbang memakai otak mereka untuk berpikir.
"Apa paman James ingin perusahaanku bangkrut dalam sekejap? Dia pasti bercanda! Tapi selama dia tidak membuat keributan, aku tidak bisa melarangnya masuk ke kantor kita!" Caesar mengusak rambutnya bingung.
Caesar tidak menyukai James, hal itu semakin diperparah dengan kedatangan James secara rutin hanya untuk merayu dirinya. Caesar sangat muak dan ingin melarang pamannya menginjakkan kaki di area kantornya untuk selama-lamanya, namun sayang, Caesar belum menemukan alasan kuat untuk mewujudkan hal itu.
"Siapa?"
Serena datang dengan dua gelas cangkir coklat hangat di tangan. Mereka sedang beristirahat bersama sambil menikmati kehangatan yang terpancar dari perapian yang ada di dalam kamar Serena.
"James. Dia ingin aku memberikan jabatan wakil direktur untuk salah satu anaknya. Yang benar aja! Aku cuma menerima orang-orang pintar dan cekatan dalam menangani situasi terdesak seperti Oliver, kenapa harus memasukkan mereka coba?!" Caesar ingin meledak saja rasanya.
"Ah? Ini soal pelantikan yang akan diadakan sebentar lagi itu ya?"
Caesar mengangguk singkat. "Karena alasan itu juga lah aku datang ke sini menemuimu," ujarnya, seraya menatap lurus Serena yang duduk di sebelahnya.
"Rencananya kamu aku angkat sebagai wakilku. Tapi aku tau kamu mungkin akan menolak karena ini di luar keahlianmu. Aku juga nggak mau mengangkat Jasmine, terlalu berisiko soalnya. Makanya aku jadi bingung," curhatnya kemudian.
Wow, Serena tak tahu kalau di dalam otak Caesar ternyata menyimpan kekhawatiran sebesar itu. Soalnya dari kemarin Caesar kelihatan santai dan tenang, jadi Serena pikir semuanya baik-baik saja.
"Iya...kayaknya aku nggak bisa. Aku juga akan menikah tahun depan. Aku juga ingin mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku di bidang desain grafis," kata Serena.
Sebisa mungkin Serena ingin mencari lowongan yang sesuai dengan keahliannya agar ilmunya semasa kuliah tidak terbuang sia-sia.
Ya, Caesar sudah memprediksi ini. "Iya gapapa. Dari awal juga kamu nggak tertarik terjun ke dunia bisnis kayak papamu. Kamu harus meraih cita-citamu sebaik mungkin," Dan Caesar akan selalu mendukung apapun pilihan Serena.
Serena hanya menggertak Jasmine dan ibunya saja soal ingin merebut jabatan CEO di perusahaan keluarganya. Soalnya waktu itu Serena cuma ingin melihat reaksi saudari serta ibunya ketika panik dan merasa terancam. Lucu juga ternyata, Serena sedikit puas berhasil mengerjai kedua orang itu.
"Ya, makanya sekarang aku bingung harus memilih siapa. Rencananya aku ingin mengenalkan Dion ke hadapan seluruh keluarga besar, tapi setelah kupikir-pikir, Dion bakal menemui banyak kesulitan karena itu.."
Mungkin sekarang Dion sudah mendapat pelajaran seperti tata krama dan lain sebagainya, tapi itu saja tentu masih kurang. Dion harus bisa menjadi sempurna bila ingin masuk ke dalam medan perang.
"Butuh waktu lama buat menyempurnakan Dion sebagai wakil yang kompeten. Tapi aku kehabisan waktu, aku nggak bisa menunggu selama itu."
Serena jadi ikut berpikir keras sekarang. "Lebih baik mengambil dari orang luar aja kalau memang kakak nggak percaya sama orang-orang kenalan kakak."
"Perekrutan nggak akan berjalan mudah tapi mungkin aku bisa mencobanya, setidaknya sampai aku bisa melihat sejauh mana kemampuan Dion berkembang. Karena jujur, aku merasa kami berdua bisa bekerja sama dengan sangat baik."