
Kini Ainsley berada di ruangan BEM. Banyak orang telah berkumpul didalam ruangan itu. Memang ada banyak yang kelihatannya tidak mempedulikan masalah yang baru menimpanya. Mereka cenderung lebih cuek. Tapi ada juga beberapa dari orang-orang itu terus menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Di sana juga ada Pingkan dan beberapa temannya yang menatapnya dengan pandangan tidak suka. Apalagi Pingkan. Ia seperti ingin menusuk Ainsley dengan tatapan matanya itu.
Alfa duduk didepan. Sejak tadi pandangannya tidak berpindah dari Ainsley sedetikpun. Ia terlalu kaget melihat berita pagi ini, tapi ia berusaha menenangka diri. Ia percaya pada Ainsley, tapi ia juga perlu tahu ada hubungan apa Ainsley dan pengusaha itu. Pantas saja kemarin cara Austin menatap Ainsley berbeda. Seperti ada sesuatu di antara mereka. Alfa jelas bisa melihat itu karena pandangan Austin ketika bicara aula kemarin, beberapa kali terus memperhatikan Ainsley. Dara dan Ainsley duduk berdekatan. Suasana di dalam ruangan itu berubah tegang. Tapi Ainsley tetap berusaha santai. Kalau gugup dan takut, berarti dia membenarkan berita itu.
"Jelaskan, apa yang terjadi antara kau dan Austin. Gambar di mading itu tidak mungkin editan bukan?" tanya Alfa.
Ainsley menatap ke semua orang yang terus menatapnya. Menunggu jawaban. Gadis itu menghela nafas.
"Gambar itu memang benar, tulisannya yang salah. Aku bukan wanita simpanan." katanya menjelaskan. Langsung terdengar gelak tawa dari kelompok Pingkan. Nadine termasuk Pingkan menertawai perkataan Ainsley.
"Huh? Bukan wanita simpanan? Maksudmu kau punya hubungan resmi dengan Austin Hugo? Jangan bermimpi terlalu jauh Ainsley." ujar Nadine terkesan meremehkan. Menurutnya Ainsley terlalu percaya diri. Jadi wanita simpanan pria itu saja harusnya dia sudah bersyukur.
"Heh, kalau tidak tahu apa-apa tidak usah bicara sembarangan. Austin dan Ainsley memang punya hubungan yang serius. Tapi orang tidak penting seperti kalian tidak perlu tahu itu." tukas Dara tidak yang merasa terima sahabatnya direndahkan oleh mereka. Tunggu saja sampai mereka tahu Ainsley ternyata adalah istri sah seorang Austin, bahkan mereka menikah karena sudah dijodohkan sejak kecil.
Biasanya Ainsley akan menghentikan Dara, tidak mau gadis itu melawan. Tapi sekarang, ia diam saja. Biarkan saja. Ia juga sudah terlalu kesal pada Nadine yang selalu mencari-cari kesalahannya dan meremehkannya.
"Bagaimana dengan kejadian di dalam mobil, kalian melakukan sesuatu yang terlarang? Dalam gambar itu kau sedang merapikan bajumu." Pingkan angkat suara. Sungguh ia kesal memikirkan Austin dan Ainsley yang beradegan mesum dalam mobil itu. Ia merasa seperti kalah dari Ainsley karena kemarin, Austin bahkan tidak bicara padanya sedikitpun. Padahal mereka sempat berduaan saja di satu ruangan. Austin adalah tipikal laki-laki yang dingin dan cuek, tidak terlihat tertarik pada wanita. Tapi, kenapa bisa bisa punya hubungan seperti itu dengan gadis biasa-biasa saja seperti Ainsley ini? Pingkan tidak suka. Pertama Alfa, sekarang Austin. Apa kelebihannya sih, sampai pria-pria sekelas mereka menyukainya.
Ainsley berdeham. Pandangannya bertemu dengan Alfa yang terus menatapnya, seolah menunggu jawaban keluar dari mulutnya. Ia merasa kesal pada Pingkan. Kenapa harus bertanya seperti itu sih.
Tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang menerobos masuk dengan paksa. Membuat perhatian semua orang dalam ruangan itu berpindah.
"Austin?" Pingkan tanpa sadar mengucapkan nama itu. Yap! Austin adalah seseorang yang menerobos masuk tadi. Mereka kaget bukan main. Pandangan Austin berhenti ke Ainsley. Raut wajahnya terlihat khawatir. Lelaki itu lalu cepat-cepat berjalan menghampiri istrinya, menangkup wajahnya, mengamati setiap inci tubuh gadis itu kalau ada yang terluka atau tidak.
Ia mendapat kabar dari Narrel pagi ini. Bahkan berita tentang Ainsley yang adalah wanita simpanannya telah tercium oleh media. Ketika Austin datang ke sini, diluar kampus itu sudah ada banyak wartawan. Untung kampus ini cukup ketat. Mereka tidak mengijinkan siapapun yang tidak berkepentingan untuk masuk ke dalam area kampus, kalau tidak Ainsley pasti akan kewalahan menghadapi wartawan-wartawan itu. Gadis itu tidak suka menghadapi orang-orang itu.
"Kenapa kau ke sini?" bisik Ainsley di telinga Austin.
"Aku melihat berita tentangmu. Tidak mungkin aku membiarkan istriku menghadapi masalah sendirian." sahut Austin tak kalah pelan. Tak ada yang bisa dengar suara keduanya. Namun tingkah laku mereka tampak mesra di depan semua orang dalam ruangan itu. Dara tersenyum puas melihat raut-raut wajah iri dan tidak senang Nadine, Pingkan dan beberapa perempuan lainnya dalam ruangan itu. Austin datang di waktu yang tepat. Sekalian saja bilang ke semua orang kalau mereka adalah suami istri, biar tidak ada yang memfitnah Ainsley lagi.
Berbeda dengan Dara yang bahagia dengan kedatangan Austin, Alfa justru merasa tidak bahagia. Apalagi melihat Ainsley yang sepertinya memang dekat sih pengusaha itu. Keduanya sibuk berbisik-bisik dan Ainsley membiarkan pria itu menggenggam tangannya. Sesuatu yang benar-benar tidak bisa dilakukan oleh seorang Alfa.
Austin mengalihkan pandangannya dari sang istri dan menatap ke yang lain. Tidak ada jalan lain. Meski Ainsley masih belum siap publik mengetahui tentang pernikahan mereka, tapi keadaan sekarang memang tidak bisa dibiarkan. Ia tidak mau mereka menghina-hina istrinya. Ekspresinya ketika memandang kedepan berubah jauh jika dibandingkan dengan caranya menatap Ainsley tadi. Tangannya terus menggenggam istrinya.
"Ainsley adalah istriku yang sah. Jadi, apapun yang dia lakukan denganku di dalam mobil kemarin, sama sekali tidak ada urusannya dengan kalian. Kalian tidak bisa menghakiminya. Dia hanya sedang memuaskan hasrat suaminya saja. Dan itu tidak salah karena kami sudah menikah. Sekali lagi kuingatkan, kalau sampai ada yang menyakiti istriku, aku tidak segan-segan memberi perhitungan. Kalian tahu aku tipe pria yang tidak main-main dengan ucapanku bukan?" kata Austin panjang lebar. Dan peringatan itu jelas menakutkan. Ia tidak sadar Ainsley sudah merah padam karena ucapannya.