
"Kau punya masalah dengan gadis tadi?" Austin bertanya setelah Pingkan menghilang dari hadapan mereka. Ainsley menggeleng dan tersenyum tipis.
"Lalu, apa yang membuatmu tidak menyukainya?" pria itu ingin tahu. Austin ingin tahu segala hal yang Ainsley suka dan tidak sukai. Entah itu orang, barang atau apapun itu. Ia ingin dirinya mengenal istrinya luar dalam, ia juga ingin Ainsley perlahan-lahan mengenal jati dirinya seperti apa. Bukankah itu hal yang wajar karena mereka adalah suami istri?
"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa dia terlalu tidak tulus. Kalau kau tidak ada di sini bersamaku, aku bisa memastikan kalau perempuan itu tidak akan menyapaku sama sekali. Hah, bilang saja dia ke sini karena sengaja ingin mencari perhatianmu." ujar Ainsley menghela nafas. Austin menyipit.
"Oh, jadi kau sedang cemburu karena gadis itu sengaja mau mendekatiku?" goda pria itu. Ia tahu maksud Ainsley sebenarnya bukan itu, hanya saja ia ingin menggoda sang istri supaya istrinya ini tidak terlalu tegang.
Buktinya lihat. Mata Ainsley kembali membulat besar. Austin paling suka melihat ekspresi istrinya yang begitu.
"Siapa yang cemburu? Jangan geer!" ucap Ainsley pelan tapi penuh tekanan. Ia tidak mau mereka kembali mendapat perhatian dari orang-orang di dalam situ. Kan malu.
Austin terkekeh. Ia sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan gadis itu tapi waktunya sudah habis. Ia harus kembali ke kantor sekarang.
"Kalau kau sudah selesai makan, aku akan mengantarmu kembali ke kampus sekarang." gumam Austin setelah melirik arlojinya.
"Ada urusan penting lagi di kantor?" tanya Ainsley. Austin mengangguk lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Ainsley.
"Aku harus selesaikan urusan kantor siang ini, biar urusan penting kita berdua nanti malam tidak ada yang berani ganggu." bisiknya dengan nada menggoda. Wajah Ainsley langsung memerah. Ia lalu mencubit lengan suaminya pelan dan cepat-cepat keluar dari cafe itu. Entah sudah yang ke berapa kali Austin menggodanya sampai wajahnya terasa begitu panas karena malu. Ya ampun, ia tidak menyangka pria kaku seperti Austin itu punya sisi lain yang bisa membuatnya kehilangan kata-kata.
Sesampainya didepan gerbang kampus, Austin buru-buru turun dari mobil, berjalan memutar untuk sekedar membukakan pintu buat Ainsley. Padahal Ainsley sudah memberinya peringatan sejak tadi agar pria itu tidak melakukan sesuatu yang berlebihan didepan umum. Tapi Austin sama sekali tidak menggubrisnya. Austin bahkan sengaja mengecup bibirnya singkat sebelum pamit meninggalkan tempat itu. Untung hari sudah mulai sore dan kampus mulai sepi, juga tidak ada yang memperhatikan mereka, kalau tidak, mau taruh dimana muka Ainsley. Walau dalam hati Ainsley merasa senang diperlakukan sebaik itu oleh suaminya, tetap saja ia malu kalau ada yang lihat.
Ketika Ainsley mau berbalik memasuki kampusnya, seseorang tiba-tiba menahannya. Membuat langkahnya terhenti. Ia menatap bingung perempuan berkacamata yang umurnya mungkin tiga atau empat tahun lebih tua darinya itu.
"Nona Ainsley, perkenalkan saya Ina. Seorang agen dari Sol agency. Bisakah kita bicara sebentar?" kata wanita bernama Ina itu sambil menyodorkan kartu namanya ke Ainsley.
Ainsley membaca kartu nama milik wanita itu, menimbang-nimbang sebentar lalu mengangguk mengiyakan. Ia juga merasa penasaran apa yang ingin dibicarakan wanita itu dengannya. Sepertinya penting.
"Aku ada rapat, tapi kita bisa bicara beberapa menit." ucap Ainsley berusaha bersikap seramah mungkin.
Ina tersenyum senang.
***
"Apa? Kalian ingin merekrutku menjadi aktris di agency kalian? Kau tidak sedang mengerjaiku kan?" seru Ainsley tidak percaya. Bagaimana bisa ia tiba-tiba mendapatkan tawaran mendadak begini.
"Aku sama sekali tidak bercanda Ainsley. Tim dari agency kami sendiri yang memutuskan. Aku juga punya surat undangan resminya kalau kau mau lihat." Ina mengeluarkan selembar kertas dari dalam mapnya dan memberikannya ke Ainsley. Gadis itu membaca dengan serius.
Benar. Semua yang tertulis di sana, nama lengkapnya, fotonya, semuanya benar. Tidak ada yang salah. Tapi ini seperti mimpi. Kenapa agency yang cukup besar seperti Sol itu ingin menjadikannya artis mereka?
"Kenapa ingin merekrutku? Karena aku istri Austin?" tanyanya. Kalau dipikir-pikir, setelah menikah dengan Austin, banyak hal tidak terduga memang sering terjadi padanya. Ina menggeleng cepat.
"Kau salah. Kami sama sekali tidak peduli dengan statusmu sebagai istri dari seorang Austin Hugo. Mungkin kau sudah lupa, tapi satu tahun yang lalu kau pernah ikut audisi di agency kami. Saat bos baru kami melihat-lihat video lama, dia tanpa sengaja menemukan video audisimu. Dan dia merasa kau sangat cocok memerankan karakter utama di film yang akan di produksi oleh kantor kami."
Ainsley sontak terkejut. Dia ingat sekarang. Dulu dia memang bercita-cita menjadi seorang artis, ia tidak memungkiri kalau dirinya suka berakting. Dia bahkan pernah beberapa kali ikutan audisi bersama Dara dibeberapa agency waktu awal-awal kuliah dulu. Sayangnya mereka tidak pernah berhasil. Sampai akhirnya gadis itu memutuskan mengubur cita-citanya itu dan beralih untuk belajar bisnis. Ia pikir mungkin dirinya tidak terlalu berbakat dalam bidang itu.
"Maksudmu kalau aku menerima kerja sama dengan kalian, aku akan langsung main film?" tanyanya.
"Tentu saja kau akan tetap ikut casting pemeran, tapi menurutku peran itu benar-benar hampir seratus persen adalah milikmu." jawab Ina berkata jujur. Ainsley mendesah pelan. Jujur saja ia sempat merasa tergoda, tapi masih banyak hal yang perlu ia pikirkan sebelum setuju.
"Kau tahu aku sudah menikahkan?". gumamnya menatap Ina. Wanita itu mengangguk.
"Bagaimana kalau aku hamil? Belum tentu juga suamiku mengijinkan aku menjadi seorang aktris. Aku perlu mempertimbangkan banyak hal. Sekarang, diriku sudah tidak sebebas dulu." katanya panjang lebar.
"Kami sudah mempertimbangkan semuanya sebelum datang padamu. Aku hanya ingin bilang padamu bahwa ini adalah kesempatan yang sangat baik. Kalau kau suka, tidak ada salahnya mencoba. Jangan sampai kau menyesal nantinya. Tentu saja kau perlu berunding dulu dengan suamimu. Satu hal lagi, aku sudah menonton video audisimu. Kau punya bakat Ainsley. Berpikirlah baik-baik, dan bicarakan dengan suamimu. Apapun keputusanmu, kami akan menerimanya." ucap Ina tersenyum ramah. Ainsley merasa wanita itu sangat dewasa. Cocok dengannya yang kadang labil ini. Perkataan Ina tadi juga membuatnya berpikir dua kali. Apa Austin akan memberinya ijin kalau ia mau jadi artis? Sepertinya itu berat, tapi dia akan mencoba bicara dengan suaminya. Apapun keputusan Austin, ia akan menghargainya. Karena sekarang pria itu adalah kepala rumah tangga. Sudah seharusnya ia mendengar keputusan suaminya.
"Baiklah." Ainsley menghembuskan nafas panjang.
"Aku akan bicarakan dulu dengan suamiku dan menghubungimu secepatnya." ujarnya mengambil keputusan. Ina tersenyum tipis.
"Kalau begitu aku menunggu kabar darimu. Nomorku ada di kartu nama itu. Terimakasih atas waktunya Ainsley." balas wanita itu lalu pamit pergi.