
Suasana di dalam mobil terasa canggung. Sejak mereka keluar dari restoran, Leonard sama sekali tidak mengajak Helena bicara sama sekali. Apalagi ekspresi laki-laki itu terlihat tidak bersahabat, Helena jadi ragu mau mengajak Leonard bicara.
"Udah berapa lama?" Akhirnya Leonard memulai percakapan lebih dulu.
"Apanya?"
Leonard berdecak kecil. Hatinya tidak tenang sejak dia melihat lelaki lain menyentuh Helena sembarangan. "Udah berapa lama si br3ngs3k itu gangguin kamu?" Dia memperjelas pertanyaannya sendiri.
Oh, ternyata masih mau membahas soal Rowan. "Dari awal masuk kerja. Tapi waktu itu belum separah ini sih. Apa karena kami berdua yang masih muda di kantor dan masuk secara bersamaan ya jadi membuat si gila itu sok akrab sama aku?" Helena sendiri heran dengan sikap Rowan yang ajaib sekaligus menakutkan di saat bersamaan.
Helena mana berani cerita kalau di kantor, Rowan bisa melakukan skinship yang lebih parah dari yang di restoran tadi.
"Eung~ Se-sejak awal masuk kayaknya, aku kurang ingat..." Tanpa sadar jemari Helena menggaruk pelan permukaan pipinya.
'Kamu nggak pandai berbohong, Helen..' Tapi Leonard bisa menangkap kebohongan yang dilontarkan Helena melalui sikap gadis itu.
Helena pasti mengingat jelas, apalagi ini belum ada setahun dia memulai bekerja di perusahaan asal Jepang yang sekarang menjadi tempat gadis itu bekerja.
Leonard mendengus panjang. Mungkin Helena takut berkata jujur karena beberapa hal. Leonard akan membiarkan gadis itu kali ini, toh masalah ini bukan Helena duluan yang memulai.
'Tapi apa yang bisa kulakukan untuk membantunya ya?' Ini yang membuat fokus Leonard terbagi. Dia harus melakukan sesuatu supaya Helena dapat bekerja dengan nyaman tanpa gangguan dari orang gila.
"Libur akhir tahun nanti..kamu udah ngerencanain liburan belum?"
Helena menengok ke arah Leonard yang baru saja bertanya. Tidak biasanya lelaki itu membahas soal hari libur, padahal biasanya Helena yang maju untuk bertanya lalu mengajak Leo duluan.
"Belum. Sebenernya sih aku pengen ajak Serena pergi liburan aja berdua. Tapi berhubung dia mau punya baby sekarang, aku harus menahan jadwal liburan kami.." Helena tersenyum tetapi hatinya sedikit menangis. Kehadiran seorang bayi di tengah-tengah mereka membuat semua rencana indah Helena terpaksa dipending dulu.
"Kalau gitu, sama aku aja."
Helena nyaris tersedak air liurnya sendiri ketika mendengar ucapan Leonard yang tiba-tiba sekali.
Spontan kedua mata Helena melotot horor, takutnya Leonard kesambet makhluk tak kasat mata atau baru terbentur sesuatu, "Ka-kamu ngomong apa barusan?"
Dengan senang hati Leonard mengulangi ucapannya, "Kalau gitu, sama aku aja. Kita pergi berdua. Julian juga pasti nggak akan kasih izin Serena pergi terlalu jauh."
'Apa telingaku mengalami masalah? Kok kayak halusinasi banget dengar Leonard mengajakku duluan?!' Rupanya Helena belum mempercayai apa yang telinganya dengar.
Reaksi Helena yang tampak tak mempercayai dirinya membuat Leonard gemas sendiri. Satu tangannya terulur lalu mencubit ujung hidung Helena sampai membuatnya merah.
"AKH! Sakit! Lepasin!!!" Helena memekik kesakitan. Ternyata ini bukan mimpi! Tadi itu Leonard benar-benar mengajaknya duluan! Hati Helena seketika berbunga-bunga bukan main.
Hati Helena mulai berdebar tak karuan. Leonard dan wajahnya yang tampan, entah sejak kapan menjadi kelemahan tersendiri bagi Helena. Sikap Leo yang mudah sekali berubah sesuai mood juga sering menempatkan Helena dalam kesulitan. Tapi yang tak Helena mengerti, hatinya selalu beraksi aneh setiap kali bersama Leonard.
'Aku pasti udah gila...kamu nggak bisa menyukai sahabatmu sendiri, Helen. Kalau semua berjalan nggak sesuai harapan, yang ada justru akan menghancurkan hubungan baik di antara kami...' Helena mencoba menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak jatuh ke dalam pesona Leonard.
Leonard adalah teman baiknya, Helena tak ingin merusak hubungan baik yang telah mereka jalin dengan susah payah hanya karena perasaan tabu ini.
'Lagian Leonard juga nggak mungkin mempunyai perasaan yang sama kayak aku...miris banget, aku harus secepatnya move on ke orang lain..' Mungkin Helena lemah terhadap Leonard hanya karena lelaki itu lah yang selalu menghibur dan menemaninya saat sedang terpuruk akibat patah hati.
Kebaikan serta kepedulian Leonard membuat hati rapuh Helena salah paham, jadi Helena akan menghentikan perasaan terlarang itu sebelum menjadi noda dalam persahabatan mereka.
"Aku...kayaknya nggak bisa.." Langkah awal yang bisa Helena lakukan adalah menolak semua ajakan Leonard dan menjaga jarak aman dengan lelaki itu.
Penolakan Helena bagaikan petir di siang bolong. Nyaris saja kaki Leonard menginjak pedal rem dalam-dalam gara-gara syok menerima penolakan dari mulut Helena.
'Apa...? Apa dia sakit?? Biasanya dia langsung mengiyakan tanpa pikir panjang!' Leonard dibuat keheranan bukan main.
"Helen, kamu sakit? Ada apa? Apa ada yang mengganggumu??" Leonard tidak bisa untuk tidak panik.
Namun gelengan lemah yang Helena berikan membuat hati Leonard semakin cemas.
Buru-buru Leonard menepikan mobilnya agar bisa berbicara empat mata dengan Helena.
"Hei...ada apa?" Dengan lembut, Leonard mengubah posisi tubuh Helena untuk menghadap ke arahnya. Satu tangan Leo menarik dagu Helena supaya menatap lurus ke matanya.
Ini aneh..Helena memasang ekspresi yang sulit Leo baca. Seolah-olah ada keraguan besar dalam hati gadis itu yang tidak dapat Leo ketahui.
"Kamu nggak mau pergi sama aku? Kenapa?" Kenapa setelah sekian lama, gadis itu baru bersikap demikian? Apa Helena takut salah paham atas ajakannya? Leonard tak akan membiarkan Helena berpikiran negatif soal mereka.
Helena tak bisa menjawab. Bila dirinya berterus terang, bisa-bisa Leonard justru mengetahui isi hatinya.
"Helena...aku akan berkata jujur sama kamu..." ucap Leonard tiba-tiba.
"Tapi aku minta, setelah kamu mendengarkan semua yang aku sampaikan, aku harap kamu nggak menjauhiku..." imbuhnya, dengan sorot mata serius yang sanggup membuat sekujur tubuh Helena meriang tanpa sebab.
Suasana di antara mereka terasa makin intense. Helena tidak suka ini, baginya ini terlalu menegangkan.
"Aku suka padamu. Aku nggak bisa menganggapmu hanya sebagai 'teman' biasa, karena aku sadar, hanya kamu yang bisa membuatku nyaman dan menjadi diriku apa adanya.."
"...dari awal kita berkenalan, dan melihat sikapmu yang easy-going sekalipun itu di hadapanku, aku nggak bisa untuk nggak tertarik kepadamu. Kamu berbeda dari perempuan manapun, kamu juga mendekatiku bukan karena wajah dan harta yang kupunya. Kemurnianmu itulah yang membuatku nyaman dan tanpa kusadari membuatku ingin selalu bersama denganmu. Walau aku nggak menunjukkannya secara langsung, tapi percayalah, hati ini selalu tertuju hanya kepadamu."