Mine

Mine
Chapter 71



"A..Austin,"


"Aku muak melihatmu terus berkelit Ainsley." Austin menggeram marah,


“Ayo pulang." dengan kasar Austin merenggut lengan Ainsley, menariknya berdiri dari duduknya. Alfa yang melihatnya langsung meradang, dia merenggut sebelah lengan Ainsley yang bebas dan menahannya,


"Kau tidak boleh memperlakukan Ainsley seperti itu." Alfa menarik Ainsley dari cengkeraman Austin dan menyembunyikannya di belakangnya.


"Dia adalah istrimu." kata Alfa lagi menatap Austin dengan tatapan tajam tidak suka cara kasar laki-laki itu.


"Kenapa? Kau pikir aku harus diam saja melihat istriku bertemu dengan laki-laki lain dibelakangku? tatapan tajam Austin beralih kepada Ainsley, yang tampak ketakutan dan pucat pasi, bersembunyi di belakang punggung Alfa. Bukan, bukan bersembunyi. Lebih tepat Alfa yang menariknya kebelakang situ, dan dia terlalu syok yang membuat kakinya sulit melangkah ke Austin.


"Pulang Ainsley. Kalau tidak kau akan menyesal karena aku akan menghabisi pria ini dihadapanmu sekarang juga. Setelah itu menghancurkan seluruh bisnis keluarganya." ancaman yang keluar dari mulut Austin terdengar begitu mengerikan.


Karena Austin adalah seseorang yang berpengaruh, dan lelaki itu sangat berkuasa. Dari tatapan matanya yang menyala, Ainsley tahu bahwa Austin akan berbuat apapun untuk mewujudkan ancamannya. Ainsley  gemetar, takut menghadapi kemarahan Austin, ia belum melihat sisi lain dari diri Austin yang sekejam ini.


Tetapi dia harus memberanikan diri. Dia tidak berselingkuh dengan Alfa. Dia tidak salah apa-apa. Austin harus tahu, namun tempat ini terlalu ramai. Ia tidak mau pertengkaran mereka menjadi konsumsi publik. Dia akan menjelaskan secara pribadi.


Setelah menghela napas panjang untuk menenangkan diri, Ainsley melangkah keluar dari lindungan Alfa dan maju mendekati Austin.


"Aku akan pulang." gumamnya pelan.


"Ainsley," Alfa berkata dengan serak,


Ainsley menoleh, menatap Alfa dengan lembut,


"Aku akan baik-baik saja. Dia suamiku, jangan khawatir." dan kemudian Austin merenggut lengannya dengan kasar, setengah menyeretnya keluar dari restoran itu. Meninggalkan Alfa yang bergerak tidak tenang. Austin adalah laki-laki yang terkenal kejam, bagaimana kalau ia menyakiti istrinya sendiri?  Kenapa juga pria itu bisa kebetulan berada di tempat ini dan memergoki pertemuan mereka. Bukan berarti mereka berselingkuh, tapi posisi mereka memang berada dalam situasi yang salah. Alfa merasa sangat bersalah pada Ainsley. Ini semua karena dirinya. Argh! Dia mengusap wajahnya kasar. Merasa dirinya pengecut karena tidak dapat berbuat apa-apa.


                                 ***


Perjalanan mereka ditempuh dalam suasana yang hening dan mengerikan. Austin terus diam dan beberapa kali terlihat menggertakkan gerahamnya, menahan marah. Sementara itu Ainsley begitu tegang menantikan luapan kemarahan Austin. Karena Austin tidak pernah bersikap kasar padanya selama ini, Ainsley sudah begitu takut menghadapi kemarahan Austin.


Austin memang tidak memukulnya, sama sekali tidak ada yang mengarah kepada kekerasan ketika Austin marah, satu-satunya tindakan kasar yang dilakukan Austin adalah menarik dan mencengkeramnya tadi, yang membuat pergelangan tangannya sakit. Ainsley entah kenapa yakin Austin tidak akan memukulnya atau melakukan kekerasan fisik kepadanya. Tetapi yang ditakutkan Ainsley adalah serangan verbal Austin. Bagaimanapun juga ia sudah menaruh hati pada pria itu. Dan kata-kata kasar Austin kepadanya mempunyai efek yang berpuluh-puluh kali lebih menyakitkan.


Dia menoleh ke arah Austin yang sedang menyetir dan bertanya dengan takut-takut,


"Kenapa kau tidak pulang semalam? Apa kau tidur di..." Austin melirik sinis ke arah Ainsley, lalu berucap tak kalah sinis.


"Aku tidak berselingkuh darimu Austin. Alfa hanya senior di kampusku. Kami bertemu tadi karena dia ingin minta maaf atas ciuman waktu itu. Dia memang menyukaiku, tapi aku sudah menolaknya karena dirimu. Ku rasa aku sudah jatuh cinta padamu."


Kalimat itu membuat Austin mengerem mobilnya secara refleks karena kaget. Dia tertegun, lalu kemudian menjalankan mobilnya seperti semula dan bergumam ketus,


"Alasan yang sangat bagus, Ainsley. Tapi aku tidak percaya. Kau jatuh cinta padaku? Seseorang yang jatuh cinta tidak akan mengatakan kalimat itu dengan mudahnya seperti itu."


"Aku tidak berharap kau akan percaya. Tapi kalau kau mau bukti, kau bisa bertanya pada Alfa.


Austin menatap Ainsley dengan tajam,


"Kalian mungkin saja sudah berkomplot untuk membodohiku, mengira bahwa aku akan percaya begitu saja dengan kebohongan kalian. Tetapi maaf saja Ainsley, aku tidak sebodoh itu sehingga begitu mudahnya kau tipu."


"Kenapa kau jadi seperti ini Austin?" Ainsley menatap suaminya seakan tidak percaya dengan perubahan yang sangat besar dari sosok tampan itu. Tanpa sadar butiran air keluar dari sudut mata gadis itu. Kenapa begitu susah Austin percaya pada penjelasannya. Duduk di sini dan melihat suaminya terus menuduh dan tampak begitu membencinya benar-benar menyakiti hatinya.


Austin mengetatkan gerahamnya, tidak berkata-kata lagi, dan mengabaikan ucapan Ainsley. Membiarkan perempuan itu terisak-isak selama perjalanan mereka pulang.


Ketika Austin memarkir mobil di depan, dia langsung keluar dan memutari mobilnya, lalu membuka pintu penumpang di sebelah supir, sebelum Ainsley sempat keluar. Sekali lagi dia mencekal lengan Ainsley dan memaksanya keluar.


"Ayo." gumamnya marah. Ainsley berusaha melepaskan diri dari pegangan Austin, tetapi cekalan tangan lelaki itu begitu kuatnya.


"Sakit Austin!" Ainsley berteriak ketika Austin menyeret lengannya menaiki tangga, tetapi Austin tampaknya sudah mengeraskan hatinya sehingga tidak mempedulikan kesakitan Ainsley. Mereka menuju kamar, Austin membuka pintu kamar itu dan mendorong Ainsley masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dan menguncinya.


Tiba-tiba perasaan terancam menyelubungi benak Ainsley , dia menatap suaminya yang berdiri dengan marah di dekat pintu dan merasa takut, takut akan tekad kuat yang menyala-nyala di mata suaminya.


"Apa yang akan kau lakukan?" Austin membuka jasnya dan melemparnya begitu saja, lalu melonggarkan dasinya.


"Menurutmu apa?" Ainsley langsung mundur beberapa langkah menjauhi Austin. Apakah Austin akan memaksanya bercinta? Dalam keadaan emosi begini? Tidak, tidak. Ainsley tidak bisa. Kalau mereka melakukannya dalam keadaan begini, itu sama saja dengan dirinya sedang direndahkan oleh suaminya sendiri.


"Austin, kita bisa bicara baik-baik. Kau tidak perlu melakukan ini. Aku tidak siap." Ainsley bergumam, ketika menyadari bahwa Austin benar-benar akan melakukannya. Pakaiannya sudah terbuka semua. Austin tersenyum sinis,


"Aku perlu mengajarimu kalau wanita yang memiliki laki-laki lain di belakang suaminya, pantas diperlakukan seperti apa. Aku tidak akan lembut seperti biasa, dan jangan berharap aku bercinta denganmu hari ini karena aku mencintaimu. Seperti katamu dulu, aku hanya menginginkan tubuhmu." ujar Austin tanpa berpikir dua kali. Ia terlalu emosi. Sampai-sampai emosi itu mengalahkan akal sehatnya.


Austin maju selangkah membuat Ainsley refleks langsung mundur.


"Kau istriku, dan aku suamimu, sepertinya aku harus membuatmu menyadari posisimu." lalu dengan paksa Austin menindih gadis itu.