
Ainsley turun dari mobil. Mereka sudah sampai. Perjalanan yang mereka tempuh dari Jakarta sampai Bogor kira-kira dua jam setengah. Hanya Austin dan Ainsley berdua dalam mobil. Austin yang menyetir pastinya.
Austin sengaja menyetir sendiri hari ini karena seperti yang di katakan oleh Narrel kemarin kalau kemungkinan mereka akan menginap. Pria itu tidak mau merepotkan sopirnya. Ia juga ingin berdua saja di mobil dengan Ainsley.
Ketika mereka sampai di Vila, Narrel, Iren dan yang lain belum terlihat sama sekali. Kelihatannya mereka memang belum ada. Meski begitu, penjaga Vila sudah mengenal Austin jadi mudah saja bagi keduanya masuk ke dalam.
Ainsley memandang ke sekeliling. Vila itu berada di tempat yang cukup terpencil dekat hutan. Berada di sini suasananya beneran terasa super sunyi.
Ainsley pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya tapi tidak semewah tempat milik Narrel ini. Hanya suasananya yang mirip. Kalau malam hari kalau hanya sendirian, yang akan menemanimu hanyalah suara serangga dan bunyi daun-daun bergesekan tertiup angin.
Walaupun lokasinya di kelilingi pepohonan rimbun layaknya di hutan belantara, namun Ainsley akui fasilitas dan kenyamanan villa ini patut di acungi jempol. Desainnya cenderung modern industrial yang berpadu dengan unsur-unsur alam.
Ada juga kolam renang pribadi dam area api unggun untuk barbekyuan di malam hari sambil bercengkerama.
"Bagaimana, kau suka tempat ini?"
Ainsley menoleh ke Austin yang kini yang berdiri di sebelahnya. Lelaki itu sudah selesai memasukan semua barang-barang bawaan mereka ke dalam Villa. Ke kamar yang akan mereka tempati nanti. Narrel sudah mengatur kamar khusus untuk mereka berdua.
"Aku tidak tahu sekretarismu itu kaya juga," ucap Ainsley. Villa ini memang terlihat sangat mewah di matanya. Interiornya tidak main-main. Yang bikin villa ini pasti semuanya adalah orang-orang yang profesional. Bayaran mereka pun angkanya pasti akan membuat orang biasa-biasa saja yang hidupnya pas-pasan mengusap-usap dada.
"Sekaya apapun dia, suamimu ini jauh lebih kaya. Kau tidak usah iri. Apa yang aku punya, semuanya milikmu juga." gumam Austin di telinga Ainsley.
"Siapa yang iri?" balas Ainsley tidak terima dibilang iri. Dia kan hanya bilang Narrel kaya. Bukan bilang iri.
Austin terkekeh.
"Baiklah, baiklah. Kau tidak iri," ucap pria itu lagi. Ainsley memicingkan mata pada suaminya masih merasa jengkel.
"Kalian sudah di sini rupanya,"
pasangan suami istri itu sama-sama berbalik. Narrel dan seorang wanita cantik berwajah seperti orang Jepang berdiri di belakang mereka. Wanita itu bergelayut manja di lengan Narrel tapi Ainsley bisa lihat matanya tak terus menatap Austin dengan wajah penuh minat. Entah kenapa Ainsley merasa terganggu dengan tatapan wanita itu ke Austin.
Kenapa Narrel memacari perempuan itu? Meski cantik, Iren jauh lebih cocok dengannya menurut Ainsley. Gadis itu menyadarkan pikirannya. Ia lupa, Iren kan sudah punya pacar.
"Sayang, mereka temanmu ?" tanya wanita itu pada Narrel. Ia masih tak bisa menghentikan pandangannya dari Austin. Pria itu terlalu menawan di matanya.
"Dia bos ku di kantor, dan gadis di sebelahnya ini adalah istrinya." jawab Narrel menjelaskan. Wanita di sampingnya itu tampak terkejut. Mereka sudah menikah rupanya. Tapi ia tetap tertarik pada Austin.
"Kenalkan, ini Yuka temanku." ujar Narrel mengenalkan wanita bernama Yuka itu. Pantas mirip perempuan Jepang. Namanya juga kaya Japanese Japanese, pasti ada turunan Jepangnya.
"Ainsley," ucap gadis itu memperkenalkan diri tak lupa tersenyum tipis. Pandangannya berpindah ke Austin yang tampak cuek. Ia mengatai pria itu dalam hati. Cih, sombong sekali.
"Dia Austin," katanya mewakili Austin memperkenalkan diri. Yuka tersenyum senang.
"Hai Austin," sapanya. Austin tidak menjawab. Sikapnya masih sama seperti tadi. Cuek dan berlagak sombong.
Narrel sudah tahu Austin selalu seperti itu pada kebanyakan wanita. Apalagi pada perempuan-perempuan yang dibawa olehnya. Karena Austin tahu para wanita yang di bawa Narrel hampir semuanya bukan wanita baik-baik. Narrel selalu membawa perempuan tanpa status untuk memuaskannya di atas ranjang.
"Deisy?" gumam Ainsley. Matanya berpindah pada Deisy, Iren dan dua lelaki lainnya yang berjalan dari depan sana mendekati mereka.
Deisy memaksakan seulas senyum.
Austin melirik Narrel, seingatnya sekretarisnya itu bilang hanya enam orang yang akan datang. Kenapa bertambah dua lagi. Ia tidak begitu suka keramaian.
"Iren yang mengajak Deisy. Kau kenalkan? Dia juga karyawan di kantormu," ujar Narrel. Ia tahu Austin kenal karena Deisy itu saudari tiri Ainsley, tapi ia lebih suka menyebut wanita itu karyawan di kantor mereka. Austin juga pernah bilang jangan memperlakukan wanita itu dengan berbeda karena hubungannya dengan istrinya. Karyawan tetaplah karyawan.
Pacar Iren langsung menjabat tangan Austin saat melihat pria itu.
"Tuan Austin, kenalkan saya Demon. Saya sudah banyak mendengar berita tentang anda di media. Kalau anda tidak keberatan, saya ingin belajar bisnis pada anda." kata pacar Iren yang bernama Demon itu dengan antusias. Iren sampai merasa tidak enak dengan kelakuan sang pacar.
Austin buru-buru melepaskan tangan lelaki itu. Setelah itu pria yang satunya lagi bergantian mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Namanya Marcel. Austin mencoba menahan diri. Dia datang ke sini supaya bisa berduaan saja dengan Ainsley, tapi malah bertemu dengan orang-orang aneh ini.
Pandangan Austin berpindah ke Narrel yang tengah menertawainya. Kalau tidak menghormati Iren yang sudah bekerja keras untuk perusahaan mereka, ia akan membawa Ainsley pulang sekarang juga.
Austin lalu menarik tangan Ainsley dan masuk duluan ke dalam. Ia sudah bosan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan padanya tentang bisnis. Ia ingin mandi karena sejak pagi dirinya belum mandi. Hanya cuci muka. Badannya sudah terasa pengap.
Austin dan Ainsley masuk ke kamar yang di atur Narrel untuk keduanya. Bagian pintu kamar itu di cat dengan efek lime time Wood finish menambahkan kesan etnik ala penginapan.
Ainsley suka kamar ini. Cahaya lampunya berwarna kuning dan tidak menyilaukan. Tempat tidurnya juga nyaman.
"Kau mau mandi denganku?" tawar Austin dengan nada menggoda.
"Jangan harap!" balas gadis itu. Kalau mau mandi ya mandi saja. Kenapa ajak-ajak dirinya segala.
Austin tertawa.
"Kalau begitu siapkan baju untukku pakai," ucap pria itu lagi sebelum masuk ke kamar mandi. Mau tak mau Ainsley mengiyakan. Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan mulai memilih-milihkan pakaian yang cocok untuk Austin dengan seleranya.