
Yuka cepat-cepat menghentikan aksinya dan berdiri dari atas Demon. Keduanya kaget bukan main karena tertangkap basah oleh Iren. Wanita itu terlihat emosi sekali. Yah, siapa juga yang tidak akan emosi saat melihat kekasihnya bercumbu dengan pria lain. Bahkan melakukan kegiatan tidak senonoh itu.
"Jadi ini maksudmu bilang kau mau memanggilnya?!" tukas Iren dengan suara kuat. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Tidak ada lagi Iren yang datar seperti biasanya.
"I..Iren, aku bisa menjelaskan..,"
"Aku tidak menyuruhmu bicara!" Iren langsung memotong ucapan Yuka. Gadis itu terdiam. Ini yang kedua kalinya ia tertangkap basah hari ini. Namun pria yang bermain dengannya ada pria yang berbeda.
Iren menatap Demon dengan raut kecewa. Ia sangat mencintai pria itu. Bahkan dirinya tidak mengeluhkan apapun, sekalipun dia tahu Demon terkadang memanfaatkan dirinya untuk urusan bisnis. Karena dia mencintai lelaki itu, ia selalu memperlakukannya dengan tulus. Tapi apa sekarang? Lelaki itu membalas kebaikannya seperti ini?
"Teganya kau memperlakukanku seperti ini Demon," gumam Iren dengan nada bergetar. Sementara Demon tidak terlihat menyesal atau merasa bersalah sama sekali. Lelaki itu malah tersenyum remeh dan merendahkan dirinya.
"Ayolah Iren, kau mau aku hanya setia padamu? Di jaman sekarang ini? Huh! Kau terlalu naif. Kau tidak bisa memberikan kepuasan yang aku mau, jadi jangan salahkan kalau aku mencari kepuasan di tempat lain. Lagipula tidak ada banyak pria yang menyukai wanita aneh sepertimu. Aku mau menjadi kekasihmu saja kau sudah sangat beruntung."
kalimat panjang yang amat merendahkan itu membuat hati Iren tercabik-cabik. Ia ingin menangis namun di tahannya. Jadi selama ini Demon hanya menganggapnya wanita yang aneh?
"Jawab aku, k...kau mencintaiku?" tanya Iren lirih. Yuka yang berada di antara mereka jadi merasa tidak enak.
"S..sebaiknya aku pergi," ucap Yuka melangkahkan kaki meninggalkan pasangan itu. Langkahnya terhenti di didepan pintu masuk kamar dari balkon itu. Semua orang sudah berdiri disana. Termasuk Narrel dan Austin. Mereka semua menatapnya dengan ekspresi tidak senang. Apalagi Narrel.
Bagi Narrel, dialah yang bersalah karena sudah membawa perempuan ****** seperti Yuka ke tempat ini. Yuka tertunduk malu lalu lanjut meninggalkan tempat itu.
Balik ke Iren dan Demon. Iren terus menatap Demon, menunggu jawaban lelaki itu atas pertanyaannya tadi.
"Jangan pernah membahas cinta denganku, karena aku tidak pernah mencintaimu." balas Demon menohok. Dada Iren tiba-tiba terasa begitu sesak. Ia tertawa hambar. Ternyata dia yang terlalu percaya diri, mengira Demon mencintainya juga.
Meski merasa sakit hati dan ingin menangis, Iren tetap berusaha kuat. Ia menghela nafas panjang, menatap Demon dengan berani.
"Karena kau tidak mencintaiku, kita putus saja!"
setelah berkata seperti itu Iren langsung berbalik pergi. Melewati Narrel dan lainnya yang berkerumun didepan pintu kamar. Narrel ikut berbalik mengikuti wanita itu. Demon sendiri yang ditinggalkan di ujung sana hanya tertegun. Ia tidak mengira Iren akan seberani ini memutuskan hubungan mereka. Rasa marah menyelimuti dirinya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Semua orang telah melihat pertengkaran mereka. Bahkan ada Austin juga di sana. proposal pengajuan kerja sama dengan perusahaan pria itu sepertinya tidak memungkinkan lagi. Demon mengacak-rambutnya geram. Kenapa juga dia bisa tergoda dengan wanita ****** tadi. Sialan.
Ainsley membiarkan Austin membawanya keluar dari kamar itu. Mereka kembali ke kamar mereka.
Austin sendiri jadi menyesal telah membawa Ainsley ikut ke pesta dan melihat kejadian tidak baik itu.
"Kau tidak lihat wajah pacarnya kak Iren tadi? Sama sekali tidak keliatan menyesal atau bersalah sedikitpun, sangat menyebalkan." cicit Ainsley. Mereka sudah ada dalam kamar. Austin yang sejak tadi memijit-mijit pelipisnya di sofa kamar itu melirik sang istri yang duduk di ranjang.
"Sudahlah, jangan ikut campur masalah orang." ujar lelaki itu kemudian bangkit masuk ke toilet.
Ainsley berdecak malas menatap punggung suaminya yang menghilang di balik toilet. Kaku sekali, cih. Ia lalu mencari-cari keberadaan ponselnya yang entah berada dimana. Ia ingin bermain game untuk menghilangkan penat. Dia juga belum mengantuk.
Matanya berhenti di atas meja kamar itu dan melihat benda pipih yang di carinya berada di atas meja, samping laptop Austin. Ainsley berdiri dari ranjang dan melangkah ke arah meja.
Ia mengambil ponselnya. Namun secara tidak sengaja dirinya menekan keyboard laptop milik Austin. Laptop itu tidak mati sepenuhnya tetapi berada dalam model sleep dan akan hidup jika salah satu tombol keyboardnya di tekan.
Ainsley refleks melihat laptop yang tiba-tiba menyala itu dan langsung ternganga ketika sadar apa yang sedang dilihatnya.
"A..apa ini?" gumamnya pada diri sendiri. Seketika pipinya memerah karena mendengar suara erangan dan suara-suara khas orang bercinta. Ia tengah melihat video panas dalam laptop itu.
Untuk beberapa saat Ainsley terpaku melihat adegan panas tersebut. Setiap hal yang dia lihat dalam video itu seolah terekam jelas dalam benaknya. Membuatnya menelan ludah dan merasa panas.
Ketika ia tersadar apa yang dia lihat, Ainsley langsung panik lalu cepat-cepat mematikan laptop itu dan balik ke kasur. Namun ketika dirinya berbalik, ia melihat Austin sudah bersandar di ambang pintu toilet, dengan tangan terlipat di dada dan tatapan menggoda yang sepenuhnya tertuju pada dirinya. Ainsley seketika terintimidasi karena tertangkap basah. Astaga, ia merasa seperti baru saja melakukan suatu kejahatan yang besar. Ia menggelengkan kepala pada lelaki itu lalu dengan polosnya ia berkata,
"A..aku tidak melihatnya." ucapnya. Wajahnya merah padam. Perkataannya sungguh tidak masuk akal. Austin pasti menertawainya. Jelas-jelas tadi ia melihat adegan panas dalam video tersebut. Dan, sejak kapan Austin berdiri disana? Ainsley melangkah mundur ketika Austin berjalan mendekatinya.
"Kau tidak perlu menonton video haram itu. Aku bisa mengajarimu langsung," gumam Austin sudah mengunci tubuh Ainsley yang kini bersandar di meja dengan kedua tangannya.
"Aku pikir aku bisa mengajarimu melakukan pemanasan sebelum milik kita berdua menyatu, bagaimana?" tawar Austin dengan tatapan menggoda sambil membelai wajah halus Ainsley. Ia sungguh sudah tidak tahan lagi. Hasratnya untuk bercinta dengan gadis itu sangat kuat. Ainsley sendiri merasa seluruh badannya sudah panas dingin dan bibirnya kelu, membuatnya kesulitan bicara.
Karena tidak bicara sama sekali, Austin menganggap kalau gadis itu sudah memberinya lampu hijau.