
Julian mengusap wajahnya yang letih. Dia sama sekali tak mengira akan datangnya musibah lain yang hampir merenggut nyawa Serena lagi. Jika bukan laporan dari mata-matanya, mungkin Serena akan mengalami lebih banyak masalah akibat ulah para mafia yang menyamar menjadi preman itu.
Dan jika bukan gara-gara 'Raymond', Serena tak akan ikut terseret ke dalam urusan lelaki itu.
Julian mendesah panjang lalu menyandarkan punggungnya pada sofa yang tersedia di dalam ruang inap VVIP tempat Serena dirawat malam ini. Julian bersikeukeuh merawat Serena di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan semaksimal mungkin dan dikontrol oleh tenaga ahlinya.
Tok Tok
"Tuan, ini saya," Suara Gerald terdengar dari luar pintu ruangan.
Rupanya sang asisten telah kembali. Waktunya untuk melaporkan kembali urusan yang dilimpahkan oleh Julian pada Gerald.
"Masuk," Julian menyahuti dari dalam. Serena tak terusik sama sekali, sebab gadis itu tengah tertidur pulas akibat efek dari obat penenang yang diberikan oleh dokter.
Tak lupa Gerald memberi salam penghormatan sebelum menghadap pada si Boss muda. Di tangannya terdapat map coklat yang cukup tebal. Julian yakin itu semua berkas terkait kecelakaan serta data-data dari para mafia yang mengejar Serena.
Julian menerima lalu membaca secara teliti dan menyeluruh, tanpa ada yang boleh terlewatkan sedikitpun.
.
.
"Jadi benar, mereka mengincar Serena untuk ditangkap lalu dijadikan sandera, dengan maksud ingin memberi pelajaran pada 'Raymond' atau yang bernama asli 'Dion' itu?" Julian menarik garis besar dari inti permasalahan yang terjadi.
Gerald mengangguk mengiyakan, "Itu yang saya dapatkan menurut pengakuan dari ketiga anak buah mafia tersebut, Tuan muda."
Julian berpikir sejenak. Dia tak menyangka bila laki-laki bernama 'Raymond' itu ternyata orang yang berurusan dengan organisasi-organisasi gelap dan berbahaya layaknya mafia dan sebangsanya.
Ini sangat gawat, Serena tidak boleh lagi berurusan dengan Dion atau gadis itu akan semakin terlibat dan akan sulit menariknya pergi lagi bila sudah terlanjur menyelam terlalu dalam.
Sudah diputuskan, Julian akan membawa Serena kembali bersamanya, suka atau tidak suka. Ini semua demi keselamatan Serena. Berurusan dengan orang-orang kriminal seperti itu bukanlah sesuatu yang bagus dan bisa diandalkan. Meski Dion belum menunjukkan taringnya, Julian khawatir suatu saat nanti Dion akan memanfaatkan kepolosan kekasihnya dan menjerat Serena ke lubang yang sama.
Sebelum hal buruk menimpa Serena, Julian harus segera memutuskan semua terlibatan gadisnya dengan Dion.
"Bawa laki-laki bernama Dion ini ke hadapanku secepatnya. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah menimpa Serena," titah Julian pada Gerald.
Gerald membungkuk mengiyakan. Dia bersyukur nona mudanya selamat meski mendapatkan syok dan gejala trauma ringan, setidaknya nyawa kekasih dari tuannya masih dapat mereka tolong dan diberi perawatan secepatnya.
.
.
Julian mendesah lelah, lalu beranjak dari tempatnya duduk. Kaki panjangnya berjalan mendekati kasur tempat kekasihnya berbaring dengan selang infus yang menjuntai pada tiang di sisi yang satunya.
Jemari Julian mengusap wajah tirus Serena yang sudah lama tak dia lihat dan sentuh. Perasaan rindu bercampur aduk dengan perasaan takut dan juga cemas. Julian tidak tahu bagaimana reaksi Serena begitu gadisnya membuka mata nanti.
Apa Serena akan terkejut melihatnya?
Apa Serena akan menangis lalu mengusirnya pergi?
Apa Serena akan takut melihatnya?
Entah, Julian tak bisa menebak yang mana. Baginya, keselamatan Serena adalah prioritas utama. Julian tak akan membiarkan Serena lepas dari pengawasannya lagi untuk kesekian kalinya.
Julian takut kehilangan Serena..
Sedikit saja dia lengah, Julian benar-benar akan kehilangan Serena untuk selama-lamanya.
Bayangan buruk itu semakin menghantui pikiran dan batin Julian.
"Eungg.."
Jemari Serena yang terkulai, perlahan bergerak-gerak lemah. Julian yang sedari tadi menggenggam tangan Serena sontak menegakkan kepalanya.
"Tolong aku......tolong...." Rupanya Serena meracau di bawah alam sadarnya.
Air mata tiba-tiba mengalir melalui sudut kelopak mata Serena yang masih terpejam. Julian panik, dia bangkit berdiri lalu mengelus lembut dahi serta puncak kepala Serena guna menenangkan kekasihnya yang kemungkinan besar mengalami mimpi buruk.
"Tolong....jangan ikuti aku....jangan kerja aku....PERGI!!!!" Serena berteriak histeris lalu membuka matanya lebar-lebar.
"Sayang...Serena, tenang ya..ini aku, Julian. Kamu lihat aku baik-baik." Julian mengusap sisi wajah Serena dengan lembut, bermaksud menyadarkan kekasihnya dari gambaran buruk yang masih menghantui alam mimpi gadis itu.
Serena yang masih di bawah alam sadarnya belum bisa membedakan antara alam mimpi dan kenyataan. Suara Julian yang sayup-sayup dia dengar, sedikit demi sedikit menarik fokus Serena agar tertuju pada sumber suara tersebut berasal.
Serena mencoba memberanikan diri mengangkat wajahnya yang tertunduk, ada seseorang yang berdiri di dekatnya, tapi karena pandangan Serena masih sedikit blur, Serena harus memusatkan fokusnya supaya bisa melihat lebih jelas siapa gerangan yang berada di sisinya saat ini.
Awalnya Serena pikir itu Dion, tapi setelah dia amati secara seksama, orang itu memiliki rambut berwarna silver. Satu-satunya orang yang Serena kenal dengan warna rambut khas itu, tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya sendiri.
Refleks Serena menggumamkan nama sang kekasih yang amat sangat dia rindukan, "Julian..?" Serena berharap matanya tidak berhalusinasi saking besarnya perasaan rindu yang menumpuk dalam dad*a.
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Serena. Emosi Serena kembali labil, lantaran dia terlalu takut apa yang baru dilihatnya hanyalah sebuah khayalan semata.
"Hiks...Julian...." Serena menyembunyikan hidung serta kedua pipinya yang memerah akibat tangisnya yang deras. Akan sangat memalukan apa bila seseorang melihat dirinya menangis tersedu-sedu begini hanya karena merindukan orang yang telah dia tinggal.
Dalam benak Serena, dia menyakini bahwa Julian pasti tak akan bersedia melihat mukanya lagi setelah apa yang dia perbuat. Pergi tanpa pamit tanpa diskusi. Serena menyesali keputusannya untuk tidak melibatkan Julian dalam persoalan keluarganya, yang justru akan menyiksa batinnya sebesar ini.
Lari dari masalah, kabur tanpa sepengetahuan orang-orang, dan sekarang nyawanya hampir terenggut karena tindakan cerobohnya. Serena benar-benar bersyukur, Tuhan masih bersedia memberinya keselamatan setelah semua hal bodoh yang dia perbuat.
"Sayang..." Hati Julian mencelos melihat gadis yang masih sangat dia cintai menangis tersedu-sedu. Serena tidak pernah menangis separah ini sebelumnya, lihat saja muka Serena yang sepenuhnya memerah gara-gara menangis. Julian dapat merasakan pilu yang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata.
Apa bila suaranya tidak bisa terdengar oleh telinga Serena, maka Julian akan menyadarkan gadis itu menggunakan tubuhnya.
Julian membawa Serena ke dalam dekapannya. Memeluk erat gadis itu dan menyadarkan Serena bahwa apa yang dilihatnya bukan sebuah ilusi semata, tetapi nyata dan benar-benar ada.
"Sayang, berhentilah menangis. Kamu udah aman bersamaku. Nggak akan ada orang yang mengejar-ngejarmu lagi. Kamu udah aman, jangan takut.." Julian terus membisikkan kata-kata penenang sekaligus pendukung untuk emosional Serena.
Meski di awal setelah insiden terjadi Serena tidak menunjukkan kepanikannya secara terang-terangan, gadis itu pasti sangat ketakutan dan gemetar hebat. Julian tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Serena, andaikata Serena tidak cepat berlari menghindari kejaran para baj*ingan itu.
Julian akan membuat semua orang yang terlibat dalam masalah ini habis di tangannya. Berani sekali mereka membuat kekasih hatinya trauma seperti ini, dan Julian akan memulainya lebih dulu dari Dion.
Si bre*ngsek yang telah menyeret Serena ke dalam urusan lelaki itu.
Julian akan membuat Dion menebus dosanya. Apapun caranya. Sekalipun dengan melenyapkan laki-laki itu pun tak akan menjadi masalah.
Siapa saja yang berani macam-macam pada Serena, Julian pastikan mereka akan menanggung semua konsekuensinya bahkan dalam alam baka sekalipun.