
"F*uck! Di sini nggak jauh beda dinginnya sama di kotamu!!" Caesar mengeratkan mantelnya begitu hawa dingin menyapa permukaan kulitnya.
Dia dan rombongan baru saja mendarat di Itali, dan rencananya Caesar akan langsung menuju ke hotel tempat sepupunya berada saat ini.
"Habis hujan salju ya kemarin? Kita beruntung, seenggaknya transportasi udara masih berjalan normal. Kalau di tutup, kita nggak akan bisa sampai di sini," sahut Dion yang juga mengeratkan jaket yang membalut tubuh tingginya.
Kedua tuan muda itu bergegas turun menuju mobil jemputan yang sudah menunggu di lapangan.
"Langsung saja menuju hotel. Aku nggak tahan berlama-lama di cuaca dingin gini," Caesar memberitahu Oliver yang setia membuntuti si Boss ke mana-mana.
Walau tampang Caesar galak dan kuat begitu, sebenarnya Caesar tak seberapa kuat dengan cuaca dingin. Musim dingin merupakan musim terburuk bagi pria itu, karena di waktu-waktu itulah Caesar merasa dirinya paling lemah.
"Ternyata kau juga nggak kuat dingin ya? Serena juga sakit-sakitan waktu salju mulai turun," ujar Dion.
Caesar sih tak heran lagi. "Iya, gatau. Mungkin udah turunan kali. Aku juga jadi gampang meriang kalau cuaca terlalu dingin buatku," jelasnya singkat.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya bergerak menuju hotel bintang lima tempat Julian dan Serena menginap.
Di sepanjang perjalanan, Dion tak henti-hentinya memandangi takjub akan deretan bangunan nan khas dan ikonik yang memanjakan mata. Dion memang tidak tahu banyak soal sejarah-sejarah perabadan jaman dahulu yang masih dibudidayakan keasliannya di sana, namun itu tak mengurangi rasa penasaran Dion dan tak sabar ingin menjelajahi daerah sekitar.
Caesar bilang setelah mereka menemukan Serena dan Julian, mereka akan jalan-jalan bersama, tak peduli Julian mau atau tidak. Mungkin terdengar memaksa dan sangat mengganggu, tapi jujur saja, Dion jadi menantikan hal itu. Dia ingin merasakan liburan bersama keluarga besar setidaknya sekali seumur hidup. Walau kenyataannya, usia Dion, Caesar, Serena dan Julian tak berbeda jauh, tapi tak menutupi ikatan kekeluargaan di antara mereka yang mulai kental terasa.
.
.
"UHUK! A-apa kamu bilang? Kak Caesar ada di sini juga?!"
Serena nyaris menyemburkan jus jeruk dalam mulutnya setelah menerima laporan dari Oliver.
Ya, tanpa sepengetahuan sang atasan, Oliver membongkar rencana Caesar selama berada di Itali.
Serena memijit pelipisnya, tiba-tiba pening mendera kepalanya dan ini membuatnya jadi dilema.
"Apa kamu nggak bisa menahan kak Caesar? Aku masih pengen liburan berdua aja, nggak mau di ganggu siapa-siapa dulu~!" Ingin menangis saja rasanya. Padahal Serena dan Julian sudah menanti-nantikan momen indah ini, eh tapi ada saja yang berniat mengganggu ketenangan mereka.
Meskipun itu Caesar orangnya, tetap saja Serena tidak suka kalau waktu santainya diusik oleh orang lain bahkan tanpa sepengetahuan dan seizin darinya.
Padahal Serena sudah merencanakan hal besar dalam liburan kali ini, jangan sampai kehadiran Caesar dan Dion mengacaukan rencananya.
"Tolong jangan alihkan pengawasanmu dari mereka, dan tolong juga beritahu aku lebih awal ke mana tujuan kak Caesar dan Dion selama tinggal di sini. Sebisa mungkin aku mau menghindari mereka, nggak enak sama Julian kalau dia tahu kak Caesar mengikutiku sampai ke sini.."
Satu-satunya harapan sekaligus penolong Serena adalah Oliver. Peluang dirinya berjumpa dengan Caesar dan Dion bisa berkurang drastis apa bila Serena menghindari daerah atau titik di mana Caesar berada.
Meski harus mengorbankan Dion dan impian terpendam laki-laki itu, Serena akan melakukan apa saja, asalkan liburannya tetap berjalan mulus.
"Iya, makasi banyak...lain kali aku mentraktirmu makan," ucap Serena dengan sepenuh hati.
Bertepatan dengan itu, Julian baru kembali setelah mengambilkan sarapan yang telah disajikan secara gratis, khusus untuk kekasih cantiknya.
Buru-buru Serena memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan berterima kasih pada Julian karena bersedia mengantri untuk dirinya.
Kapan lagi Serena bisa mendapatkan sosok pasangan yang luar biasa berdedikasi seperti halnya Julian?
Bahkan di mata Serena, hanya Julian seorang yang benar-benar nyaris mendekati sempurna. Julian juga selalu berusaha mengalah dan bersabar ketika menghadapi dirinya, Serena benar-benar bersyukur memiliki kekasih sekeren Julian.
"Sehabis ini kamu mau santai di kamar atau jalan-jalan lagi?" Julian bertanya, karena dia dilanda rasa penasaran.
Serena tampak berpikir sejenak, "Heum.. Ke mana ya...ada museum vatikan...terus tempat belanja yang terkenal itu..sama Basilika Santo Petrus. Aku taunya tiga tempat itu dulu..."
Mumpung mereka lagi di luar negeri, tak ada salahnya menghamburkan uang untuk berbelanja beberapa barang. Serena masih mempunyai tabungan yang cukup, sisi hematnya meronta-ronta hebat begitu menginjakkan kaki di negara orang. Jiwa-jiwa sosialita Serena perlahan mulai bangkit setelah melihat-lihat banyak toko barang bandred yang berjualan di sekitar sana.
"Oke, kita ke sana aja habis sarapan. Kebetulan aku mau beli tas keluaran baru juga. Barangkali di sini barangnya ada," timpal Julian, yang justru kelihatan lebih bersemangat setelah Serena menyinggung soal belanja.
Yah, mungkin memanjakan diri di sini tak ada salahnya. Nanti begitu mereka pulang ke rumah, harus sering-sering berhemat lagi biar keuangan tetap stabil.
"Wow~ Besar banget!! Padahal ini bukan istana, tapi bisa semegah ini ya! Keren!" Mulut Serena maupun Julian sampai menganga melihat betapa besar dan megahnya bangunan yang berdiri kokoh di depan mereka.
"Ayo kita masuk! Sebelum antriannya panjang!" Julian menggandeng Serena untuk bergegas antri di pintu masuk.
Dari atas kubah mereka bisa melihat pemandangan kota yang menakjubkan, sementara di bawah bangunan terdapat makam puluhan Paus yang berasal dari abad ke-10.
Serena dan Julian juga tak ketinggalan mengunjungi museum yang dipenuhi dengan galeri yang menampilkan beragam karya yang dikumpulkan oleh para Paus. Tak hanya itu, di sana juga terdapat patung dan lukisan seniman terkenal sepanjang sejarah, yakni Leonardo Da Vinci.
Lelah berkeliling, Serena dan Julian makan siang di restoran yang letaknya tak jauh dari kawasan sana. Pengunjung di sekitar itu juga terlihat lebih ramai ketimbang kemarin.
Serena sungguh berharap, agar dirinya tidak berpapasan dengan Caesar secara tak sengaja. Julian belum mengetahui soal kedatangan Caesar menyusul mereka, kalau Julian tahu, Serena yakin kekasihnya itu pasti akan ngambek.
Atau mungkin parahnya lagi, Julian memilih berpindah tempat supaya tidak di ganggu oleh sepupu tercintanya Serena itu.
Yah, selama Serena mengetahui lokasi keberadaan Caesar, dia bisa membawa pergi Julian sejauh mungkin agar mereka tidak bertemu.