Mine

Mine
Keluargaku Satu-satunya



Serena memijit pangkal hidungnya, kepalanya mendadak pening setelah mendengarkan cerita dari kedua lelaki yang duduk bersamanya.


Mulai dari Julian yang tiba-tiba menyekap Dion sampai identitas asli orang yang telah berjasa menolong dirinya. Serena belum siap menerima kejutan demi kejutan yang dibawakan oleh Julian maupun Caesar. Serena tebak, Julian sengaja menyekap Dion karena ada sangkut pautnya dengan insiden pengejaran para preman waktu itu.


"Terus di mana Dion sekarang?" Serena harap Julian tidak berlebihan memberi Dion 'pelajaran'. Mau bagaimanapun juga, Dion sudah sangat baik kepadanya.


Julian mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak berani menatap lurus mata Serena yang memandanginya penuh peringatan. "Eum..dia hidup kok. Dia udah aku pindahin ke tempat yang lebih aman dan nyaman. Karena sekarang aku tau dia sedarah denganmu, aku akan memperlakukannya dengan baik," cicitnya pelan.


Serena memandang datar kekasihnya, seakan tak mempercayai begitu saja ucapan lelaki itu.


Caesar menghela nafas, di matanya Serena tampak begitu peduli pada Dion. "Kenapa kamu peduli banget sama dia? Semisal dia terbukti memiliki ikatan darah dengan kita, kita nggak bakal bisa membawa Dion masuk ke dalam keluarga kita. Semua orang pasti akan menentang dia." Caesar hanya ingin mengingatkan Serena.


Serena juga tahu akan hal itu. Tidak akan mudah bagi seorang anak 'h*aram' diterima dengan tangan terbuka apalagi menjadi bagian resmi dari anggota keluarga Reinhart. Tapi jika ada peluang, Serena ingin Dion menjadi keluarganya secara legal, atau setidaknya mendapat pengakuan bahwa dia adalah bagian dari keluarga juga.


"Kak Caesar..kalau kakak menjadi pemimpin yang baru, bisa nggak kakak buat peraturan baru? Ah, atau mungkin merombak peraturan lama yang udah terlalu kuno itu?" Jujur, Serena merasa peraturan yang berlaku di keluarga Reinhart sedikit tak masuk di akal dan terlalu ketat.


Caesar sendiri juga sepemikiran dengan Serena, namun hal itu tak akan mudah dilakukan sekalipun dirinya sudah menjabat sebagai Pemimpin yang baru. Bila semua orang tidak menyetujui keputusannya, maka itu tidak terhitung sah dan bisa-bisa dia justru dilengserkan dari jabatannya karena dianggap pemberontak.


Caesar tidak mengharapkan itu terjadi, kecuali ada suatu hal buruk yang sangat parah yang dia perbuat, maka dia bersedia mengundurkan diri dengan sukarela.


Lagipula Caesar berjuang keras meraih posisi tertinggi itu semata-mata untuk menyelamatkan hidup Serena dari keluarga Reinhart. Ya, semua Caesar lakukan untuk Serena dan keluarganya sendiri. Andaikata hukum tak berlaku di dunia ini, maka Caesar akan lebih leluasa menyingkirkan dan melenyapkan orang-orang yang menghalangi jalannya dengan lebih mudah.


Sayang sekali, Caesar tak bisa melakukan tindakan efisien itu sebab masih ada banyak hal yang harus dia urus daripada membusuk dalam penjara.


"Tapi aku tetap berencana memberitahukan paman James soal 'kejutan' ini. Aku pengen lihat gimana reaksinya nanti, pasti bakalan lucu," Caesar tersenyum menyeringai. Tampak sudah tidak sabar menguak rahasia ini di hadapan orang yang bersangkutan langsung.


Serena tahu Caesar itu licik, jadi dia sudah tidak heran lagi. Dan kini, Serena ingin bisa melihat keadaan Dion dengan mata kepalanya sendiri.


Ekspresi Serena terlihat sedikit murung, seperti tengah memikiran suatu hal yang berat. Julian merasa bersalah, dia yakin sekali kalau penyebab murungnya sang kekasih karena dirinya.


"Serena..jangan sedih dulu ya. Dion baik-baik aja sekarang. Kalau kamu mau menemuinya boleh kok, Asalkan tunggu waktu yang tepat dulu. Dion harus berbenah diri dulu," ujar Julian, diakhiri dengan senyuman tipis yang menenangkan.


Yah, Serena juga tahu kekasihnya itu tak mungkin berbuat buruk lebih dari yang ada pada Dion. Mungkin Serena harus bersabar lebih lama lagi agar bisa dipertemukan dengan Dion.


"Ya udah, kalau Dion udah baikan, bawa aku ke dia ya? Aku pengen ketemu sebentar sama dia.


Meski sedikit tak rela, Julian terpaksa mengangguk mengiyakan supaya Serena tidak merajuk lagi. Mereka bertiga melanjutkan makan malam di sana sambil berbagi informasi satu sama lain. Caesar sengaja tidak membicarakan perihal kaburnya Serena di tempat terbuka itu, sebab khawatir akan didengar oleh orang lain.


Toh Serena tampak segar dan ceria seperti biasa, itu sudah cukup menunjukkan perkembangan yang baik dan Caesar tak terlalu khawatir lagi.


...🐺...


...🐺...


"Sayang~"


Julian baru keluar dari kamar mandi, lalu disambut dengan panggilan manis dari Serena yang sedang memeluk bantal di atas ranjang.


Serena sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang serasi dengan yang dikenakan Julian sekarang. Dari luar mereka tampak seperti sepasang suami istri baru yang harmonis dan kompak. Dan Julian sama sekali tidak protes ataupun tidak menyukai kebiasaan barunya dengan Serena.


Serena bilang dia ingin memiliki barang kembaran dengan Julian, layaknya pasangan romantis pada umumnya. Julian yang tidak pernah kepikiran tentang itu hanya bisa mengabulkan permintaan Serena.


Toh mereka akan menikah, Julian harus mengetahui hal-hal apa saja yang disukai dan diinginkan oleh Serena. Sebab menurut ayahnya, Tuan Joseph, sebagai sepasang kekasih atau suami istri harus bisa menyesuaikan diri dengan pasangannya. Membagi kebiasaan, kegiatan dan hal yang disukai maupun tidak, satu sama lain.


Julian harus membiasakan diri membagi hidupnya dengan Serena, kalaupun terdeteksi ada ketidakcocokan di satu aspek, Julian harap dirinya dan Serena bisa mengatasinya dengan bijak.


Serena mengkode Julian agar datang mendekat padanya. Dengan patuh Julian berjalan menghampiri Serena lalu duduk di pinggir ranjang, dengan handuk yang menempel di pundak.


"Aih, gantengnya pacarku ini~ Sini, aku bantu ngeringin rambutmu~" Serena gemas melihat rambut Julian yang masih setengah basah. Pasti kekasihnya itu malas mengeringkan rambut menggunakan hair dryer sampai tuntas.


"Nggak usah, kamu istirahat aja. Katanya tadi capek?" Mulutnya sih melarang Serena, tapi nyatanya Julian membiarkan Serena melakukan apa yang gadis itu suka.


Serena tersenyum penuh arti, sementara kedua tangannya sibuk mengurus rambut Julian yang halus dan harum.


Mendengar itu, Julian tidak jadi melarang Serena lagi. Dia memilih menikmati usapan tangan Serena pada rambutnya. Sejak dulu tak pernah ada orang yang membantu Julian mengeringkan rambut seperti ini, jadi hal baru begini sedikit menyenangkan hatinya.


Julian yang penurut dan pasrah, membuat ide jahil muncul dalam benak Serena. Tangan Serena berhenti mengusap-usap rambut Julian lalu menjalar ke bagian depan tubuh kekasihnya.


Grep


"Ketangkep~! Kamu nggak bisa lari dariku sekarang! Heheheheh~"


Julian tertegun merasakan pelukan erat Serena dari arah belakang. Bahkan kedua kaki Serena mengunci perutnya secara rapat. Serena jadi mirip seperti koala sekarang.


"Kamu pikir kamu bisa nangkep aku dengan mudah?" Julian menyeringai licik. Lalu tiba-tiba merebahkan tubuhnya secara menyamping agar Serena tidak ketindihan.


"Sini kamu, rasain pembalasanku!" Jemari Julian menggelitik telapak kaki Serena yang melingkar di perutnya.


Serena tertawa kegelian, spontan kedua kakinya berusaha melepaskan diri dari gelitikan tangan Julian. Sedikit susah karena Julian menindih salah satu kakinya, yang menyebabkan perut Serena kram akibat terlalu banyak tertawa.


"Haduh, perutku sakit! Udah, berhenti Julian! Aku capek ketawa nih!" Tangan Serena memukul pelan punggung Julian supaya kekasihnya yang tinggi itu melepaskan cengkramannya.


Julian tersenyum gemas lalu menyingkirkan diri dari Serena. Gara-gara gelitikan Julian, Serena jadi lemas tak berdaya akibat kelelahan tertawa.


"Maaf bikin perutmu sakit. Sini, aku pijitin kamu." Layaknya seorang suami yang berdedikasi, Julian menawarkan diri memberikan pijatan gratis untuk Serena.


Tok tok tok


"Serena!! Kamu ada di dalam 'kan?! Ayo, keluar kita minum teh bareng!"


Suara Caesar terdengar lantang dari depan pintu kamar Julian dan Serena.


Beberapa detik Caesar menanti respon dari kedua orang di dalam sana, tapi tak kunjung ada sahutan sama sekali. Caesar yang curiga menempelkan telinganya pada daun pintu, namun hening tak terdengar apapun.


Ceklek


Pintu tiba-tiba terbuka dari dalam, Caesar langsung menjauhkan dirinya dari pintu.


Senyum Caesar langsung sirna begitu yang muncul adalah Julian, bukan Serena yang sedang dia cari.


"Kenapa mengganggu Serena malam-malam gini sih? Kami mau istirahat tau!" Raut muka Julian terlihat kesal, lantaran waktunya terusik oleh kedatangan Caesar.


"Oi, oi. Berani bener anak ini. Yang aku cari itu Serena, bukan kau! Mana dia?! Berikan Serena sekarang juga, atau aku bakal bawa pergi bersamaku!" Ancaman Caesar terdengar tidak main-main. Walau tidak rela, Julian terpaksa mengizinkan Caesar memonopoli kekasihnya untuk sementara waktu.


"Serena!" Caesar melenggang masuk ke dalam kamar pasangan calon suami istri itu, dan mendapati Serena berbaring menyamping sambil memainkan ponsel.


Melihat kedatangan Caesar, Serena bergegas bangun dari posisi rebahannya. "Kakak~ Ada apa datang ke sini?" Kedua tangannya direntangkan ke atas, mengkode Caesar untuk membantunya bangkit berdiri.


Caesar terkekeh gemas, Serena dan kebiasaannya yang manja. Dulu, sewaktu Serena menginap di rumahnya juga Caesar sering mengurus gadis itu dengan tangannya sendiri. Bagi Caesar, Serena sudah seperti adik bahkan anak perempuan untuknya.


Begitu turun dari ranjang, Serena memeluk erat Caesar yang berdiri di hadapannya. Dia sangat, sangat merindukan saudaranya itu. Selama masa pelariannya, Serena takut tidak bisa bertemu lagi dengan Caesar atau buruknya lagi hubungan mereka terputus gara-gara dirinya di keluarkan dari daftar keluarga.


"Aku senang kakak ada di sini..." Serena benar-benar merindukan Caesar, tak masalah bila dia tak mempunyai segalanya, asalkan Caesar masih menerimanya sebagai saudara itu sudah lebih dari cukup.


Caesar dibuat tertegun sesaat, namun kemudian dia membalas pelukan Serena tak kalah eratnya. "Maaf...maaf kakak terlambat menolongmu. Maaf, biarin kamu menghadapi hal buruk seorang diri. Maafin kakak..." Caesar benar-benar tulus meminta maaf pada Serena, meskipun itu sama sekali bukan kesalahannya.


Serena tiba-tiba merasa hatinya menemukan kelegaan. Air mata luruh begitu saja, seiring dengan mengeratnya pelukan mereka satu sama lain. Caesar adalah apa yang Serena butuhkan. Serena bersyukur kakaknya itu datang di saat dirinya membutuhkan pegangan untuk kembali bangkit dan memulai langkah barunya.


"Terserah kamu mau melakukan apa, mulai sekarang kakak yang akan bertanggung jawab atas hidupmu. Lupakan keluarga busukmu itu, mereka tak pantas disebut keluarga lagi untukmu. Serena, kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, yang kamu inginkan, kakak akan berusaha mewujudkannya menjadi kenyataan. Kamu boleh bergantung pada kakak. Kakak nggak akan ninggalin kamu sendiri lagi," Caesar sampai ikut meneteskan air mata, karena dia dapat merasakan kepedihan serta kesengsaraan dalam tubuh gemetar Serena.


Julian yang menyaksikan kekasihnya tumpah dalam tangisan air mata hanya bia mengepalkan kedua tangannya. Rupanya perasaan Serena belum sepenuhnya membaik.


Setelah ini Julian berencana akan membicarakan masalah Serena untuk ke depannya nanti bersama dengan Caesar. Julian tidak berani membiarkan orang tua serta Jasmine mendekati Serena lagi karena takut akan membuat mental Serena kembali memburuk.


'Kamu aman bersama denganku, aku janji. Karena itu, biarkan ini menjadi kesempatan terakhirmu untuk menangisi mereka.'