Mine

Mine
Hari Kelulusan



"UWAAAA~ RASANYA KAYAK MIMPI AJA AKHIRNYA KITA LULUS!!!!"


Helena berteriak sukacita setelah upacara kelulusan telah berakhir. Ya, hari ini adalah hari kelulusan Serena dan yang lainnya, termasuk juga Julian. Ini adalah babak baru yang akan mereka tempuh setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan.


"Uwaaa~ Setelah ini kita bakal sulit bertemu karena pekerjaan masing-masing!!! Aku nggak mau berpisah jauh-jauh darimu, Serenaaaa!!" Dan ini adalah momen yang paling membuat Helena depresi.


Setelah ini mereka akan sibuk mencari pekerjaan sesuai bidang yang diinginkan, lalu mulai membiasakan diri dengan pekerjaan baru yang otomatis akan memakan waktu yang cukup lama untuk mereka bisa mengatur jadwal pertemuan satu sama lain.


Helena sangat sedih tetapi juga antusias memulai karirnya secara mandiri. Meski orang tuanya mempunyai perusahaan sendiri, Helena tidak ingin mengandalkan bantuan orang tuanya untuk mencari pekerjaan dengan cara instan.


"Mau gimana lagi? Kita harus menahan diri untuk sementara waktu. Tapi aku nggak terlalu sedih, karena aku juga menantikan kesuksesan Helena di masa depan!" Serena ingin menyemangati Helena apapun kondisinya.


Meski jarak dan waktu akan memisahkan mereka, itu bukan menjadi halangan untuk tetap menjalin hubungan yang baik. Apalagi Helena adalah sahabat yang Serena punya sejak jaman sekolah, jadi Serena yakin kalau ikatan persahabatan mereka sudah mendarah daging. Helena bukan hanya sebatas seorang sahabat di hati Serena, tetapi lebih dari itu. Bahkan lebih berharga dibandingkan keluarga.


"Jangan khawatir, kalau Helena butuh sesuatu, aku akan bergegas pergi mendatangimu. Mau sesibuk apapun aku, Helena juga masuk dalam prioritasku. Jadi jangan terlalu bersedih!" Ini bukan sekedar penghiburan semata, tetapi kesungguhan yang berasal dari lubuk hati Serena yang terdalam.


Bahkan sebelum mereka lulus pun Helena sudah cukup disibukkan dengan magang dan lain sebagainya, alhasil mereka jadi jarang sekali bertemu. Itu juga Serena yang lebih dulu berinisiatif menemui Helena di kediaman Alfrod sekedar mengecek kondisi sahabat baiknya itu.


Jika tidak begitu, mungkin mereka tidak akan bisa bertemu sekedar saling bertatap muka sampai hari kelulusan ini.


Akan tetapi Serena sama sekali tak pernah mengeluh ataupun melayangkan protes terhadap Helena, sebab Serena tahu sahabatnya tengah berjuang dengan keras untuk mewujudkan cita-citanya.


Kini semua kerja keras mereka terbayarkan lunas dengan nilai yang sangat memuaskan. Suatu kebanggaan terbesar dapat lulus dengan nilai bagus dari jerih payah sendiri.


Meski semua kesibukkan itu juga memakan sebagian besar waktu bermesraan Serena dan Julian yang masih hangat-hangatnya sebagai pengantin baru, tapi demi masa depan yang lebih cerah, mau tak mau keduanya harus mengorbankan waktu berharga mereka untuk sesuatu yang lebih penting.


Pendidikan adalah nomor satu di atas segalanya. Maka dari itu, Julian dan Serena rela mengesampingkan kesenangan duniawi lainnya demi mengejar toga kelulusan lebih cepat.


Kini setelah berjuang melalui medan yang lumayan sulit, Julian dan Serena sedikit bisa bernafas lega.


"Nggak usah lebay! Bukannya kamu udah dapat rekomendasi dari kenalan ayahmu? Tinggal kirimin aja berkasmu, terus tunggu jawaban dari mereka, 'kan beres?" Leonard mengusak rambut Helena dari arah belakang.


Plak


Tanpa belas kasih, Helena menampar telapak tangan Leonard yang telah memberantakkan tatanan rambutnya yang semula rapi.


"Sayang~! Gimana hasilnya? Sesuai ekspektasi 'kan?" Julian muncul dari arah belakang Leonard.


Ketampanan lelaki itu makin berlipat kali ganda ketika mengenakan topi toga di kepala.


Wah~ Tak terasa mereka sudah lulus hari ini. Rasanya seperti baru kemarin Serena mengobrol berdua dengan Julian di dekat danau kecil yang kini menjadi spot terkenal di area kampus mereka.


Takdir itu memang tak bisa ditebak jalannya.


"Iya, sesuai ekspektasi. Apapun hasilnya, aku senang asalkan bisa lulus dengan nilai yang cukup." Serena tak pernah memaksa dirinya untuk mendapatkan nilai yang sempurna di atas lainnya, asalkan dirinya memahami setiap materi dan dapat lulus dengan nilai yang cukup bagus, itu sebuah pencapaian yang indah.


"Selamat ya. Kamu meraih gelar Cum Laude. Aku sangat bangga sekali padamu!" Serena memeluk erat suaminya yang baru saja mendapatkan gelar Cum Laude atau lulusan terbaik tahun ini.


Tuan Joseph serta Elliot bersorak gembira saking bahagianya mereka. Julian memang diberkati dengan otak yang encer meski Serena jarang sekali mendapati suaminya belajar sendiri.


Julian balas pelukan istri mungilnya tak kalah erat. "Kamu juga. Kamu udah berusaha keras dan akhirnya berhasil mendapat nilai yang hampir sempurna. Istriku memang hebat!" Tak lupa Julian memberikan satu kecup@an singkat di bibir kemerahan Serena.


"Nah, untuk acara prom nanti malam, aku harap kalian datang tepat waktu!" Yuki, salah satu teman sekelas Serena datang menghampiri sekedar ingin mengucapkan selamat pada semua yang ada di sana.


"Dandanlah yang cantik, aku yakin kau dan Julian bakal dipilih sebagai King&Queen Prom Night tahun ini!" imbuh Yuki, sebelum dia pergi ke tempat lain.


Ini adalah pesta terakhir mereka sebagai mahasiswa sebelum menjadi alumni. Jika bukan ide dari salah satu mahasiswa dari jurusan Ekonomi, mungkin tidak ada yang berinisiatif mengadakan pesta bersama-sama seperti itu.


Jujur, Julian sangat menantikan prom itu, karena itu akan menjadi prom pertama dan terakhirnya bersama Serena sebagai mahasiswa. Julian ingin menggandeng Serena dan menunjukkan pada semua orang bahwa wanita yang berjalan di sisinya adalah wanita yang luar biasa hebat. Terutama Julian ingin menunjukkan perkembangan Serena di depan mata orang-orang yang dulu selalu meremehkan dan memandang Serena sebelah mata.


"Aku yakin kamu yang tercantik di pesta nanti," bisik Julian sambil merangkul erat pinggang istrinya.


Kemesraan sepasang suami istri itu tak luput dari pandangan Jasmine serta Jevano.


"Syukurlah hubungan mereka selalu harmonis. Serena kelihatan jauh lebih bahagia ketimbang dulu," celetuk Jevano, dengan senyum tulus terukir di bibirnya.


Lelaki itu sedang menemani Jasmine yang kelihatan duduk seorang diri saja di lobi gedung. Karena kasihan, Jevano akhirnya menghampiri dan mengajak Jasmine berfoto bersama untuk mengenang momen kelulusan mereka.


Jasmine bahkan tak berani menghampiri saudara kembarnya yang tampak tertawa bahagia bersama teman-teman terdekat wanita itu. Jasmine tahu diri untuk tidak merusak suasana ceria di antara Serena dan kawan-kawannya.


"Yah. Dia jauh lebih bahagia, aku senang melihatnya," timpal Jasmine kemudian.


Jevano tersenyum bangga lalu mengusak puncak kepala Jasmine. Perempuan itu sudah banyak berubah sejak mereka putus beberapa bulan yang lalu. Jasmine bahkan menjauhi teman-temannya terdahulu sampai dikucilkan oleh yang lainnya karena tak mau bergabung meski diajak berulang kali.


"Aku senang kamu bisa memilih mana teman yang baik dan mana yang bisa menyesatkanmu. Aku harap kamu bisa mempertahankan dirimu yang seperti ini," ucap Jevano, dengan maksud memuji perkembangan dalam diri Jasmine.


Walaupun mereka tak lagi memiliki hubungan khusus, namun Jevano tetap memperlakukan Jasmine secara gentle meski intensitas mereka berinteraksi sudah tak sesering dulu.


Jasmine senang dan harus berpuas hati hanya dengan begini. Kalau boleh berkata jujur, rasa cinta dalam hatinya masih ada untuk Jevano. Jasmine tak ingin berharap banyak, dengan Jevano bersedia menemaninya sesekali seperti sekarang itu sudah lebih dari cukup baginya. Momen sedikit apapun sungguh terasa berharga bagi Jasmine.


'Aku senang melihatmu bisa tersenyum lebar lagi. Meski orang yang akan berada di sisimu bukanlah aku, aku tetap akan mendukung apapun pilihanmu, Jevi...I love you, i really do...thank you for everything.'