
Kabar itu disampaikan secara langsung oleh Leonard yang membela-belakan diri datang secara langsung ke kediaman Collin, khusus untuk memamerkan hubungan spesialnya dengan Helena.
Seluruh anggota keluarga Collin: di mana ada Elliot, Tuan Joseph, Julian dan juga Serena, sontak memberikan ucapan selamat dan doa terbaik mereka untuk pasangan baru tersebut.
Leonard tampak begitu bahagia sampai tidak berhenti menunjukkan tawa girangnya. Tangannya juga tak pernah melepaskan pegangannya dari tangan mungil Helena yang dia genggam.
Leonard yang bahagia seperti itu, merupakan momen paling langka yang dapat Helena saksikan secara empat mata.
"Makasi..karena udah beri dia kesempatan." Ini adalah ucapan terima kasih dari Julian yang begitu tiba-tiba sekali.
Lalu Julian menambahkan, "Aku tau dia nggak akan maksain perasaannya, karena aku yang menasehatinya biar nggak terlalu berharap banyak. Gimanapun dia tetep sahabatku, jadi sulit buatku kalau lihat dia sedih. Tapi ternyata, kamu mau menerima dia, terlepas dari kebiasaan buruknya itu. Makasi banyak, Helen."
Usakan pada puncak kepala Julian berikan pada Helena. Dia sangat mengapresiasi keputusan Helena. Akan sulit bagi Julian berpihak pada satu pihak, andaikata Helena menolak cinta Leonard, apalagi kedua orang itu sama-sama sahabat baik yang Julian punya.
Tapi baiknya, Helena ternyata mau menerima cinta Leonard dan membuat Julian lega dan turut senang.
Dengan begini Julian bisa mendukung keduanya secara bersama-sama. Perjalanan mereka berempat masih panjang, itupun jika Tuhan memberikan mereka umur yang panjang juga, jadi Julian ingin mereka berempat bisa bersama-sama belajar dan melalui segala proses kehidupan secara rukun.
Apalagi kelihatannya Leonard benar-benar serius jauh dari perkiraan Julian. Bukan hal yang tak mungkin bila sepasang kekasih baru itu akan berakhir di altar pernikahan menyusul dirinya dan Serena.
Yah, Julian hanya bisa mendoakan yang terbaik saja. Kalau soal lainnya, itu biar menjadi urusan Leonard dan Helena sendiri.
Dan yang lebih berbahagia dari yang lainnya tentu saja adalah Serena. Calon ibu muda itu bahkan menangis akibat terlalu terbawa emosi.
Serena senang, tentu saja. Sahabat mana yang tidak ikut berbahagia atas keberhasilan sahabatnya?
Meski Serena tak menunjukkannya secara terang-terangan pada Helena, tapi dalam hatinya menyimpan kekhawatiran yang besar. Namun begitu melihat reaksi Leonard yang jauh lebih antusias ketimbang dirinya, di situ Serena sedikit lega karena tampaknya Leonard benar-benar mencintai sahabatnya dengan tulus.
"Tolong, jaga sahabatku baik-baik ya, Leo.." Hanya ini permintaan Serena.
"Walau kelihatan tegar dan kuat, tapi Helena sama kayak manusia normal lainnya yang punya sisi lemah juga. Dan yang terpenting, jangan sampai ada miskomunikasi di antara kalian, kalau ada sesuatu yang terjadi, tolong segera beritahu Helena, karena dia tipe pemikir juga. Aku pengen sahabatku bahagia, dan ngerasain indahnya jatuh cinta..jadi aku akan mengandalkanmu, oke?"
Dulu, hanya dengan melihat Serena bisa membuat hatinya berdebar kecil. Tapi kini sudah tidak lagi. Itu artinya dia sudah berhasil move on dari Serena bukan?
Leonard bersyukur sekali. Jika bukan karena Serena, Leonard tak akan pernah tahu rasanya menyukai seseorang dengan sungguh-sungguh. Patah hati yang sempat Leonard rasakan dulu yang membuatnya bertobat.
"Aku akan melakukan yang terbaik, yang aku bisa. Kamu dan Julian mau 'kan membantuku?"
Dengan percaya dirinya, Serena mengangguk mengiyakan, "Tentu! Apapun, buat Helena! Dia bukan sekedar sahabatku, tapi juga saudariku. Aku akan menendang bokongmu kalau sampai nyakitin dia. Oke?!"
"Kamu juga. Sehat-sehat terus sama baby-nya. Itu calon keponakanku, jadi jangan sungkan hubungi aku atau Helena kalau butuh sesuatu."
Serena mengangguk mengerti. Malam itu, akhirnya Helena dan Leonard menghabiskan malam di kediaman Collin. Serena merengek tak ingin ditinggal oleh Helena, alhasil gadis itu terpaksa menginap semalam di sana.
Mau tak mau Julian harus mengalah dan membiarkan Serena tidur bersama Helena di kamar tamu. Mungkin Serena rindu berkumpul dengan sahabatnya, jadi kunjungan Helena yang tiba-tiba dan tak terduga, justru membawa angin segar bagi bumil cantik itu.
Namun ada sisi baiknya juga bagi Julian, dia bisa mengobrol panjang lebar dengan Leonard secara leluasa, menggantikan waktu berharga mereka yang terbuang akibat disibukkan oleh pekerjaan.
Berhubung ada tuan Joseph serta Elliot juga di rumah, alhasil mereka berempat menghabiskan malam sambil bertukar cerita dengan ditemani oleh wine kualitas tinggi kesukaan tuan Joseph.
Mumpung besok hari Sabtu, kerjaan juga tak sesibuk biasanya, jadi keempatnya bisa sedikit bersantai sampai tengah malam.
...🌱...
...🌱...
Hari demi hari berjalan dengan lancar, tanpa ada kendala berarti baik bagi Serena dan Julian.
Seiring berjalannya waktu, perut Serena sudah mulai membesar namun yang membuat orang-orang takjub adalah berat badan Serena yang tak berubah terlalu banyak. Tubuh Serena masih kelihatan langsing, meski agak sedikit berisi di beberapa bagian. Padahal nafsu makan Serena sudah mulai meningkat, ditambah dengan permintaan ngidam Serena yang kadang ada yang suka aneh-aneh.
Tuan Joseph dan Tuan Philip berlomba-lomba menjadi ayah siaga bagi Serena. Kapanpun Serena menginginkan sesuatu, kedua pria paruh baya itu akan langsung meluncur membelikan apa yang Serena mau sampai dapat.
Sementara itu, Nyonya Esther juga tak kalah antusiasnya menantikan kelahiran sang cucu pertama. Beberapa minggu terakhir, beliau sering datang berkunjung ke kediaman Collin hanya untuk mengecek kondisi Serena.
Apalagi cuaca yang sedang tidak menentu, kadang hujan kadang panas terik. Bikin hawa sekitar jadi berubah-ubah dan kadang suhunya jadi terasa ekstrim.
Demi menunjang kebugaran tubuh si bumil cantik, Julian sampai membangunkan sebuah tempat gym mini, khusus untuk Serena, supaya istri cantiknya itu tidak perlu repot keluar rumah untuk sekedar jogging.
Sebagai calon orang tua muda, banyak hal baru yang harus diketahui Julian dan Serena. Keduanya secara rutin mengikuti kelas parenting agar kelak dapat mengurus dan membesarkan buah hati mereka secara mandiri, kalau bisa tanpa bantuan baby sitter selama 24 jam.
Nyonya Esther masih menyarankan untuk menggunakan jasa baby sitter sih, tapi hanya untuk gantian berjaga-jaga di saat Serena maupun Julian sedang beristirahat saja. Katanya biar anaknya nanti lebih dekat dengan orang tuanya sendiri ketimbang pengasuh.
Terlepas dari itu, hal yang paling menyenangkan bagi pasutri muda itu adalah ketika waktunya berbelanja kebutuhan bayi. Kaos kaki, baju, bawahan, dalaman, bak mandi dan lain sebagainya terlihat sangat imut dan menggemaskan di mata Julian dan Serena.
Tak pernah terbayangkan dalam benak Julian dan Serena, bahwa telah tiba waktunya mereka bertanggung jawab atas nyawa baru hasil buah cinta mereka. Mungkin sebagian orang lebih banyak meremehkan mereka hanya karena usia yang masih terbilang muda, namun Julian dan Serena yakin, bahwa mereka sanggup dan siap membesarkan buah hati mereka dengan segenap hati.
Apalagi untuk Serena, kehadiran calon buah hatinya merupakan anugerah terbesar dan terindah yang pernah dia dapatkan seumur hidup. Membangun keluarga kecilnya sendiri, melakukan banyak hal baru sebagai orang tua maupun istri. Serena menjalani kehidupan barunya dengan hati penuh sukacita.