
"Jadi? Kau lebih suka menyembunyikan perasaanmu dari Helena?"
Ekor mata Julian melirik ke arah Leonard yang duduk di sisi kirinya. Kini kedua lelaki itu sedang menikmati wine di meja bar yang tersedia di dapur kediaman Collin.
Helena tengah sibuk berceloteh panjang lebar bersama Serena, jadi kedua lelaki itu memilih undur diri daripada dijadikan obat nyamuk.
"Apa sih yang kau maksud?" Leonard masih menepis perasaan yang dia miliki untuk Helena.
Meski tak menunjukkannya secara gamblang, tetapi Julian bisa melihat bahwa ada percikan cinta dalam lubuk hati sahabatnya itu. Hanya saja orang yang bersangkutan tak kunjung menyadari hatinya sendiri.
Atau jangan-jangan...Leonard sengaja menyembunyikan perasaannya karena suatu alasan?
Itu bisa saja terjadi sih. Maka dari itu Julian ingin membantu jalannya hubungan kedua teman baiknya.
"Kau tau, aku memulainya dengan perasaan ragu, tapi kalau aku nggak bergerak nekat, aku bisa aja kehilangan kesempatan yang ada dan Serena akan menjadi milik orang lain.." Julian menghabiskan wine dalam gelasnya dalam sekali teguk.
"Tapi nggak ada salahnya mencoba, jadi aku berjuang sekuat tenaga menciptakan suasana yang tepat buat mengetahui perasaan Serena kepadaku. Dan aku cukup beruntung, ternyata perasaan kami sama jadi semua berjalan sesuai yang diharapkan." Julian terkekeh kecil mengingat usahanya mendekati Serena.
"Intinya, aku nggak mau kau menyesal di kemudian hari. Mungkin kalian belum menyadarinya sekarang tapi di mata orang lain, kalian memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan melalui sorot mata kalian.."
"...aku harap kau juga segera menemukan kebahagiaanmu, Leo. Aku nggak mau lihat sahabat sehidup sematiku ini jadi perjaka tua yang galak," kekeh Julian, meledek Leonard yang termenung memikirkan nasehat Julian.
Gurauan yang garing tapi cukup mencairkan suasana serius yang sedikit menyelimuti keduanya. Leonard selalu mendengarkan secara seksama apapun yang Julian katakan, khususnya obrolan kali ini jadi sedikit membuka hati Leonard yang terkunci rapat.
'Apa udah waktunya?' Leonard sendiri bingung dengan apa yang hatinya inginkan. Terkadang dirinya ingin menjadi lebih dekat dengan Helena, tetapi lain waktu, dia tak sanggup menyamai sikap energik Helena yang membuatnya lelah hanya dengan melihat.
Ya, sifat introvert Leonard benar-benar membatasi ruang geraknya.
"Menurutmu....kalau kami bersama, kami bisa menjadi sama dengan kalian?" Hal ini yang membuat Leonard merasa sedikit terbebani. Dia tahu kalau Helena menginginkan kehidupan asmara yang indah dan penuh warna, setidaknya yang kelihatan di luar, seperti hubungan Julian dan Serena yang selalu terlihat romantis dan saling setia satu sama lain.
Leonard meragukan dirinya sendiri. Dia tidak yakin bisa menjadi seperti Julian, menjadi sosok kekasih yang sempurna dan ideal.
"Hei..cukup menjadi dirimu sendiri dan percaya diri. Ini bukan seperti kali pertamamu pacaran 'kan? Helena mungkin kelihatan berbeda dari kebanyakan cewe, tapi dalamnya sama aja. Dia akan menjadi baik dan menerimamu apa adanya kalau kau menunjukkan dirimu yang sebenarnya dan terbuka sama dia.." Meski tak bisa membantu banyak, Julian akan mengerahkan semua yang dia bisa.
"Jangan takut. Kau keren, itu aja udah cukup menarik minat Helena. Kau lupa? Dia 'kan lemah sama yang ganteng dan keren." Julian menarik sudut bibirnya ke atas, menggoda Leo merupakan suatu kesenangan tersendiri bagi pria itu.
Lantas Leonard tertawa renyah. Bisa saja memang Julian kalau mau menyemangatinya. Namun berkat guyonan Julian, rasa khawatir dan gelisah yang semula mengendap dalam dasar hati Leonard perlahan mulai terangkat.
"Benar juga. Dia 'kan lemah sama orang ganteng. Nggak ada salahnya mencoba. Menurutmu, aku harus bawa dia liburan berdua aja, nggak?"
Julian berpikir sembari menyesap cairan merah pekat dalam isi gelasnya. "Ide bagus. Kurasa dia juga butuh healing. Sayang banget aku nggak bisa buntuti kalian karena Serena belum diperbolehkan pergi jauh-jauh." Julian menyeringai penuh makna.
"Nggak usah mikir macam-macam. Belum tau rasanya dicakar sama kucing garong ya? Kalau dia tau kalian berdua ikut, bisa-bisa dia malah nempel terus ke Serena. Baiknya nggak usah ikut deh kalian," cibir Leo kemudian.
"Kudoakan semua rencanamu berjalan lancar dan sukses. Pokoknya apapun yang terjadi, jangan dilepasin dengan mudah. Mungkin dia masih butuh waktu buat sembuhin patah hatinya, tapi nggak ada salahnya mencoba dan membuktikan ke dia kalau kau beneran serius," ucap Julian, sebagai nasehat untuk Leonard.
...🦁...
...🦁...
"Rasanya masih nggak percaya aja, sekarang Serena mau jadi ibu...kamu lihat perutnya tadi 'kan?? Udah kelihatan buncit dan berisi!"
Helena tak berhenti mengoceh sejak dia dan Leonard berpamitan pulang dari kediaman Collin. Perasaan haru, bahagia, antusias bercampur jadi satu sampai Helena tak bisa menahan diri untuk mengungkapkan ketakjubannya.
Gadis lugu yang dulu ke mana-mana selalu membuntutinya kini sudah menikah bahkan akan menjadi seorang ibu sungguhan. Waktu terasa cepat sekali berlalu, namun tak ada yang jauh berbeda dari kehidupan Helena yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya.
"Gimana sih rasanya menikah itu? Serena kelihatan jauh lebih bahagia dan berisi, aku yakin Julian memperlakukannya seperti Tuan putri.." Tanpa sadar mulut Helena bergumam lumayan keras sampai telinga Leonard dapat mendengarnya.
Gadis itu tengah bersandar pada kursi penumpang dan pintu mobil seraya menatap ke luar jendela dengan pandangan menerawang entah ke mana. Sepertinya ada banyak hal yang sedang Helena pikirkan.
"Julian pasti merawat Serena dengan baik. Itu 'kan udah jadi tugasnya sebagai seorang suami," timpal Leo.
Mengingat buruknya lingkungan di keluarga Reinhart dulu, Helena masih menyimpan kekhawatirannya tersendiri mengenai 'keluarga'. Meski keluarganya sendiri tak seperti keluarga Serena yang kejam, namun Helena tahu benar seberapa nelangsanya Serena dulu.
"Pokoknya kalau Julian macam-macam sama Serena, akan kupotong 'itu'nya sekalian, biar nggak tuman!" ujar Helena, sambil mengepalkan tangannya erat-erat.
Leonard jadi merinding sendiri mendengar ancaman Helena. Ngomong-ngomong soal Helena, Leonard masih bingung kapan waktu yang tepat mengajak gadis itu pergi bersamanya.
"Hei, Leo. Di kantorku ada acara minum bersama nih. Kamu mau ikut nggak, temenin aku?" ajak Helena tiba-tiba.
Seketika ekspresi Leo berubah datar. Dia tak suka berkumpul bersama orang-orang asing, apalagi yang didominasi oleh para orang tua.
"Bukannya orang luar nggak boleh ikut ya? Itu 'kan acara kantormu, nggak enak kalau aku tiba-tiba nongol terus gabung gitu aja."
Helena juga berpikir gitu sih. Hanya saja..
"Buat jaga-jaga aja...soalnya ada orang yang bikin aku nggak nyaman di sana. Kalau aku ikut, aku pasti nggak punya temen kecuali orang itu..aku nggak mau deket-deket sama dia!" Helena menjambak rambutnya bak orang frustasi.
Dahi Leonard reflek mengerut. 'Siapa? Kenapa Helena baru cerita sekarang?'
"Yah...kamu bisa kasih tau tempatnya ke aku. Aku masih bisa datang sebagai tamu biasa 'kan nanti?" Daripada kepikiran, mending ikut saja deh.
Sekejap rasa khawatir dalam hati Helena terangkat begitu mudah. Ekspresinya kelihatan cerah dan juga lega bersamaan. "Syukur deh! Makasi banyak ya, Leo~ tolong awasi aku dari jauh ya? Kalau ada kamu 'kan, hatiku jauh lebih tenang!"