
Hubungan Austin dan Ainsley makin hari semakin lengket. Bahkan para karyawan di kantor Austin heran melihat bos mereka yang setiap terlihat begitu bersemangat dan kadang akan menebarkan senyum manisnya. Bukannya tidak suka, hanya saja mereka belum terbiasa.
Siapa juga yang akan mengira kalau lelaki angkuh, kejam dan minim senyum seperti Austin akan berubah begitu. Bukan berubah drastis, tapi walau hanya sesekali pria itu tersenyum, tetap saja itu sesuatu hal yang aneh. Banyak yang bergosip kalau bos mereka berubah karena pengaruh istrinya. Austin memang jauh lebih manusiawi setelah menikah dengan Ainsley. Narrel sendiri mengakui.
"Jadi, kau bahagia dengan kehidupan pernikahanmu? Ah, aku salah bertanya. Kau memang terlihat sangat bahagia. Ceritakan saja bagaimana pengalaman pernikahanmu selama ini." pungkas Narrel. Mereka sedang berada di sebuah restoran, menikmati makan siang.
Austin kembali mengingat hal-hal apa saja yang telah ia lewati bersama Ainsley akhir-akhir ini. Kadang ia senyum ketika mengingat kejadian-kejadian lucu.
"Kami sangat menikmati pernikahan. Akhir-akhir ini kami makin dekat. Ainsley sudah bisa lebih terbuka padaku. Aku juga." gumam Austin lalu menelan sisa makanan didalam mulutnya.
"Bagaimana dengan urusan ranjang? Apa dia hebat diatas ranjang?" tanya Narrel tanpa rasa malu. Austin sendiri hampir terbatuk-batuk akibat pertanyaan itu. Dia tidak tahu kenapa bisa bertemu seorang sahabat yang otaknya selalu dipenuhi dengan otak mesum. Austin akui dia dan Narrel tidak jauh berbeda, suka memikirkan hal-hal yang bisa membangkitkan gairah laki-laki mereka. Bedanya adalah, Austin memikirkan kegiatan itu ia lakukan dengan Ainsley, sedang Narrel, dalam pikirannya dia melakukannya dengan wanita-wanita yang berbeda. Benar-benar playboy. Austin tidak mengerti apa enaknya berhubungan dengan banyak wanita sekaligus. Untuk saja laki-laki itu belum menikah. Kalau seandainya Narrel sudah beristri, Austin tidak tahu apa jadinya nanti kehidupan rumah tangga pria itu.
"Masalah ranjang, istriku tidak pernah membuatku kecewa." jawab Austin dengan bangga. Ainsley memang sangat hot diatas ranjang, Austin tidak menyangkalnya. Mengingat itu, sungguh membuat Austin bahagia. Ainsley adalah miliknya seorang, hanya miliknya. Seumur hidup. Ia tak akan pernah membiarkan orang lain merebut istri tercintanya.
Narrel tertawa. Mata Austin menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa pria itu telah tergila-gila pada istrinya. Sesaat, Narrel berpikir. Apakah benar menjalin hubungan serius dan terikat seperti itu bisa menjamin mereka akan saling setia sampai tua? Lelaki itu sejujurnya masih ragu. Apalagi pernikahan Austin dan Ainsley masih seumur jagung. Tidak ada yang kehidupan mereka dimasa depan nanti. Bisa saja Austin akan bosan dengan Ainsley, begitu pula sebaliknya. Semuanya tidak pasti. Sampai sekarang Narrel masih tidak mempercayai sebuah ikatan. Namun ia berharap sahabatnya itu betul-betul telah menemukan cinta sejatinya
Dalam hati Narrel sendiri, ia juga ingin menemukan seseorang yang betul-betul dia cintai dengan sepenuh hati. Laki-laki itu menghela nafas. Entah dimana seseorang yang akan menjadi cinta sejatinya itu berada. Akhir-akhir ini ia memang sering memikirkan satu nama, nama itu selalu muncul dalam mimpi dan pikirannya. Ketika memikirkan nama itu Narrel akan merasa kesal, marah, rindu dan entah apalagi. Otaknya benar-benar bisa kosong hanya dengan memikirkan satu nama itu.
"Iren," nama itu sukses membuat mata Narrel membulat lebar. Ia mendongak menatap Austin heran. Pria itu seolah-olah bisa membaca pikirannya. Narrel berdeham salah tingkah.
"Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba menyebut nama itu?" ujar Narrel berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia melihat Austin menunjuk dengan dagunya. Narrel ikut menoleh kebelakang dan tatapan bertemu dengan Iren yang telah berdiri tak jauh didekat mereka. Wanita itu sendirian. Ia sudah mau duduk di sebuah meja kosong bagian tengah namun tidak jadi saat melihat kedua atasannya sedang makan di sana juga.
Sebenarnya Iren sudah melihat mereka tadi. Ia tidak ingin menyapa namun Austin malah melihatnya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi menyapa. Kalau tidak dia bisa di anggap tidak sopan lagi. Hal pertama yang menyebabkan Iren tidak ingin menyapa bosnya tersebut karena ada atasannya yang satu lagi. Siapa lagi kalau bukan Narrel.
Iren masih ingat jelas malam panas yang dia lewati bersama laki-laki itu waktu mabuk lebih dari sebulan yang lalu. Laki-laki pertama yang berhubungan **** dengannya. Yang mengambil keperawanannya. Iren memang tidak menyalahkan Narrel, ia akui ia juga menikmatinya, tapi ia terlalu malu untuk melihat Narrel setelah malam itu. Itulah sebabnya dia berpura-pura tidak ingat apa-apa tentang kejadian malam itu dan berusaha semampu mungkin untuk menghindari Narrel.
"Tuan Austin," sapanya hormat.
"Kau makan sendiri?" tanya Austin.
"Dengan seorang teman. Tapi sepertinya dia akan datang terlambat." bohong Iren. Kalau ia bilang hanya sendiri, bisa-bisa Austin mengajaknya gabung bersama mereka. Dan itu hanya akan membuatnya merasa lebih canggung berdekatan dengan Narrel. Dari sudut matanya ia bisa melihat Austin masih terus memperhatikannya.
Didepan sana Austin mengangguk-angguk mengerti.
"Oh ya, bagaimana kondisimu? Aku terlalu sibuk beberapa minggu ini jadi lupa bertanya. Kau baik-baik sajakan?" tanya Austin lagi. Iren mengangguk.
"Aku baik-baik saja, anda tidak perlu khawatir." Hatinya menjerit. Kenapa bosnya yang paling cuek dan tidak peduli pada orang yang tidak penting untuknya itu jadi suka bertanya begini sih. Tidak tahu apa dirinya sudah merasa sangat lemas karena ditatap tajam oleh pria yang satunya lagi.
"Kalau temanmu masih lama, kau bisa duduk di sini sebentar sampai temanmu itu datang. Daripada kau sendiri." kata Austin lagi memberikan tawaran.
"Tidak usah tuan. Aku mau ke toilet sebentar." tolak Iren halus lalu berbalik pergi ke arah toilet meninggalkan dua atasannya tersebut.
"Kau tidak berencana mengikutinya? Aku sengaja menahannya tadi. Aku menduga telah terjadi sesuatu di antara kalian berdua. Dia kelihatan canggung sekali saat melihatmu." kata Austin menatap Narrel. Ekspresi Narrel saat melihat Iren pun berbeda jauh sekali dari biasanya.
"Kalau aku tidak balik-balik juga, kau kembalilah lebih dulu ke kantor." ujar Narrel setelah lama bungkam. Ia lalu berdiri dan berjalan ke arah yang sama yang dilewati Iren tadi.
Langkah Narrel berhenti didepan toilet wanita. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya hari ini keberuntungan berpihak padanya, karena tidak ada wanita lain di dalam toilet wanita selain Iren yang terlihat sedang mencuci tangannya di wastafel. Dengan nekat Narrel masuk ke dalam dan menarik paksa Iren masuk ke sebuah bilik toilet dalam situ lalu mengunci pintunya.