
Ainsley terus-terusan di goda oleh para sahabatnya di kampus. Mereka menyadari kalau akhir-akhir ini, gadis itu berubah lebih ceria, lebih santai dan lebih fokus dengan benda pipih miliknya tersebut untuk sekedar saling bertukar kabar dengan orang yang sering menelponnya atau mengiriminya pesan-pesan manis. Siapa lagi kalau bukan suaminya.
Sebelum gadis itu menikah dengan Austin, biasanya dia akan sibuk dengan kerjaannya atau mencari pekerjaan baru. Yah, Ainsley dulu adalah tipe yang sangat suka bekerja. Mungkin karena sekarang ia sudah menikah dengan pria kaya raya seperti Austin Hugo, jadi gadis itu tidak perlu lagi berpikir untuk susah-susah mencari uang. Cari uang apa coba kalau punya suami sekaya itu? Tinggal minta saja gampang. Apalagi suaminya punya perusahaan besar dan beberapa anak perusahaan yang ada dibeberapa negara. Sungguh beruntung sekali jadi Ainsley.
"Kau tahu, semua sepupuku tidak pernah habis membahas tentang kau yang menikahi Austin. Mereka masih belum percaya." seru Fika antusias. Mereka sedang bersantai dibangku dekat lapangan basket sambil menonton para tim basket kampus latihan. Ainsley tersenyum tipis.
"Aku saja masih merasa ini seperti mimpi." balasnya merendah.
"Kau sungguh beruntung Ain, kami sangat iri padamu." timpal Dara. Ainsley ingin bersuara lagi tapi tertahan karena mendengar ponselnya berdering. Mereka semua jeda sebentar. Membiarkan Ainsley mengangkat telpon.
Kening Ainsley berkerut. Mamanya tirinya menelpon? Tumben sekali. Dan ini... panggilan lokal? Ainsley merasa heran. Memangnya papa dan mama tirinya sudah balik ke Indonesia? Kapan? Kenapa dia tidak tahu? Gadis itu lalu menggeser tanda hijau di layar ponsel dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"H..halo?" sahutnya. Ia mendengar suara tangisan di sana. Ainsley bertambah bingung. Entah kenapa hatinya mendadak jadi tidak tenang. Ada apa sebenarnya.
"Ainsley... Pa..papa kamu..."
Firasat Ainsley makin kuat. Ia makin tidak tenang. Demi Tuhan, jangan sampai ia mendengar sesuatu yang tidak mau dia dengar. Jangan sampai...
"Papa kenapa?"
"Papa kamu meninggal Ainsley..." lalu terdengar suara tangisan keras dari seberang sana.
Detik itu juga ponsel Ainsley terjatuh ke tanah bersama-sama dengan gadis itu yang terduduk ke lantai samping lapangan tersebut. Suhu tubuhnya tiba-tiba panas dan badannya bergetar. Dara dan Fika menjadi heran melihat perubahan Ainsley. Saat air mata mulai menetes semakin lama semakin deras jatuh ke pipi Ainsley, mereka jadi panik. Dara membungkuk dihadapan gadis itu dan menyentuh bahunya.
"Kau kenapa Ain? Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Dara pelan.
"P..papa..." hanya satu kata itu yang bisa keluar dari mulut gadis itu. Dara menaikkan wajahnya menatap Fika.
"Papa kamu kenapa?" tanya Dara lagi.
"Pa...papa me..meninggal... Kami baru saja tiba di Bandara, tapi tiba-tiba papamu terkena serangan jantung dan..." air mata terus mengalir dari pipi Ainsley. Dara dan Fika sendiri ikut merasa terkejut. Dara langsung mengusap-usap punggung Ainsley mencoba menenangkan gadis itu. Beberapa orang yang melewati tempat itu memandang mereka dengan aneh tapi mereka tak peduli lagi. Ainsley baru saja mendapat musibah. Yang ada di pikiran kedua sahabatnya itu hanyalah menghibur dan memberinya kekuatan.
"Kamu mau kami anterin ke rumah kamu?" tanya Fika pelan. Ainsley belum merespon. Masih linglung dan terlihat sangat sedih. Walau beberapa bulan ini hubungan ayah dan anak di antara keduanya mulai terasa ada jarak, Ainsley tetap menyayangi papapanya dengan tulus. Jelaslah dia sedih dan merasa sangat kehilangan.
"Ainsley, ponsel kamu bergetar." ucap Fika sambil mengangkat ponsel Ainsley yang terjatuh tadi. Tertera nama husband di daftar panggilan.
"Kau saja yang angkat Fika. Ceritakan bagaimana kondisinya." ucap Dara terus mengusap-usap punggung Ainsley.
Fika lalu mengangkat panggilan dari Austin.
"Sayang, kau baik-baik saja kan? Kenapa pesanku tidak dibalas?" suara Austin terdengar tidak sabaran. Fika jadi enak.
"M..maaf, Austin. Aku Fika sahabat Ainsley. Kau bisa datang ke kampus sekarang? Kami rasa dia lebih butuh dirimu sekarang ini." ucap Fika lalu mulai menjelas pada Austin tentang apa yang terjadi.
"Aku segera ke sana. Tolong jaga dia sampai aku tiba." kata Austin dengan nada panik kemudian langsung menutup pembicaraan."
\*\*\*
Tak sampai lima belas menit perjalanan, mobil Austin sudah terparkir di parkiran kampus Ainsley. Ia berkendara dengan kecepatan tinggi dan dengan rasa panik yang luar biasa. Ia ingin cepat-cepat berada di sisi istrinya. Memeluknya, menghiburnya dan melakukan apapun yang bisa membuat Ainsley merasa lebih baik.
Austin melompat keluar dari mobil dan berlari secepat mungkin ke dalam area kampus, menghiraukan orang-orang yang memekik histeris ketika melihatnya. Mata Austin sangat jeli, hingga ia tidak perlu menelpon lagi untuk bertanya posisi istrinya di sebelah mana. Pria itu langsung menemukan keberadaan sang istri dan berlari cepat ke sana.
Dara menjauh sedikit dari Ainsley, memberi tempat pada Austin yang kini sudah berada di tempat itu. Pria itu berlutut didepan Ainsley, merengkuhnya lalu membawanya ke dalam pelukannya. Tak lupa mengelus-elus punggung istrinya dengan penuh sayang.
"Ini aku Ainsley, aku sudah datang." gumam Austin lembut. Ia tidak peduli kalau tempat itu sudah ramai dengan orang-orang. Dia hanya ingin menenangkan istrinya. Sementara Ainsley sejak tadi linglung, seolah sadar saat mendengar suara Austin. Ia mengenal suara itu. Laki-laki yang tengah memeluknya sekarang adalah suaminya. Sedetik kemudian dari tangisan tanpa suara, menjadi kuat yang menyayat hati. Gadis itu menangis sejadi-jadinya dipelukan Austin.
"Austin... Papa..."
"Ssstt... Aku tahu. Aku akan mengantarmu menemui papa." gumam pria itu lalu mengecup singkat dahi Ainsley.
Fika dan Dara mencoba menghentikan orang-orang yang sengaja memotret pasangan suami istri tersebut. Astaga, mereka benar-benar tidak sopan. Memangnya mereka tidak peka dengan keadaan? Apalagi Ainsley sedang berduka akibat kehilangan salah satu orang yang dia cintai.
Setelah merasa Ainsley mulai tenang, Austin mengangkat gadis itu dan menuntunnya ke mobil. Ia melirik ke Fika dan Dara sebentar.
"Kalian mau ikut dengan mobilku?" tanyanya.
"Tidak usah, kami bawa kendaraan sendiri." tolak Dara sopan. Ia dan Fika merasa akan terlalu canggung kalau mereka naik di mobil yang sama dengan pasangan itu.
"Baiklah. Kalau begitu aku dan Ainsley duluan." kata Austin lagi bersiap masuk ke mobil. Ainsley sudah berada di dalam. Tak lama kemudian, mobil itu meninggalkan tempat itu, tersisa Dara dan Fika yang terus menatap ke arah mobil Austin sampai benar-benar menghilang dari pandangan mereka.