Mine

Mine
Chapter 37



Ainsley kembali ke kamar usai mengantar Narrel di depan. Rumah ini tidak ada pembantu kalau sudah malam begini. Mereka sudah pulang dan akan kembali di jam kerja besok. Hanya ada dua satpam yang berjaga di gerbang depan.


Berbeda dengan rumah Austin di Hawaii yang memiliki banyak pelayannya. Mungkin karena rumah itu jarang di tinggali, hanya sesekali kalau Austin datang ke sana dengan urusan pekerjaan.


Ainsley sendiri mau tak mau harus mengantar Narrel sampai depan karena ia juga harus mengunci pintu.


Setelah semua pintu terkunci ia kembali ke kamar. Mengunci kamar itu juga dan melangkah ke dekat kasur. Menatap pria yang tidur di sana. Bau alkohol yang cukup kuat itu mengganggu Indra penciuman Ainsley. Ia menutup hidungnya sambil terus menatap Austin.


Cukup lama Ainsley memandangi wajah Austin. Satu kata yang ada dalam benaknya, tampan. Sudah berkali-kali ia melihat Austin dari jarak dekat, tapi ia tetap mengagumi ketampanan pria itu. Entah apa yang di makannya hingga kulitnya sangat bersih seperti sekarang. Tak ada noda sedikit pun di wajahnya. Sebagai perempuan, Ainsley merasa iri. Kulitnya mungkin tidak sebersih Austin.


Gadis itu menghela nafas. Sekarang, darimana ia akan memulainya? Buka baju pria itu lebih dulu, atau lap tubuhnya? Narrel sialan, kenapa tidak sekalian saja ia mengganti baju Austin  tadi? Lelaki itu memang sengaja.


Bagaimana kalau Austin tiba-tiba bangun? Bagaimana kalau pria itu tiba-tiba memperkosanya dalam keadaan mabuk? Tidak, tidak. Ainsley menggeleng-geleng menghentikan pikiran buruknya. Ada apa dengannya? Kenapa akhir-akhir pikirannya selalu di rasuki dengan hal-hal buruk.


Ia memutuskan pergi ke kamar mandi lebih dulu. Mengambil baskom, mengisinya dengan air hangat seperti yang di katakan Narrel tadi, kemudian mengambil handuk kecil berbahan lembut yang tersusun di rak kamar mandi lalu keluar.


Ainsley meletakkan baskom dan handuk di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang dekat Austin. Yang pertama di lakukannya adalah membuka jas pria itu.


Astaga, bau sekali. Ainsley menutup hidungnya lagi sambil mengibas-ngibaskan tangan ke udara.


"Berapa banyak yang kau minum sih," celetuknya melirik Austin yang sesekali tertawa dalam racauannya. Gadis itu beralih ke kaki Austin, membuka sepatu yang masih di pakainya. Di sela-sela membuka sepatu suaminya itu, Austin tiba-tiba bangun dan malah mendorongnya hingga Ainsley terjungkal ke belakang.


Kalau gadis itu tidak cepat-cepat berpegang kuat di ujung tempat tidur, ia yakin sekarang dirinya sudah berada di lantai. Gadis itu menatap Austin dengan ekspresi tidak percaya.


Ia kira Austin sudah sadar, ternyata tidak. Pria itu masih duduk sambil menutup mata dan tersenyum seperti orang bodoh, setelah itu ia kembali berbaring. Entah apa yang di mimpikan Austin sampai mendorong Ainsley seperti tadi.


"Hufft!" Ainsley membuang nafas kasar. Ia melemparkan pandangannya ke Austin dengan kesal.


"Sinting," umpatnya. Ia memukul-mukul pria itu sampai puas. Walau ia tahu percuma saja memukuli Austin karena pria itu tidak akan sadar, Ainsley tetap melakukannya. Siapa suruh mendorongnya sampai hampir jatuh.


Ainsley melanjutkan pekerjaannya tadi. Kali ini Austin benar-benar ketiduran. Gadis itu hanya membuka jas, kemeja dan sepatu Austin, menyisakan kaos putih yang di pakai pria itu sebagai dalaman. Ainsley  juga membersihkan bagian-bagian tubuh pria itu yang perlu di bersihkan. Setidaknya sampai tidak tercium lagi bau alkohol yang begitu menyengat di hidung Ainsley.


Gadis itu menghembuskan nafas panjang setelah menyelesaikan usahanya yang panjang. Ia menatap Austin yang kini tertidur tak tahu diri.


Ainsley lalu berdiri mengambil baskom di nakas dan mengembalikannya ke tempat semula yang dia ambil.


Ketika melihat semuanya sudah tertata rapi, baik dalam kamar maupun di kamar mandi, Ainsley mengambil bantal dan selimut di sisi kiri tempat tidur lalu melangkah ke arah sofa. Malam ini ia akan tidur di sofa saja.


Ia takut ketika Austin bangun pagi-pagi dan mendapati mereka ada bersama di tempat tidur, pria itu akan berpikir yang tidak-tidak.


Ingatan Ainsley kembali ke perkataan Austin di telpon tadi, tentang pria itu yang menyukainya. Tapi itu masih mungkin. Austin mengatakan semua itu dalam keadaan mabuk, entah itu benar atau tidak Ainsley akan pura-pura tidak mendengarnya. Lagipula saat bangun nanti, Austin pasti sudah lupa dengan perkataannya sendiri.


                                   ***


Kira-kira jam setengah tujuh pagi Austin terbangun dari tidurnya yang terasa sangat panjang. Pria itu duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia mencoba mengingat apa saja yang sudah ia lakukan kemarin.


Ketika turun dari pesawat, ia langsung ke kantor mengadakan rapat. Tapi ia tiba-tiba menunda rapat itu dan kembali ke ruangannya untuk memeriksa laporan kerja para karyawannya.


Di sela-sela memeriksa laporannya, ia terus mengingat Ainsley bahkan sampai menyerah memeriksa laporan karyawan itu karena tidak bisa fokus.


Akhirnya Austin memutuskan pergi ke ruangan Narrel untuk minum-minum. Tapi saat masuk ke ruangan sekretarisnya itu, ia malah memergoki Narrel sedang enak-enak dengan wanita.


Ada dua wanita dalam ruangan Narrel. Wanita yang satunya berusaha menggodanya tapi ia malah mendorong wanita itu hingga terjatuh. Setelah kedua wanita itu pergi, Narrel mengajaknya minum dan mereka pergi ke bar. Sesudah itu...


Austin tidak ingat apa-apa lagi. Yang ia ingat adanya dirinya minum sangat banyak semalam.


Pandangan Austin berpindah mencari tahu dia berada di mana sekarang. Bisa saja kan sih brengsek Narrel itu membawanya ke hotel dan membuatnya tidur dengan wanita lain dalam keadaan mabuk.


Austin langsung bernafas lega ketika menyadari ia berada di kamarnya sendiri. Tapi, mana Ainsley?


Austin cepat-cepat melirik ke samping tapi tidak ada gadis yang dia cari. Bantal di posisi kirinya juga tidak ada. Ia kembali menatap berkeliling, namun tidak menemukan apa-apa. Di sofa yang biasa ia tiduri hanya ada bantal dan selimut yang sudah terlipat rapi. Kemana istrinya? Tidak mungkin ke kampus pagi-pagi begini kan?


Tak butuh waktu lama Austin bangkit dari ranjang dan melangkah keluar. Ia harus menemukan Ainsley. Juga ingin bertanya di mana gadis itu tidur semalam. Sofa? Ya ampun, kenapa tidak membiarkan dirinya saja yang tidur di sofa? Walau sofanya empuk, tetap saja Austin keberatan kalau Ainsley tidur di sofa. Atau mereka kan bisa tidur seranjang. Ia tidak mungkin menyentuh gadis itu dalam keadaan tidak sadarkan diri bukan?


Austin menghentikan langkah sesekali dan memegangi kepalanya yang masih pusing. Ia turun tangga dengan perlahan menuju dapur.