
"Wow, aku nggak nyangka bisa terbang ke luar negeri tanpa ngeluarin sepersen pun uang!" Serena bergumam takjub. Dia baru menyadarinya begitu duduk di dalam pesawat.
Padahal biaya tiket pesawat pulang-pergi cukup lumayan, belum lagi biaya untuk jalan-jalan dan sebagainya begitu tiba di tempat tujuan, tapi Jevano melarang Serena mengeluarkan selembar uang pun selama liburan nanti.
Akan tetapi, kemurahan hati Jevano tetap harus dibayar oleh Serena. Gadis itu tidak boleh pergi jauh-jauh dan harus terus menempel pada Jevano alih-alih takut Serena tersesat atau skenario terburuknya, Serena hilang dibawa kabur oleh penculik.
Mungkin kesannya overprotective, tapi itu adalah ketakutan terbesar Jevano setiap kali dirinya membawa Serena pergi ke suatu tempat. Tahu sendiri seberapa cantiknya Serena walau tanpa makeup, Jevano yakin pasti ada orang gila di luar sana yang bisa melakukan aksi nekat, seperti penculikan misalnya. Berhubung sekarang mereka tidak berada di wilayah pengawasan keluarga Nollan, jadi Jevano harus extra hati-hati terhadap sekitar mereka.
Sebenarnya ketakutan Jevano bukannya tidak berdasar dan tanpa alasan jelas, semua ketakutan yang ada sangkut pautnya dengan Serena merupakan trauma yang ingin sekali Jevano hapuskan dari ingatannya.
Jevano memang tidak pernah menceritakan rahasia ini pada siapapun, termasuk ibunya sendiri. Fakta bahwa dulu sewaktu SMA, Serena pernah menjadi korban penculikan bahkan nyaris menjadi korban pemerk*saan pula oleh sekelompotan preman yang membekap Serena di dalam sebuah mini bus hitam. Tak ada yang tahu menahu tentang peristiwa mengerikan itu, hanya Jevano dan Serena saja yang menyimpan rapat-rapat peristiwa buruk tersebut sampai detik ini.
Mungkin Serena belum sanggup menceritakan pengalaman terburuknya waktu itu pada orang lain, hanya dengan Jevano seorang, sebab Jevano lah orang yang menyelamatkan Serena.
Setelah beberapa tahun memerangi trauma itu, Serena sudah terlihat lebih baik dan emosinya lebih stabil sekarang. Jevano sedikit lega, kekhawatirannya mulai terangkat sedikit demi sedikit. Maka dari itu, Jevano ingin menghapuskan memori buruk dalam ingatan Serena dan menggantinya dengan berbagai kenangan indah berdua.
Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini Jevano ingin memenuhi memori Serena dengan banyak kenangan indah. Apapun yang Serena inginkan, Jevano pasti akan mengabulkannya detik itu juga. Demi orang yang dia cintai, Jevano akan berusaha sepenuh hati membahagiakan Serena.
...🐺...
...🐺...
"Julian!"
Julian yang hendak masuk ke dalam ruang kelas sontak menghentikan langkahnya, ketika mendengar Jasmine memanggil namanya dengan cukup lantang.
Sang empunya nama menengok, melihat Jasmine berjalan tergesa menuju ke arahnya dengan ekspresi tak bersahabat sama sekali.
"Kamu udah tau 'kan?!" Tiba-tiba Jasmine menodong Julian dengan pertanyaan.
Julian mengangkat satu alisnya, "Tau apa?" Dia tak tahu apa yang Jasmine maksud sekarang.
Jasmine yang emosinya sudah memburuk sejak kemarin makin kesal setelah melihat raut muka Julian yang datar-datar saja, seolah pemuda itu sama sekali tidak peduli apa bila kekasih mereka menghabiskan libur bersama ke tempat yang jauh.
"Kalau kamu udah tau Jevano bakal pergi sama Serena kenapa nggak kamu larang mereka?!" Jasmine bertanya dengan nada membentak kesal.
Muka Jasmine mulai memerah menahan emosi yang kembali mendidih, "KENAPA NGGAK KAMU LARANG SERENA PERGI SAMA PACARKU?! APA KAMU UDAH GILA?!" Suara Jasmine yang menggelegar menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
Julian menekuk alisnya, tidak suka menjadi pusat perhatian apalagi hal ini bisa saja memicu munculnya skandal lagi.
Tak ada pilihan lain, Julian terpaksa menarik tangan Jasmine untuk pergi ke tempat yang aman dengannya, "Ikut denganku dan jangan membuat keributan di tempat terbuka." Nada bicara Julian tegas dan dingin, Jasmine tak berani membantah perintah Julian dan hanya bisa pasrah mengikuti ke mana lelaki itu membawanya pergi.
.
.
"Apa maumu?"
Berhadapan empat mata dengan Julian di tangga darurat bukanlah sesuatu yang pernah Jasmine bayangkan sebelumnya.
Suasana canggung dan dingin membuat bulu kuduk Jasmine meremang tanpa sebab. Semua uneg-uneg yang memenuhi pikiran Jasmine seketika lenyap entah ke mana sampai membuat Jasmine mati kutu di tempat.
Jasmine bingung harus memulai dari mana, dia menyimpan banyak keluhan dan amarah yang ditujukan pada Serena, gadis yang berani-beraninya pergi bersama kekasihnya ke tempat yang jauh bahkan sebelum hari ulang tahunnya tiba.
"Memangnya kamu nggak kesal Serena pergi sama cowo lain?!" Jasmine memberanikan diri menghadapi Julian yang tengah melipat kedua tangan di depan dad*a.
Sial, bahkan dalam situasi ruyam pun Julian masih terlihat tampan dan keren!
Julian menghela nafas panjang, dirinya sudah cukup lelah menghabiskan waktu tidurnya hanya untuk memikirkan Serena semalaman, lalu sekarang Jasmine datang sambil marah-marah kepadanya dengan alasan yang sama.
"Sebelum kau nyalahin Serena, kenapa nggak tegur si Jevano dulu? Dia yang maksa bawa Serena pergi, justru seharusnya aku yang marah kepadamu karena nggak becus jagain anjing pemberontakmu itu!" Julian merasa kesabarannya sudah sangat tipis.
Jasmine makin murka, beraninya Julian menyebut kekasihnya dengan sebutan 'anjing pemberontak'!
"Pacarmu itu yang nggak tau malu! Udah punya pacar masih genit aja sama cowo orang! Kalau kalian berdua menolak ajakan Jevano lebih tegas lagi 'kan hal ini nggak bakal terjadi!" Jasmine melimpahkan kekesalannya pada Julian.
Kabut gelap serasa menutupi hati serta mata Jasmine hingga membuat gadis itu hilang kendali diri. Emosi yang semakin menyala-nyala bagaikan kobaran api nyaris memakan seluruh kerasionalan Jasmine.
"Diamlah! Kau pikir cuma kau aja yang kesal?! Aku juga! Tapi karena aku percaya sama Serena dan menghargai privasi dia, makanya aku bisa menahan diri dengan baik. Lagipula aku memberi izin Serena karena tau ada seseorang yang akan mengawasi mereka. Kalau kau nggak percaya sama Jevano, kenapa nggak susul mereka aja? Terus bawa paksa anak itu pulang biar aku bisa berduaan lagi sama pacarku. Beres 'kan?" Julian justru menantang Jasmine yang langsung bungkam seribu bahasa.
Jelas saja Jasmine tak berani, sebab dia tahu ada Nyonya Beatrice yang ikut serta dalam liburan Jevano. Tangan Jasmine reflek menyentuh pipi kanannya setelah mengingat sesuatu yang buruk ketika membahas soal Nyonya Beatrice.
Muka Jasmine tampak memucat, seakan baru melihat hantu saja. Namun yang membuat Julian penasaran adalah gerakan tangan Jasmine seolah sedang mengusap pipinya sendiri dengan hati-hati.
"Ada apa denganmu?" Mau seberapa tak sukanya Julian terhadap Jasmine, dia tetap harus bersikap baik demi memperoleh restu sebagai calon kakak ipar suatu saat nanti.
Jasmine sedikit gemetar ketika Julian bertanya dengan nada dingin, namun tak lama kemudian Jasmine berhasil mengendalikan dirinya.
Jasmine tersenyum getir lalu menurunkan tangannya secara perlahan. Sikap Jasmine barusan mengingatkan Julian akan sikap mencurigakan Serena saat sedang berusaha menutupi sesuatu darinya.
"Pipimu kenapa?"
Sebenarnya Julian tak ingin berpura-pura peduli kepadaJasmine tapi apa boleh buat, demi menjaga nilai baiknya sebagai calon ipar, Julian berusaha sebaik mungkin menjadi sosok 'kakak' untuk Jasmine.
Malangnya, Jasmine justru salah menangkap maksud dari pertanyaan Julian. Jantungnya justru berdebar cepat dan perasaan hangat menyelimuti relung hatinya. Sensasi ini sudah lama tak Jasmine rasakan lagi setelah berkencan dengan Jevano.
"Eng-enggak apa-apa kok..ini..cuma ingat sesuatu aja...." Aneh, Jasmine merasa bisa lebih terbuka di hadapan Julian.
Kehadiran Julian saja bisa mengisi kekosongan yang selama ini Jevano abaikan. Perhatian sekecil apapun ternyata berdampak besar bagi Jasmine.
Apa karena dirinya begitu kesepian?
Jasmine tak tahu, namun yang pasti, sekarang perasaannya belum benar-benar membaik. Jasmine kecewa berat terhadap Jevano dan juga Nyonya Beatrice yang seenaknya mengizinkan kedua orang itu liburan bersama.
Jasmine dendam pada semua orang yang tak berpihak padanya. Perasaan kalah telak membuat harga diri Jasmine tercerai-berai tak karuan. Bahkan ibunya sekalipun sama sekali tak membantunya, yang ada justru menorehkan sakit hati yang semakin dalam di hati Jasmine.
Tanpa sadar air mata lolos membasahi kedua pipi Jasmine. Julian melotot kaget, tak menyangka Jasmine akan menangis padahal dirinya tak bermaksud membuat gadis itu sedih.
"Ka-kau.." Julian bingung harus bagaimana.
Jasmine terisak sambil mengusap-usap lelehan air matanya yang tak kunjung berhenti. "Hiks...kenapa semua orang tega sama aku...hiks...apa memang nggak ada seorang pun yang peduli sama aku? Hiks, hiks..rasanya pengen mati aja!"
Situasi yang tak terduga sama sekali. Julian memijit pangkal hidungnya guna meredakan pusing yang tiba-tiba menyerang.
"Stop, berhenti nangis. Air matamu nggak akan mengubah keadaan kecuali kau nekat terbang mendatangi mereka," tegur Julian kemudian. "Aku nggak tau apa rencanamu melayangkan protes ke aku, tapi apapun itu, aku nggak bisa membantumu. Aku udah berjanji sama Serena untuk menunggunya dengan sabar dan terus percaya. Kalau aku bisa, kenapa kau nggak bisa? Apa memang kepercayaanmu ke Jevano setipis rambut? Ha! Miris sekali," cibirnya yang menohok hati Jasmine.
Seketika air mata Jasmine berhenti mengalir, tergantikan oleh emosi yang kembali meluap ke permukaan.Ternyata rayuannya gagal!
Julian sama sekali tidak termakan rasa iba kepadanya!
Sia-sia sudah aktingnya sampai detik ini. Tapi tak apa, situasi sekarang sudah cukup mendukung rencana cadangan Jasmine.
"Ternyata kamu bener-bener berhati dingin ya.." Jasmine melangkah mendekati Julian yang bersandar pada pintu exit.
Sorot mata Julian tampak tajam dan mengintimidasi, tetapi itu justru dapat menggetarkan hati Jasmine.
"Aku tau kamu kesepian 'kan ditinggal Serena pergi?" Jemari Jasmine tiba-tiba mengelus sisi wajah Julian sampai membuat lelaki itu terkejut.
Sontak Julian menepis tangan Jasmine yang telah menyentuhnya sembarangan. Alis tebalnya kembali menekuk tajam, Julian sangat membenci sentuhan perempuan lain selain Serena.
Jasmine tertawa keras setelah menerima penolakan keras dari Julian. 'Kenapa? Kenapa cuma Serena yang dapatin segalanya? Kenapa aku tersingkirkan lagi dari Serena?!' batin Jasmine memberontak keras.
Saat Julian lengah tiba-tiba Jasmine menarik kerah kemejanya dengan kuat, lalu tanpa peringatan mencium bibirnya dengan kasar sampai tak sengaja tergigit gigi Jasmine.
"What the F*uck?!" Julian mendorong Jasmine cukup keras sampai membuat gadis itu terjatuh duduk di lantai yang kotor.
Bukannya marah, Jasmine justru tertawa lagi dengan keras. Julian memandang horor gadis itu seraya mengusap kasar bibirnya yang telah dinodai oleh Jasmine.
Huuekk
Tiba-tiba Julian merasakan perutnya bergejolak dari dalam, keringat dingin mulai bercucuran dari puncak kepala serta jantungnya berdebar semakin cepat.
Gejala ini...tak salah lagi!
Julian dapat merasakan traumanya kembali kambuh dalam sekejap.
Tangan besar Julian membekap mulutnya guna menghalau rasa mual seakan hendak muntah detik itu juga. Buru-buru Julian keluar melewati pintu exit untuk bergegas pergi menuju toilet. Meninggalkan Jasmine yang masih terduduk menyedihkan di lantai tanpa ada niatan untuk bangkit berdiri menggunakan tenaganya sendiri.
Ahh...salah, Jasmine memang tak lagi mempunyai tenaga untuk membawa dirinya berdiri. Energinya seakan baru dikuras dan hatinya merasakan kehampaan yang menyiksa.
"Aku muak dengan semua ini..." gumamnya sampai menerawang kosong menatap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.