Mine

Mine
Sampai Kita Berjumpa Lagi



Julian jatuh tertidur setelah menghabiskan beberapa gelas alkohol bersama dengan Elliot. Sudah lama mereka tidak mengobrol bersama, suasananya juga sangat mendukung sambil dinikmati dengan segelas anggur kualitas tinggi.


Alhasil Julian mabuk tepat setelah gelas ke-empatnya.


Krieett


Pintu kamar Julian dibuka secara perlahan. Sang empunya kamar sudah teler tak sanggup membuka kelopak matanya.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat lima, sudah larut untuk seseorang bertamu ke rumah orang. Beruntung si tamu itu berhasil menyelinap masuk karena diberi kunci cadangan dari sang pemilik.


"Julian.." Gadis berambut panjang menjuntai itu mengusap lembut pipi Julian yang sedikit merona lantaran mabuk.


"Ngg.." Antara sadar dan tidak, Julian bergumam pelan sambil menikmati usapan lembut pada permukaan pipinya.


Si penyusup yang tak lain adalah Serena itu tersenyum samar melihat tingkah manja Julian ketika sedang mabuk.


"Kamu jangan banyak minum, toleransi alkoholmu 'kan rendah," Entah pada siapa Serena berbicara. Jemarinya tak berhenti menyentuh wajah Julian yang masih setia memejamkan mata.


Senyum Serena kembali memudar, pipi dan bibirnya terlalu sakit untuk digerakkan, oleh karena itu dia berusaha untuk tetap diam tak bersuara.


'Maafin aku...aku bener-bener kacau sekarang,' Serena tidak berani menampakkan diri secara terbuka di hadapan Julian. Bahkan untuk datang ke kediaman Julian, Serena menghabiskan banyak es batu hanya untuk mengompres wajahnya, terutama bagian pipi serta bibir yang membengkak akibat tamparan fisik.


Sekujur tubuhnya masih terasa sakit dan nyeri, namun setelah melihat Julian dan memastikan kondisi lelaki itu baik-baik saja, Serena menjadi lebih lega dan tenang. Kesehatan Julian adalah obat tersendiri bagi Serena.


"Maaf ya...gara-gara aku, kamu harus menghadapi peristiwa nggak mengenakan, itu pasti menyeramkan bagimu," Serena sungguh menyesali keputusan bodohnya. Gara-gara dirinya lah, Julian menjadi korban dari kecemburuan Jasmine.


"Maafin aku....aku nggak punya muka buat ketemu kamu dulu..." Apalagi dengan kondisinya yang kacau begini, Serena semakin malu bertemu dengan kekasihnya sendiri.


"Aku ke sini mau berpamitan..." ucap Serena kemudian, "Aku gatau apa kita masih bisa bertemu lagi nanti...tapi aku mau pergi, pergi ke suatu tempat buat nenangin diri dan merenungkan semua kesalahanku.." Jemari Serena berhenti tepat di bibir Julian.


Dia pasti akan merindukan lembutnya bibir Julian ketika menyapu permukaan pipinya. Serena bahkan tidak bisa menjaga tubuhnya sendiri, bagaimana dia bisa menangani hal serumit ini hanya dengan kekuatannya sendiri?


Serena tak ingin melibatkan banyak orang dalam persoalan yang dia hadapi, tidak di saat dirinya telah kehilangan dukungan dari keluarganya sendiri. Kini hidup Serena tak beda jauh dengan gelandangan yang krisis identitas.


"Aku cinta kamu...maafin aku ya.." Air mata Serena jatuh untuk kesekian kalinya. Serena tak menghitung berapa kali dirinya menangis hari ini, bahkan dia terus meneteskan air mata saat mengompres wajahnya sendiri di temani oleh supir beserta bodyguard sewaan Caesar.


"Hngg..Serena?"


Tiba-tiba Julian terbangun dari tidurnya. Lelaki itu merasakan sentuhan hangat seseorang mengusap permukaan wajahnya. Hanya ada satu perempuan yang bisa keluar-masuk secara bebas di dalam kediaman pribadinya.


Siapa lagi jika bukan Serena.


Sayangnya Julian sedang tidak fokus gara-gara mabuk. Pandangannya berputar-putar, rasanya sangat pusing untuk sekedar membuka kelopak mata, karena itu Julian memilih tetap memejamkan mata meski tangannya berhasil menahan lengan Serena.


"Kok kamu udah pulang? Gimana liburanmu?" Julian berupaya menjaga kesadarannya meski tidak akan bertahan lama.


Serena diam memperhatikan wajah Julian yang sedang memejamkan kedua matanya. Bahkan saat tidur pun, Julian terlihat sangat tampan. Rasanya seperti mimpi saja mendapatkan kekasih sesempurna Julian.


"Tidurlah...aku pulang karena aku udah kangen kamu.." Hanya itu jawaban yang sanggup Serena berikan.


Serena sedikit lega lantaran Julian tidak menyadari wajahnya yang sedang berantakan.


"Tidur dan beristirahatlah. Aku datang ke sini karena aku mau minta maaf sama kamu.." ucap Serena lirih.


Julian berusaha memproses semua perkataan Serena meski otaknya tak bisa diajak kompromi.


"Soal apa?"


Tangan dingin Serena menggenggam tangan besar Julian yang hangat. Sentuhan dingin Serena sedikit mengejutkan Julian.


"Tanganmu dingin, kamu habis dari mana aja?" Di ambang kesadarannya, Julian masih memperhatikan Serena.


Julian adalah sosok lelaki yang mungkin tak akan pernah Serena jumpai lagi di sisa hidupnya. Serena bersyukur, setidaknya kekasih pertamanya adalah seorang lelaki yang baik dan begitu menyayanginya begitu besar.


"Julian, dengerin perkataanku baik-baik. Mungkin besok kamu nggak akan ingat obrolan kita, tapi hanya ini kesempatan yang aku punya," ujar Serena kemudian. "Aku minta maaf..gara-gara aku, kamu jadi diganggu Jasmine dan bahkan jadi korban atas kecemburuannya. Maafkan semua kesalahanku dan dia ya.."


Julian berusaha memfokuskan pandangannya pada Serena yang tengah duduk di pinggir ranjang yang dia tempati. "Nggak. Ini bukan kesalahanmu, Jasmine melakukan itu atas kesadarannya sendiri. Dia nggak mabuk, jadi dia tau apa yang dia perbuat dan nggak ada yang bisa memprediksikan insiden itu akan terjadi. Stop nyalahin diri kamu sendiri," tegurnya secara tegas.


Julian balas menggenggam erat tangan Serena yang terkulai di dekatnya.


"Tapi tetep aja...kalau aku nggak liburan sama Jevano, hal ini nggak akan terjadi! Aku salah! Aku udah nyakitin kamu dan Jasmine, aku minta maaf..." Air mata Serena kembali mengalir deras meski tanpa isakan.


Julian ingin sekali mendekap Serena ke dalam pelukannya, tapi sayang, kepalanya sangat pusing bahkan untuk duduk pun Julian tidak kuat.


"Untuk yang itu, aku udah maafin kamu. Gapapa, kita bisa jadikan itu sebagai pelajaran ke depannya nanti. Serena, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, aku nggak suka itu."


Kata-kata Julian begitu hangat dan penuh perhatian, Serena merasa sudah sangat berdosa lebih mementingkan egonya ketimbang kekasihnya sendiri.


"Maaf...hiks...maafin aku...tapi sekarang aku bener-bener nggak punya muka buat ketemu sama kamu dan yang lainnya, hiks...aku udah ngecewain kalian semua...aku udah gagal!!" Serena menangis hebat, sampai membuat Julian panik harus berbuat apa.


"Hh...sayang, jangan nangis, kumohon. Ayo tiduran di sini sama aku, kita tenangin diri sama-sama. Maaf, aku terlalu mabuk, jadi aku nggak bisa memelukmu sambil duduk," Julian menepuk sisi ranjang di sebelahnya yang kosong.


Serena tak tega melihat raut muka Julian yang tampak begitu mengkhawatirkan dirinya meski Julian sendiri tidak dalam kondisi yang baik.


Setelah di rayu dengan susah payah oleh Julian, Serena akhirnya memberanikan diri merebahkan tubuhnya di sebelah Julian. Aroma khas menyapa penciuman Serena. Rasanya seperti sudah lama sekali Serena tidak menghirup aroma tubuh kekasihnya yang menjadi candu bagi dirinya.


"Tidur ya? Kita omongin lagi besok dengan kepala dingin. Aku akan dengerin cerita kamu soal kepulanganmu yang tiba-tiba ini. Sekarang kita istirahat dulu, kamu pasti capek 'kan setelah menempuh perjalanan jauh?" Julian memeluk tubuh Serena dari samping.


Serena tidak berani bergerak banyak sebab beberapa bagian tubuhnya masih terasa perih dan nyeri. Serena bahkan tak sanggup membalas pelukan hangat Julian seperti yang biasa dia lakukan setiap malam.


Memeluk Julian hanya akan menggoyahkan tekad bulatnya. Semakin Serena memeluk Julian, maka semakin sulit baginya meninggalkan lelaki itu.


Julian terus menenangkan Serena dengan racauannya yang semakin tidak jelas. Serena sama sekali tidak berkomentar apa-apa, dia hanya diam menyimak dengan seksama dan mengingat baik-baik suara khas Julian yang akan dia rindukan.


"Aku percaya sama kamu...jadi kamu jangan terlalu nyalahin diri sendiri..." gumam Julian dengan mata terpejam sempurna.


Kata-kata terakhir sebelum lelaki itu jatuh ke dalam alam mimpinya lagi. Kesempatan Serena akhirnya datang juga.


Dengan gerakan selembut mungkin, Serena berusaha meloloskan diri dari pelukan sang kekasih.


"Aku bakal kangen berat sama kamu.." Serena memandangi wajah tidur Julian yang kelihatan damai. Tangannya terangkat, mengusap wajah tampan kekasihnya untuk yang terakhir kalinya.


"I love you so much...maaf, aku belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu. Aku mau pergi dulu, buat membangun kembali kepercayaan diriku dan menenangkan pikiranku...Maaf kalau aku lagi-lagi nyusahin kamu. Mungkin kamu bakal kecewa setelah tau apa yang aku perbuat ke Jasmine..." Serena berhenti berbicara sejenak, setelah dia mengecap rasa besi dalam mulutnya. Ahh, mungkin bagian pipi dalamnya berdarah sebab dia paksa untuk berbicara.


"Jaga dirimu baik-baik ya...sampai aku kembali mendapatkan keberanianku, aku akan kembali lagi..Jangan cari aku dulu, karena aku mungkin bakal kabur," Serena tersenyum tipis.


Ya, keputusannya untuk pergi berkelana sudah bulat. Meski belum tahu ke mana tujuannya setelah ini, Serena tetap akan pergi menjauh dari semua yang telah membuatnya bersedih dan kecewa.


Setelah di rasa cukup memberi salam perpisahan, Serena bangkit dari rebahannya secara perlahan-lahan agar tidak menimbulkan gerakan yang mengganggu tidur nyenyak Julian.


Menengok sebentar untuk memandangi wajah Julian, Serena kembali meneteskan air matanya sebelum pergi.


"Aku pergi dulu...sampai jumpa lagi, sayang..."