Mine

Mine
Mendadak Sultan



"Kamu lagi ngapain?"


Julian menghampiri Serena yang tengah serius membaca surat pos yang dikirimkan oleh Caesar.


Sudah lewat seminggu setelah Caesar pulang ke negaranya, dan barang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Ya, sample dari helaian rambut paman James.


Mereka membutuhkan sample itu untuk membuktikan kesamaan DNA paman James dengan Dion.


"Kayaknya paman James belum menyadarinya," Serena berspekulasi. Di lihat dari tenangnya situasi, sangat menyakinkan bahwa orang yang bersangkutan belum menaruh curiga.


Di sisi lain, Julian takjub dengan kinerja Caesar yang cepat tanggap. Tak kurang dari sebulan, lelaki itu berhasil mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk kepentingan tes.


Ini situasi yang bagus. Dengan begitu rencana Caesar dapat berjalan dengan mulus. Apalagi tak ada mata-mata di sisi Serena, karena sekarang Serena tinggal bersama Julian, bukan keluarganya sendiri. Jadi semakin memudahkan komunikasi antara Caesar dan Serena tanpa menimbulkan kecurigaan pada Tuan Philip dan Nyonya Esther.


Di tempatnya tinggal, Caesar kembali disibukkan dengan berbagai persiapan, terutama berkas-berkas yang akan dibutuhkan oleh Dion dan Serena sebelum mengunjungi dirinya ke negara sana.


Serena sih ikuti saja apapun rencana Caesar, toh Caesar tak akan melakukan sesuatu yang membahayakannya, jadi Serena percayakan semuanya pada sepupu tersayangnya itu. Sementara untuk Dion, Serena berencana mengunjungi lelaki itu malam nanti.


Entah apa alasan Julian hanya mengizinkannya bertemu dengan Dion di malam hari, Serena tak berani untuk bertanya lebih banyak. Elliot pun juga seakan berada di pihak Julian, lelaki itu tidak mau menjawab secara terus terang dan hanya tersenyum setiap kali Serena bertanya tentang Dion.


Kakak beradik yang penuh misteri. Tapi justru itu yang membuat mereka semakin menarik dan berkharisma.


"Kapan kak Caesar menyuruh terbang ke sana?" Julian berjalan menuju sofa panjang yang tersedia dalam kamar.


Tangannya mengisyaratkan Serena untuk duduk menempati ruang kosong di sisi kanannya.


Serena menurut saja sambil membaca lembaran surat Caesar yang khusus ditujukan untuk dirinya. "Belum tau. Nunggu aba-aba dari kak Caesar dulu. Kayaknya kita harus ajari Dion tentang tata krama dan etika juga deh," Serena memegangi pelipisnya yang sedang banyak pikiran.


"Seenggaknya Dion harus menjaga sikapnya di hadapan saudaraku yang lain. Keluargaku itu sedikit kolot, jadi kesalahan sekecil apapun pasti akan dibesar-besarin dan dijadiin kelemahan," ungkap Serena kemudian.


Itu pula menjadi salah satu alasan mengapa Serena tidak suka berkumpul dengan seluruh keluarga besarnya.


"Padahal aku lebih senang kalau aku berhasil keluar dari lingkaran keluarga itu. Berada di tengah-tengah mereka membuatku serasa seperti dicekik dari dalam," curhat Serena pada Julian, yang sedari tadi menyimak dengan baik.


Julian tak pernah tahu bila hubungan antar anggota keluarga besar Reinhart ternyata tak seramah dan seharmonis kelihatannya.


"Ya..sebentar lagi juga nama belakangmu bakal berubah. Selagi kamu nggak mengincar posisi CEO di perusahaan milik papamu, kamu nggak harus merepotkan diri belajar bisnis kayak Jasmine," balas Julian, yang terkesan santai tanpa menuntut Serena ini-itu.


Bagi Julian, tak peduli apa status pendidikan, latar belakang Serena dan apa yang ingin gadis itu lakukan di masa depan, asalkan Serena masih ingin melangkah bersamanya, Julian tidak akan menekan Serena jadi seperti yang orang lain mau.


Serena berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, dan Julian berjanji tidak akan menjadi halangan untuk Serena.


Di sisi lain, jantung Serena selalu berdebar tidak karuan setiap kali mendengar ucapan Julian yang ceplas ceplos. Julian tak malu mengungkit pernikahan di hadapan orang lain, terutama di hadapan Serena. Julian nampak yakin dan penuh percaya diri, tipikal laki-laki mapan dan matang baik secara finansial, karir, maupun visual yang dimilikinya.


Berbeda sekali dengan Serena yang masih saja malu setiap kali membahas soal pernikahan di depan Julian. Sejauh ini belum ada lamaran romantis yang diberikan oleh Julian, entah Julian menyadari hal itu atau memang ingin melewatkannya karena sudah lebih dulu melamar Serena jauh-jauh hari.


Sebagai seorang perempuan, Serena sedikit merasa kecewa, tapi dia tidak berani melayangkan protes lantaran dirinya telah banyak menyusahkan Julian. Mungkin Julian buru-buru ingin segera menikah karena takut kehilangan Serena seperti yang terakhir kali.


Serena berusaha ikhlas dan merelakan impian terpendamnya yang ingin di lamar dengan suasana yang romantis dan penuh haru.


Dulu, Serena sering berkhayal tentang hubungannya dengan Jevano sampai ke jenjang pernikahan segala. Serena tahu kalau itu hanya bunga tidur yang bertujuan untuk menghibur hati serta pikirannya. Tetapi beda kasus dengan yang sekarang ini, Serena tidak srdang bermimpi atau berkhayal terlalu jauh.


Hari pernikahannya tak terlalu jauh dan semuanya akan disiapkan sesuai yang Serena inginkan. Serena tak pernah menyangka bahwa dalam hitungan beberapa bulan ke depan, nama panggilannya akan ikut berubah.


Nyonya Collin..


Wow, rasanya seperti mimpi saja! Menjadi bagian dari keluarga Collin sekaligus menantu dari sosok pria yang namanya sering menghiasi majalah bisnis.


"Lagi mikirin apa, hm?" Julian gemas sendiri memperhatikan perubahan ekspresi pada wajah Serena. Seakan-akan kekasihnya sedang memikirkan banyak hal dalam otaknya.


Serena melirik Julian yang tengah tersenyum memandanginya. "Kalau suatu saat tiba-tiba aku berambisi menjadi penerus keluargaku, apa itu akan baik-baik aja?"


Lantas Julian mengangguk mengiyakan. "Apapun pilihanmu, aku bakal mendukung penuh. Tapi kalau enggak, ya nggak masalah. Kamu bisa kerja jadi sekertarisku biar kita bisa ketemu tiap hari," nyengirnya usil.


Tapi ide itu tidak buruk juga. Kenapa Serena baru memikirkan hal itu ya?


Dia bisa melamar jadi sekertaris atau mungkin asisten pribadi Julian bila ingin bekerja di tempat yang sama. Tidak ada yang mustahil sih, tapi Serena ingin mencoba hal lainnya juga.


"Kamu bisa bekerja sesuai yang kamu inginkan. Kalau mau istirahat dulu juga gapapa, atau mau healing ke luar negeri juga bukan masalah. Kita bisa atur jauh-jauh hari," sambung Julian.


"Na-nanti kalau honeymoonnya ke luar negeri bisa?" Serena bertanya dengan nada pelan sambil malu-malu kucing.


Entah mengapa, senyum di wajah Julian terlihat sangat ceria dari sebelumnya. "Tentu aja bisa dong! Mau ke mana nanti? Kamu pilih aja dulu lokasinya, biar aku yang mengatur semua akomodasinya."


Hm, benar-benar calon suami yang sangat bisa diandalkan. Sekarang pekerjaan rumah Serena semakin banyak. Dia harus segera mencari-cari lokasi wisata yang cocok untuk menikmati bulan madu sebagai pasang suami istri baru.


Semua ini terasa begitu mendebarkan. Kebahagiaan Serena sedikit demi sedikit mulai terisi kembali. Di satu sisi, Serena sangat gugup dan gelisah memikirkan pernikahannya kelak, namun ketika membayangkan lembaran hidup barunya bersama Julian membuat semangatnya kembali membara.


Serena ingin membangun sebuah keluarga yang sehat dan sejahtera. Menyayangi satu sama lain terutama pada anak-anak mereka kelak dengan hati yang tulus dan perasaan cinta yang besar. Serena tidak ingin mengikuti jejak ayah dan ibunya yang telah gagal melaksanakan tugas serta peranan mereka sebagai orang tua.


Apapun demi keluarga barunya. Serena tidak ingin menjadi orang tua yang buruk untuk siapapun. Dia akan menjadi orang dewasa yang lebih baik dari ayah dan ibunya.


"Apa menurutmu, aku bisa menjadi sosok yang lebih baik dari ayah dan ibuku?" Tiba-tiba Serena bertanya seperti itu.


Senyum di wajah Julian seketika sirna, "Jangan samakan dirimu dengan mereka. Bahkan sebagai manusia, di mataku mereka berdua itu udah gagal dan rendah. Status dan kedudukan tinggi nggak menjamin mereka orang berakhlak baik," Julian menggerutu tak suka.


Serena tertawa kecil, gemas melihat bibir Julian yang menggerutu pelan.


"Iya ya. Bener juga kamu," sahut Serena.


Julian mendengus keras, "Lupain mereka. Meskipun mereka udah nunjukin itikad baik, bukan berarti kesalahan mereka udah terhapuskan gitu aja. Sekalipun kamu anak mereka, bukan berarti kamu harus menerima begitu aja permintaan maaf mereka. Tunjukkan kalau kamu bener-bener terluka atas perbuatan mereka, biar mereka ngerasain yang namanya karma lebih dulu!" sungutnya dengan tegas.


Karma..


Serena tidak berpikiran sejauh itu sebelumnya. Selama ini orang tua Serena dan juga Jasmine selalu hidup enak dan berkecupukan tanpa memikirkan perasaan dan kehidupan anak sulung mereka.


Mungkin karma tidak berlaku untuk orang-orang yang bebal hatinya seperti mereka.


"Udahlah, lupain. Sekarang sambil menunggu kabar dari kak Caesar, ada baiknya kita mulai menyicil kebutuhan pernikahan nanti," Julian mengalihkan topik selagi ingat.


"Mulai dari model gaun yang mau kamu pakai sampai konsep pernikahan kita nanti. Meskipun masih tersisa banyak waktu, ada baiknya kita mulai menyicilnya dari sekarang," imbuh Julian, yang menginginkan pesta pernikahan mereka nanti berjalan sempurna sesuai yang Serena inginkan.


Julian sih sudah cukup puas dengan pemberkatan janji suci mereka, tapi 'kan Serena pasti mendambakan pesta yang meriah dan sempurna sesuai konsep yang gadis itu ingingkan.


"Soal budget nggak usah kamu risaukan, cukup kamu atur sesuai yang kamu mau aja," Secara tak terduga Julian mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dalam kantong celana.


"I-itu!" Serena sampai membelalakkan kedua matanya lebar-lebar ketika Julian menyerahkan kartu limited itu di atas telapak tangannya.


"Buat pegangan. Kalau mau belanja atau beli sesuatu kamu juga bisa pakai itu. Itu memang khusus buat kamu sih."


Tangan Serena sampai gemetar menerima sesuatu yang nilainya yang terkira itu.


"A-aku nggak bisa nerima barang semahal ini!!" Rasanya tekanan dalam diri Serena semakin besar begitu memegang benda tipis berharga tak ternilai itu.


Julian puas sekali melihat reaksi Serena yang jujur. "Gapapa. Itu memang buat kamu, hadiah pernikahan sih sebenernya. Tapi aku nggak sabar, jadi aku kasih sekarang aja. Sekalian buat bayar kebutuhan pernikahan nanti," ungkapnya, dengan nada yang begitu ringan.


Serena masih belum terbiasa dengan pola pikir orang (super) kaya di sampingnya ini. Ini masih Julian, lalu gimana hebohnya dengan Caesar, Elliot dan Papa Joseph nanti?


Trio sultan itu pasti tak berbeda jauh dari Julian.


Yah..di satu sisi, sedikit menghamburkan uang calon suaminya gapapa 'kan? Karena ada sebuah barang yang sangat Serena inginkan sejak dulu. Mungkin sedikit kekanakan, tapi Serena benar-benar menyukainya.