Mine

Mine
Part 4



Mencintai seseorang memang bisa membuat siapapun bodoh atau bahkan bisa gila.


 **


Bodoh!!! Bodoh!!! Bodoh!!! Kenapa aku bisa keceplosan seperti tadi. Kalau dia tanya-tanya aku nanti bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Ah! aku akan buat alasan Raskal.


"Bunda kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa. Sekarang Raskal istirahat ya, sudah malam." Aku memang berada di kamar Raskal saat ini. Beruntung pernikahanku diadakan dirumah mewah ini, jika di hotel. Ia tidak tahu apakah aku bisa kabur dengan cepat seperti tadi.


"Temani Raskal."


"Bunda selalu temani kamu."


Agak susah memang tertidur sambil menggunakan gaun pernikahan. Tapi aku harus melakukannya demi jagoan kesayanganku. Jika saja sahabatku melihat kami saat ini, apakah dia bahagia? Apa dia sudah tenang karena anaknya sudah berada dalam pelukanku. Aku harap mereka sudah tenang disana. Karena aku berjanji akan menjaga Raskal dengan nyawaku sendiri.


"Bunda..."


"Kenapa sayang? Haus?" Tanyaku saat aku lihat dia belum juga menutup matanya.


"Bunda, jangan ketemu sama Tante jahat itu ya. Raskal takut dia melukai Bunda." Tangan mungil Raskal mengelus wajahku. Membuat aku ingat kejadian masa lalu. Kejadian dimana ada sosok laki-laki yang melakukan hal yang sama seperti Raskal. Apkah aku mengenal lelaki dalam ingata ku barusan? Atau tadi hanyalah ilusi yang ku buat?


"Bunda tidak takut dengannya. Lagi pula Tante itu akan dapat balasannya karena sudah melukai anak Bunda. Kamu tidak apa-apa kan?" Tanyaku sambil mengelus kepalanya.


"Tidak. Raskal mengantuk. Selamat malam Bunda."


"Selamat malam sayang."


Lepas Raskal mulai tenggelam dalam alam bawah sadarnya. Sosok yang ingin aku hindari muncul dihadapanku dengan wajah dinginnya.


"Apa tamu sudah pulang?" Tanyaku yang kini sudah berada dihadapannya.


"Belum." Jawaban singkatnya membuat aku menatap kedua matanya. Sampai tarikan tangannya membawaku pada sebuah ruangan yang terhubung dengan kamar Raskal. Aku yakin ini kamar Revano.


"Kalau belum kenapa kita disini?! Bukankah seharusnya kita menjamu tamu?" Jawabanku tidak di dengarkan olehnya malah kini dia sibuk mengunci pintu kamarnya dan pintu penghubung ke kamar Raskal.


"Kamu dengerin aku kan? Aku mau ke bawah saja. Tidak enak meninggalkan tamu terlalu lama." Baru saja aku berjalan mendekati pintu keluar, Revano langsung menarik tubuhku hingga aku terjatuh di sebuah kasur empuk. Aku sadar, ternyata nuansa kamar suamiku lebih gelap dari yang aku pikirkan. Aku pikir, dia akan menggunakan cat berwarna biru terang tapi ternyata dia menggunakan cat berwarna hitam disini.


"Kamu mau apa?!" Omelku saat tangannya mulai membelai wajahku.


"Kamu tahu sayang, ternyata kamu sudah mencintaiku terlalu lama. Kenapa kamu tidak katakan sejak dulu? Kalau saja kamu katakan, mungkin aku tidak akan berpacaran dengan Nenek lampir tadi." Penjelasan Revano membuat aku terdiam. Dari mana dia tahu semuanya?


"Elena itu mudah sekali ya di bujuk. Sekali tawaran, dia langsung membocorkan semuanya. Memang William luar biasa berpengaruh baginya."


Apa? Elena? Jadi dia mempertaruhkan kisahku hanya demi William kekasihnya? Wah! Pengkhianatan luar biasa. Aku tidak bisa menerima semua ini!


"Kamu bicara apa si? Aku tidak mengerti."


"Kamu memang tidak perlu mengerti, cukup nikmati." Lepas mengeluarkan kata terakhirnya. Revano mulai memainkan bibirnya diatas bibirku. Bahkan tidak sampai di situ saja, dia mulai menjalankan bibirnya ke leherku. Tidak lupa dengan kedua tangannya yang kini mulai membuka gaun indahku.


"Youre Beautifull!" Katanya saat tubuhku sudah telanjang bulat akibat ulahnya. Sedangkan sekarang, aku melihat dia melepaskan seluruh pakaiannya sampai pakaian terakhirnya membuat aku menutup mata.


"Ini milikmu. Jadi jangan pernah menutup mata kamu."


ahh...


Aku merasakan giginya menyentuh ** payudaraku. Bahkan dia memainkannya seperti bayi yang haus akan susu. Sedangkan tangannya bermain di area kewanitaanku. Membuat aku sekuat tenaga menahan segala rasa yang ada.


"Revhhh..." Aku merasakan sebuah dorongan dari jemari tangannya yang ada di dalam ku sampai akhirnya aku mengeluarkan sebuah cairan yang langsung di jilat olehnya bagaikan sebuah permen. Namun hal itu benar-benar meruntuhkam aku.


"Sangat nikmat sayang."


Kini, aku tak tahu apa yang dia lakukan dengan sebuah kotak yang tak jauh dari tempat kami berada. Ah! Kulkas. Aku melihat dia membawa sebuah botol minuman yang aku yakini dalamnya berisi coklat cair dan juga buah-buahan yang memang sudah siap di dalam mangkok.


"Kamu mau apa?"


"Aku sudah katakan bukan? Nikmati saja."


Aku benar- benar merasa kedinginan saat ini. Di tambah lagi dengan cairan yang kini di tuangkan suamiku. Membuat aku menggeliat tak bisa diam diatas kasur. Apa dia tidak mengerti aku sangat menderita sekarang?


Revano menyuapiku dengan buah yang ada di dalam genggamannya. Sampai saat buah terakhir, dia menyuapiku dengan cara berbeda. Yaitu dengan mulutnya. Awalnya aku kesulitan karena harus mengunyah buah itu disaat dia sibuk mengigit seluruh bagian tubuhku. Beruntung aku tidak tersedak, tidak lucu bukan jika ada insiden seperti itu di malam istimewa kami?


Kini, aku benar-benar menikmati apa yang dikatakan. Sampai akhirnya milik Revano menerobos milikku.


"Sakit Revhh.."


"Sebentar Sayang, setelah ini kamu akan menikmatinya." Revano benar-benar pemain yang handal. Dia bisa mengalihkan rasa sakitku dengan cara mempermainkan tubuhku. Bahkan sekarang aku benar-benar merasa sesuatu mendesak keluar.


"Revhh aku..Aku.."


"Sama-sama sayang."


Byurrrr....


Aku merasakan sebuah kehangatan memasuki liang milingku. Nafas kami yang memburu malah membuat kami saling tersenyum. Sampai akhirnya permainan ini terus berlanjut dengan sangat gila.


Kalian tahu apa yang Revano lakukan? Dia memasukkan sebuah benda entah apa namanya, namun benda ini membuat aku bergetar hebat. Membuat aku merasa terbang sekarang. Bahkan dia malah menikmati tubuhku yang seperti cacing kepanasan dengan senyuman misteriusnya.


"Sekarang saatnya." Benda itu diambil olehnya dan tergantikan dengan miliknya yang berada dalam milikku. Kami sama-sama menggejot kuat seakan-akan waktunya tiba. Aku tidak tahu, ternyata sex akan senikmat ini. Beruntung aku memberikan milikku pada orang yang tepat.


"Kamu luar biasa sayang." Revano memujiku. Kali ini, aku merasakan tubuhku diangkut olehnya kesebuah kamar mandi. Yang ku tahu, malam ini aku benar-benar habis diperbuat olehnya. Karena Revano selalu punya cara supaya aku yang terlihat lelah bisa kembali berstamina.


"Ini pertama kalinya untukku dan kamu. Jadi aku tidak akan menyianyiakan malam ini." Katanya sambil terus mempermainkan miliknya yang ada didalam tubuhku.


"Masih ada hari esok Revhh.."Jawabku tapi dia malah mencium bagian atas dadaku. Membuat aku benar-benar kesal. Seharusnya menikmati acara pernikahan dengan bahagia, malah melayani nafsu pria yang baru melepas segelnya. Aku pikir dia senafsu ini karena pernah melakukannya dengan yang lain ternyata--Aku bersyukur mencintainya sejak lama.


"Istirahatlah. Karena kamu hutang cerita dengan ku." Bisik Revan membiarkan miliknya ada di dalam tubuhku.


"Kamu juga."


Kedua insan itu melupakan pesta pernikahan mereka. Bahkan saat pintu di ketukpun mereka tak mendengar. Seakan-akan telinga mereka tuli untuk itu. Jadi, para orang tua memutuskan untuk mengakhiri pesta pernikahan dengan cara mengumumkan kapan resepsi pernikahan ini akan di langsungkan


🦋🦋🦋🦋