Mine

Mine
Chapter 45



"Happy birthday, sayang." kata Iren pada Demon dengan mencium pipi lelaki itu singkat lalu duduk disampingnya. Mereka semua sudah berada di taman belakang villa. Ah tidak, tidak ada Yuka. Wanita itu tidak terlihat, entah sudah pulang atau hanya mengunci dirinya di kamar. Intinya tidak ada yang peduli dengan keberadaan perempuan bawel itu.


Iren menyiapkan party kecil-kecilan buat sang pacar. Mereka BBQ an dan minum kecil-kecilan untuk merayakannya. Walau Iren terkenal sebagai perempuan yang minim ekspresi, sangat minim malah, namun malam ini terlihat senyum cerah di wajahnya. Berbeda dari sebelum-sebelumnya. Pasti karena pacarnya. Mungkin Iren memang sangat menyukai pacarnya itu.


Narrel merasa aneh ketika asistennya itu tersenyum. Ia biasa melihat Iren yang selalu datar dan serius, jadi aneh saja kalau wanita itu tiba-tiba berubah begini. Malam ini juga Iren tampil cantik dengan dress pink yang di balut jaket tebal itu.


Karena biasanya Iren hanya pakai pakaian kantoran, jadi Narrel tidak biasa melihat perubahannya dengan dress cantik itu. Pria itu membuyarkan lamunannya. Kenapa dia malah memikirkan wanita itu. Kenapa juga dia... Pria itu cepat-cepat mengambil gelas didepannya yang berisi wine itu dan meneguknya untuk menenangkan diri.


"Terimakasih sayang," balas Demon. Pria itu hanya membalas seadanya. Tidak terlihat antusias. Malah lebih tertarik bicara dengan Austin yang sekarang duduk berhadapan dengan mereka, bersama wanita yang Demon ketahui adalah istrinya itu.


"Austin, aku mengirim proposal di perusahaanmu. Kau sudah lihat?" tanya Demon. Perusahaannya memang masih terbilang kecil. Kalau dibandingkan dengan perusahaan Austin jauhnya bagaikan langit dam bumi. Itu sebabnya ia memanfaatkan Iren bertemu langsung dengan Austin supaya bisa mengajak kerjasama dengan penguasa bisnis itu secara langsung.


"Pekerjaanku menumpuk, tidak ada waktu memeriksa proposal dari perusahaan kecil milikmu." jawab Austin to the point. Ia tampak tidak suka karena sejak tadi pria itu terus membahas bisnis. Sementara Demon yang mendengar perkataan menohok itu tampak salah tingkah namun berusaha tetap tersenyum. Dalam hatinya ia merasa sakit hati. Ia memang sudah sering dengar tentang Austin yang kejam dan angkuh, tapi baru sekarang ia melihatnya secara langsung. Tahu-tahu begini ia tidak usah susah-susah minta ke Iren untuk membuatkan pesta ulang tahunnya dengan mengundang Austin. Harusnya ia bersenang-senang saja dengan selingkuhannya malam ini.


"Sudahlah, jangan bahas bisnis lagi. Ayo minum," itu adalah suara Marcel. Ia tersenyum kikuk saat mendapati Austin yang menatapnya dengan tajam. Pasti lelaki itu masih mengingat kejadian tidak senonoh yang dia lakukan tadi dengan Yuka. Marcel memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Deisy, ayo bersulang." katanya pada Deisy yang duduk bersebelahan dengannya. Deisy tersenyum lalu mengangkat gelasnya bersulang dengan pria itu.


Ainsley ikut-ikutan mengambil gelas minuman yang sudah berjejer didepan mereka. Namun belum sempat berhasil memegang gelas itu, Austin sudah lebih dulu menahan tangannya. Ia menatap suaminya dengan alis terangkat.


"Kau tidak diijinkan minum." gumam Austin ditelinga Ainsley. Diam-diam Deisy yang duduk berseberangan memperhatikan mereka. Ia berusaha menutupi rasa irinya melihat perlakuan Austin pada Ainsley.


"Kenapa? Katakan alasannya." balas Ainsley keberatan. Sifat keras kepalanya kembali. Bagaimana ia tidak kesal coba kalau dikekang begini.


"Karena aku tidak suka kau minum. Kau harus mendengarku, karena aku suamimu Ainsley." suara Austin berubah jadi lebih tegas dan penuh tekanan. Seolah memberi alarm pada Ainsley kalau dirinya tidak bisa dibantah. Ainsley berdecak kesal dan membuang muka ke arah lain. Ia lebih kesal lagi karena Narrel yang duduk di sebelahnya kini sedang menatapnya dengan senyuman lebar, seolah meledek dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Jangan melihatku begitu!" kesal Ainsley. Narrel langsung mengangkat tangannya di udara dan menatap kedepan lagi masih dengan senyum meledek.


"Pelan-pelan, nanti bibirmu luka. Aku tidak bisa leluasa menciummu kalau bibir tipismu itu terluka," gumam Austin berbisik pelan di telinga sang istri.


Sementara Ainsley langsung melotot lebar. Ia ingin sekali mencubit pria itu namun kejadian waktu mereka makan bersama rekan kerja Austin di Hawaii kembali terngiang diingatannya. Ia tidak jadi mencubit, bisa-bisa dirinya berakhir dengan memegang benda keramat milik pria itu lagi.


"Oh ya, Mana Yuka?" tanya Iren. Hanya dia yang menyadari wanita itu tidak ada. Bahkan Narrel sudah lupa kalau dirinya membawa Yuka ke tempat ini, saking kesalnya dan menyesal sudah mengajak perempuan itu ikut.


"Dia bilang akan menyusul tadi," ujar Deisy. Ia ingat tadi Yuka bilang begitu saat mereka berpapasan di tangga. Marcel pura-pura tidak tahu apa-apa dan Austin, lelaki itu tidak peduli. Mungkin Yuka tidak datang karena perkataannya tadi, tapi ia tetap tidak merasa bersalah. Dimatanya wanita itu memang hanyalah perempuan murahan.


"Aku akan mengambil ponselku di kamar, kalian ingin aku sekalian memanggilnya juga?" tawar Demon berdiri dari kursi. Iren menganggukkan kepala. Mungkin hanya dia yang tidak keberatan dengan keberadaan Yuka. Deisy sendiri lebih suka wanita seperti Yuka itu tidak ada, dan yang lain merasa masa bodoh. Sepeninggalnya Demon, Austin dan Ainsley kembali berdebat. Kali ini cuma karena makanan. Narrel sampai tidak habis pikir dengan pasangan baru itu, namun ia merasa lucu melihat perdebatan mereka. Ia tahu sekarang kenapa Austin menyukai Ainsley. Gadis itu memiliki semacam kekuatan untuk menarik merasa nyaman berada didekatnya.


                                  ***


Karena Demon tidak kunjung-kunjung kembali, Iren memutuskan menyusul sang pacar. Ambil ponsel apa yang lama begini. Sudah lebih dari setengah jam pria itu pergi tidak tidak balik-balik.


Iren mengetuk kamar Demon. Mereka memang pacaran tapi Iren adalah wanita baik-baik yang tidak mau memberikan keperawanannya begitu saja sebelum menikah. Jadi ia tetap tidur di kamar yang berbeda dengan pacarnya. Ia tidur dengan Deisy dan Demon sekamar sama Marcel.


Karena pintu tidak di buka-buka juga Iren memutuskan masuk sendiri. Matanya memandang keseluruhan kamar itu namun tidak melihat pacar yang dicarinya.


"Kemana dia?" gumamnya pada diri sendiri. Saat wanita itu memutuskan untuk keluar, samar-samar ia mendengar bunyi dari arah balkon.


Karena penasaran, wanita itu berjalan perlahan menuju balkon. Betapa kagetnya ia ketika melihat kekasihnya tengah bercumbu dengan Yuka di ujung sana. Bukan, mereka tidak hanya bercumbu. Pakaian Yuka sudah berantakan dan tangannya sedang mencoba membuka risleting celana jins Demon. Demon sendiri sibuk mencicipi bagian dada Yuka.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"


suara itu begitu menggelegar sampai-sampai Austin dan yang lain bisa mendengarnya dari taman belakang villa yang tidak begitu besar itu.