
Bagai tersambar petir di siang bolong, Jasmine serasa seperti baru di tusuk oleh ribuan jarum tak kasat mata tepat pada bagian ulu hatinya.
"Je-Jevi, tolong pikirkan lagi matang-matang. Kita udah sejauh ini, apa kamu mau semuanya berakhir secepat ini??" Bahkan untuk menampilkan sebuah senyuman tipis pun terasa sangat sulit bagi Jasmine.
Namun apa yang sudah Jevano putuskan telah mencapai titik akhir yang ingin dia ambil. "Maaf...aku udah mikirin ini secara matang. Aku nggak bisa meneruskan hubungan ini dan membohongi perasaanku lebih lama lagi. Aku juga nggak mau menyakitimu lagi, Jasmine.."
Jevano menundukkan kepalanya sedalam mungkin di hadapan Jasmine, berharap perempuan di depannya itu dapat menangkap maksud dari keseriusannya.
Mulut Jasmine perlahan terkatup kembali. Kedua tangannya mengepal secara kuat, menahan gejolak emosi yang ingin meledak detik ini juga. Jevano terlihat amat serius bahkan sampai tidak tersenyum ke arahnya.
'Pada akhirnya ini adalah pemberhentian kami berdua?'
Jasmine tersenyum kecut. Dia tak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan Jevano. Dirinya sudah sering kali bersikap egois dan memaksakan kehendaknya sendiri pada Jevano, jadi sekarang adalah gilirannya untuk mengabulkan apa yang Jevano minta.
Meski itu melukai perasaannya dengan amat dalam.
Jasmine berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.
"...aku...meskipun aku menolak, aku tau kamu bakal bersikeras lagi suatu saat nanti. Baiklah...mungkin hubungan kita cukup sampai di sini..." Suara Jasmine terdengar bergetar seperti hendak menangis.
Tapi Jasmine menahannya sekuat tenaga agar tidak terlihat memberatkan Jevano. Kisah mereka akan segera berakhir, semua rencana indah yang telah Jasmine susun serta mimpi-mimpi yang ingin dia wujudkan bersama Jevano kini hancur berkeping-keping.
Di lain sisi, Jevano sedikit bernafas lega sebab Jasmine tak lagi mengancamnya seperti pertama dia meminta putus. Jasmine justru terlihat sedang menahan dirinya dengan keras. Ini memang bukan hal yang menyenangkan bagi siapa pun, termasuk mereka berdua yang pernah berbagi cinta.
"Aku bener-bener minta maaf secara tulus kalau sikap dan perkataanku selama ini ada yang menyakitimu..."
Suasana di antara mereka terasa dingin dan canggung. Tak ada lagi tawa bahagia serta ungkapan cinta seperti yang biasa mereka lakukan ketika bersama
Pada akhirnya pertahanan Jasmine runtuh juga. Padahal dia bertekad tidak akan menangis di depan Jevano, tapi perkataan Jevano justru menggoyahkan ketekadannya.
Air mata mulai jatuh mengaliri kedua pipi Jasmine meski tanpa suara.
Bukan hanya Jasmine seorang yang brrsedih, tapi begitu juga dengan Jevano. "Aku belum bisa menjadi sosok pacar yang bisa kamu banggakan dan sempurna untukmu. Maafin aku ya..aku harap setelah ini, kamu bisa menjalani hidup dengan lebih baik, baik dengan keluargamu, Serena maupun dengan orang lain. Aku nggak pengen komunikasi di antara kita bener-bener terputus, kamu tetep bisa menghubungiku kalau membutuhkan sesuatu atau sekedar ingin ditemani. Aku akan selalu siap menemuimu.."
Dengan susah payah Jevano berusaha menunjukkan senyuman tulusnya sebelum mereka berpisah di sana.
Mata Jasmine sudah memerah sempurna, isakan perlahan-lahan mulai keluar dari mulutnya meski dia sudah berjuang keras menahannya. Namun sesak di d@da terlalu hebat sampai membuat dirinya menyerah pada keadaan.
Untuk terakhir kalinya, Jevano mengusak rambut Jasmine hingga membuatnya berantakan sambil tersenyum tipis, "Aku tau kamu bisa melewati ini. Kamu hebat, kamu seorang pejuang. Aku ingin kamu melakukan apa aja yang kamu sukai menurut kata hatimu sendiri. Kita mungkin memulai hubungan ini karena suatu sebab, tapi terlepas dari itu aku ingin kita berpisah secara baik-baik dan damai. Jaga dirimu baik-baik ya? Kamu juga orang yang berharga di hidupku, jadi tolong hiduplah sebaik mungkin...
"...Aku pergi ya. Terima kasih atas semuanya sampai detik ini. Selamat tinggal."
...🦋...
...🦋...
Serena tersentak dari lamunannya ketika Julian memanggil-manggil namanya.
Ah, ya, benar. Mereka sedang bersiap hendak berenang. Kemarin mereka baru tiba di Santorini, Greece, untuk melanjutkan liburan honeymoon mereka.
Ini adalah hadiah yang diberikan oleh ayah mertua Serena, Tuan Joseph. Tetapi sesuai dugaan Serena dan Julian, pria kesepian itu benar-benar ikut terbang bersama mereka dengan membawa serta Elliot dan beberapa anak buah lainnya.
Julian sudah mengancam sih akan kabur secara diam-diam kalau ayah serta kakaknya mengusik honeymoonnya yang pertama ini, lalu Tuan Joseph berjanji tidak akan mengganggu si pasutri baru itu dengan dalih mau berwisata bersama Elliot setibanya di sana. Hotel yang mereka tempati juga berbeda, jadi Tuan Joseph tak bisa seenaknya mendatangi kamar pasutri baru meski kadang di landa rindu.
Jadi beginilah akhirnya, Julian dan Serena bisa menikmati masa-masa honeymoon yang manis dan intim hanya berduaan saja. Belum lagi pemandangan dari hotel tempat mereka menginap mengarah langsung ke lautan jadi benar-benar memanjakan mata.
Byuurr
"Uwaa~ segarnya! Ini baru kerasa kayak liburan asli!" pekik Serena, setelah menurunkan badannya ke dalam kolam renang.
Sebelum berkeliling kawasan itu, mereka ingin menikmati sensasi berenang dari teras kamar hotel sembari menikmati pemandangan sekitar yang begitu indah.
"Kyyaa! Turunin aku, sayang!! Nanti aku jatuhhh!" Serena memekik kaget ketika Julian tiba-tiba mengangkatnya dari bawah.
Julian tertawa lepas, lalu berjalan menuju pelampung karet berbentuk semangka yang disediakan oleh pihak hotel. Dengan hati-hati Julian meletakkan Serena di atas pelampung tersebut.
Serena makin terlihat seksi dan manis dalam balutan bikini yang terbuka. Pemandangan ini 'kan tidak sering Julian lihat, jadi harus dia nikmati sebanyak mungkin.
Di tatap seintens itu oleh sang suami lama-lama membuat Serena malu sendiri. Dirinya tidak pernah memakai pakaian minim yang sangat seksi seperti sekarang, jadi Serena belum terbiasa.
"Cantiknya~ Istri siapa sih ini? Hmmm?"
Julian gemas, dia mencondongkan badannya pada Serena, lalu mengusakkan kepalanya tepat di permukaan perut sang istri.
Rambut Julian yang setengah basah membuat Serena kegelian. Sikap suaminya ini bak seekor anak kucing yang minta di manja.
Keduanya menghabiskan waktu bersenang-senang di kolam renang sampai tengah hari. Berhubung hari semakin panas dan akan memasuki jam makan siang, Julian dan Serena baru naik dari kolam renang hendak pergi keluar mencari makan.
Tidak ada penjagaan ketat, sorotan kamera ataupun pihak-pihak tertentu yang mengusik mereka. Benar-benar liburan yang sempurna bagi Julian dan Serena. Keduanya mengelilingi area sekitar yang menyuguhkan pemandangan bangunan serta spot foto unik dan khas yang menjadi daya tarik para wisatawan.
Bisa berpergian ke luar negeri dengan begini mudahnya benar-benar menjadi impian yang tak pernah berani Serena harapkan sebelumnya. Namun dengan adanya Julian, serasa semua hal yang ada di dunia ini bisa Serena gapai dengan mudahnya. Julian tak pernah menuntut soal keturunan sejak mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Bahkan Tuan Joseph maupun Elliot juga sama sekali tak pernah mengungkit soal hal itu di depan Serena.
Awalnya Serena pikir mereka menahan diri untuk tidak membahas hal itu karena menyangkut topik yang cukup sensitif. Namun sampai detik ini, belum ada yang membahasnya dan ini agak membuat Serena cemas.